
...Happy Reading...
Didepan sebuah api unggun yang sedang menyala dengan gagahnya, Gemintang termenung sambil mengamati kobaran api yang menghangatkan suasana malam itu, namun tidak bisa menghangatkan hati Gemintang yang sudah terlanjur membeku karena ulah William.
Sedangkan William dengan telatennya memangku kaki Gemintang dan membersihkan lukanya dari kotoran yang menempel dengan kotak P3K disampingnya.
Sebenarnya Gemintangpun sudah jengah harus duduk berdua disaat yang seperti ini, apalagi dengan suasana dan hawa yang syahdu, mrmbuat pikirannya melalang buana ke masa lalu. Namun apa daya, entah mengapa seolah takdir masih ingin mempertemukan mereka.
Ya Tuhan... kenapa Engkau masih sering mempertemukan kami? apa ini sebuah hukuman, atau mungkin ini sebagai ujian bagiku, untuk selalu waspada dengan seorang pria, atau apa? aku hanya ingin menjaga hati mas Chris saja, tapi kenapa dia selalu muncul menggangu di kehidupan baruku.
" Perih nggak Gem? mas bersihin pake alkohol ini?"
Suara William memecahkan lamunan Gemintang tentan kekasihnya saat ini.
" Enggak, biasa aja." Jawabnya dengan nada cuek, dia masih tidak habis pikir, kenapa William selalu muncul disaat dia membutuhkan seseorang di suatu moment.
" Emm... trus apa masih perih dengan luka yang aku buat?" Tanya William dengan perlahan, berbagai cara akan dia lakukan untuk kembali mendapatkan hati Gemintang.
" Jelaslah, itu sih nggak perlu mas tanyakan lagi." Gemintang langsung tersenyum miring mendengar pertanyaan konyol dari mantan suaminya itu.
" Andai mas jadi dokter ya? mas akan menciptakan obat yang bisa menyembuhkan luka itu, sampai dapat, walau harus menyelam ke lautan manapun, mas akan lakukan semua untuk kamu!" Ucap William dengan mantap.
" Heleh... mau mas nyari di farmasi seluruh dunia pun tidak akan pernah bisa menemukannya!"
" Kalau begitu bagaimana kalau aku relakan saja hati mas yang berharga ini untukmu, kita tukaran hati biar mas yang merasakan sakitnya, mas sudah merefresh hati mas dengan yang baru kok, dijamin ori dan tidak akan melukaimu lagi, janji deh?"
William mencoba untuk membuat suasana menjadi nyaman, tanpa ada perdebatan.
" Gimana cara nukernya? mas mau ngelawak atau apa nih?" Gemintang hanya tersenyum miring saja menanggapinya, dia seolah tidak perduli lagi dengan segala rayuannya.
" Maunya sih gitu, hehe... sudah lama banget mas nggak lihat kamu tersenyum dan tertawa hanya untuk mas, kenapa kamu jahat sekali sih Gem, tiap malam selalu membuat hati mas merindu selalu, nyiksa banget tau Gem." William berbicara semanis mungkin, tidak sulit baginya, karena dulu dia paling bisa mengambil hati Gemintang saat dia marah.
" Ckk... sudahlah mas, nggak perlu omong kosong lagi didepanku, nggak akan ngefek juga buat aku mas." Gemintang memilih membuang pandangannya jauh ke hutan sana, daripada harus menatap wajah masa lalunya.
" Maaf Gem... maafkan aku, emm... aku tahu, walau seribu kata maafku tidak kamu terima, tapi aku tetap ingin minta maaf denganmu, aku menyesal Gem, aku memang bodoh tidak memikirkan semua hal kedepannya."
Walau dia juga faham, jika menyesal dibelakang itu memang tidak ada gunanya, namun dari dalam lubuk hati William yang paling dalam, dia tetap ingin mengatakan kepada Gemintang bahwa dia memang sungguh sangat menyesal.
" Mas memang bersumbu pendek, menyesal sekarang tidak akan mengubah apapun!"
Apapun yang terjadi, Gemintang tetap ingin memperjuangkan masa depannya, dia tidak mau jatuh kembali ke lubang yang sama, walau mungkin jalan yang lama sudah tidak lagi berlubang sekalipun, dia tetap akan meneruskan perjalanannya melewati jalan yang baru.
" Tapi adekmu masih tetap panjang loh Gem, walau nggak pernah kamu pakai lagi?" William mencoba untuk membuat lelucon, walau terkesan garing.
" Massss!" Gemintang langsung melotot kesal kearahnya, bisa-bisanya dia membahas hal seperti itu saat ini.
Sudah otaknya baru saja diracuni dengan suara desa han Peter dan Sabrina, ditambah lagi datang pria masa lalu yang malah mengingatkan tentang barang favoritnya dahulu jika malam tiba.
