Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
89. Kejutan Hidup


__ADS_3

...Happy Reading...


Liburan singkat mereka pun telah berakhir, walau dua pria tampan itu belum juga bisa meluluhkan hati wanita kesayangan mereka masing-masing, namun keduanya tidak patah semangat karena masih ada waktu dan kesempatan yang lainnya.


Malam ini Chris dan Peter sudah bersiap untuk menjemput ayah dan ibu tirinya, untuk menghadiri jamuan pertemuan para konsultan bisnis, Entrepreneur dan juga kalangan pengusaha muda. Jamuan ini memang sering diadakan satu tahun sekali.


" Peter... gimana kalau kamu saja yang menjemput mereka, aku tunggu saja di hotelnya nanti." Saat sudah masuk kedalam mobil, Chris kembali ragu, entah mengapa dia selalu malas sekali, walau hanya untuk sekedar mampir saja ke rumah utamanya.


" Nanti paman marah, aku juga yang kena imbasnya, apa susahnya jemput mereka, nanti saat sudah sampai di hotel kita bisa pisah dari mereka." Peter sudah bisa menduga bagaimana reaksi ayah dan ibu Chris jika harus menolak, mereka selalu mementingkan reputasi dalam hal bisnis.


" Ckk.. kenapa sih harus berangkat bareng satu keluarga, kenapa nggak naik mobil sendiri-sendiri saja, punya sopir banyakkan di rumah." Umpat Chris yang seolah merasa keberatan dengan hal itu.


" Biar kelihatan kompak dong bos, biar rekan-rekan bisnisnya melihat kalian itu seperti keluarga cemara, yang akur, guyup rukun dan bersahaja, karena itu juga berpengaruh besar bos dalam dunia perbisnisan." Jawab Peter yang mencoba menghibur, dia tahu benar betapa bencinya big bos nya itu kepada ibu tirinya.


" Heleh... itu hanya pencitraan saja, dari dulu nggak ada capek-capeknya berdrama." Chris seolah muak dengan keluarganya, apalagi nanti saat melihat gaya ibu tirinya yang sosialita itu.


" Siapa tahu nanti ada yang menerbitkan drama keluarga kalian dan ternyata laris manis di pasaran, bagaimana kalau kita coba saja bos?" Peter malah memikirkan hal lain.


" Bisnis dan uang saja yang memenuhi isi kepalamu itu kan?" Chris menatap jengah ke arah asistennya itu.


" Habisnya mikir kisah cinta malah Ruwet bos, pusing kepalaku, semua yang aku lakukan serba salah dimatanya, Sabrina itu terlalu ke Selatan, hingga sulit untuk di Utarakan." Jawab Peter saat mengingat semua tentang Sabrina.


" Sabrina lagi? tak habis-habis kamu mengumpat dirinya dari kemarin, sepertinya kamu sudah gila karenanya." Ledek Chris sambil melirik Peter.


" Entahlah... Dia itu selalu menari-nari dalam pikiranku dengan indahnya, apalagi kalau sedang cemberut bos, ish... gemes banget pengen ngasih pertolongan pertama lagi dengannya, yang lama banget, kayaknya bisa jadi imun buat diriku yang hampa ini." Peter bahkan tadi malam sulit tidur saat membayangkan pertolongan nya dengan Sabrina kemarin.


Plak!


" Sejak kapan kamu jadi hello kitty seperti ini, sok imut kamu!" Chris langsung menepuk lengan asistennya yang sudah tersenyum tersipu-sipu itu.


" Sejak aku jatuh cinta padanya, perasaan aku sering terganggu, adakala aku rasa curiga, adakala semacam tak percaya, adakah kau setia kepadaku? oleh kerana hatiku setia, sebab itulah teguh cintaku, oleh kerana hati sudah terpikat, sebab itu aku Sayaaaaang..."


Seperti biasa, jika hati Peter sedang bahagia dia selalu bersenandung ria sesuka hatinya.


" Diamlah... cepat berangkat, nanti kita terlambat, malas aku membahas masalah cinta dengan Makhluk Bucin modelan kayak kamu!"


" Heleh... sesama bucin jangan saling menghujat!" Umpat Peter yang langsung menghidupkan mobilnya.

__ADS_1


Akhirnya mereka berdua segera berangkat ke rumah utama Chris. Saat mereka sampai kedua orang tuanya pun sudah siap, jadi tanpa membuang waktu lagi mereka langsung berangkat.


Saat mereka sampai di hotel itu, ternyata sudah ramai orang berkumpul disana, para petinggi perusahaan sudah bergerombol dengan rekan mereka dari kubu masing-masing.


" Robert?" Tiba-tiba ada rekan ayah Chris yang langsung menyambutnya.


" Barra? kamu apa kabar?" Ayah Chris langsung menyambutnya dengan hangat.


" Kabar baik, sudah lama sekali tidak bertemu denganmu?" Barra langsung merangkul Robert dengan erat.


" Sudah jadi pengusaha sekarang?" Tanya Robert dengan tatapan heran.


" Baru mau merintis, sebenarnya ini ide dari putraku, dia yang memang sudah lama berkecimpung dalam dunia bisnis, aku hanya membantunya saja." Jawabnya dengan merendah.


