
...Happy Reading...
Seorang wanita yang sudah menikah atau sudah berstatus istri, maka haknya sudah berpindah. Pada mulanya, wanita yang masih lajang hidupnya ditanggung oleh ayah. Namun pasca menikah ia akan berpindah menjadi tanggung jawab Suami.
Dan Surga istri pun ada pada suami, bahkan hak seorang suami lebih besar daripada hak orang tuanya, apalagi hanya sekedar sabahatnya.
Ya Tuhan... apa ini yang disebut dengan Karma akibat mengabaikan Suami yang tengah on fire?
Gemintang dan Sabrina kini masih didalam Cafe itu dengan tampang yang ketar-ketir, pasalnya penghuni kafe itu tinggal mereka berdua saja, karena mereka takut tidak bisa membayarnya, jadi mereka menunggu Lewis, yang ternyata malah tidak kunjung muncul batang hidungnya.
" Permisi nona, mohon maaf sebelumnya, tapi cafe kami sudah mau tutup." Akhirnya apa yang dikhawatirkan oleh Gemintang dan Sabrina kejadian juga.
" Mampus kita Na, tas gue ketinggalan di mobil abang, luu bawa duit berapa?" Bisik Gemintang perlahan.
" Yaelah... gimana sih luu, udah ngajak maksa, endingnya gue juga yang harus bayar." Penyesalan Sabrina semakin berlipat ganda.
" Mana gue tau kalau bang Lewis kabur!" Umpat Gemintang sambil melotot kearahnya.
Tau gitu mending gue main Jaranan aja sama si Bruno, kapok deh gue, Ya Tuhan ampuni hambamu ini, kenapa gue jadi apes banget dah..
" Okey mbak, boleh minta bil pembayarannya?" Sabrina mencoba tetap tersenyum walau hatinya sudah mengumpat habis sahabatnya itu.
" Ini nona, silahkan bayar di kasir." Ucap pelayan itu dan segera undur diri.
" Astagfirulloh Gem... mahal banget, lu pesen apaan dah!"
" Kenapa? berapa emang?"
" Ini sih jatah makan gue sebulan Gem!" Sabrina langsung lemas seketika.
" Yaelah... segitu doang, bayar aja dulu, nanti gue transfer balik, ponselku juga masih ada di tas, lagian juga kenapa kamu nggak save nomor bang Lewis sih?"
" Dia kan baru ganti nomor setelah perceraiannya waktu itu, aku belum sempat minta lagi."
" Kalau nomor mas Chris?"
" Mana punya aku."
" Kamu ini gimana sih, kan dulu kamu karyawannya!"
" Hellow... Gemintang Lea Prakoso, mana ada seorang karyawan biasa punya nomor CEO di perusahaannya, dah aku mah apa atuh?" Sabrina menaikkan kedua bahunya.
" Nomor Suami siri kamu?"
Mas Peter, maafkan aku, jangan kamu sumpahin aku begini dong?
" Dari tadi sudah aku telponin, tapi nggak diangkatnya sekalipun!"
" Kenapa? kalian belum baikan lagi, masih berantem juga, gimana sih?"
Aku berantem juga gara-gara kedatangan kalian tadi..
" Sudahlah... nggak perlu bahas suamiku, coba aku hitung dulu uangku, mana gajianku udah aku kirim sama ibu dan buat bayar sewa kontrakan dua bulan sekaligus lagi, sisa berapa ini nanti?" Sabrina langsung mengeluarkan isi didalam dompetnya.
" Kemana sih abang Lewis ini, katanya cuma mau parkir doang, tapi sampai cafenya tutup dia nggak datang-datang juga, keterlaluan emang abang ini." Gemintang dari tadi uring-uringan sendiri karena Lewis tiba-tiba kabur entah kemana tanpa pemberitahuan sama sekali.
" Gem... masih kurang seratus ribu ini, gimana dong, kamu bantu cuciin piring saja gih!"
" Gila apa luu, nyuci piring semua piring kotor di cafe ini? bisa mati kulit ari gue nanti, coba cari lagi Na, siapa tahu ada uang terselip dimana gitu!"
Gemintang tidak bisa membayangkan jika harus mencuci piring, karena dia memang tidak pernah melakukannya, sedari kecil asisten rumah tangganya bukan hanya satu, jadi pekerjaan dapur dan rumah semua sudah beres.
