Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
78. Pelakor VS Pebinor


__ADS_3

...Happy Reading...


Terkadang manusia harus sampai kepada titik kehilangan untuk mengerti arti sebuah kehadiran, kasih sayang, dan kesetiaan.


Sidang perceraian antara Lewis dan Farah berjalan sesuai kemauan Lewis, karena memang bukti yang Lewis punya itu lebih dari cukup untuk menceraikan Farah dan membuatnya tidak bisa membantah gugatannya sama sekali.


Begitu juga dengan Gemintang, hari ini dia resmi berstatus sebagai Janda, sungguh diluar dugaan memang, karena William sama sekali tidak mempersulit sidang perceraiannya, karena bukti dia juga terlalu kuat dan nyata, mau naik bandingpun dia tidak akan bisa dan mungkin malah hanya akan memperburuk hubungannya dengan Gemintang, padahal dia masih sangat mencintainya dan tidak rela jika harus dibenci oleh Gemintang.


Bukan karena sudah hilang rasa atau tidak lagi cinta, William bahkan menitikkan air matanya setelah pihak hakim mengetok palu yang menandakan sah nya sebuah perceraian diantara mereka.


" Mas... terima kasih karena mas tidak mempersulit sidang perceraian kita, kita bertemu baik-baik, berpisahpun aku harap bisa baik-baik."


Rasa sedih pun terselip dihati Gemintang, rasa cinta dan sayangnya pun masih tersisa di sudut hatinya, namun tidak ada kata sesal didirinya, karena memang kesalahan suaminya sudah sangat Fatal baginya.


Kita tidak akan berpisah untuk selamanya Gem, ini hanya sementara, aku akan kembali berjuang untuk mendapatkan hatimu kembali, selepas kata perceraian kali ini, aku akan berusaha mendapatkan kata rujuk darimu, karena sampai kapanpun itu, aku tidak akan pernah rela jika harus berpisah denganmu sayang...


" Fuh... hmm... tapi maaf, kalau kita masih harus sering berjumpa."


William mengusap wajahnya dengan kasar, untuk sekedar menghilangkan air matanya yang terus saja menetes sedari tadi.


Sesungguhnya ini sangat berat baginya, bahkan dia tidak banyak bersuara, karena seolah semua kata-katanya tersekat didalam tenggorokan, tapi saat bertemu dengan Gemintang dia mencoba untuk tetap terlihat tegar.


" Maksudnya gimana sih mas?" Gemintang langsung mulai curiga dengannya.


" Kenapa? apa melihatku saja kamu sudah tidak sudi? aku tidak akan pernah menyakitimu say... eh... emm Gemintang, aku janji." Bahkan untuk tidak lagi memanggil dengan sebutan sayang saja, bagi William terasa sangat berat.


Rasa cintanya sedari dulu memang sangat besar buat Gemintang, hanya nafsvnya saja yang sering menggelapkan hatinya, apalagi dirumah itu ada dua wanita cantik yang selalu membuat keinginannya sebagai pria selalu melambung tinggi.


Beberapa hari ini, dia sungguh merasakan apa itu arti dari sebuah kehilangan, nafsu makan hilang, semangat kerja pun entah kemana, dan yang lebih mencengangkan lagi hasr@tnya pun seolah berkurang, dia tidak lagi menggebu-gebu seperti biasanya.


Karena mungkin dia hanya berdiam diri dirumah saja, menemani mamahnya yang masih dalam masa penyembuhan, dan yang pasti tidak ada Farah yang selalu menggodanya dengan suara dan bodynya yang aduhai.


" Bukan begitu mas, tapi memang kita kan sudah tidak ada ikatan lagi, jadi memang seharusnya kita menjaga jarak." Jawab Gemintang yang memang tidak ingin berurusan lagi dengan mantan suaminya itu.


" Begini Gem... aku tidak akan membawa apapun dari rumahmu yang bukan hakku dan aku juga tidak mau menerima semacam royalti atau anak cabang dari perusahaan yang kalian berikan kepadaku, tapi aku hanya minta satu hal darimu."


Apapun akan William lakukan, asal dia terus bisa melihat Gemintang kedepannya.


" Asal tidak menyangkut masalah hati, mungkin tidak akan ada masalah." Jawab Gemintang yang seolah sudah jera dengan keadaannya.


Penyelidikannya dengan Sabrina di perusahaan memang tidak menemukan bukti apapun bahwa William korupsi atau semacamnya.


" Aku ingin bekerja sama denganmu." Ucap William setelah menjeda ucapannya sesaat.


