Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
79. Terngiang-ngiang?


__ADS_3

...Happy Reading...


POV PETER


Jauh didalam lubuk hatiku yang paling dalam, sebenarnya aku sama sekali tidak membenci Sabrina, bahkan perlahan demi perlahan aku mulai bisa menerima dia didalam kehidupanku.


Tapi untuk bisa dekat apalagi berhubungan dalam hal yang privasi, itu masih terasa sangat sulit bagiku.


Apalagi dia juga berteman dekat dengan seorang perempuan, sedangkan rasa traumaku saat remaja dulu, seolah masih terasa sulit untuk bisa pergi dari otakku, walau aku tahu temannya itu sudah pernah bersuami dan sedang didekati oleh saudara sekaligus atasanku sendiri.


Namun kejadian masa laluku yang dulu itu, masih selalu saja terngiang-ngiang di pikiranku sampai saat ini, dulu juga aku beranggapan bahwa mantan kekasihku diwaktu remaja dulu hanya berteman akrab saja dengan sahabat wanitanya, ternyata malah hubungan mereka sudah sampai ke tahap diluar kodratnya sebagai manusia normal pada umumnya.


" Peter... ada good news!"


Saat aku masih merenungi semua tentang perempuanku itu, Chris datang mengejutkanku, namun ekspresinya saat ini terlihat seperti sedang menang lotre trilyunan rupiah saja.


" Kenapa?" Suaraku saja bahkan mungkin sudah tidak enak didengar, karena aku masih kesal dengan hujatan Gemintang dan juga perempuanku tadi.


Mereka dengan enaknya berbicara sesuka hati mereka, tanpa memperdulikan aku yang pernah terluka karena seorang wanita.


Walau memang terlukanya itu lebih ke jijik dan berpikiran negatif kepada semua wanita karena pernah melihat adegan live seperti itu, bahkan disaat aku benar-benar menyukainya dan berniat untuk menjadikan dia sebagai wanita satu-satunya didalam hidupku.


Aku sempat berfikir dulu, alasan dia kenapa sama sekali tidak mau aku sentuh itu karena menjaga diri dan kehormatannya sebagai gadis, hanya untuk lelaki sah di masa depannya.


Namun kenyataan yang ada malah begitu terasa pahit mendera, karena ternyata gadisku kala itu tidak berminat dengan Pisang Raja, dia lebih menyukai sesama Tempe Mendoan. Dan itu cukup membuatku syock dan jera mengenal wanita lebih dekat lagi.


Kalau mengingat akan hal itu, seolah lambungku rasanya sudah seperti diputar giling, perutku juga langsung terasa mual dan selalu pengen muntah.


" Akhirnya, wanitaku sudah resmi berstatus Janda bro, hehe..." Suara Chris kembali memecahkan lamunanku tentang masa laluku yang kelam itu.


" Pengen ikut ngucapin selamat sih, namun menjadi janda itu bukan sebuah prestasi, tapi kalau mau turut berduka, kok anda malah terlihat sangat bahagia ya bos?" Ingin merasa heran tapi dia Chris, orang yang selalu merasa benar dan tidak mau disalahkan.


" Hehe... kamu cukup mendengarnya saja."


Tuh kan, dia mana peduli dengan jawaban orang lain, seperti itulah dia jika sudah berkemauan, tidak akan pernah ada yang mampu menghalangi.


" Apa melihat dia janda itu lebih membahagiakan daripada memenangkan sebuah tender besar? kenapa anda senyam senyum seperti orang gila, sungguh ini bukan Chris yang aku kenal."


Sudah bertahun-tahun aku mengenalnya, berpuluh-puluh gadis juga pernah mampir dihidupnya, namun tidak ada yang mampu membuatnya sesenang itu, apa itu yang dinamakan jatuh cinta?


Dulu aku sempat mengalaminya juga, namun sekarang seolah aku sudah lupa bagaimana rasanya.


Bukan aku tidak mau melupakannya, namun semakin aku mencoba, memori bayangan itu malah seolah kembali muncul terus menerus dan hampir membuatku gila.


