
...Happy Reading...
POV Sabrina
Ada mimpi-mimpi yang terkadang memang tidak ditakdirkan untuk kita wujudkan. Ada keinginan-keinginan yang memang tidak ditakdirkan untuk menjadi kenyataan. Juga ada harapan-harapan yang ternyata memang harus direlakan.
Tapi bukankah hidup tak boleh berhenti sampai disini saja?
Sebab, kita punya Alloh yang tahu akan segala yang terbaik. Jadi tidak perlu putus asa, karena apapun keadaannya, bagaimanapun hasilnya, Alloh pasti akan membawa dan mengarahkan kita pada takdir terbaik-Nya.
Sesuai dengan yang diucapkan oleh Pak Chris kemarin, pagi ini aku dan Gemintang sudah dijemput oleh supir pribadinya.
Entah kami akan dibawa kemana, kita tidak diberi tahu, namun kata pak sopir, Pak Chris sudah menunggu kedatangan kami disuatu tempat.
Setelah perjalanan yang cukup jauh, ternyata mobil yang kami tumpangi berhenti disebuah pelabuhan.
Sebuah Kapal Pesiar pribadi jenis Marathon 100 Luxury Yacht, terlihat bersandar dengan gagahnya.
" Gilak... seumur-umur gue nggak pernah nyangka loh Gem, bisa naik kapal pesiar pribadi seperti ini?"
Aku menatap kagum kapal pesiar yang ada dihadapanku, karena memang tidak terlintas sedikitpun didalam pikiranku, aku bisa naik kapal pesiar yang mungkin harga tiket atau harga sewanya bisa buat beli tanah beberapa hektar di kampung halamanku.
" Katanya kemarin milih naik Angkot, jadi mau naik Angkot apa kapal pesiar ini?" Gemintang mulai meledekku, karena memang seperti itulah kebiasaannya, aku bahkan sudah hafal dia luar dalam.
" Ssst... kemarin tuh cuma Jaim doang bestie, sia-sia dong emak bapak gue dulu nyekolahin gue tinggi-tinggi, kalau milih naik angkot daripada naik kapal pesiar!"
" Astaga Na, apa tidak cukup Tuhan menciptakan kamu dengan satu muka?"
" Gue tinggal balik ini nanti, biar saja kamu diterkam habis sama mas Joko, biar kamu tahu betapa ganasnya mantan CEO perusahaanku itu dulu!" Aku langsung menakut-nakutinya.
" Heh... gitu aja ngambek, bercanda kali bestie, hehe.."
" Cih bercandaan kamu kebangetan."
" Kenapa?"
" Karena emang kenyataan, hahaha..."
Hubungan persahabatan kami terlalu indah, jika hanya dikotori dengan sebuah perdebatan kecil, walau kelihatannya seriuspun, namun akhirnya diakhiri dengan tawa yang riuh renyah.
Saat kami memasuki kapal pesiar itu, ternyata interior didalamnya itu seperti di dalam hotel berbintang, segala perabot yang ada didalamnya semua Luxury, komplit dan serba mewah.
" Kalian sudah datang?"
" Hmm..."
" Kalian suka?"
" Lumayanlah."
Pak Chris langsung datang menyambut kedatangan kami dengan senyum termanisnya, biasalah, kalau orang sedang pede kate kan memang semua terlihat manis, bahkan mungkin kentutnya pun serasa bau kembang sekebon.
Aku bukan sahabat yang tidak peka, aku tahu kalau pak Chris itu punya rasa yang lebih kepada Gemintang, karena sudah terlihat jelas dari segala tingkah lakunya.
Mungkin dia mengajak kami berlibur ini juga adalah salah satu trik agar dia bisa lebih dekat dan intens mendekati Gemintang, apalagi saat ini Gemintang sudah resmi berstatus Janda.
Walaupun Pak William masih gencar mengejar Gemintang kembali, namun setidaknya harapannya cukup besar untuk bisa mendapatkan hati Gemintang, tapi pertanyaanya, kenapa harus mengajakku juga? bukankah aku hanya menjadi penganggu dalam aksi pendekatan mereka nantinya? entahlah, biar nanti aku cari jawabannya sendiri.
" Apa kalian sudah siap?"
Tiba-tiba terdengar suara orang yang membuatku lemas dan seketika tak bertenaga, hilang sudah semangatku, takut jika harus makan hati lagi.
" Heh?" Kami berdua langsung menoleh kearahnya, Gemintang pun sama terkejutnya.
Teryata Mas Peter ikut juga dalam perjalanan wisata kami, aku pikir dia tidak ikut, tapi sebenarnya aku sudah menduganya, karena sedari dulu aku tahu pasti, bahwa bos dan asistennya itu memang tidak bisa terpisahkan.