" Maksudnya? bekerja sama soal apa ya?" Gemintang langsung mengerutkan keningnya, mencoba menelisik apa rencana yang telah dibuat oleh mantan suaminya itu.


" Saat ini aku masih memiliki saham di perusahaan kalian, walau tidak seberapa, tapi itu murni uang hasil kerja kerasku yang aku investasikan disana."


William memang sosok pembisnis yang cerdas dan handal, itu kenapa perusahaan keluarga Gemintang semakin maju ditangannya, William juga ahlinya dalam mengurus soal keuangan, jadi dia selalu memikirkan masa depannya nanti.


" Terus?"


" Aku tetap ingin punya wewenang disana, walau tidak setiap hari aku disana, tapi setidaknya aku punya jabatan disana."


" Mas masih mau kerja di perusahaanku?"


" Ya... walau tidak bisa setiap hari aku datang, karena aku dengan ayah punya rencana untuk membuka bisnis property kecil-kecilan sendiri." Jawab William yang kemarin sempat berembuk dengan ayahnya.


" Mas... apa tidak sebaiknya mas jual saja, atau mungkin biar saham mas itu aku beli saja."


" Gemintang, katanya kamu mau pisah baik-baik denganku, apa kamu tidak bisa berteman denganku? hanya sekedar rekan kerja saja, tidak lebih bukan?"


" Tapi mas.."


" Gem... aku tahu, kesalahanku memang sangat fatal buat kamu, tapi itu bukan keinginanku sepenuhnya Gem, aku sudah membiarkan kamu lepas dari ikatan ini, bahkan aku tidak mempersulitnya bukan? aku hanya ingin berteman baik saja denganmu, itu saja, apa itu sangat sulit bagimu?"

__ADS_1


William terlihat berbicara dengan sendu, tidak ada amarah disana, karena selama menjadi suaminya dia sudah tahu bagaimana Gemintang luar dalam, jika dia menggunakan emosi itu tidak akan pernah berhasil.


" Mas... bukan aku tidak mau berteman denganmu, tapi sejak aku melihat kamu bermesraan dengan Farah, dengan kedua mataku sendiri, sejak saat itu jika aku melihat kamu, hatiku masih terasa sakit mas, pengkhianatanmu itu sungguh tidak bisa aku maafkan, walaupun alasannya tentang penyakitmu, tapi aku tetap tidak bisa menerimanya." Ucap Gemintang sambil menyangga kepalanya yang terasa berat.


" Gem... setiap orang pasti punya kesalahan, tapi apa kamu hanya melihat sisi salahku saja? apa kamu tidak melihat sisi baikku, juga rasa sayangku yang tidak pernah surut setiap saat kepadamu itu dan apa aku pernah mengabaikanmu, walau aku berbuat khilaf kepada Farah, tapi aku tetap memperhatikanmu kan Gem, kamu tetap yang aku utamakan, kamu tetap yang aku istimewakan selama ini?" Air mata William kembali mengalir, sehingga membuat Gemintang merasa tidak tega.


Karena memang semua yang William katakan itu benar adanya, maka dari itu Gemintang tidak pernah mencurigai suaminya saat bermain serong dibelakangnya kala itu, sungguh tidak ada yang berubah dari segi perlakuannya, perhatiannya, semua masih sama, tidak ada yang berbeda dari dirinya selama ini.


" Ya... aku tahu itu, tapi aku juga punya hati mas, kamu nggak akan pernah tahu bagaimana rasanya menjadi aku, justru karena perlakuan baik mas itu yang membuatku semakin sakit, karena aku jadi sulit membencimu, tapi terlalu sakit saat mengenangmu."


" Gem... kesakitanmu kan saat melihat aku dengan Farah, aku janji setelah ini, tidak akan betemu lagi dengannya, hubungan kami sudah berakhir Gem." William mencoba memberikan pengertian.


" Berakhir atau pun tidak, itu sudah tidak ada artinya lagi bagiku mas, semua sudah terlambat mas, aku sudah bukan istrimu lagi, jadi kalian mau berhubungan atau tidak, aku sudah tidak perduli lagi."


Titik kesabaran Gemintang sudah habis sampai disini, dia tidak ingin mengenal kata luka lagi, walau itu tidak pasti.


" Tapi memang aku tidak mau lagi berhubungan dengannya Gem." William masih terus berusaha sampai titik peluh penghabisan.


" Kenapa baru sekarang mas menolaknya, kenapa tidak saat pertama kali dia mengajak kamu untuk berzin@ mas?"


" Gem... itu semua diluar kendaliku."


