Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
91. It's Mine..


__ADS_3

...Happy Reading...


Dengan rasa kecewa yang mendalam Chris membawa Gemintang keluar, menuju sebuah taman kecil yang ada disudut rumah sakit itu.


Dia tahu bahwa William memang tidak akan menyerah begitu saja untuk mengambil hati mantan istrinya itu, namun yang Chris heran kenapa Gemintang seolah masih memberikan celah kepadanya.


Padahal luka yang William berikan begitu sakit terasa, kalau dia yang diperlakukan seperti itu, mungkin dia bahkan sudah tidak sudi satu tempat kerjaan, apalagi sampai melihat dan berjalan bersama.


Walau memang Gemintang tidak berjalan dengan mesra atau bergandenganpun, namun tetap saja Chris tidak terima akan hal itu.


Di event besar seperti ini sudah pasti banyak relasi yang akan hadir dan melihat, lalu kenapa dia harus datang sebagai pasangan William bahkan ayah William pun ikut serta dalam acara ini pikirnya.


" Gemintang... sekarang jelaskan kepadaku, kenapa kamu harus datang di acara ini dengan William?" Chris bahkan mengungkung Gemintang dengan satu tangan kokohnya, dengan tatapan mata yang seolah tajam menusuk.


" Sebenarnya aku pun tidak mau mas, tapi kalau aku datang ke Event sebesar ini sendirian, aku nggak tahu apa-apa mas, karena setiap tahun yang selalu datang ke acara seperti ini hanya mas William aja."


Gemintang tidak punya pilihan lain saat itu, namun kalau dia tidak hadir, dia juga yang akan rugi karena disini dia bisa mengenal relasi untuk bisa bekerja sama nantinya.


" Kenapa kamu tidak mengajakku? aku akan selalu ada untukmu Gem." Chris akhirnya melembutkan suaranya, dia sangat menyayangkan akan hal ini.


Berr!


Seolah ada hembusan angin dari pegunungan yang lewat didepan hati Gemintang saat ini, saat mendengar perkataan Chris tadi.


" Aku mana tahu kalau mas Chris juga datang ke acara ini." Jawab Gemintang dengan wajah yang tersipu-sipu.


" Makanya cari tahu dulu, jadi perempuan itu jangan cuma mau diperhatikan saja, perduli sedikit dengan aku bisa nggak?" Ucap Chris sambil berdecak kesal.


Astaga... kok aku sudah kayak jadi pacarnya sih? padahal status gue kan masih jomblo? ini gimana ceritanya mas Joko?


" Emm... maaf deh mas, lain kali nggak lagi deh, tapi kita kan memang belum..."


" Memang apalagi? trus kenapa ayah William juga ada disini? mana dia bilang William lagi pergi ke toilet sama istrinya lagi, dan yang paling parah didepan kedua orang tuaku! emang dia nggak tahu kalau kalian sudah sah bercerai?" Chris langsung saja menyambar kata-kata Gemintang.


" Apa mas masih bersandiwara kalau kita ini pasangan kekasih? katanya hari itu mau bilang kalau kita sudah putus?" Gemintang mengingat kejadian hari itu.


" Ya enggaklah, sampai kapanpun aku nggak akan pernah bilang, karena sandiwara itu akan aku jadikan KENYATAAN!" Ucapnya dengan penuh penekanan.


Ya ampun, bujang yang satu ini, sudah ngebet banget kayaknya!


" Mas...?"


" Yang aku herannya lagi, kenapa kamu ke toilet sama William, nggak bisa apa pergi ke sana sendirian saja? Nggak usah manja sama dia kamu! tanamkan di pikiran kamu itu kalau dia laki-laki brengs€k yang sudah menduakan kamu dengan wanita lain, ingat baik-baik itu!" Chris langsung kembali mengingatkan hal yang paling menyakitkan dihati Gemintang.


" Aku lagi datang bulan mas."


