
...Happy Reading...
Pagi itu Peter termenung sejenak, dia masih memikirkan apa yang harus dia lakukan nanti setelah kedatangan ibu mertuanya yang tiba-tiba saja ingin tinggal bersama mereka.
Sedangkan bagi Peter, menerima Sabrina sebagai istrinya saja masih terasa canggung, apalagi ada ibu nya, yang sudah pasti akan menjadi tim pengawas bagi mereka berdua nantinya.
Sebelum dia berangkat ke kampung Sabrina, terlebih dulu dia pergi ke rumah Chris untuk berpamitan dengannya karena tidak bisa berangkat bekerja.
" Bos... aku mau izin tidak masuk kerja hari ini."
Peter masuk kedalam apartement Chris dan langsung menuju kamar tamu yang ternyata TVnya sudah menyala, pertanda penghuninya sudah bangun pikirnya.
" Tidak saya izinkan, dasar asisten pemalas!" Tiba-tiba terdengar suara orang lain yang menjawabnya dan yang pasti bukan suara dari pemilik rumah itu.
" Heh? ngapain istri orang pagi-pagi sudah ada di rumah bujang, aku laporin pak Rete kamu?"
Peter yang sudah hafal suara Gemintang pun langsung berjalan mendekat, mencari bahan persoalan untuk sesi perdebatan diantara mereka.
" Noh pelakunya... tanya aja sama mas Joko, kenapa suka sekali nyusahin gue pagi-pagi gini." Gemintang langsung menunjuk Chris yang terlihat berjalan santai turun dari tangga kamarnya.
" Siapa yang kamu panggil mas Joko?" Tanya Peter dengan heran.
" Yang kamu bilang bujang tadilah? ckk... jaman sekarang tuh yaa, kenapa banyak sekali pria yang sukanya ngaku bujang padahal sebenarnya entah masih tersegel atau bahkan mungkin sudah nggak ori lagi?" Umpat Gemintang sesuka hatinya.
" Sekate-kate luu ya! lihat bos... dia mengumpat anda langsung didepan, berani sekali sekarang dia kan, belum tahu siapa Anda rupanya?" Peter seolah menjadi kompor mleduk diantara mereka berdua.
" Biarkan saja, dari pada mengumpat dibelakang kan nggak gentle woman namanya." Chris dengan santainya menjawab bahkan sedikit menyelipkan senyuman manisnya disana sambil melirik istri orang.
" Woaaahh... hei Sumarni, kamu dapat dukun dari mana, berani-beraninya kamu guna-guna saudara gue ya!" Peter langsung memicingkan matanya kearah Gemintang.
" Sembarangan saja kalau ngomong, belum pernah nyobain oseng-oseng sendal jepit luu ya, semua ini gara-gara elu tau, ngapain cuti lama-lama, gue kan jadi harus menggantikan kamu jadi asisten, mana gue nggak ngerti lagi!" Umpat Gemintang sambil merengut kesal.
Tadi malam Chris memberikan satu syarat kembali saat Gemintang meminta bantuan dari Chris dalam masalah pekerjaannya yaitu menyuruhnya menjadi asisten pribadinya selama Peter meminta cuti.
__ADS_1
" Nggak beres nih betina yang satu ini." Peter langsung berjalan mendekati Gemintang, rasa-rasanya ingin sekali dia memberi perhitungan kepada Gemintang disaat wajahnya terlihat mengejek seperti itu.
" Heh Peter denger baik-baik ya, asal kamu tahu aja, jika dukun bisa membunuh tanpa menyentuh, maka aku bisa membuat tuh bujang jatuh cinta walau tanpa saling jumpa, bisa membuat dia rindu, walaupun aku bukan miliknya, dan bisa membuat dia takut kehilangan, walaupun statusku masih ISTRI ORANG, ahay!"
Gemintang langsung membisikkan kata-kata itu sambil menaikkan kedua alisnya kearah Peter yang sudah melotot kesal sedari tadi dengannya.
" Dasar wong edan! bos... lihatlah kelakuan wanita yang satu ini, dia benar-benar mengerikan, susah untuk dijinakkan!" Peter langsung mengadu.
" Ckk... sudahlah, ngapain juga kamu pagi-pagi cari gara-gara sama dia, ada apa?" Chris sama sekali tidak marah dia malah duduk disamping Gemintang sambik menyilangkan kedua kakinya dengan santai.