" Sudahlah mas, itu semua sudah tidak penting lagi buatku, sekarang mas sudah bebas, mau berhubungan dengan siapapun, wanita manapun, tidak akan ada yang melarang, silahkan saja."


" Gem..."


Aku hanya ingin berhubungan denganmu, sekarang dokterku pun sudah kembali, aku bisa berobat rutin dengannya lagi, aku ingin mengejarmu kembali, tolonglah beri aku kesempatan lagi sayang...


William ingin mengatakan seperti itu, namun saat ini dia sadar, jika dia berbicara jujur pun tidak akan membuat mereka bisa dekat lagi, yang ada malah hanya pertengkaran semata.


" Maaf mas.. aku harus pergi." Gemintang tidak ingin terlalu lama berdekatan dengan William, takut kalau ada syaiton yang akan mempengaruhinya nanti.


" Tapi itu syaratku, aku tidak meminta apapun dari kalian atas kerja kerasku di perusahaan selama ini, aku tetap ingin bekerja sama denganmu, walau hanya dalam hal pekerjaan Gem, tidak lebih okey?" William terlihat memohon dengan sangat.


" Fuuh... akan aku pikirkan dulu mas." Jawab Gemintang yang seolah sudah lelah melawan William.


Selain tampan, kata-katanya yang manis itu yang dulu selalu membuat hati Gemintang luluh dan jatuh hati dengannya.


" Beb... ehh... William, aku ingin berbicara sebentar denganmu."


Saat Gemintang masih menimbang-nimbang permintaan mantan suaminya, ternyata Farah datang dengan gaya artisnya, dan mendekat ke arah mereka berdua.


" Tuh... bebihnya mas udah datang, minta jatah lagi lah itu." Ledek Gemintang yang langsung tersenyum miring melihatnya.


" Ckk... aku malas meladeninya." Umpat William yang langsung memalingkan wajahnya.


" Kenapa malas mas, dulu aja semangat banget mendes@h dengannya, nggak usah malu gitu kenapa, dibikin asyik aja, biar aku jadi penontonnya."


Gemintang sama sekali tidak keberatan, dia ingin melihat bagaimana reaksi Farah saat ini, selain itu dia juga ingin membuktikan benar atau tidaknya ucapan dan janji William tadi, yang katanya tidak ingin kembali dengan ahli Neraka itu.


" William, kita harus bicara sekarang." Ucap Farah yang seolah tidak menggangap adanya Gemintang disana, Farah sudah terlihat prustasi karena setelah kejadian hari itu, William selalu menghindari dirinya.


" Tontonan seru nih."


Gemintang memilih mundur beberapa langkah kebelakang dan duduk disebuah bangku kecil sambil bersidekap dan mulai menonton drama live antara Pelakor VS Pebinor dari kejauhan.


" Tidak ada lagi yang harus kita bicarakan Farah, hubungan kita sudah selesai." Entah mengapa dia begitu marah dengan Farah, padahal biasanya William tidak tegaan dengan orang.


" Kenapa harus selesai Will, lagian kita sudah sama-sama sendiri sekarang, kamu pisah dan aku pun pisah, sudah tidak ada lagi penghalang diantara kita berdua bebih." Ucap Farah yang seolah sudah buta karena cinta.


" He eh... lanjut lah kalian!" Gemintang bahkan merekam diam-diam perdebatan mereka, dia akan mengabadikan moment seru ini.


" Bukannya dulu aku sudah pernah bilang, kalau hubungan kita sampai ketahuan, semua selesai." Bisik William disamping telinga Farah.


" Ngapain sih bisik-bisik, mau kalian ngapain juga aku sudah tidak perduli woi.." Umpat Gemintang dengan tersenyum sinis.

__ADS_1


" Bebih?" Farah mencoba untuk memegang lengan William namun langsung dihempaskan begitu saja.


" Jangan panggil aku seperti itu lagi Farah!" Umpat William yang seolah sudah risih dengannya.


Setelah kehancuran rumah tangganya bersama Gemintang, barulah dia menyadari, bahwa selingkuh dengan Farah bukanlah sebuah solusi dari masalahnya, namun malah menjadi pemicu kehancuran rumah tangganya.


Dan berpisah dengan Gemintang membuatnya semakin terpuruk, apalagi ditambah hujatan dari pihak orang tua dan keluarganya.


" Heleh.. kalau lagi main jungkat-jungkit juga panggilnya itu!" Gemintang tersenyum kecut saat mengingatnya, namun dia sungguh sangat menikmati adegan mereka berdua.