" Apa hubungannya datang bulan dengan William? mau datang bulan, bintang, angin ribut halilintar dan badai sekalipun, aku tidak perduli, tapi kenapa harus dengan William!" Ingin sekali Chris mencubit-cubit seluruh muka Gemintang saat ini, tapi dia kok sayang.


" Aku lupa tanggal rutinku mas, jadi aku nggak bawa persediaan, daripada nanti gaunku kotor, aku minta tolong aja sama dia, karena dia memang tahu roti mana yang biasa aku beli." Jawab Gemintang dengan jujur, karena memang itulah kenyataannya.


" Roti? apa kalau kamu datang bulan trus kamu kelaparan gitu, kenapa nggak telepon aku saja, aku bisa membelikan kamu roti yang banyak, bahkan sama pabriknya sekalian!" Chris memang tidak pernah ambil perduli tentang masalah wanita, jadi dia tidak tahu bahasa samaran itu.


" Pffthh... bukan roti itu mas." Gemintang langsung menahan tawanya.


" Trus roti apa? kamu kan tinggal sebut saja namanya!"


" Haduh... gimana ngomongnya ini? itu loh mas, yang biar nggak bocor."


" Tinggal tambal doang kalau bocor, apa susahnya? atau beli lagi yang baru!" Jawab Chris dengan enteng.


" Itu loh yang ada sayapnya juga."


" Ayam goreng?"


" Aduh gusti, gimana jelasinnya, emm... kalau pempers tau nggak?"

__ADS_1


" Emang kamu masih ngompol Gem?" Chris tetap dalam mode polosnya.


" Ya Salam, buat orang dewasa mas, aish... mas nggak ngerti deh, lupakan sajalah, yang jelas aku tidak ngapa-ngapain dengan dia!" Akhirnya dia menyerah menjelaskan.


" Apapun itu lain kali kalau kamu butuh sesuatu, hubungi aku saja, jangan William, mengerti kamu!"


Benarkah? dari semua mantan-mantanku dulu yang tidak malu membelikan aku pembalut cuma mas William loh? yakin dia ngomong begitu?


" Okey, baiklah." Gemintang mengiyakan saja saat ini.


" Lain kali kalau kemana-mana, ajak saja itu istrinya Peter, jadi orang tidak akan salah paham denganmu!"


" Sabrina sakit mas, dia demam sepulang dari liburan kemarin, trus gimana dong jelasinnya ke ayah mas?"


" Kamulah yang harus tanggung jawab!"


" Kok jadi aku yang salah?"


" Emang kamu yang salah kok!"


" Bukan sepenuhnya salah aku dong mas, kita kan masih belum punya hubungan?"


" All right... mulai sekarang kita punya hubungan, mulai detik ini juga kamu; Gemintang Lea Prakoso resmi jadi pacarku, okey?"


Saat situasi terlihat mendukung, dia langsung melancarkan saja serangan mautnya tanpa basa basi.


" Mas... aku kan masih minta waktu, baru juga satu hari?" Gemintang menghela nafasnya perlahan.


" Kamu mau bohong terus sama ayahku? dosa tahu? lagi pula kamu yang bikin ayah jadi sakit begitu, tanggung jawab kamu."


Akhirnya Chris punya cara untuk memaksa Gemintang agar menjadi kekasihnya, daripada dia was-was jika William mendahului dirinya nanti, pikirnya.


" Mas..?"


Sebenarnya didalam hati Gemintangpun tidak menampiknya bahwa Chris itu memberikan rasa kenyamanan tersendiri baginya, namun dia hanya takut kecewa untuk yang kedua kalinya saja.


Sedari dulu Chris memang selalu bisa mendapatkan apa yang dia inginkan, jadi apa yang membuat dirinya merasa tertantang dia pasti akan melakukan segala cara untuk mewujudkannya, apalagi ditambah rasa sayang dan takut kehilangan, sudah pasti akan dia perjuangkan mati-matian.