" Kalau semua sudah siap aku akan menyuruh Nahkodanya untuk segera berlayar menuju ke destinasi kita." Ucapnya dengan wajah yang sok imut menurutku.
" Gem... bang Lewis lagi ngapain sekarang?"
" Hmm... nggak ngapa-ngapain sih? dia masih tahap belajar untuk mengelola perusahaan, jadi belum full bekerja di kantor, masih penyesuaian juga, kenapa emangnya?"
__ADS_1
" Kalau begitu, kenapa dia tidak kita ajak sekali dalam liburan kali ini? siapa tahu bang Lewis tahu tempat-tempat yang indah kan, atau nanti dia juga bisa menggantikan pak Kapten kalau dia lelah? bisa jadi pengganti nahkoda juga kan?"
Entah kenapa saat ini yang terlintas didalam pikiranku adalah bang Lewis.
" Iya juga ya? kenapa nggak kepikiran sedari tadi." Gemintangpun langsung menanggapinya dengan serius, karena kekompakan kami memang tidak tertandingi oleh siapapun.
" Kalau begitu telponlah bang Lewis, suruh dia datang kemari, sekalian quality time juga kan kalian?"
" JANGAN!"
Entah kenapa bos dan asistennya itu langsung berteriak bersamaan.
" Tenang saja pak Chris, aku yang akan menemani bang Lewis nantinya, jadi dia tidak akan menggangu misi pak Chris, okey?"
Aku tahu apa yang ada didalam pikirannya pak Chris, mungkin dia takut jika nanti kami berdua nempel terus sama bang Lewis, tapi untuk mas Peter, apa masalah dia, kenapa dia juga ikutan tidak terima sekarang?
" Apaan sih luu Na, misi apaan!" Gemintang terlihat segan, saat pak Chris sedikit tersenyum saat mendengar celotehanku.
" Ckk... emang kamu nggak kasian sama gue, jadi kambing congek disini? males banget kan Gem."
" Tuh ada Peter, dia masih suami kamu kan?" Pak Chris langsung menunjuk mas Peter dengan dagu lancipnya.
Mungkin akan segera menjadi mantan pak!
Tapi aku malas berkomentar tentang dia, dalam surat yang aku tulis kemarin, aku sudah berjanji untuk tidak menggangunya, jika kami tanpa sengaja bertemu, kami akan berpura-pura untuk tidak saling mengenal, dan sekarang akan aku tepati janjiku itu.
" Maaf pak, tapi bang Lewis baik kok orangnya, dia asyik juga, kan malah sekalian bapak bisa mengenal keluarga Gemintang kan?"
Aku mencoba memberikan pengertian kepadanya, atau lebih tepatnya memberikan alasan agar aku tidak boring disana nantinya.
" Nggak! kenapa sih kamu pengen banget kakaknya datang kesini? kenapa? mau pede kate kamu sama dia?" Entah kenapa dari raut wajah mas Peter dia terlihat tidak suka.
" Maaf pak Peter, tapi tanpa pede kate sekalipun, kami juga sudah saling kenal dekat kok, dari dulu lagi." Jawabku dengan nada formal.
" Pak? sekarang kamu panggil aku dengan sebutan pak? kenapa nggak Mas lagi?" Dia terlihat kecewa sepertinya.
Bodo amat gue, apa perdulimu!
" Sudahlah... kita langsung berangkat saja Peter." Saat Pak Chris sudah melihat ada ketegangan diantara kami, dia langsung mencoba untuk melerainya.
" Tapi pak?"
Sebenarnya aku berharap ada Bang Lewis yang akan menghiburku nanti, saat aku dicuekin atau tidak dianggap ada oleh mas Peter, tapi sepertinya itu tidak mungkin.
" Sabrina, jarak antara rumah Gemintang dengan Pelabuhan itu cukup jauh." Pak Chris langsung berkomentar.
" Betul itu."
Mas Peter pun langsung ikut menimpali pembicaraan pak Chris dengan semangat.
" Apalagi harus menunggu abang kalian itu untuk bersiap, masih lama lagi, kamu mau lihat aku jamuran dan berakar karena menunggunya?"
" Tidak pak."
Jika sudah begini aku bisa apa, siapa aku sampai berani menyuruh seorang CEO perusahaan besar untuk menunggu pikirku.
" Ya sudah, ayok kita berangkat, kita lihat-lihat ke dalam lagi yuk Gem."
Pak Chris langsung mengajak Gemintang untuk melihat-lihat ruangan lainnya, dan saat Gemintang melewati mas Peter yang masih berdiri mematung ditempat, dia sempat menghentikan langkahnya dan terlihat berbisik ke arah mas Peter.
