
...Happy Reading...
Flashback
Setelah tadi malam hampir sampai pagi Peter merenungi nasipnya sendiri, hari ini walau kurang tidur dia langsung bergegas untuk bersiap-siap pergi ke Apartement milik Chris.
" Bos."
Karena masih terlalu pagi, Chris pun masih duduk santai menikmati secangkir kopi hangat, sambil melihat matahari terbit di balkon apartementnya.
" Heh... ngapain kamu pagi-pagi begini sudah sampai disini, masih mimpi kamu?" Chris langsung menaikkan kedua alisnya karena merasa heran sendiri.
" Jangan akhir pekan kita perginya bos, besok pagi saja, aku sudah mengatur destinasi wisata dan juga kapal pesiar dan segala perlengkapannya."
" Besok pagi? bukannya aku bilang akhir pekan?" Chris jadi heran sendiri, dia yang punya rencana kenapa jadi asistennya yang lebih semangat pikirnya.
" Sabrina kabur!"
" Dari?"
" Dari rumahku lah, dari mana lagi."
" Owh."
" Hah? Owh saja? nggak nanya kenapa alasannya dulu, pergi kemana kek, dengan siapa gitu? dih... punya saudara sekaligus bos nggak ada perhatiannya sama sekali." Umpat Peter sambil berkacak pinggang.
" Cih... memangnya kamu perhatian sama istrimu? apa kamu perduli dengannya?" Chris tersenyum miring sambil menjawabnya.
Der!
Pertanyaan yang sederhana, namun seolah mampu menampar diri Peter, karena dia sama sekali tidak memikirkan akan hal itu.
" Apa itu penting? yang jelas aku sudah menerima dia dalam kehidupanku, menerima ibunya juga, tidak pernah membentaknya, apalagi memarahinya, orang ngomong saja aku jarang dengan dia, apa itu semua tidak cukup baginya?" Jawab Peter perlahan, dia masih bingung untuk mengambil sikap, karena semua yang terjadi terlalu instant untuk dirinya.
" Peter... jadi orang itu jangan seperti gunting, walaupun bergerak lurus tapi ia memisahkan, tapi jadilah seperti Jarum, walaupun menyakitkan tapi ia menyatukan."
Entah dari mana dia mendapatkan kata-kata itu, atau mungkin juga dari segelas air kopi dipagi hari yang sering menginspirasi.
" Maksudnya?"
Peter ahli dalam dunia bisnis, tapi dia lamban dalam dunia percintaan, yang sudah lama dia tinggalkan.
" Lebih baik kalian bertengkar saja, jadi kalian tahu dimana kekurangan atau kesalahan yang terjadi dalam hubungan kalian berdua, daripada saling diam tapi berujung dengan perpisahan tanpa kepastian kan?"
" Jadi aku yang salah?" Tanya Peter dengan polosnya.
" Bukan, tapi anaknya paman gue yang salah!"
" Ya samalah, itu gue."
" Ya syukur lah kalau kamu nyadar!"
" Tapi dia kelihatannya fine aja kalau dirumah, bahkan kemarin dia bisa tertawa ngakak sama gebetan kamu itu, atau mungkin karena ada si Sumarni itu, jadi dia seolah punya pasukan!"
" Haish... malah nyalahin wanitaku lagi, Peter.. kamu itu pernah nggak merasakan hujan saat langit tidak mendung?"
" Pernah."
__ADS_1
" Berarti kamu tahu kan rasanya air mata jatuh saat bibir tersenyum? harusnya kamu tahu itu, IQ kamu kan tidak serendah itu." Ledek Chris dengan penuh penegasan.
" Jadi aku harus bagaimana sekarang bos?"
" Kamu ingin dia tetap bersamamu?"
" Hmm.. mungkin?" Jawab Peter sambil menimbang-nimbang.
" Kok mungkin, jadi pria itu yang tegas, yes or no!" Ucap Chris yang seolah jengah menatap wajah asistennya itu.
" Or." Jawab Peter sambil mengangkat kedua bahunya.
" Kalau kamu masih bimbang dan ragu ngapain kamu ngajak besok perginya, atur kembali jadwalnya di akhir pekan saja!" Chris langsung kesal sendiri jadinya.
" E... jangan bos, aku belum tahu kabarnya Sabrina sampai hari ini, nomorku di block sekarang sama dia!"
" Jadi kamu maunya apa!"
" Ketemu sama Sabrina bos, hampir semalaman aku memikirkannya."
" Berarti yes or no ini jadinya?"
" Yes lah."
" Kalau begitu, ubahlah sikapmu itu."
" Sikap yang mana?"