" Mas ngasih pilihan atau ngasih perintah?" Gemintang memutarkan kedua bola matanya dengan jengah.


" Dua-duanya!" Chris mencoba mengeluarkan senyum termanis yang dia bisa.


" Mas?"


" Gemintang... tidak bisakah kamu mencoba dulu? apa susahnya belajar mencintaiku? apa coba kurangnya diriku, tampan iya, kaya sudah pasti, apalagi yang kamu cari?" Seperti biasa, jiwa sombongnya langsung keluar seketika.


" Dih... sombong amat!" Umpat Gemintang sambil melengos.


" Gemintang, kamu nggak punya pilihan lain, okey?"


Iya juga ya, apa salahnya aku belajar mencintai dia? he is not bad for me...


" Ya sudahlah." Gemintang menjawabnya dengan lemas.


" Ya sudah apa?" Tanya Chris yang sudah menaikkan kedua sudut bibirnya.


" Kita coba dululah." Gemintang seolah kembali ke masa mudanya dulu, kalau mengingat kata jadian.


" Coba apaan?" Chris sengaja pura-pura tidak paham, padahal dia hanya ingin menggoda Gemintang saja.


" Katanya mau pacaran? jadi enggak nih?" Dengan ragu dia mengatakannya kembali.


Uuurrrraaaaaaaaaaaaaa!


Seolah balon-balon keresahan dan kekecewaan yang ada pada diri Chris meletus satu persatu, tergantikan dengan bunga-bunga yang sedang bersemi dan bermekaran di sepanjang jalan impian.

__ADS_1


" Jadi dong, Gemintang I Love you." Ucap Chris tanpa ragu lagi, dia sampai ke titik ini saja sudah luar biasa, karena dulu dia sama sekali tidak mau mengenal apa itu cinta, karena mengingat rumitnya sebuah hubungan yang terjadi antara orang dewasa, apalagi kisah orang tuanya.


Namun semenjak mengenal Gemintang, hatinya sedikit terbuka, ada sesuatu yang selalu menarik perhatian Chris saat berdekatan dengan Gemintang.


Dari bermula rasa penasaran dan berakhir dengan kata sayang, Chris bertekad untuk bisa memiliki Gemintang sepenuhnya.


" Dih... kok gimana gitu aku dengernya, ikhlas nggak sih mas bilang kayak gitu?" Ledek Gemintang sambil tersenyum.


" Ya kan kalau orang pacaran katanya harus sering-sering bilang gitu kan?" Chris sudah belajar banyak, walau hanya dengan mbah goggle.


" Ya nggak gitu juga kali mas, aku lebih suka bukti ketimbang hanya janji-janji palsu, karena manisnya janji jika tak ditunjukkan lewat perbuatan nyata, hanya akan menggoreskan luka di hati saja." Gemintang langsung memberikan ultimatum kepada Chris, agar dia paham lebih awal.


" Aku kan nggak berjanji tadi, cuma bilang I love you saja, apa salahnya?" Ucap Chris dengan santainya.


" Hmm... ya sudahlah, mari kita berjalan saja, tanpa janji-janji, agar ketika kita berhenti kita tidak saling menyalahkan, siapa yang sering mengingkari."


“Jika suatu saat kamu kehilangan arah, selalu ingatlah bahwa aku selalu ada di sini. Aku akan selalu mendampingimu serta berusaha memperindah masa depanmu Gem.” Chris mencoba meyakinkan perasaan Gemintang, bahwa memang dia tidak main-main dalam hal ini.


" Satu yang aku minta mas, tolong jangan ada pengkhianatan diantara kita, aku sudah sangat jera dengan itu semua, seolah lukaku belum kering untuk saat ini, tolong jangan ditambah lagi, okey." Gemintang menatap mata Chris dengan wajah sendu, dia berharap sekali agar Chris tidak seperti William.