" Hei Sumarno... berani kamu menyakiti sahabatku, aku tenggelamkan kamu didasar lautan, biar dimakan sama ikan Piranha kamu!"
" Hidiiih.... atut! tapi sebelum aku dimakan ikan, kamu akan lebih dulu aku umpankan Sumarni!"
Seperti biasa, mereka akan seperti itu jika sudah bertemu.
" Coba saja kalau kamu berani!"
" Heleh... cuma kamu doang sih kecil, kacang goreng!"
" Peter!"
__ADS_1
Pak Chris langsung kembali menghentikan perdebatan mereka, sebenarnya aku iri juga dengan Gemintang, dia selalu dibela oleh pak Chris, bahkan saat mas Peter meninggikan suaranya kepada Gemintang saja, dia langsung tidak terima, walau mereka belum ada status apa-apa.
" Dia yang mulai duluan bos!" Mas Peter tidak mau kalah.
" Sabrina ayo ikut, jangan dekat-dekat sama dia, dia itu pria yang berbahaya!"
Karena Gemintang sudah tahu semua masalahku, dia pasti tidak akan membiarkan aku bersedih lagi.
" Enak saja dia istriku!"
Aku sempat melongo saat mendengarnya, ternyata dia masih menggangapku sebagai istrinya.
" Owh ya? apa kamu sudah memperlakukan dia selayaknya sebagai seorang istri?"
" Tau apa kamu!"
" Aku tahu kalau dia masih perawan! eh... Sabrina jangan mau dekat sama dia lagi!"
" Apa urusanmu, kamu ini teman model apaan, bukannya ngasih nasehat yang baik sama teman, malah jadi kompor mleduk bisanya!"
" Cih... mau aku bantu bapak Peter yang terhormat?"
" Hmm."
" Tapi ada satu syarat."
" Apaan?"
" Kamu cukup menjawab satu tebak-tebakan dariku, kalau kamu benar, aku akan membantumu dan merelakan Sabrina dekat denganmu lagi."
Entah drama apa lagi yang akan mereka buat, aku dan pak Chris hanya bisa menjadi penonton setia saja.
" Okey, siapa takut?"
" Benda apa yang huruf depannya K trus huruf belakangnya L, dan ciri-cirinya adalah bila ditarik Keras dan kalau di lepas Lemas."
Seperti biasa, temanku yang satu itu sifat konyolnya pasti akan langsung kumat, saat dia dengan sengaja ingin menjahili seseorang.
" Woaaaahh... pikiranmu kotor sekali ya Sum! Chris kamu yakin mau berteman dekat sama dia, dih... kalau aku sih ogah!"
" Emang apa jawaban darimu?" Gemintang langsung bersidekap kearah mas Peter dengan tatapan seolah menantang.
" Kon... aish, gue nggak mau jawablah!" Mas Peter terlihat menggelengkan kepalanya dengan cepat.
" KETAPEL Peter! tolong otaknya dijaga ya, sembarangan saja kalau nuduh orang, fix kamu kalah, aku tidak akan membantumu, Sabrina jauh-jauh dari dia ya, nanti aku suruh bang Lewis datang menyusul kita, biar kamu punya teman KENCAN disana."
Gemintang bahkan menegaskan kata kencan saat ini, entah apa maksudnya aku tidak tahu, namun ternyata kata itu berhasil membuat mas Peter kesal.
" Pffftthhh."
Aku langsung memalingkan wajahku untuk menahan senyuman, begitu juga dengan Pak Chris yang langsung tergelak karenanya.
" Heh... enak saja kalau ngomong, jadi gimana ini?" Tanya Mas Peter sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Dia sepertinya merasa malu sendiri dengan jawaban yang dia pikirkan tadi, dan aku pun mungkin sepemikiran dengannya.
" Lantak lah kau situ... padam muke korang!" Cibir Gemintang dengan menggunakan bahasa duo gundul dengan lancarnya.
" Ngomong apa sih dia?"
Jelas saja mas Peter langsung kebingungan, dia mana pernah nonton film kartun dari negara tetangga itu.
" Permisi pak, saya mau lewat." Aku langsung melewatinya saja dengan cuek, tanpa mau ambil pusing dengan segala tentangnya.
" Sabrina... hei?"
Aku pura-pura saja tidak mendengar panggilannya, sepertinya dia mulai menyadari tentang kesalahannya, tapi tidak semudah itu untuk aku bisa memaafkan segala perlakuan dia kepadaku, biar aku lihat dulu, seberapa jauh perjuangannya.
POV END
..."Terus berjalan sesuai jalur, karena jalan hidup tak bisa diukur, cukup perbanyak rasa syukur dan Segalanya biar Alloh yang atur."...
__ADS_1