" Gadein aja sepatumu itu, dijual second pasti masih lumayan kan, merk ternama itu loh, kalau sepatu gue baru nya aja paling cuma seratus ribu, second mana laku kan?"
" Trus gue pulang pakai apa dong?"
" Nyeker lah, kalau enggak gue pinjamin satu-satu deh."
" Gimana caranya pake sepatu cuma satu doang Sabrina Peak!" Gemintang langsung menoyor lengan Sabrina.
" Resiko Gem... coba aja dulu, ayam aja nyeker nggak pakai alas kaki masih kuat jalan kok, tetap enak lagi kalau dimasak seblak!"
" Gila kamu ya, coba dulu cari yang lain."
" Owh... iya, tunggu sebentar." Sabrina langsung merogoh dompet kecil disakunya.
" Dompet apaan tuh?" Gemintang ikut penasaran jadinya.
" Dompet keramat!" Jawab Sabrina dengan cepat.
" Keramat dari mana? tulisannya aja kayak nama toko emas?"
" Hehe... ini memang dompet hadiah, saat aku gajian untuk yang pertama kalinya, sengaja aku pergunakan untuk membeli emas, dan aku berikan kepada emak gue, biar jadi kenang-kenangan, dan aku menyimpan dompetnya saja, hehe..." Sabrina mengingat pengalaman pertamanya dulu.
" Masya Alloh, uang receh semua? ya ampun Na, mana buluk-buluk semua itu, kamu dapat dari mana!"
" Buluk juga duit Gem, daripada Elu, CEO kok miskin, makan minta dibayarin sama bawahannya, mana pesen yang mahal lagi."
__ADS_1
" Noh... salahin bang Lewis, kenapa jadi gue yang salah?"
" Sudah buruan, bantu hitung! ini uang khusus buat ongkos naik angkot kalau pulang kerja tau!"
Setelah mengobrak-abrik uang didalam tas Sabrina, akhirnya mereka bisa membayar tagihan makanan yang mereka pesan.
" Aduh Gusti, masalah satu teratasi, sudah muncul masalah yang lainnya."
" Kenapa lagi sih Na, ada apa dengan hari ini, kenapa nasip kita sial terus?" Ingin rasanya dia menangis malam ini saat merasakan nasip mereka.
Apa mas Peter sekarang sedang mengutuk kami ya?
" Kita pulang naik apa Gem?"
" Naik taksi lah, mau naik apa lagi?"
" Mana? dari tadi nggak ada yang lewat, mana duit gue juga udah habis, sisanya nggak akan cukup buat bayar ongkos taksi?"
" Masak sih? seratus ribu lagi nggak ada Na?"
" Habis dah, tinggal sepuluh ribu doang."
" Aish... bang Lewis ini mana sih, tega banget sama kita?" Akhirnya mereka berdua hanya bisa duduk di Emperan Cafe dengan lemas.
" Ada angkot nggak sih jam segini?"
" Mana ada Na, kayaknya angkutan umum nggak lewat jalur ini deh?
" Yasudahlah... kita jalan kaki aja, mana tau dapat taksi didepan sana yuk, nanti bayar kalau sudah sampai dirumah loe?
" Wagilasih... jarak cafe ini kerumah kita jauh Na, bisa bengkak betis gue nanti!" Baru membayangkan saja Gemintang sudah ngeri duluan, keliling kebun rumahnya aja dia memilih naik skuter, ini disuruh jalan kaki berpuluh-puluh kilo meter.
" Dari pada ditangkap satpol pp hayo?"
" Why?"
" Ya bisa jadi karena kita dianggap wanita malam yang sedang mencari mangsa Om-om berhidung belang, lebih parah lagi kan?" Sabrina takut sendiri membayangkannya.
" Tapi Na.." Gemintang langsung merengek bak anak kecil.
" Buruan jalan, itung-itung olahraga malam Gem, daripada kita diketawain sama pelayan cafe itu, sok-sok an pesen Tenderloin dan minuman mahal, tapi bayarnya pake uang recehan!"
" Aish... mana lusuh semua duitnya, gue mana tahu kalau begini ceritanya! Na... gue masih haus nih, beliin gue air mineral juga dong?" Tenggorokannya sudah kering lagi karena terlalu lama menunggu abangnya.
" Puasa aja luu sekalian, kamu itu CEO Gem? aish... nggak modal banget."
