
...Happy Reading...
Pada prinsipnya Setia itu memang wajib, tapi Sadar Diri sangatlah perlu dalam membina sebuah rumah tangga.
Kalau hanya mencari yang mau itu mudah, mencari yang sama-sama butuh pun tidaklah sulit, akan tetapi jika dibandingkan dengan hal tersebut, bagi kita yang terpenting dalam mencari pasangan adalah yang bisa sama-sama saling sadar atas kelakuan sendiri, jangan sampai membuat pasangan kita sakit hati, sedih dan kecewa.
Saat sepasang penantin baru ini sudah kembali kedalam kamar mereka, Gemintang masih memikirkan siapa sosok wanita tadi, dia seolah masih belum mendapatkan jawaban dari suaminya itu.
" Eherm.."
Chris yang sebenarnya ingin menagih janji Gemintang yang dia ucapkan dibawah tadi, namun dia gengsi, jadi hanya memilih berdehem ria, dan berharap istrinya itu paham.
" Eherm.. eherm.."
Chris sedikit mengeraskan suaranya, karena Gemintang masih terlihat diam saja, seolah mengacuhkan dirinya.
" Uhuk... uhuk... sayang!" Chris jadi gemas sendiri melihatnya.
" Eh... iya mas, ada apa? mau minum? minum apa, biar aku ambilkan? atau mau aku pesankan sesuatu ke Restoran bawah?"
Aku tidak mau pergi ke Restoran bawah, tapi aku maunya dibawah tubuhmu sekarang!
" Enggak usah."
" Ya sudah, aku ambilkan air mineral saja ya?" Gemintang malah beranjak berdiri, pergi ke sudut ruangan.
Dasar wanita, baru beberapa saat lalu berjanji, cuma ditinggal mandi sebentar sudah lupa janjinya, dia pasti sengaja itu!
" Aku nggak mau minum itu!" Chris langsung membanting tubuhnya di kasur empuk disana.
" Owh... trus maunya apa? biar aku pesankan saja, nanti biar pelayannya yang anter kesini okey?"
" Aku maunya minum itu!" Chris langsung menunjuk saja kedua benda yang dia sukai tanpa berbasa-basi.
" Pffftth... udah pandai sekarang ya mas?" Gemintang langsung menyilangkan kedua tangannya didepan dadaanya.
" Kamu ini, baru ditinggal sebentar saja sudah amnesia, mana tadi janji manismu?" Chris langsung menutup wajahnya dengan bantal.
" Astaga mas... kalau ngambek begini jadi lucu loh? tapi aku laper mas, gimana dong?" Gemintang semakin gencar menggodanya.
" Bukannya tadi sudah makan?"
" Kan laper lagi loh, hari ini kita dipajang lama banget, nggak sempet ngemil lagi, jadi udah lapar lagi nih."
" Aish... terserahlah!" Mood Chris kembali memburuk saat si Bruno sudah mulai On, namun harus gagal menerjang jalanan.
" Mas... lihat sini dulu!" Gemintang menepuk punggung suaminya yang malah tidur tengkurap, karena tidak ingin bruno mengetril ke dibalik celana.
" Malas!" Umpat Chris samar-samar dibawah bantal.
" Hey... lihat sini dulu, baru boleh lanjut ngambek lagi!"
" Apaan sih, mas udah nggak mood!" Chris tetap tidak mau bangkit dari tidurnya.
" Ya udah kalau begitu, aku tutup lagi nih!"
Tutup? apa dia sudah membukanya?
Otak Chris langsung loading seketika, kalau sudah berhadapan masalah ranjang bergoyang dengan istrinya.
" Tunggu!"
Chris langsung melempar bantalnya kemudian bangkit dan menoleh kearah istrinya.
Uhuuuuyy!
Glek!
Ternyata Gemintang sudah memperlihatkan apa yang Chris inginkan, minuman nikmat dan bergizi walau tidak keluar isinya.
Haurm!
Chris langsung saja menerkam dan menerjang apa yang ada didepan mata, bahkan Gemintang sampai kuwalahan sendiri melihat keganasan suaminya yang seolah kehausan.
" Pelan saja mas, ntar kalau rusak nggak ada sparepatnya itu loh, emh!" Gemintang hanya bisa mengusap kepala suaminya yang sudah menempel dengan rekat dengannya.
__ADS_1
" Yank... tunaikan janjimu sekarang?" Chris menatap wajah istrinya dengan mupeng, seolah adek kesayangannya sudah mendesak ingin senam ditempat ternyamannya.
" Fuuhh... inget aja mas ini kalau yang mantap-mantap, ya sudah.. kali ini biarkan istri cantikmu ini beraksi!"
Gemintang langsung mendorong tubuh suaminya kebelakang, dan akhirnya pasrah terlent*ng menerima serangan maut dari istrinya.
Saat Gemintang sudah selesai pemanasan dan mampu membuat suaminya tersenyum-senyum menggila, saatnya dia berpindah ke pusat inti.
Slep!
Geerr!
