
...Happy Reading...
Butuh waktu hampir setengah hari lebih perjalanan Peter menuju ke kampung halaman istri siri nya, berbagai hal sudah dia pikirkan dalam perjalanan tadi, walau dia masih terlihat belum yakin dengan semua yang terjadi padanya.
" Permisi, assalamu'alakum buk." Peter mengetuk pintu rumah Sabrina dengan wajah yang terlihat cukup lelah.
" Wa'alaikum salam."
Jawab Sabrina yang terlihat terburu-buru membukakan pintu rumahnya.
Sebenarnya lumayan juga istriku ini, ehh...
" Ibu mana? kalian sudah siap belum?" Tanya Peter yang langsung tersadar dari lamunannya.
" Sudah pak, ehh... mas, silahkan masuk dulu, aku buatin minum."
" Nggak usah... aku tunggu diluar saja, cepat kalian bersiap keburu malam." Ucap Peter dengan cuek.
" Kenapa? nggak mau nunggu didalam, nggak sudi masuk kerumah peyot seperti ini?" Entah mengapa Sabrina langsung sewot mendengarnya, saat tawarannya seolah ditolak.
" Sabrina, kamu kenapa sih, jangan mulai lagi deh?" Dalam keadaan capek, emosi Peter pun gampang terpancing kembali, padahal dia hanya ingin menikmati pemandangan asri dihalaman rumah Sabrina.
" Siapa yang mulai, aku kan cuma nanya doang tadi, kamu aja yang selalu salah sangka denganku."
Dan ternyata keadaan masih sama seperti saat Peter kembali ke kota beberapa hari yang lalu.
" Sabrina, aku masih capek nyetir mobil setengah harian penuh, dan sekarang kamu malah cari gara-gara untuk berdebat denganku?"
" Harusnya mas tolak saja permintaan ibu, kenapa mas mengiyakan saja kemauan ibu, mas tau kan bagaimana keadaan kita? aku hanya tidak ingin ibu jadi sedih setelahnya, beliau baru saja bisa tersenyum setelah kehilangan bapak."
" Sabrina... sebenarnya apa sih yang kamu fikirkan tentangku? kenapa aku jadi serba salah dimatamu!" Peter menatap istrinya dengan tatapan jengah, bukan seperti ini yang dia bayangkan tadi.
" Semua yang terjadi dengan kita memang bermasalah mas."
" Kamu yang selalu membuat suasana menjadi rumit!" Jawab Peter tak kalah ketus.
" Trus maunya kamu gimana sekarang!" Teriak Sabrina.
Mereka akhirnya kembali beradu pendapat, seolah mereka benar sendiri.
" SABRINA... siapa yang mengajarkan kamu berbicara tidak sopan seperti itu, dia suami kamu Sabrina, kenapa suaramu tinggi?"
Saat mendengar sedikit keributan didepan, ibu Sabrina segera keluar melihatnya, dan ternyata anak menantunya sudah datang.
Rasain kamu!
Peter langsung tersenyum miring, seolah dia punya pihak pembela dalam masalah ini.
" Bu.."
Sabrina langsung lemas saat melihat ibunya sudah melotot seperti itu, diapun tidak tahu, kenapa dia masih merasa kesal saat mengingat ucapan Peter saat itu.
" Sabrina, bukannya ibu sudah bilang, bahwa setelah kamu menikah, orang yang harus kamu prioritaskan itu adalah suamimu, dia ladang pahala untuk kamu nak, jadi jangan sampai kamu meninggikan suaramu dihadapannya, apalagi sampai kamu menyakitinya."
__ADS_1
" Itu kalau kami saling mencintai, lah ini?" Umpat Sabrina perlahan.
" Kamu ngomong apa? yang jelas ngomongnya, ibu nggak dengar?" Ibu Sabrina menelisik wajah Sabrina.
" Nggak kok buk, Sabrina coba nanti." Sabrina memang tidak pernah membantah ucapan kedua orang tuanya sedari dulu.
" Ya sudah.. ambilkan minum untuknya, ibu sudah buat minuman tadi diatas meja."
" Iya buk." Sabrina langsung melenggang masuk kedalam mengambilkan minuman untuk suaminya.
Ternyata dia lemah dihadapan ibuknya, pawang dia ternyata ibuknya, aku sangat beruntung punya ibu mertua yang lebih membelaku dibanding anak kandungnya sendiri, hehe... rejeki anak tampan.
" Nak Peter, maafkan putri ibu ya, maklumlah.. dia belum banyak belajar tentang berumah tangga." Ibu Sabrina langsung mengusap lengan Peter dengan lembut.
" Iya buk, nggak papa." Jawab Peter dengan senyuman lebar.
" Itu kenapa, sementara ibuk ingin tinggal bersama kalian, agar Sabrina tahu kewajiban dan batasan sebagai seorang istri."
" Baik buk."
" Nih... minumannya." Sabrina meletakkan minuman itu diatas meja teras begitu saja.
" Sabrina, yang sopan ngomongnya!" Ibu Sabrina yang malah belum terima.
" Astaga ibuk, aku nggak boleh teriak, kalau ibu boleh gitu?"