" Tentu saja, berarti harapanku untuk bisa memilikinya akan lebih besar, dan akan kupastikan dia akan menjadi milikku untuk selamanya." Chris terlihat percaya diri sekali saat mengatakan hal itu, mungkin saja dia sudah diserang penyakit bucin akut sekarang.


Sebenarnya aku juga ingin bahagia sepertinya, namun aku seolah masih jera berhubungan dengan yang namanya wanita, tapi sekarang aku sudah menikah, gimana dong?


" Dasar pecinta janda!" Umpatku sambil menatapnya dengan jengah.


" Karena Janda lebih menggoda." Dia bahkan bisa berkata seperti itu dengan santainya.


" Wedan!" Ingin sekali aku menjitak kepalanya itu, namun apalah daya dia adalah bosku, bahkan umurnya juga lebih tua dariku.


" Hmm... akhir pekan nanti, aku mau ngadain pesta."


Perkataannya berhasil membuat aku melongo, bahkan saat hari ulang tahunnya saja dia menolak keras saat keluarganya ingin membuatkannya pesta, ini tiba-tiba pula dia membahas soal pesta, ada angin apa pikirku.


" Tumben, nggak sakit kan luu bos? Pesta apaan coba?"


Apa benar kata orang, bahwa jatuh cinta bisa mengubah pribadi seseorang tanpa kita sadari, entahlah... aku masih belum bisa percaya tentang hal itu.


" Pesta aja, kita berlibur berempat naik kapal pesiar keliling pantai atau kemana kek, yang penting bisa seharian bareng dia."


" Itu namanya berlibur bos, bukan pesta!"


" Sama saja, intinya kan hanya untuk bersenang-senang, lagian juga bisa sambil pesta disana."


Sepertinya dia sudah membayangkan yang indah-indah disana, karena raut wajahnya terlihat berbinar saat mengatakannya.


" Hmm... anda memang selalu benar, emang berempat? sama siapa aja?" Tanyaku kembali.


" Aku, Gemintang dan kamu sama istrimulah."


Istriku?


" Enggaklah... kalian berdua saja, aku sedang malas untuk berlibur."


Aku masih belum memikirkan harus bagaimana, jika harus berduaan dengan dia, apalagi di tempat yang privasi.


" Nggak! kamu harus ikut juga!" Seperti biasa, dia pasti akan ngotot begitu.

__ADS_1


" Kenapa emang? kalian yang mau pergi berkencan, kenapa harus bawa-bawa gue?"


" Karena Gemintang tidak akan mau pergi kalau cuma berdua saja denganku saat ini, sudah pasti dia akan mengajak istrimu itu."


Memang benar sih, mereka kan tidak terpisahkan, atau jangan-jangan mereka nanti disana juga... hih... aku jadi ngeri sendiri saat baru membayangkannya saja.


" Ckk... malaslah, aku tetap tidak mau pergi!" Daripada berpikiran negatif tentang mereka kan lebih baik aku tidak ikut ya kan?


" Ya sudah... terserah kamu saja kalau tidak mau ikut, nanti biar aku suruh Gemintang mengajak abangnya, atau pria manapun untuk menjadi pasangan Sabrina, biar istrimu tidak selalu menempel dengan wanitaku."


" Enak saja, nggak boleh!"


Kenapa harus berpasangan sih? aku tetap tidak terima dong.


" Cih... kenapa? kamu nggak rela?" Chris malah terlihat mengejekku dengan senyumannya yang terlihat menyebalkan itu.


" Dia itu statusnya masih istriku, mana boleh dekat-dekat dengan pria lain, itu namanya percobaan perselingkuhan!"


" Kalau begitu ikutlah, bukannya aku suruh kalian bayar pun, kalian hanya tinggal bawa badan saja, kan kamu juga belum pernah bulan madu, bisa sekalian nanti?"


Jangankan bulan madu, menyentuhnya saja aku belum berani, bahkan ada niatan saja tidak.


" Bulan madu apaan, ngapain juga pakai acara bulan madu segala, nggak penting banget!" Aku langsung melengos saja, karena memang tidak pernah terfikirkan kata bulan madu dalam pernikahan dadakan ku itu.


" Jadi mau ikut nggak ini? tapi terserahlah kamu mau ikut atau tidak, aku tetap akan pergi dengan mereka."