Kedua mata mereka sama-sama saling terpejam, merasakan kehangatan yang tidak terkira.
" Gem... woi... help me please!"
Tiba-tiba suara Sabrina menggema diruangan dan berhasil menggagalkan aktifitas sepasang pengantin baru ini.
" Aduh gusti... kenapalah Engkau datangkan makhluk penggangu disaat-saat seperti ini." Gemintang langsung ambruk diatas tubuh suaminya sambil mengumpat sahabatnya itu.
" Bos... istriku nggak enak badan ini, biarkan dia masuk dulu sebentar." Peter pun akhirnya ikut buka suara saat pintu itu tidak bergerak sedikitpun.
Dasar teman Duralexx!
" Biarkan saja yank, nggak usah ngurusin mereka!" Chris yang sudah setengah on fire langsung memeluk tubuh istrinya karena sudah tidak tahan lagi.
" Tapi aku nggak bisa kalau ditungguin orang diluar mas." Gemintang langsung menghantukkan kepalanya didadaa kekar suaminya dengan wajah yang prustasi.
" Anggap saja nggak ada orang yank, ayoklah... lanjutin kayak tadi."
" Nggak bisa mas, kalau kayak gini tuh ibarat kita lagi ujian trus mau nyontek tapi tahu kalau ditungguin pengawas, nggak enak banget rasanya!"
" Tapi yank, aku sudah..."
" Tahan ya mas, kita cari tahu dulu, apa kemauan dua makhluk pengganggu itu." Gemintang akhirnya bangkit dari tubuh suaminya. Dan berhasil membuat wajah Chris merah padam karena menahan kesal yang tidak terkira.
Brak.. brak...
" Gemintang Lea Prakoso!"
" Bos Chris Arthur!"
" Woi... bisa hancur nanti pintu kamar hotel ini!"
Akhirnya sepasang pengantin baru itu muncul dibalik pintu hotel itu, hanya dengan menggunakan jubah tidur mereka seadanya.
" Gem... help me please?"
" What happend Boneng, bisa nggak besok aja minta tolongnya, nggak tau waktu banget deh kalian berdua ini, gue lagi kerja lembur tau nggak!" Umpat Gemintang sambil melotot.
" Kerja apaan jam segini, kayak nggak ada waktu lain lagi untuk bekerja!" Peter pun menjawabnya dengan polos.
" Kerja buat anak ngerti nggak!"
" Hehe.. maaf, tapi aku beneran masuk angin, minta tolong kerokin ya Gem?" Pinta Sabrina dengan wajah memelasnya.
" Astaga Sabrina! kan ada obat tolak angin, tolak miskin atau tolak apa sajalah itu, kenapa nggak suruh suami loh beliin itu dibawah!"
" Aku tuh dari dulu sudah terbiasa dikerokin kalau masuk angin sama ibu, kalau di kontrakan banyak tetangga juga yang bisa, kalau cuma obat kek gitu doang nggak mempan Gem."
" Kan ada suamimu itu, kenapa tidak kamu suruh, hah?"
" Aku nggak bisa Sumarni! aku tidak pernah melakukannya, nanti kalau tubuh istriku lecet-lecet kan kasian, ya kan sayang."
" Ayolah Gem... bentaran doang, jeda lima belas menit masak nggak boleh sih, please!" Sabrina langsung menarik-narik lengan sahabatnya itu.
" Ckk... ya sudah lah yank, kamu urusin dulu temanmu itu, biar mereka cepat berhembus dari sini!" Akhirnya Chris memilih pergi ke kamar mandi duluan, untuk merilekskan si Bruno yang masih menantang dibawah sana dengan sabun yang tersedia, pikirnya.
" Ya sudah mana balsem sama koinnya!"
" Mas... tolong cariin koin dan belikan balsem di apotek atau toko-toko dibawah sana, pasti ada yang jual, dibawah sana kan ada Mallnya juga."
" Koin apa sayang?"
" Koin Emas Sumarno! buruan sana, sebelum kesabaranku menipis karena ulah kalian!" Teriak Gemintamg yang semakin kesal.
__ADS_1
" Okey.. wait a minute sayang!"
Peter langsung berlari turun kebawah, karena hotel itu memang cukup besar jadi memang ada fasilitas yang cukup komplit disana, selain mall dilantai paling bawah juga ada kafe tempat nongkrong anak muda jaman sekarang.
" Kenapa kamu bisa masuk angin!" Gemintang langsung duduk disampingnya dan mulai menginterogasi sahabatnya itu.
" ACnya dingin banget coy, kagak nahan gue, baru buka baju satu jam aja perutku lansung kembung!"
" Lagian elu ngapain buka baju sampai sejam Bokir!"
" Takkan mungkin nanam benih pake baju kebaya! aku kan nggak bawa baju ganti tadi!"
" Ettttdaaah... yang pengantin baru itu gue, kenapa elu juga ikutan kerja rodi!"
" Dih... tempat VIP gaes, sayang banget kalau dilewatkan begitu saja tanpa main-main kan, siapa tahu jadi, anaknya made in hotel elit, haha?"