" Gemintang, jangan bandingkan aku dengan masa lalumu?" Chris menggengam tangan Gemintang, seolah memberikan keyakinan.


" Aku tidak mau membandingkan mas, aku cuma lelah, jika harus memulai cinta dari awal namun akhirnya berakhir sia-sia kembali."


Kasihan sekali kamu sayang, ternyata pria itu benar-benar sudah menorehkan luka yang sangat dalam dihatimu.. tapi tenang saja, seiring berjalannya waktu aku akan menyembuhkannya, I promise...


“ Gemintang... I wish I could turn back the clock. I’d find you sooner and love you longer.”


(Kuharap aku bisa memutar balik waktu. Aku akan menemukanmu lebih awal dan mencintaimu lebih lama.)


" I also hope so mas, tapi jangan kecewa ya mas kalau aku tidak bisa menjadi orang yang kamu idam-idamkan, aku akan berusaha lebih baik lagi, kalau perlu aku akan menjadi Endomie.. biar bisa jadi seleramu, hehe.." Gemintang langsung membuat lelucon agar tidak canggung.


" Heleh... enggak perlu jadi endomie biar jadi seleraku, nggak perlu juga jadi Lea Minerul biar beda, kayak ada manis-manisnya. Kamu itu loh, jadi produknya Gusti Alloh saja masih sering Ambyar dan morat-marit. Apalagi buatan pabrik?" Ternyata Chris pun bisa membalikkan kata-katanya.


" Ya udah deh, nggak jadi aja!" Gemintang pura-pura merajuk.


" Eitss... no retur no cancel!" Chris langsung menyandarkan kepalanya dibahu Gemintang tanpa permisi.


Ya ampun mas, kenapa kamu jadi manja begini?


" Idiihhh... emang aku barang online apa?"


" Ututuh... gitu aja ngambek, boleh peluk nggak nih?"


" Nggak, bukan mahrom." Ucap Gemintang dengan cepat.


" Heleh... saat itu saja kamu nyaman banget tidur dalam pelukan aku." Daya ingat Chris begitu kuat untuk hal yang uwuw-uwuw.


" Kapan?" Gemintang langsung pura-pura lupa.


" Ceileh... mau aku putarkan CCTV di Apartemenku?" Chris lansung menoel hidung mancung Gemintang.


Aish... Skakmat deh gue, apa dia terus saja mengingat tentang hal itu? atau sejak saat itu dia mulai menyukaiku? woah... pesona Gemintang memang tidak tertandingi, argh... itu dulu kan gara-gara obat alergi, nggak bisa lagi aku jual mahal dong setelah ini?


" Huft... ya sudahlah." Tidak ada kata lain yang bisa dia ucapkan selain itu, karena memang akhir-akhir ini nama Chris juga selalu bersarang di otaknya.


Gemintang, It's mine...


" Hehe... Aku harap, kamu bisa melupakan semua kisah silammu, dan mulai belajar mencintai aku sayang." Chris langsung memelvk tubuh Gemintang dengan erat, seolah membuktikan kepada dunia, bahwa dia sudah berpunya sekarang.


Akhirnya apa yang Chris inginkan terkabul juga hari ini, entah mengapa setiap musibah yang terjadi pada sekitarnya seolah selalu menguntungkan bagi dirinya. Karena Dewi Fortuna selalu berpihak kepada diri Chris, dan setelah ini dia hanya tinggal memikirkan bagaimana cara untuk menghadapi ayah dan ibu tirinya saja nanti.


Pencarian yang tidak kunjung menemukan, akhirnya berujung pada satu titik lelah.


Namun disaat lelah dan tidak lagi hendak meneruskan pencarian, terkadang kita justru diberi kejutan, sebuah penemuan yang lebih menyenangkan.

__ADS_1


Karena terkadang disaat kita tak lagi mencari, disitulah kita akan menemukan.


Jangan lupa tinggalkan hadiah kalian bestie...🥰


__ADS_2