Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
92. Modal Nekat


__ADS_3

...Happy Reading...


Tak mudah untuk mendefinisikan cinta secara pasti. Apalagi kalau menyangkut cinta sejati. Namun pastinya semua orang pernah mengetahui apa rasanya cinta dan kapan mereka akan merasakan hal ini.


Peter masih setia duduk termenung disudut rumah sakit, dia memang ada disana tapi pikirannya sedang jalan-jalan dihati Sabrina.


" Peter, biar aku yang menjaga ayahku disini, kamu cepat pulang."


Chris walau terlihat cuek, tapi sebenarnya dia sangat perduli dengan asistennya itu, karena Peter juga selalu setia menemaninya kapanpun dia butuhkan.


" Pulang? why?" Peter langsung menatap Chris dengan penuh tanya, tumben-tumbenan dia mau menemani keluarganya sendiri, biasanya apa-apa dia yang disuruh.


" Kok kenapa? kata kekasihku, istrimu itu sakit?"


Bukan hanya masalah pekerjaan, masalah pribadi pun Peter selalu siap membantu Chris, walau bicaranya ceplas-ceplos tak beraturan dan kadang sering membuatnya naik darah, tapi Peter selalu ada bila dibutuhkan.


" Owh ya? sakit apa? haish... dia bandel sih dibilangin, suruh tinggal di Apartement gue juga, ngeyel aja bisanya, kalau sakit begini siapa coba yang merawatnya, susah sendiri kan dia?"


Dia segera menggunakan kembali jasnya yang sempat dia lepas tadi dan langsung bersiap untuk menemuinya, tanpa harus berpikir panjang.


" Kenapa kamu bertanya denganku? apa urusannya denganku?" Chris meliriknya dengan heran, yang salah siapa, ngocehnya dengan siapa pikirnya.


" Ya sudah, biar aku pergi ke kontrakannya saja, Sum... minta alamat kontrakannya istriku, chat ya, cepat!" Dia seolah memberikan titah kepada Gemintang.


" Panggil dulu yang benar?" Jawab Gemintang yang langsung mengeluarkan ponselnya, walaupun dia adalah teman debatnya, namun jika Peter perduli dengan sahabatnya itu, dia pasti akan mendukung sepenuhnya.


" Apa yang salah dengan Sumarni? kamu juga memanggilku Sumarno!" Bahkan dalam situasi seperti ini pun Peter tetap mencari perkara dengannya.


" Ya sudah, kamu cari sendiri saja alamatnya, ngapain nanya-nanya ke gue, usaha jadi orang itu!" Walau sebenarnya dia juga pasti akan mengirimkannya, Gemintang hanya bermain-main saja saat ini, karena menurutnya seperti ada yang kurang jika tidak berdebat dengan Peter kalau bertemu.


" Chris? lihatlah kelakuannya itu?" Peter langsung mengadu dengannya, namun Gemintang tetap terlihat cuek-cuek saja.


" Sayang... jangan begitu, kirim alamat istrinya ya, biar dia melaksanakan tanggung jawabnya sebagai seorang suami, okey."


Saat berkata-kata dengan Gemintang, nada suaranya langsung melembut bagai kue salju, bahkan dia mengusap lengannya dengan penuh cinta dan kasih sayang.


" Ehh... tadi kamu bilang apa? kekasihku? emang kalian sudah jadian? kapan? atau kamu hanya mengaku saja?" Setelah beberapa saat dia mulai menyadari, ada yang lain dari dua makhluk hidup dihadapannya ini, dia kembali menoleh kearah keduanya dengan tatapan menyelidik.


" Dih... sory ya! kami sudah resmi jadian, okey!" Chris langsung merangkul dan merapatkan tubuhnya dengan Gemintang.


" Kapan?" Tanya Peter yang seolah tidak percaya dengannya.

__ADS_1


" Tadi dong." Jawab Chris dengan cepat, bahkan dia menyandarkan kepalanya di kepala Gemintang, agar Peter semakin percaya dengannya.


" Heleeh... paling juga kalian hanya meneruskan sandiwara kalian itu kan, karena ada paman dan tante disini?" Dia masih mencoba untuk menyangkalnya.


Cup


Chris langsung menjatuhkan satu kecvpan di kening Gemintang untuk menyempurnakan cerita cintanya.


" Masih belum percaya lagi? atau kamu mau melihat aku mencivm bagian lainnya?" Chris langsung memiringkan wajahnya ke arah Gemintang.


" Mas.." Gemintang langsung memelototkan kedua matanya, tanda dari sebuah penolakan.


Prok.. prok.. prok!


" Woyooo... disaat yang lain mengkhawatirkan ayahmu, kalian berdua malah jadian? luar biasa kalian memang." Peter langsung bertepuk tangan karenanya.


" Mau pergi nggak kamu, atau kami saja yang pergi bercinta, kamu yang jagain ayah disini!" Chris langsung saja mengusirnya, berdua dengan Gemintang dimanapun akan lebih menyenangkan, dan ayahnya pun sudah baik-baik saja, jadi dia tidak terlalu risau untuk itu.