" Hehe... mas kangen juga melihat kamu cemberut kayak begitu!" William bahkan menopangkan wajah tampannya dengan kedua tangannya didepan Gemintang yang malah jadi semakin sewot karena tingkahnya.
Astaga.. setan... setan, husss... tolong pergi dari sini, jangan biarkan aku menoleh kembali ke masa lalu yang kelam ini, mas Chris... aku padamu pokok.e...
" Sudahlah... udah okey ini kayaknya kakiku, aku balik ke tendaku saja mas."
__ADS_1
Karena tidak jngin terbuai dengan ucapan manisnya, Gemintang memutuskan untuk kembali ke Tenda, walau mungkin harus melihat drama baru lagi pikirnya.
" Nanti Gem, sini aku pijitin dulu, kamu pasti capek kan naik bukit tadi? dulu aja kalau nggak dipijit pasti tidurnya nggak tenang, balik kanan, balik kiri, muter terus kan?"
William bahkan memangku kedua kaki Gemintang dengan paksa dan memijitnya perlahan, memang tidak bisa Gemintang pungkiri, bahwa William memang selalu tahu apa yang dia butuhkan setiap waktu.
" Mas... aku tuh udah capek kalau harus berdebat sama mas."
" Ya sudah, jangan berdebat dong, walau aku bukan Doraemon yang punya mesin pemutar waktu, tapi bisa nggak sih Gem kalau kita berteman lagi dari awal, berteman loh Gem, berteman saja?"
" Nggak bisa dong mas."
" Aku tidak memaksa kamu untuk menerima diriku yang tampan ini, aku hanya ingin kamu balas dendam saja denganku, terserah kamu mau apain aku, mas pasrah aja deh, yang penting kamu puas hati, bahkan kalau kamu mau guna-guna mas ke dukun, agar mas hanya tergila-gila dengan kamu pun mas rela, apa syaratnya biar mas kasih, mau foto, rambut, baju atau apapun itu mas bawain, kalau perlu mas anterin kamu pergi ke Dukun nya sekalian, gimana? kapan kita berangkat?"
William bahkan seolah menyerahkan dirinya dan pasrah dengan Gemintang, jikalau mau diapain saja rela.
" Pfftthh... mas ini gila atau apa? baru kali ada orang minta di guna-guna sendiri, heran deh." Gemintang akhirnya tersenyum geli sendiri, merasa lucu saja dengan ucapan mantan suaminya itu.
Mas kangen senyumanmu itu sayang...
" Ya Alloh Gem... kamu cantik sekali, terima kasih sudah menertawakan mas ya? apa kamu mau mas pakai baju badut biar kamu bisa terus tertawa lepas?" William semakin bahagia melihatnya.
" Apaan sih mas, jangan gila deh!" Gemintang semakin tertawa dibuatnya.
" Atau kamu mau melihat mas nari ala-ala K-Pop gitu? mas bisa loh... look at me. How you like that? bada bing bada boom.. boom.. boom.. how you like that, tereret.. tereret.. tereret.. tereret!"
" Ahahahahaha... stop mas, jangan gila dong!"
" Gem... kamu sudah bertemu dengan dokter pribadiku kan? kemarin dia cerita kalau pernah jumpa denganmu dan menanyakan tentang penyakitku kan?" Tiba-tiba William mengganti topik menjadi kembali serius.
" Hmm.." Gemintang hanya menggangukkan kepalanya saja.
" Berarti kamu sudah tahu kan kenapa aku bisa menggila seperti itu?"
" Mas.."
Gemintang memang ingin melupakan semua tentangnya, namun entah mengapa ada hal-hal yang membuatnya kasihan.
" Aku bukannya menjadikan itu alasan untuk membujukmu, yang penting kamu tahu saja, bahwa aku seperti itu bukan karena keinginan pribadiku atau bukan maksud aku untuk menduakanmu, bahkan saat aku berhubungan dengan Farah pun, saat aku memejamkan mataku, wajahmulah yang muncul disana. Ragaku memang sering bersamanya, namun hatiku selalu untukmu Gem, tidak berubah dari dulu sampai sekarang."
" Tapi mas.. kita tetap tidak bisa lagi bersama." Gemintang kembali menolaknya.
" Setidaknya kita bisa berteman kan Gem?" Pinta William dengan sangat.
" Nggak bisa juga!"
Karena menurutnya, hubungan diantara laki-laki dan perempuan tidak akan bisa menjadi teman saja, pasti akan ada urusan perasaan yang mendasari hubungan mereka salah satunya.
" Kita mitra kerja loh Gem, temen ngobrol atau teman bercanda pun tak apa lah, temen ngopi pun jadi deh, asal tetep bisa lihat kamu tersenyum."
" Aku sudah punya seseorang yang harus aku jaga hatinya, mas tahu kan, dari dulu aku setia hanya dengan satu orang? sampai sekarang pun sama mas, jika sudah ada satu nggak mau cari yang lain."
