
...Happy Reading...
Sudah hampir satu jam angan-anganku terbang melayang di sekitar waduk mini itu, hingga suara teriakan anak kecil dan ibunya berhasil menyita pandanganku.
" Nak... jangan lari jauh-jauh, ini sudah sore sayang, kita pulang yuk?" Teriak seorang wanita yang menggunakan hijab syar'i yang terlihat kelelahan saat mengejar putrinya yang sedang aktif-aktifnya.
" Mama... aku mau kesana, ayo kejar aku.. ayo kejar aku mama..." Teriak anak kecil itu yang malah semakin riang tidak terkira.
" Berhenti nak, jangan lari-lari, perhatikan langkahmu, nanti jatuh sakit sayang."
Keringat mengucur disela-sela jilbabnya, karena suasana sore itu juga cukup lembab, jadi membuat mama dari anak itu, berhenti dan mengibaskan kedua tangannya untuk sekedar mencari angin disekitarnya.
" Mama... kenapa berhenti, ayo kejar aku!" Teriak bocah berumur sekitar dua tahun lebih itu, sedangkan mamanya tertinggal cukup jauh.
" Sudah cukup nak, mama sudah capek, ayo kita pulang." Teriaknya kembali, tenaganya yang mungkin sudah banyak terkuras membuatnya cepat lelah saat harus berlari-lari disana.
Brugh!
" Aw... mama...sakit."
Benar saja, anak kecil berambut keriting namun lembut dan dikucir dua itu menangis sekuat tenaganya, karena lututnya sedikit mengeluarkan darah karena terkena batu kerikil-kerikil kecil.
" Are you okey cantik?"
Aku langsung berjongkok dan menolongnya, karena gadis kecil yang wajahnya mirip sama boneka itu terjatuh pas dihadapanku.
" Sakit paman, hiks.. hiks.." Tangisan anak itu semakin keras, dia takut melihat ada darah di lututnya.
" Coba sini paman lihat lukanya." Aku langsung menggendongnya dan mendudukkan di bangku yang aku duduki tadi.
" Perih paman, hiks.. hiks..." Dia semakin menangis tersedu-sedu karenanya.
" Tidak apa-apa, sini paman bantu bersihkan dulu." Aku langsung mengambil air mineral yang aku bawa tadi dan membasuhkannya disekitar luka gadis kecil itu.
" Mama bilang juga apa nak, jangan lari-lari nanti jatuh." Akhirnya mamanya kembali berlari mengejarnya kemari sambil ngos-ngosan.
" Aaaaa... hua... hua..."
Namanya juga anak kecil, saat didekati bukannya jadi tenang, namun tangisannya malah semakin menjadi-jadi.
" Astaga.. sudah, jangan nangis, malu sama paman yang menolong kamu itu nak." Mamanya langsung membawa gadis itu kedalam gendongannya tanpa sempat melihat ke arahku yang terus memandangnya, karena sekilas aku seperti mengenalinya.
" Kejora?"
Aku hampir tidak percaya saat kembali mengingat wanita itu.
" Aa?"
Begitu juga dengan wanita yang berhijab dihadapanku ini, dia sampai melongo melihatku, mungkin dia mencoba memastikan benar atau tidak penglihatannya sore itu.
__ADS_1
" Kamu apa kabar Kejora? sudah lama sekali aku tidak melihatmu, jadi gadis cantik ini putrimu?" Aku langsung menoel pipi gadis itu, dan ajaibnya anak kecil itu langsung tersenyum denganku, tanpa rasa takut sama sekali.
" Iya A... alhamdulilah baik, ini putriku, namanya Berlian, kasih salam dulu sayang sama paman." Kejora langsung membantu mengulurkan tangan putrinya agar bersalaman denganku.
" Hmm... bagaimana keadaan Farah? apa dia tinggal bersamamu akhir-akhir ini?"
Walau ragu, namun aku menanyakannya juga untuk sekedar basa-basi, sebenarnya aku tidak begitu perduli juga Farah mau tinggal dimana sekarang.
Dialah Kejora, adik pertama dari Farah, setahun setelah kami menikah, dia juga menyusul untuk menikah, walau saat itu dia baru satu tahun lulus dari SMA, tapi karena sudah ada pria baik yang meminangnya, jadi seluruh keluarganya pun juga ikut merestuinya.