" Kamu kan memang berbakat sedari dulu jadi pembisnis, kenapa tidak dari dulu terjun langsung? sekarang aku sudah mulai pensiun kamu baru mau memulainya?"


" Hmm... sebenarnya aku pun sudah tidak sekuat dulu lagi, aku hanya membantu putraku saja."


" Owh begitu? sekarang dimana putramu? sudah lama sekali aku tidak menemuinya, bahkan saat putramu menikah saja aku tidak bisa hadir saat itu."


" Tidak apa-apa, kamu kan memang pembisnis yang handal, pastilah sibuk, aku pahamlah, hmm... mana tadi putraku ya, dia baru mengantar istrinya ke kamar mandi tadi, tunggu sebentar ya, mereka pasti akan segera kembali." Barra langsung kembali menepuk dan merangkul sahabat karibnya saat mereka masih dibangku kuliah.


Mereka memang sahabat dekat dari dulu, namun saat itu, Barra lebih memilih usaha kuliner karena memang dia dari keluarga yang sederhana saja, setelah itu mereka jadi jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.


" Wah... kamu bisa saja Robert, jangan dengarkan ayahmu itu, dia memang suka berlebihan."


" Salam kenal Om, emm... memangnya om bekerja dalam bisnis apa?" Tanya Chris dengan sopan, inilah tujuan pertemuan besar ini, agar para pembisnis bisa bekerja sama satu sama lain atau sekedar sharing-sharing saja.


" Property nak, ya... walau belum terlalu besar, namun lumayanlah cukup laku dipasaran akhir-akhir ini."


" Woah... kebetulan sekali, saya juga baru mencari partner kerja sama dalam bidang property Om." Ucap Chris yang langsung berminat, dia percaya jika ayahnya sudah memuji seseorang, sudah pasti dia memang orang yang hebat.


" Wah kebetulan sekali, bolehlah kita atur pertemuan kita nanti ya nak." Barra dengan senang hati menyanggupinya, secara perusahaan Chris kan memang sudah berkembang dimana-mana, pembisnis mana yang tidak mengenalinya, muda tampan dan berbakat.


" Iya Om, nanti biar asisten saya yang mengurus segalanya." Ucap Chris dengan mantap.


" Kamu benar-benar mirip sama Robert, selain tampan semangat kerjamu itu sungguh luar biasa."

__ADS_1


" Terima kasih Om."


" Kamu sudah menikah nak?"


Haish... inilah pertanyaan yang paling aku benci disaat acara-acara seperti ini, memangnya kenapa kalau aku lambat menikah, apa dunia akan hancur jika aku masih single?


" Emm... emangnya menikah itu sunnah nya disegerakan seperti berbuka puasa ya Om?"


" Hah?" Mereka semua terperangah dengan jawaban Chris.


" Tapi bukankah waktu Magrib di dunia itu tidak pernah serentak?" Ucap Chris kembali meneruskan.


" Mantul bos!" Bisik Peter sambil mengacungkan satu jempolnya.


" Karena orang yang tepat itu, kadang tidak dipertemukan dengan waktu cepat." Chris tersenyum dengan bangganya, terkadang jiwa sensitifnya memang sering muncul kalau ditanya soal menikah.


" Waarrbiyasah... salam satu Komando boskuh!" Bisik Peter kembali dengan senyum tipisnya, dia sungguh tidak menyangka jika Chris bisa berbicara sekeren itu pikirnya.


" Ahahaha... putraku ini memang bandel, kalau disuruh menikah ada saja alasannya, tapi dia sudah punya kekasih kok, namanya siapa ya buk?" Ayah Chris menanyakan kepada istrinya yang menjadi pendengar setia disampingnya.


" Hmm... Gempi... eh... apa nama panjangnya nak?" Ibu Chris pun lupa, karena dia memang tidak terlalu perduli dengan anak tirinya itu.


" Gemintang." Jawab Chris dengan penuh senyuman.


" APA? GEMINTANG?" Barra seolah kaget saat mendengarnya.


Heh... kenapa? apa dia mengenalnya? lah... bodo amat, aku kan memang sedang dekat dengannya.


" Iya Om, namanya Gemintang, apa Om mengenalinya, dia juga wanita pembisnis." Jawab Chris dengan bangga.


" Apa yang kamu maksud Gemintang yang itu?" Barra langsung menunjuk seorang wanita yang sedang berjalan dengan putranya dari arah Toilet.


Duaaarrrr!


" Haish... Wassalam kalau begini ceritanya." Peter langsung mengusap wajahnya dengan lemas, saat melihat siapa yang datang.


Sedangkan Chris dan kedua orang tuanya langsung melotot kearah dua insan itu, mulut mereka pun sampai terngaga saat melihatnya, karena terlalu terkejut dengan kenyataan yang mereka lihat.

__ADS_1


..."Terkadang sebagai manusia, kita ingin sekali bisa mengintip takdir kita, agar hidup lebih berencana, tapi kenyataannya kita baru sadar, bahwa Tuhan menyimpan sebuah Takdir untuk kejutan."...


__ADS_2