" Bodo amatlah, uang tinggal sepuluh ribu doang, masih minta minum lagi, tinggal buat jaga-jaga naik angkot, siapa tahu ada angkot jurusan terakhir nanti ke kontrakan gue!"
" Aaaaaa... habis dah gue, kering kerontang kayak gurun Sahara, owh... ABAAAAAAANGGG, I HATE YOU!"
Gemintang terlihat sangat prustasi kali ini, begitu juga dengan Sabrina, mereka berdua berteriak kesal ditengah jalanan yang sudah mulai terlihat sepi.
" Hachimm... hachimm... astaga kemana mereka pergi? bisa bayar nggak ya tadi?
Saat mereka sudah pergi, Lewis akhirnya datang berlarian dari parkiran menuju Cafe sambil bersin-bersin, namun ternyata saat dia sudah sampai disana, Cafe itu sudah tutup.
Sedangkan anak gedongan itu baru berjalan beberapa meter saja Gemintang sudah berhenti dan mengusap pinggangnya yang seolah sudah mau patah.
" Gimana kalau kita nebeng aja Gem?"
" Nebeng apaan?"
" Tuh... ada pick up bawa barang, kita tanya yuk?"
" Ogah... ntar dia nyulik gue lagi, hiiii... mengerikan!"
" Siapa juga yang mau nyulik orang yang sudah kayak gelandangan kayak kita, lihat wajah kita sudah berpeluh-peluh, tubuh kita pun udah bau asem, mana percaya mereka kalau kamu orang kaya!"
" Kok nggak ada taksi lewat sih Na!"
Mungkin ini memang pembelajaran bagi gue, agar tidak melanggar perkataan suami.
" Nggak usah banyak komen dah, mau ikut apa jalan kaki kamu!"
" Ikutlah!"
Dan akhirnya Sabrina berhasil meminta tumpangan untuk mengantarkan mereka sampai dirumah Gemintang dan lanjut ke kontrakan Sabrina, walau memang banyak drama dari Gemintang.
Kebetulan saja mobil pick up itu memang melewati jalan menuju rumah mereka masing-masing, walaupun mereka harus duduk lesehan di bak Pick up bersama sisa-sisa sayur mayur dan buah-buahan yang sudah sedikit membusuk karena pemiliknya selepas pulang dari pasar tradisional, mau tidak mau, mereka harus rela daripada kaki mereka bengkak karena kelamaan berjalan.
" Fuuhh... akhirnya... sampai juga di kontrakan, walau hampir tengah malam!" Sabrina membuka pintu rumahnya dengan raut wajah yang kusut, badan yang lelah dan perut yang sedikit mual, karena terlalu banyak terkena angin malam.
Ceklek!
Saat pintu terbuka, kedua keningnya terangkat semua, dia merasa ada yang aneh dengan keadaan rumahnya.
" Mas... mas Peter?"
__ADS_1
Sabrina mencoba memanggil nama Peter, karena rumahnya terlihat sepi, namun saat dia memasuki kamarnya, betapa terkejutnya dia saat semua barangnya tidak ada.
" Mas... kamu dimana?"
Panik? sudah pasti, Sabrina langsung berlari pergi ke kamar mandi, namun tidak menemukan Peter juga disana.
" Ya ampun? kenapa semua barang-barangku tidak ada? apa kontrakanku kemasukan maling? Ya Tuhan... tragedi apalagi ini?"
Sabrina semakin meratapi nasip apesnya, bahkan baju-baju di almari pakaiannya pun tidak ada satupun yang tersisa disana.
" Tapi kalau maling, nggak mungkin juga dia mau ambil bajuku kan?" Sabrina kembali menimbang-nimbang, seolah ini tidak mungkin pikirnya.
" Bajuku bukannya bermerk semua, hanya beberapa saja yang dibelikan Gemintang hari itu, trus pakaian dalemku juga raib semua, masak maling semiskin itu mau ambilin baju aku yang tidak seberapa itu?"
" Apa ini ulah mas Peter ya?"
" Apa dia mengambil semua bajuku? astaga... apa dia menaruh dendam denganku? dan membuang semua barang-barangku?"
" Aish... mas Peter ini keterlaluan sekali, baru baikan sehari aja udah nyebelin!"
" Aduh gimana aku mau pergi ke Apartementnya? taksi banyak, tapi duitku tinggal sepuluh ribu doang?"
" Mau pinjam uang tetangga tapi ini udah tengah malam? ya ampun... aaaaaaaa! aku benci sekali hari ini."