" Aku mau jemput Sabrina ke kampung." Jawabnya dengan cepat.
" Wuidihh... kangen mantep-mantep ya? malam pertama berapa ronde kang?" Ledek Gemintang kembali.
" Boro-boro, malam pertama saja dia langsung diusir sama temen kamu itu." Bukan Peter yang menjawab, Chris seolah sudah tertular virus dari Gemintang menjadi tukang gibah.
" Wahahaha... jangan bilang elu Impoten ya Ter, mengsedih sekali nasip kamu wahai kakang Sumarno!" Gemintang langsung tertawa terbahak-bahak saat mendengarnya.
" Ngasal aja kamu kalau ngomong!" Peter langsung merasa tidak terima.
" SUMARNI, bisa diem nggak mulut luu!" Emosi Peter sudah berada di level tertinggi saat ini.
" Peter, jangan membentaknya!" Chris langsung melempar bantal kursi disampingnya, saat Peter menaikkan intonasi suaranya.
" Werk!" Gemintang langsung sumringah saat mendapatkan pembelaan seketika.
" Haish... kalian berdua memang menyebalkan, apalagi temen eluu tuh, gampang ngambek, gampang marah, emang ribet pokoknya kalau sudah berurusan dengan yang namanya perempuan!"
" Heh... emang luu apain Sabrina, sohib gue tuh, sekali kamu sakitin dia, jangan harap kamu bisa hidup dengan tenang setelah ini."
" Hayoloh Ter... siap-siap kamu ya, siapa suruh mancing di air keruh?" Chris langsung tersenyum miring melihatnya.
" Anda juga yang menyuruh saya menikahinya bos, jangan langsung angkat tangan begitu!"
__ADS_1
" Wah... pasti ada yang nggak beres ini!" Gemintang langsung mulai menyelidik saat melihat ada keganjalan dari kata-kata Peter.
" Sudah... sana cepat berangkat, nanti kesiangan!"
Saat Gemintang sudah mulai curiga, Chris langsung menyuruh Peter pergi dari sana, dari pada nanti timbul keributan dipagi hari.
" Awas luu nyai Rempit, tunggu pembalasan dariku!" Peter seolah ingin mencolokkan kedua jarinya kearah mata Gemintang.
" Heh... kaleng Rombeng, balik sini kamu kalau berani!" Gemintang langsung berkacak pinggang saat mendengarnya.
" Dih ogah! alergi gue deket lama-lama sama eluu, bye!" Peter langsung melengos dan meninggalkan apartement Chris sambil terus mengumpat Gemintang.
" Lihat lah mas Joko, temanmu itu memang gila!" Entah mengapa saat berbicara dengan Peter ada saja yang membuat mereka bergaduh.
" Kamu ini, suka sekali ganti nama orang!" Chris langsung menyentil hidung mancung Gemintang dengan gemas.
" Dih mas... Sumarno itu yang mulai duluan!" Gemintang langsung mengusap hidungnya.
" Ya sudah, kita berangkat ke kantor sekarang, pokoknya selama Peter cuti, kamu harus menjadi asisten pribadiku seharian penuh."
" Jangan penuh dong mas, setengah hari ya?" Gemintang mencoba untuk bernegosiasi.
" Kalau begitu aku bantuin kamu setengah-setengah juga mau?" Chris tidak mau kalah, karena hanya dengan cara itu dia bisa terus berdekatan dengan Gemintang.
" Ya janganlah mas!" Dia langsung memonyongkan bibirnya yang semakin membuat Chris tidak tahan melihatnya.
" Ya sudah, kenapa juga harus protes lagi, aku tidak meminta bayaran apapun selain itu, konsekwensi dong dalam setiap hal, tentang apapun yang kita lakukan." Didalam prinsip hidupnya, dia harus selalu menang banyak dalam hal apapun.
" Ku berlayar dilautan, tidak bertepian, sesekali disedarkan ombak yang menghadang, aku seperti hilaaaaaaang.. puncak arah dan tujuan... huwoo.."
Gemintang malas meladeninya, dia memilih bernyanyi sambil berjalan mendahului Chris yang sudah tersenyum sambil mengikutinya dari arah belakang, menuju parkiran mobil dibawah untuk pergi berangkat ke kantor.
..."Jika tidak bisa hebat dari yang lain, cobalah untuk bisa lebih baik dari kemarin."...
__ADS_1
TO BE CONTINUE...