" Nah tuh... leher kamu sudah merah-merah, kenapa nggak suruh suami loh buat kek gitu di punggung elu, disaat kalian sudah selesai mantep-mantep trus gangguin gue gitu!" Gemintang langsung menggeratkan giginya saat melihat leher Sabrina yang dipenuhi dengan kiss mark disana.
" Enak aja, bisa-bisa bibiir suami gue jontor dong, kalau sampai satu badan! kalau nggak pake balsem juga mana enak!" Kalau sudah ngobrol berdua begitu, seolah sudah tidak ada lagi rem di mulut mereka masing-masing.
" Mana lagi suami elu itu, lama banget beli balsem doang, jangan-jangan lupa jalan lagi dia!" Setelah menunggu beberapa waktu, namun Peter tak muncul-muncul juga.
" Ya enggaklah... bentar lagi paling juga nyampek!"
" Sayang... aku datang!" Suara Peter terdengar ngos-ngosan, karena dia berlari dari arah Lift.
" Umur panjang dia, mana mas?"
" Nah." Peter menyerahkan satu kantong kresek disana."
" Astaga mas, banyak banget ini?"
" Mbaknya tadi tanya, balsemnya merek apa? aku kan lupa nggak bawa ponsel tadi, jadi daripada bolak balik keatas, mending aku beli aja semua merek yang ada disana." Jawab Peter dengan santainya.
" Pffthhh.. ya ampun Sumarno! ya sudahlah... kalau nggak habis kan nanti bisa buat cemilan kalau lagi kedinginan!" Gemintang hanya bisa menahan tawanya.
" Emang enak?" Peter bahkan bertanya dengan polosnya.
" Enak banget, rasa mint! mana sini koinnya, lama kamu!" Jawab Gemintang yang tidak ambil peduli.
" Bentar, mana tadi ya!"
" Jangan bilang kamu lupa nuker tadi sama mbaknya! gue pites loe lama-lama ya!" Umpat Gemintang kembali.
" Ngapain nuker, kayak orang susah aja, nah gue beli yang paling gede, biar enak megangnya." Peter menyerahkan kotak kecil yang terlihat mengkilap.
" Koin apaan ini, kenapa pake kotak segala, emang sisa beli balsemnya nggak ada uang recehnya ya mas?" Sabrina pun ikut kepo melihat isi kotak yang ada ditangan Gemintang.
" Kok uang receh sih, kata si Sumarni tadi pake koin emas, ya sudah... aku beli aja mas logam mulia tadi, untung di mall nya tadi ada toko perhiasan."
" Astagfirullohhal'azim..!" Sabrina hanya bisa mengelus dadaanya melihat kegilaan suaminya.
" Bahahahahaha... Entah siapa yang salah... ku tak tahu!" Gemintang malah langsung bernyanyi sambil tertawa.
" Elu sih Gem, kalau ngomong asal aja!"
" Biarkan saja, malah bagus dong, nggak sia-sia kamu dapet suami modelan kayak begini Na, bahkan koin buat kerokan aja berjuta-juta kali lipat dari uang maharmu, wkwkwk.."
" Astaga mas, kan sayang masak emas logam gini buat kerokan, maksud gemintang tadi itu koin lima ratusan atau uang receh loh."
" Bagus dong Na, gini kan jadi semangat gue ngerokinnya, kan keren Kerokan ala Sultan, haha..." Hilang sudah kekesalan Gemintang karena ulah kepolosan Peter.
" Ya sudah, nggak papa sayang, pakai aja, lagian juga demi kamu apa sih yang enggak, bagi mas tubuh kamu itu sangat berharga buat mas, jadi emas logam itu tidak berarti apa-apa buat mas, okey... pake aja sayang, siapa tahu kamu cepet sembuh kerokan pake ini ya kan?"
" Mantep, hahaha!" Gemintang sampai memegangi perutnya karena menahan tawa.
" Ya ampun... sayang banget koin emas ini jadi bau balsem. Haduh...jiwa Kere gue meronta-ronta melihat koin emas itu, saat terkena daki gue!" Sabrina menatap haru kearah kotak itu.
" Sudah nggak papa yank, ntar kalau rusak kita beli lagi, dibawah tadi masih banyak okey?" Peter pun seolah terlihat santai saja.
" Hmm... terserah deh."
Apapun itu terima kasih ya Alloh, Engkau telah mempertemukan aku dengan orang-orang baik disekitarku, walau agak Gesrek semua..
Akhirnya walau hati seolah tidak rela, namun Sabrina pasrah juga, karena Gemintang juga langsung mencelupkan koin emas itu ke dalam tempat balsem, tanpa rasa takut apalagi rasa sayang dengan benda itu.
__ADS_1
Sekecil apapun cahaya, ia akan bermanfaat saat dalam keadaan gelap, seperti itulah doa, sekecil apapun permohonan kita, pasti Alloh mendengarkan.
Tetap semangat, jangan lupa berdoa untuk segala rencana yang sedang diperjuangkan.