Gemintang tidak ingin memberikan harapan sedikitpun kepadanya, namun William memang tidak pernah kendor dalam mengejar dirinya kembali.
__ADS_1
Mungkin itu alasan William dulu dengan mudah dia melepas istrinya, karena mau sekuat apapun dia mempertahankan hubungan mereka, dia pasti akan kalah dalam persidangan dengan bukti sekuat itu dan yang pasti hanya akan membuat Gemintang semakin benci kepadanya.
" Secepat itu Gem?" Tanya William dengan wajah memelas, karena dirinya merasa menjadi seseorang yang mudah terlupakan dengan mudahnya.
" Saat ada seseorang yang selalu ada untukku dan membantu mengobati luka dihatiku, kenapa aku harus menolaknya?"
" Apa yang harus aku lakukan untuk menebus segala kesalahanku Gem, agar kamu percaya kalau aku sudah bertobat?" William tetep kekeh dengan keinginannya
" Apa bisa? kenapa nggak dari dulu mas tobat? sudah lima tahun kita menikah, dan entah sudah berapa tahun mas berhubungan dengan Farah, kenapa tidak saat itu? lalu sekarang apa omongan mas bisa aku percaya lagi?"
" Gem... tidak semudah itu melawan nafsvku yang selalu menggila saat itu Gem, aku hanya tidak ingin kamu terluka lagi karena keganasanku, tolonglah mengerti."
" Lalu sekarang? dengan siapa mas melampiaskan nafsv bejat mas itu?"
Akhirnya apa yang membuatnya penasaran akhir-akhir ini bisa mendapatkan jawaban pikirnya.
" Astaga Gem... apa sedikitpun kamu tidak bisa mempercayaiku lagi?" William sebenarnya enggan berkata jujur tentang masalah yang satu ini.
" Apa menurut mas semudah itu bisa mengembalikan kepercayaan dari mas, setelah semua apa yang terjadi?" Gemintang hanya penasaran saja, mau dijawab atau tidak tentang soalannya dia akan tetap menolak William.
" Aku sudah menyuntikkan obat sementara, agar aku tidak bernafsv lagi dengan hal itu Gem."
Namun sepertinya memang dia harus mengatakan pengorbanannya, agar Gemintang bisa percaya.
" HAH?" Gemintang langsung terkejut, walau dia tidak tau pasti obat apa itu, namun dia sungguh tidak menyangka jika William bisa sampai melakukannya.
" Kamu boleh menanyakan langsung dengan dokterku, kalau kamu masih tidak percaya!"
Sampai segitunya?
" But, why?"
" Karena aku ingin tobat Gem, aku ingin memperbaiki diri dan hanya itu satu-satunya cara untuk membuktikan hal itu denganmu, aku sudah tidak seperti dulu lagi Gem, tolonglah percaya denganku."
" Apapun itu, semua sudah berlalu mas, kita sudah tidak bisa kembali seperti dulu lagi, mau bagaimanapun dan apapun caranya, tetap tidak bisa mas."
" Iya... aku hanya ingin memulai persahabatan yang baru denganmu, just for friend Gemintang, tanpa harus saling membenci, okey?"
William meraih kedua jemari Gemintang untuk memohon, agar hubungan mereka tetap baik-baik saja, walau hanya sebagai teman.
Dan ternyata, dari kejauhan Chris melihat mereka berdua dengan kilatan kedua matanya yang seolah sudah berapi-api, tanpa tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
Menjalin hubungan asmara memang tidak selamanya mulus. Berbagai ujian sering kali muncul untuk menguji kesetiaan pasangan. Dan mungkin ini yang terjadi dalam hubungan Chris dan Gemintang yang masih seumur jagung.
Rasa kecewa langsung kembali muncul di dirinya, seolah apa yang dia lakukan semua sia-sia. Karena akan lebih mudah untuk memaafkan orang biasa daripada memaafkan luka yang diberi oleh orang tercinta
Kali ini dia sengaja hanya memperhatikannya dari jauh saja, tidak ingin melabraknya, atau pun marah-marah lagi dengan mereka. Dia memilih untuk diam saja.
Namun saat kedua tangan Gemintang diraih oleh William, dan dari kejauhan mereka saling memandang, disitulah Chris berjalan mundur perlahan-lahan dan akhirnya pergi berlari menjauh dari tempat itu, tanpa berminat untuk ingin tahu apa yang mereka bicarakan.
Ternyata memang benar adanya, titik tertinggi kecewanya seseorang itu adalah Diam. Karena ingin bicara apapun seolah sudah merasa seperti tidak ada gunanya lagi.
Kau bisa menutup matamu dari hal-hal yang tidak ingin kau lihat. Tapi kau tak bisa menutup hatimu dari hal-hal yang tak ingin kau rasakan.
__ADS_1