" Iya A, teh Farah tinggal dirumah peninggalan almarhum suamiku." Jawabnya sambil menunduk dan mengusap rambut keriting putri semata wayangnya.
" Almarhum? maksud kamu suami kamu sudah meninggal?"
Aku langsung terkejut mendengarnya, karena memang aku tidak mendengar kabar itu dari siapapun setelah dia pulang.
" Iya A, suamiku kecelakaan di Tol, dan meninggal ditempat."
" Astaga, maaf ya Kejora, Aa sama sekali tidak mengetahuinya, karena tetehmu juga tidak bercerita sama sekali.
" Nggak papa A, kejadiannya memang belum lama, tadi malam baru habis acara seratus hari kepergiannya."
Pantas saja, saat aku pulang berlayar hari itu, aku sudah disuguhkan dengan kenyataan pahit, jadi Farah memang belum sempat cerita apapun tentang keluarganya.
" Rumah suamimu apa sudah pindah didekat sini? Aa kok baru tahu?" Tanyaku dengan heran, soalnya setahuku rumah suaminya itu tidak di area ini, memang satu kota, tapi jaraknya cukup jauh.
" Tidak pindah A, tetap disana, tapi aku buka restoran kecil-kecilan didekat sini, soalnya disini lebih rame, daya beli masyarakat sekitarnya juga lebih banyak, ya.. untuk sekedar menyambung hiduplah, karena kan aku juga harus membiayai Berlian juga kan A, nggak mungkin terus nyusahin orang tua juga." Ucapnya dengan perlahan.
Walau aku punya masalah dengan kakaknya, namun adeknya tidak pernah bermasalah denganku, mereka selalu sopan denganku, mungkin karena tahu aku penyumbang aliran dana dalam keluarganya atau memang sebenarnya hatinya memang baik.
" Iya A... rezeki, jodoh dan maut kan memang sudah diatur, bahkan semenjak kita belum lahir dan mungkin ini memang sudah jalan-Nya, owh ya.. lain kali mampir A, di restoran aku, walaupun tidak mewah dan besar, namun cukup nyaman untuk sekedar menikmati nasi liwet, hehe..."
" Iya... lain kali aku pasti mampir, tetehmu dulu memang pernah bilang, diantara kalian kakak beradik memang kamu yang paling jago masak kan, apalagi buat masakan khas Sunda."
" Hehe... Aa bisa aja, cuma masakan rumahan A, otodidak aja, yang penting nggak beracun dan bikin kenyang aja." Kejora langsung tersipu dan memilih merendah, saat dipuji hasil masakannya oleh kakak iparnya sendiri.
" Jadi kamu pulang pergi setiap harinya dari restoran ke rumah kamu? lumayan jauh loh itu?"
" Nggak setiap hari sih A, kalau pengunjung rame sampai malam, aku nginep di restoran, disana juga ada rumah singgahnya, walaupun kecil tapi nyamanlah buat tinggal berdua sama Berlian."
" Owh.. begitu, tinggal dimana saja tidak masalah, yang penting sehat-sehat kalian disana ya Berlian?" Aku kembali menoel pipi gadis kecil itu, dia memang terlihat sangat menggemaskan sekali.
" Owh ya A, boleh nggak aku ngomong sedikit lebih emm... tapi maaf sebelumnya, jangan tersinggung ya A?"
Dia terlihat ragu, namun sudah bisa aku tebak, dia pasti ingin membicarakan antara hubungan aku dengan Farah, tapi tidak masalah bagiku, karena cepat atau lambat, seluruh keluarganya harus tahu juga tentang ini.
" Berlian main dulu ya disana, mama mau ngobrol sebentar dengan paman."
" Baiklah mama." Berlian langsung kembali berlari, melupakan luka lecet dikakinya yang darahnya sudah tetlihat mulai mengering.
__ADS_1
" Begini A, terlepas dari masalah Aa sama teteh, aku mewakili seluruh keluargaku ingin meminta maaf sama Aa, A Lewis sudah berkorban banyak untuk keluargaku, tapi ternyata teh Farah malah seperti itu.."
" Kamu sudah tahu ceritanya?" Tanyaku sambil mengamati raut wajahnya yang terlihat sedih.