" Heish... enak saja, emang cuma kalian saja yang bisa bercinta, gue juga bisa kale!" Peter langsung ikut menyombongkan diri, padahal entah apa yang akan terjadi nanti.


" Heleh... orang kamu asyik ditolak kok!" Ejek Gemintang sambil melengos melihat semangatnya yang membara.


Masalah ditolak atau tidaknya urusan belakang pikirnya, yang penting didepan teman debatnya dia harus terlihat keren.


" Modal apa? setahuku, Sabrina itu bukan wanita yang bisa kamu rayu hanya dengan ketampanan dan harta!" Gemintang langsung menatap remeh dengannya.


" Modal nekad dan bismilah, semoga doa ku di ijabah, jangan lupa kirim alamatnya Sum, bye!" Teriak Peter dengan semangat yang menggebu.


" Jadinya kamu punya utang ya sama aku!" Teriak Gemintang sambil mengirimkan alamat rumah Sabrina.


Siaaalll... aku kalah dengan bos, masak dia sudah bisa mendapatkan hatinya? padahal duluan aku yang menikah, wah... apapun yang terjadi, aku harus bisa menakhlukan hati Sabrina hari ini juga.


Peter langsung membalikkan badannya dan pergi berlalu begitu saja dengan segala umpatan dihatinya.


" Heh? kontrakannya deket dengan apartemenku?" Celoteh Peter saat melihat alamat yang dikirim oleh Gemintang.


Ternyata jarak rumah kontrakan Sabrina dengan apartement Peter tidak begitu jauh, karena Sabrina mengontrak rumah itu dari jaman dia masih bekerja dan satu kantor dengan Peter.


" Pokoknya, hari ini aku harus bisa memaksa dia untuk pindah ke rumahku, enak saja dia mau jauh-jauhan dari suaminya, aku kutuk dia jadi patung baru tahu rasa, biar bisa aku pajang di kamar mandi sekalian, opsh... kenapa kamar mandi, astaga otakku ini."


Peter langsung mempercepat laju kendaraannya, dia sudah tidak sabar ingin melihat istrinya itu.

__ADS_1


" Ckk... ternyata ini kontrakannya, astaga kecil sekali, luasnya mungkin hanya selebar dua kamar mandiku, ish... kasian sekali istriku." Peter kembali merapikan bajunya, mengecek aroma kedua ketiaknya, siapa tahu bau parfumnya sudah hilang dan dia bisa kembali menyemprotnya agar terus wangi sepanjang hari.


" Siapa tahu hari ini ada kemajuan kan, dia mau meluk gue gitu kan sedap, hehe.."


" Tenang sayang, mas mu yang ganteng ini akan segera membawamu ke istana kita berdua."


Dengan mengucap bismilah, dia langkahkan kakinya menuju pintu yang ternyata sedikit terbuka.


" Kemana dia? ceroboh sekali, pintu dibiarkan terbuka tapi orangnya nggak ada, emm... buat kejutan seru kayaknya ini, kangen juga sama wajah cemberutnya itu kalau lagi ngedumel, pengen banget bisa gigit itu bibiir." Peter langsung saja nyelonong masuk dan berjalan mengendap-endap seperti maling.


" Aw... pelan-pelan mbak, aduh... emh..."


Tiba-tiba saat sampai disebuah kamar, Peter mendengar suara Sabrina yang seolah mendes@h kesakitan.


" Maaf ya Na... mbak terlalu terburu-buru, apa sakit banget?"


Jantung Peter tiba-tiba melaju dengan cepat karena ada seorang wanita juga didalam kamar itu.


" Santai aja dong mbak, biar bisa aku nikmatin, tangan mbak itu terlalu kuat, pelan saja mbak."


Nafas Peter seolah sesak, perutnya sudah mulai terasa mual, namun dia masih mencoba untuk bertahan.


" Baiklah... kalau begini nikmat nggak Sabrina?"


Suara wanita itu berhasil membuat Peter mengingat akan kejadian kisah cintanya saat masih remaja dulu.


" Emh... aw... mantap mbak, gini baru enak, pelan tapi pasti! pelayanan mbak memang paling jos deh!" Suara Sabrina pun terdengar sangat menikmatinya.


Ya Tuhan... apa semua wanita yang engkau takdirkan untukku berperilaku sama? kenapa Tuhan, kenapa harus Sabrina?


Setelah berulang kali mengambil nafas dalam-dalam, Peter memejamkan kedua matanya dan langsung menendang pintu kamar Sabrina dengan kuat.


Braak!


Glodak!


" SABRINA APA YANG KAMU LAKUKAN!"


Pintu kamar kontrakan itu berhasil Peter jebol hanya dengan satu kali tendangan saja. Emosinya kali ini benar-benar memuncak dan rasa kecewanya melebihi luasnya lautan di Samudera Hindia.


..."Jangan pernah berprasangka buruk terhadap diri sendiri, orang lain dan kehidupan, sebelum kita mengetahui sebab akibatnya, apalagi berprasangka buruk terhadap Tuhan, agar kamu tidak menyesal dikemudian hari."...

__ADS_1


__ADS_2