Kalau aku saja belum menyentuhnya, orang lain pun tidak boleh ada yang menyentuhnya, enak saja dia.


" Ya sudahlah kalau maksa."


" Kali ini aku nggak jadi maksa kok, kalau kamu memang tidak mau ikut ya tidak masalah bagiku."


Senyuman Chris benar-benar membuatku kesal, dia pasti sudah merasa menang kali ini.


" Sudahlah, biar aku atur nanti jadwal dan kapal pesiarnya."


" Cih... jual mahal kok didepanku, bilang saja kalau sebenarnya kamu juga tidak rela dia bersama orang lain."


" Apaan sih, nggak jelas!"


Dia sudah mulai mengejekku lagi kan? satu kata memang buat dia, Menyebalkan.


Dia berbicara seolah sudah menjadi seorang Suhu dalam kisah percintaan, padahal kami sama-sama sudah lama tidak merasakan apa itu indahnya cinta dan kasih sayang dari seorang wanita.


" Ckk... bodo amatlah, sudah habis jam kerjaku, aku mau pulang dulu bos, see you tomorrow."


Aku langsung melenggang pergi pulang duluan, karena entah mengapa pikiranku terasa kalut, perasaanku pun tak menentu, bayangan wajah Sabrina selalu menghantuiku, apalagi saat pertemuan yang kedua di hari ini, dia sungguh terlihat mempesona dengan hanya ber make up flawless dan menggerai rambutnya yang ternyata terlihat indah itu.


Memang tidak aku pungkiri, Sabrina memang cantik, tanpa berhias seperti tadipun dia sebenarnya sudah cantik, buktinya saat aku melihat dia baru bangun tidur saja tetap cantik.


Tapi dalam hidupku, sebenarnya bukan masalah cantik dan tidak cantik, aku hanya belum bisa melupakan tragedi kisah cinta masa remajaku dulu.


Hari ini aku memang agak pulang terlambat dari biasanya, karena setelah selesai meeting diluar tadi, aku masih harus balik ke kantor lagi untuk menyelesaikan kontrak kerja kami.


Dengan badan yang terasa pegal dan mood yang terasa buruk aku masuk kedalam Apartementku, angan-anganku setelah ini adalah langsung ingin berendam di bath up yang berisi air hangat agar rasa capek dan lelahku berkurang.


Namun saat aku melewati dapur miniku, aku mencium bau masakan yang wangi sekali, kebetulan sekali aku pun belum sempat makan tadi.


Ternyata memang benar, punya istri banyak untungnya, ada yang masakin, ada yang bersih-bersih rumah juga, bahkan tanpa harus kita suruh, seolah dia sudah mengerti tugasnya.


" Sabrina... buk..."


Aku mencoba memanggil keluarga baruku itu, namun tidak mendapatkan jawaban dari mereka satupun.


" Sabrina... kalian dimana?" Karena suasana rumah tetap hening, aku mencoba mengintip kamar ibu terlebih dahulu karena yang berada di lantai bawah.


" Loh... kok nggak ada sih? itu makanannya boleh dimakan atau tidak sih?"


Aku takutnya kalau mereka masak buat orang lain, karena aku sering menolak jika diajak makan bersama Sabrina, karena memang tidak terbiasa sarapan pagi dirumah. Biasanya aku cuma makan roti dan kopi saja, terkadang sarapanku juga cuma take away sambil berangkat menuju kantor.


" Aku makan sajalah, ini kan rumahku, yang dia masak juga pasti dari kulkas milikku, ngomongnya entar sajalah, yang penting makan dulu, laper nih."


Aku langsung membuka jas kemudian menggulung lengan kemejaku dan menuju meja makan. Dan saat aku buka penutupnya, disanalah aku sedikit tercengang.


Semua makanan empat sehat lima sempurna terhidang dimeja, walau memang porsinya cuma sedikit-sedikit tapi komplit.


" Heh... apa ini?"


Saat aku ingin mengambil nasi, aku melihat ada selipan kertas dibawah bakul nasi itu yang berisi sebuah tulisan tangan.


__ADS_1


*To Mas Peter*...