Akhirnya malam itu juga Sabrina kembali berjalan menuju Apartement milik suaminya dengan wajah dongkol, dan rasa lelah yang menumpuk, walau jarak rumah mereka sebenarnya cukup dekat, tapi kalau jalan kaki kesana, tetap saja menguras waktu dan tenaga.
" Fuuuhhh... awas aja kamu mas! aku marah besar denganmu!"
Dia masih berusaha mengatur nafasnya saat sudah sampai didepan pintu apartement milik suaminya.
Nit.. nit.. nit..
Sabrina memencet tombol kunci pengaman pintu rumah itu dengan sedikit kasar.
Bugh!
Bahkan Sabrina sedikit menendang pintu itu saat sudah terbuka.
" MAS PETER!"
Dan ternyata Peter pun belum tidur, dia bahkan duduk santai sambil menyilangkan kaki panjangnya dan menikmati secangkir kopi.
" Mas... barang-barangku semua kamu buang kemana?" Ucap Sabrina dengan emosi yang sudah membara, namun Peter hanya melengos saja tanpa menjawab pertanyaannya dan tanpa memperdulikan rengekannya.
Haduh... kenapa dia seolah tidak perduli denganku?
" Mas... kamu dengar aku ngomong nggak?"
Namun lagi-lagi Peter hanya meliriknya sekilas dan tetap acuh dan cuek, dia memilih kembali menyeruput kopi hitamnya.
Why? ada apa lagi dengannya? aish... tapi ini emang salahku sih? mana tengah malam gini dia tetap tampan lagi? apa aku harus membujuknya? tapi barang-barangku bagaimana?
" Mas... kamu marah ya denganku?"
Peter kembali meliriknya lagi dan kali ini lebih lama, pandangannya pun lebih tajam, tapi tetap tidak mengeluarkan satu patah kata sedikitpun.
Apa aku harus merayunya? kalau cuma barang-barangku itu tidak seberapa, dia bisa ganti dengan yang baru, bahkan lebih mahal bukan?
" Mas.."
Ya ampun dia masih cuek? apa aku perlu sedikit menggodanya ya? tapi gue belom mandi, masih bau busuk ini? bisa-bisa malah muntah nanti kalau aku mendekatinya.
" Mas... aku numpang mandi sebentar ya? tadi aku jalan kaki sampai sini, makanya pulang sampai larut malam, uangku habis di porotin Gemintang, capek banget tau mas."
Kali ini Peter langsung mengubah mimik wajahnya, mungkin dia terlihat prihatin, tapi tetap belum mau bersuara.
" Aku mandi sebentar ya mas?" Namun langkahnya tiba-tiba terhenti.
" Emm... mas, nanti itu... emm... nggak jadi deh!"
Sabrina ragu untuk mengatakannya, dia memilih berjalan menuju kamar mandi bawah saja, namun baru beberapa langkah saja dia kembali berbalik ke arah Peter.
" Mas... nanti kita lanjut lagi yang tadi ya, kalau aku sudah wangi, hehe..."
Sabrina langsung kabur berlari ke kamar mandi sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, sebenarnya dia sangat malu untuk mengatakan itu, namun dia tidak punya pilihan lain.
Dulu dia sempat membaca sebuah artikel, kalau pertengkaran kecil antara suami dengan istri itu terkadang bisa terselesaikan dengan mudah dan kembali membaik seketika setelah mereka beradu desa han diatas Ranjang bergoyang.
Yes... memang itu yang aku tunggu!
Saat Sabrina sudah hilang dalam pandangannya, Peter langsung tersenyum dengan liciknya, dia sudah menunggu moment dimana Sabrina lah yang akan meminta dirinya terlebih dahulu.
Ketika kamu ikhlas dalam menerima semua kekecewaan hidup, maka Alloh akan membayar tuntas semua kecewamu dengan beribu-ribu kebaikan.
Maka belajarlah untuk mengerti, bahwa segala sesuatu yang baik untukmu, tidak akan Alloh izinkan pergi, kecuali akan digantikan dengan yang lebih baik lagi.
Okey... kita tunggu part berikutnya ya, cuma satu saja pesan dari Othor, jika umur belum sampai 21 keatas, harap skip saja nanti ya, menyesatkan pula nanti diriku yang tidak tahu apa-apa iniš
__ADS_1
Tapi jangan lupa VOTE nya dong bestieš¤