" William dengarkan aku, tidak ada gunanya menyesali semuanya, nasi sudah menjadi bubur, bagaimana kalau kita mulai semua dari awal."


" Tidak bisa Farah, selama ini kamu hanya pelampiasan bagiku, kamu pun menggangapku sebagai pelampiasan juga kan, kita bernasip sama Farah."


" Tapi itu dulu Will, sekarang aku sudah sadar bahwa aku memang sudah jatuh hati denganmu William."


" Tapi aku masih menggangapmu sama Farah, tidak akan ada titik temu di dalam hubungan kita, semua akan terasa sia-sia walau aku paksakan sekalipun."


" Pftth... kasian sekali nasipmu Farah, manalah tadi bang Lewis, kenapa harus pulang buru-buru sih." Umpat Gemintang sambil menahan tawanya.


" Farah... maafkan aku, mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk hidup bersama."


" William, kita sudah lama melakukan hal itu, okey." Farah langsung tidak terima.


" Tapi itu hanya sebuah kesalahan Farah."


" Takkan lah hubungan selama itu tidak ada artinya William, apa kamu tidak sayang melepasku begitu saja." Protes Farah seketika.


" Sekali lagi maaf Farah." Jawab William lirih


" William... apa kamu lupa, aku yang selalu memenuhi segala hasr@tmu yang menggebu itu, lalu kamu anggap aku ini apa William, jangan gila kamu!"


Akhirnya Emosi Farah sudah tidak tertahankan lagi, dia benar-benar tidak terima ditinggalkan begitu saja oleh William.


" Farah... saat itu kita sama-sama saling membutuhkan, dan bukankah dulu kita pernah berjanji untuk tidak saling menuntut?"


" Apa tidak ada sedikitpun rasamu untukku William, setelah apa yang kita lakukan selama ini?"


" Rasa itu mungkin ada, namun aku sadar itu hanya sebuah kesalahan, yang tidak pernah akan berakhir dengan kebahagiaan."


" Tapi Will?"


" Farah... sebaiknya kita jangan saling menghubungi satu sama lain lagi, aku ingin menata diriku kembali, hidupku sudah hancur karena kekhilafan kita, mohon pengertianmu Farah."


Plak!


" Kamu jahat William, tega kamu sama aku, rumah tanggaku juga hancur karenamu!" Farah langsung menampar pipi William sekuat yang dia bisa.


" Maafkan aku." Ucap William dengan lemas.


" Wuidih... sakit itu pasti, harusnya sekali lagi mbak, sekalian mewakilkan aku juga gituh." Gemintang ikut mengusap pipinya sendiri sambil meringis, seolah dia ikut merasakan tamparan itu dari kejauhan.


" Argh... aku benci kamu William." Deraian air mata dari Farah mengalir dengan derasnya, dia sungguh tidak menyangka jika William langsung mencampakkannya begitu saja.


Dia berfikir jika keduanya sudah sama-sama saling bercerai akan ada harapan untuk mereka kembali bersatu, namun ternyata semua sia-sia, nasipnya seolah sudah hancur, ditambah masih tertimpa tangga dan ibarat terkena banjir bandang pula itu. Hancur sudah tak bersisa, karena sepertinya tidak akan ada harapan lagi untuknya.


" Hmm... itu lebih baik." William menerima pukulan itu dengan ikhlas, tanpa berniat mau membalasnya.


Semakin Farah membencinya, rasa bersalahnya malah semakin berkurang. Karena selama ini William memang hanya menggangapnya sebagai pelampiasan nafsvnya yang berlebihan.


Kata i love you yang keluar dari bibiirnya seolah hanya ungkapan terima kasih saja, karena sudah menolongnya untuk menyalurkan hasr@tnya yang menggila.


Akhirnya Farah berlari pergi dari sana, menyisakan William yang tertunduk lemas dengan meraba pipinya yang terasa panas, karena gamparan dari tangan Farah.


Walau itu sangat menyenangkan bagi Gemintang, namun saat melihat William lemah tak berdaya seperti itu, muncul rasa iba didirinya, dulu sosok itulah yang selalu menenangkannya, melindunginya dalam hal apapun, namun kini Gemintang tidak bisa membalas semuanya, karena sudah tidak ada lagi ikatan diantara mereka.

__ADS_1


Tidak perlu balas dendam, duduk saja dan tunggu. Mereka yang menyakitimu pada akhirnya akan mengacaukan diri mereka sendiri. Dan jika kamu beruntung, Tuhan akan membiarkanmu untuk menonton itu semua.


__ADS_2