" Habisnya kamu ini bandel kalau dibilangin, bawa sini dan minumkan, minta maaf sama suamimu."
" Eherm.. eherm..." Entah mengapa Peter malah tersenyum saat melihat wajah kesal dari sabrina.
" Jadi, kalau bukan anak ibu apa kamu anak kambing punya tetangga?" Ibu Sabrina langsung melotot kembali.
" Pffthh."
Peter kembali menahan tawanya, bahkan dia sampai memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan senyumannya.
" Minta maaf sekarang."
" Owh... mamasku tercayang, istrimu yang cuantik ini minta maaf ya, nih... minum mas, enak banget loh ini." Sabrina menurut saja daripada semakin ribut pikirnya.
" Heh... aku minum sendiri saja." Peter langsung memundurkan tubuhnya saat Sabrina berjalan mendekat membawa segelas minuman.
" Jangan menolak dong mas, nanti istrimu ini kena marah lagi, ayok minum!" Sabrina langsung meminumkan minuman itu dengan paksa.
" Uhuk.. uhuk.." Peter langsung tersedak karenanya, bahkan minumannya sebagian tumpah mengenai kemeja Peter.
" Sabrina! kamu ini gimana sih? jadi basahkan baju suamimu, bantu bersihkan sana, dikamar masih ada kemeja bapak dulu yang baru."
" Huft... salah lagi deh gue, ayo masuk kedalam." Sabrina langsung saja menarik lengan Peter dan membawanya masuk ke kamar ibunya.
" Sudahlah... nanti juga kering, kotor sedikit nggak papa." Ucap Peter.
" Seneng kamu kalau aku dimarahin ibu terus?" Sabrina langsung membuka lemari pakaian dan mencari kemeja peninggalan ayahnya yang masih terlihat baru.
__ADS_1
" Bukan begitu."
" Ya sudah... nurut aja bisa nggak sih, kamu itu suka sekali ngajak berdebat denganku, cepat buka bajunya, yang ini ukurannya pas nggak buat kamu." Sabrina mengamati tubuh suaminya.
Glek!
Saat Peter dengan santainya membuka kemeja yang dia pakai, Sabrina tanpa sadar menelan ludahnya sendiri saat melihat tubuh kekar suaminya, ini kali pertama dia melihat tubuh pria selain punya bapaknya, itu pun sudah berkerut, tidak sispex seperti yang dia lihat sekarang.
" Sini." Peter meminta kemeja ditangan Sabrina.
" Iya, ehh... aw.."
Karena kedua matanya masih terus fokus di dadaa bidang milik Peter, konsentrasi Sabrina buyar, kakinya tanpa sadar menyenggol kursi kecil didekat almari tadi.
Dan akhirnya...
Brugh!
Tubuh Sabrina melayang seketika, dan tanpa sadar Peter langsung menangkapnya dan terjadilah apa yang dibayangkan oleh Sabrina tadi.
Cup!
Bukan bibiir dengan bibiir yang menempel, tapi ternyata bibir Sabrina menempel di salah satu cucu gunung milik suaminya.
" Heh... kamu ngapain, kok malah keenakan kamu disitu?"
Setelah terdiam beberapa saat, Peter langsung bersuara, karena Sabrina tak kunjung bangkit dari atas tubuhnya.
Cekit!
" Aw... aw...!" Peter langsung berteriak karena Sabrina malah mengigitnya tanpa perasaan.
" Rasain kamu!" Karena sudah ketahuan, dia gigit saja sekalian.
" Astaga Sabrina, lihat ini, sampai berdarah loh, tanggung jawab kamu!" Peter langsung kembali menarik lengan Sabrina saat dia ingin pergi dari sana.
Brugh!
Karena tarikannya terlalu kuat, Sabrina kembali jatuh dipelukan suaminya.
Kali ini mereka berdua sama-sama terdiam, hanya saling memandang mata mereka masing-masing dan saling mengagumi kelebihan yang ada pada diri mereka dalam diam.
Deg.. deg.. deg..
Bahkan jantung mereka saling berdetak, seolah saling berkejaran saat mereka berada pada jarak paling terdekat.
" Woalah nduk... nduk... kalau mau sunnah Rosul ya jangan dilantai, nanti anaknya kedinginan, pindah ke atas atau ke kamar kamu sana." Ucap Ibu Sabrina sambil tersenyum-senyum melihatnya.
" HAH?"
Peter dan Sabrina sama-sama terkejut karenanya, saat mereka berdua tersadar dari lamunan masing-masing, wajah ibunya sudah ada diatas tubuh mereka.
Malu sudah pasti, terlebih lagi Peter, karena dia tidak menggunakan bajunya, dan posisi mereka memang seperti orang yang ingin melakukan pembukaan produksi secara terburu-buru.
__ADS_1
..." Pasanganmu adalah rezekimu dan takdirmu, maka fokuslah pada kebaikan dan kelebihan pasangan, meski terkadang ia tak sesuai dengan yang kita inginkan, tapi seringkali ia sesuai dengan yang kita butuhkan."...
Jangan lupa tinggalkan vote kalian yang sangat berharga itu ya bestieš„°