*Ibu menyuruh aku memasakkan makan malam untukmu, entah kamu sudi atau tidak untuk menyentuh masakan yang aku buat ini, itu terserah mas saja dan kalau pun mau dibuang juga nggak papa, tidak akan jadi masalah*.



*Aku hanya tidak ingin membantah perintah ibu untuk melayani kebutuhan makanmu, karena kata ibu, aku harus memastikan kesehatan suamiku*.



*Dan anggap saja, ini sebagai tanda pengabdianku kepada suami untuk yang terakhir kalinya sebagai seorang istri*.



*Mas Peter*...



*Sekali lagi aku ingin meminta maaf atas nama keluargaku, karena kami sudah menyusahkanmu*.



*Mulai hari ini, aku bebaskan kamu dari segala beban dan juga tanggung jawabmu sebagai seorang suami*.



*Aku berjanji, tidak akan menggangu kamu, sebisa mungkin aku tidak akan menampakkan wajahku didepan kamu*.



*Dan kalau sampai kita tanpa sengaja berpapasan atau bertemu diluar, kamu boleh menggangap bahwa kita tidak pernah saling mengenal, begitu juga dengan aku, jadi kamu tidak perlu lagi malu karena memiliki seorang istri seperti aku*.



*Terima kasih untuk semuanya, juga terimakasih untuk makan dan minumnya yang telah kamu berikan kepadaku dan juga ibuku dalam beberapa hari ini disini, maafkan kami jika selalu merepotkanmu*.



*Dan hubungan kita sudah selesai sampai disini, AKU PERGI*...



*SABRINA*



Entah kenapa tanganku sedikit bergetar saat membaca tulisan itu, seolah ada rasa kecewa dan ungkapan kata yang terasa sangat sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Namun yang pasti aku tidak suka dengan keadaan yang seperti ini.


" Sabrina.. kami dimana? jangan bercanda, ini tidak lucu!"


Rasa laparku tiba-tiba menghilang, aku langsung berlari menuju kamarnya, dan ternyata benar adanya, kamar tidurnya sudah terlihat rapi, almarinya pun sudah kosong, bersih dan kembali seperti semula.


" Apa-apaan ini! kenapa harus pergi, Sabrina!"


Aku kembali menuruni tangga untuk memastikan kalau mereka tidak benar-benar pergi, namun walau suaraku sudah menggema diseluruh ruangan pun, istri dan ibu mertuaku tidak ada yang muncul menampakkan diri.


Ternyata mereka benar-benar telah pergi meninggalkan rumah ini, perkataan Sabrina tadi siang ternyata tidak main-main.


Walaupun aku tidak rugi, tapi entah mengapa ada yang kurang jika mereka tak ada, padahal baru saja aku ingin mencoba menerima mereka didalam kehidupanku.


" Apa mereka pulang kampung ya? tapi aku masih bimbang jika harus menyusulnya, aku harus bilang apa nanti? aku harus berkata apa?"


" Atau mungkin mereka hanya pergi ke kontrakan Sabrina dulu?"


" Hmm... tapi aku tidak tahu alamatnya, kalau tanya si Sumarni pasti juga tidak akan diberi tahu, dia kan marah banget tadi denganku."


" Ckk... Aku harus bagaimana ini?"


Dengan langkah lemas aku kembali berjalan ke meja makan di dapur kecilku.


" Seperti inikah rasanya kehilangan, tapi kenapa aku harus merasa sedih?"


" Tapi seharusnya kan dia tidak pergi, aku kan tidak pernah menyuruhnya untuk pergi? lalu kenapa dia tetap memilih pergi?"


Perlahan aku mulai mencicipi satu persatu lauk pauk dan sayur yang dibuatkan oleh istriku, dengan rasa yang seolah terasa sesak di dada, entah karena tubuhku yang memang lelah atau mungkin karena kepergian mereka dari sisiku.


POV END


..."Kamu bisa saja kehilangan seseorang dalam semalam. Seluruh hidupmu bisa berputar 360 derajat. Hidup begitu pendek. Semuanya bisa datang dan pergi seperti sebuah bulu dibawa terbang oleh angin yang berhembus." ...

__ADS_1


__ADS_2