" Ya setidaknya ajaklah dia ngobrol berdua, saling sharing apa salahnya, asal kamu tahu ya, aku tertarik dengan Gemintang saat itu juga karena sering bersama, ngobrol berdua walau akhirnya sering berdebat, tadi dari sana lah muncul sebuah keinginanku untuk selalu bersama dia, dulu saat awal aku bertemu dengannya, kamu kan tahu aku tidak berminat dengannya sama sekali?" Chris belajar dari kisahnya sendiri.
" Okey lah, biar aku coba dan satu hal lagi, kalau nanti Sabrina nanya aku ikut apa enggak, bilang aja enggak ya."
" Kalau tidak nanti aku jadwalkan meeting anda dengan klien penting satu minggu full, bahkan akhir pekan sekalipun." Hanya Peter asisten yang berani mengancam atasannya.
" Hei... sekarang siapa yang jadi bosnya, kenapa jadi kamu yang memerintahku!"
" Ckk... minta tolong lah bos, kalau nanti Sabrina tau aku ikut, takutnya dia akan menolak, lagian kalau istriku tidak mau ikut, gimana bos mau berduaan dengan si Sumarni kan?"
" Gemintang Lea Prakoso, jangan ubah namanya!"
" Iyalah... siapapun itu, terserah bos saja, yang penting besok pagi-pagi sekali pastikan mereka berdua sudah siap, aku sudah menyiruh sopir bos untuk menjemput mereka."
" Semua sudah kamu cover?"
" Tentu, pokoknya everything is ready."
" Ckk, tapi aku tidak janji, soalnya itu bukan hari libur, mereka kan juga kerja."
" Halah bos... ayolah bujuk mereka, anda pasti bisa."
" Ya sudah, nanti sebelum jam makan siang aku kesana."
" Okey, syemangat!"
Peter bahkan mengepalkan satu tangannya ke udara, untuk menyemangati bosnya nanti untuk pergi menemui Gemintang dan Sabrina di kantornya.
flashback off
__ADS_1
Saat Chris baru saja sampai kembali ke kantornya, ternyata Peter sudah menunggunya di loby kantor, dia sudah tidak sabar ingin mendengar jawaban dari wanitanya itu.
" Akhirnya datang juga, gimana bos? apa mereka setuju?" Peter langsung menyambutnya dengan satu pertanyaan.
" Tidak."
" Yaaaahh... gimana sih bos, dirayu dong, semua sudah siap ini, melawan pesaing perusahaan besar saja bisa, lah ini merayu dua wanita saja loh, masak gagal sih?" Peter seolah membombardir perkataan yang menjadi unek-uneknya.
" Aku kan nggak bilang gagal Sumarno!"
" Namaku Peter bos!"
Dia yang sering mengganti nama orang, ternyata juga tidak terima jika namanya sendiri diganti.
" Mereka memang tidak setuju, tapi aku kan tidak meminta persetujuan dari mereka, aku memberikan perintah, mau tidak mau mereka tetap harus mau, kalau nanti mereka menolak saat dijemput supir, biar aku bawa Helikopter sekalian buat membawa mereka pergi." Ucap Chris dengan tingkat percaya diri penuh.
" CAKEP!"
" Kenapa jadi kamu yang senang?"
" Hehe... enggak kok bos!"
" Emm... Peter, ayo kita bermain fast question!"
" Okey, siapa takut."
" Sahabat atau saudara?"
" Saudara lah, baik buruknya mereka, kita tetap satu nasab dengan mereka."
" Kerja atau pacaran?"
" Kerja lah, pacaran doang mau makan apa kita?" Jawab Peter dengan lantang dan cepat.
" Pilih Harta, tahta atau Sabrina."
" Sabrina lah, ehh... opsh!" Begitu mendengar nama Sabrina disebut, dia sudah tidak memikirkan hal yang lain lagi.
" Cih... bisa-bisanya kamu ngatain aku bucin akut, lalu modelan orang kayak kamu ini apa?"
Chris langsung tersenyum sinis dan sengaja menabrakkan bahunya di lengan Peter yang masih mendekap bibirnya sendiri karena merasa terjebak dengan fast question dari Chris.
Aish... kenapa aku langsung memilihnya? apakah ini tanda bahwa aku sudah... owh... ini tidak mungkin, ini mustahil...
Akhirnya Peter mengikuti langkah big bosnya sambil mengumpat dirinya sendiri, dia masih belum menyadari dengan perasaannya dan masih jual mahal untuk mau mengakui itu semua.
..."Manusia diciptakan bukan untuk sempurna, tapi untuk berguna. Maka lakukanlah kebaikan walaupun tak sempurna dan biarkanlah Alloh yang menyempurnakan langkah-langkahmu."...
Coba berikan kata-kata untuk Peter bestie..
Kapok ora koe?😅🤣
2....
3....
__ADS_1