" Awalnya teh Farah memang nggak mau ngaku, saat aku tanya kenapa alasannya A Lewis menggugat cerai teteh, tapi karena aku penasaran, aku coba tanyakan saja kepada kuasa hukumnya, karena setahuku hubungan kalian berdua selama ini kan baik-baik saja, langgeng tidak ada masalah, tapi kenapa Aa sampai menggugat cerai, sudah pasti ini bukan masalah sepele, dan ternyata benar, kekhilafan teteh memang sangat besar dan mungkin memang tidak termaafkan."
" Awalnya aku juga tidak percaya dengan kelakuan tetehmu Kejora, tapi mau gimana lagi, buktinya terlalu kuat untuk menyangkalnya."
" Maaf ya A, walaupun kesalahan teh Farah mungkin tidak bisa termaafkan, tapi kami sekeluarga minta maaf yang sebesar-besarnya dengan Aa, aku juga bingung kenapa teh Farah jadi seperti itu."
" Apa orang tua kalian sudah tahu?"
" Belum, teh Farah hanya bilang denganku, karena dia tinggal ditempatku, katanya dia takut mau bilang ini semua sama keluarga di kampung."
" Hmm... ya sudahlah, pelan-pelan saja, pasti semua bisa mengerti."
" Emm... walau ini tidak pantas, bolehkan keluarga kami tetap menjalin silaturahmi dengan Aa nantinya? kami janji tidak akan mengusik keluarga Aa lagi, tapi kami juga tidak ingin dibenci oleh Aa, karena Aa sudah seperti keluarga kandung kami sendiri."
" Tentu Kejora, yang membuat kesalahan adalah teteh kalian, kalau keluarga kalian sangat baik dengan Aa, jadi itu tidak akan menghalangi tali silaturahmi kita, walau mungkin tidak bisa sedekat dulu lagi."
" Nggak papa A, yang penting Aa tidak membenci kami, itu sudah lebih dari cukup, terima kasih ya A Lewis, Aa memang terbaik dari dulu."
Bahkan kebiasaan Kejora mencivm tanganku pun masih terulang kembali, dari raut wajahnya, dia terlihat sangat bahagia.
" Mama...! katanya kemarin saat Eyang Uti tanya, mama nggak mau pacaran lagi, trus kenapa sekarang pacaran?"
" Eh.. siapa yang pacaran, dia itu paman kamu sayang, dia ini suami bibi Farah loh, ehh... maksutnya mantan, tapi belum juga ya? lah.. gimana ngomongnya ini?"
" Sudahlah, dia masih anak-anak Kejora." Aku hanya tersenyum saja melihatnya.
" Kalau dia bukan pacar mama, jadi boleh nggak kalau aku pacaran dengan paman ini, dia baik dan juga tampan, Berlian mau jadi pacarnya, gimana Paman?"
" Pffthh.. bahahaha... hei... dia pamanmu Berlian sayang, mana boleh?"
" Emang kenapa kok nggak boleh Ma?" Tanya Berlian bersungguh-sungguh.
" Boleh kok, jadi apa mulai sekarang kamu jadi pacar paman, cantik?" Bermain-main dengan seorang bocah bahkan lebih menyenangkan bagiku saat ini.
" Iya, hu um!" Berlian mengangguk-anggukan kepalanya dengan mantap, bahkan poni keriting rambutnya mengayun dengan lucunya.
" Baiklah... kalau begitu, mulai hari ini kita jadian ya Berlian?" Melihat dia berbicara seperti itu semakin membuatku merasa gemas saja.
" Yeaaaaay... aku punya pacar.. aku punya pacar, horaayy!" Berlian bersorak dengan riang gembira.
" Astaga Berlian?"
Kejora hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan senyuman manis di wajahnya dan pipi yang sudah memerah, karena mungkin malu melihat kelakuan anak kecilnya, yang seolah tumbuh dewasa sebelum waktunya.
Pov End
__ADS_1
Hidup ini penuh dengan hal-hal yang tidak sempurna dan orang-orang yang tidak sempurna.
Maka belajarlah untuk menerima ketidaksempurnaan itu, agar kita bisa menikmati kebahagiaan di kemudian hari.