Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
50. Sambalado Terong


__ADS_3

...Happy Reading...


Saat Gemintang dan Lewis pulang, William sudah berada di sofa ruang tamu, dengan mata masih dalam keadaan terpejam dan kening yang sudah ditambal dengan perban juga lengan yang masih sedikit membiru.


" Huh... kenapa lagi sih dia ini."


Gemintang berjalan mendekat dan melihat kondisi keadaan orang yang masih sah sebagai suaminya itu.


" Masih hidup dia dek?" Tanya Lewis dengan santainya tanpa mau melihat kondisi William seperti apa.


" Sepertinya sih iya, dia masih bernafas kok bang!" Jawab Gemintang yang langsung mengecek hidung mancung suaminya.


" Biar aku suruh sopir dan mamang untuk menggangkat tubuhnya ke dalam kamar saja, bikin sakit mata saja dia teronggok seperti bangk@i disitu!"


Lewis langsung berjalan keluar mencari tukang kebun dan sopirnya, sebenarnya dia bisa mengangkatnya sendiri, tapi dia tidak sudi mengotori tangannya dengan tubuh pria perusak rumah tangganya itu.


" Hmm..."


Sebenarnya Gemintang juga benci melihatnya, namun saat melihat William terkapar tidak berdaya dengan keadaannya yang miris seperti itu, jiwa kelembutannya muncul juga, apalagi selama ini William tidak pernah berbuat kasar dan selalu mencurahkan kasih sayang dan perhatian dengannya, hanya satu kesalahan suaminya didalam kehidupannya, yaitu sebuah perselingkuhan.


" Kita tidur saja diruang tamu dek, ranjangnya kan ada dua, besok kita ganti semua ranjang yang ada dikamar kamu dan abang, biar tidak ada sisa-sisa dari perzin@@n mereka." Lewis juga tidak sudi lagi tidur dikamarnya sekarang.


" Okey bang, aku ganti dulu perbannya, darahnya masih merembes keluar itu."


" Biarkan saja, nggak usah kamu urusin dia, yang penting dia masih bernafas saja, itu sudah lebih dari cukup."


" Jangan begitu bang, seburuk apapun kelakuannya, dia selalu menjagaku dengan baik saat abang pergi berlayar." Jawab Gemintang apa adanya, karena memang seperti itu kebenarannya.


" Huft... itulah kelemahan seorang wanita, lembek kamu, ya sudah... terserah kamu saja, setelah selesai cepat pergi ke kamar tamu, abang mau istirahat juga disana."


Lewis langsung pergi meninggalkan kamar itu, badannya juga lelah, apalagi pikirannya, jadi dia juga ingin istirahat untuk sekedar melemaskan otot, walau mungkin sulit untuk memejamkan kedua matanya, karena baru saja melihat kenyataan pahit yang diluar dugaannya selama ini.


Dengan sisa-sisa kasih sayang, Gemintang membawa handuk bersih, baskom berisi air hangat dan juga sebuah kotak P3K dan duduk di ranjang disebelah William.


" Fuuh... kenapa kamu jadi seperti ini mas?"


Gemintang membersihkan wajah William yang terlihat lusuh karena memang tidak mandi dari kemarin.


" Dulu kamu itu laki-laki yang sempurna untukku, seolah tidak ada kekurangan di dirimu, tapi kenapa sekarang kamu setega ini denganku mas."


Gemintang mengganti baju William yang masih berbau alkohol disana dengan baju tidurnya.


" Aku kira cuma aku wanita yang ada dihatimu, karena kamu selalu terlihat baik, penuh kasih sayang dan kelembutan saat meladeni semua kemauanku setiap hari, apalah artinya itu semua mas, apa itu hanya topeng darimu saja untuk bisa tetap bersamaku?"

__ADS_1


Perlahan Gemintang membuka dan mengganti perban di kening suaminya dengan sangat hati-hati.


" Astaga... sampai dijahit keningnya, apa dia ngamuk saat m@buk tadi ya?"


" Ckk... aku bahkan belum sempat menyentil keningnya ini, kenapa sudah bonyok duluan, kena karma kamu pasti mas, dih... gemesss aku!" Gemintang menekankan tangannya ke luka jahitan milik William bahkan lukanya kembali berdarah karena ulahnya.


" Ckk... luka dikeningmu ini, tidak separah luka dihatiku yang sudah kamu torehkan mas, jadi ini tidak seberapa!" Gemintang kembali membersihkan dar@h itu dan kembali memberikan obat tetes agar lukanya cepat kering.


" Semoga kedepannya kamu cepat insyaf ya mas, kamu tuh sebenarnya baik, penyayang, cuma burungmu ini saja yang nakal!"


" Rasa-rasanya pengen aku sunat untuk yang kedua kalinya, kalau perlu potong sampai habis, biar kamu nggak bisa selingkuh lagi!"


" Punya Terong kok nggak bermoral dan beretika, gue Sambel Balado juga nih Terong!"


Plak!


Gemintang kembali menyentilnya dengan tenaga, namun kali ini dia jatuhkan ke sasaran yang tepat, yaitu pedang pusaka milik suaminya, sampai tubuh William sedikit mengeliat karenanya.


" Heh... apa dia sudah sadar? kesenengan pula nanti dia." Umpat Gemintang perlahan.


" Mas... mas... bangun mas." Gemintang menggoyangkan tubuh William, namun tidak ada reaksi apa-apa, matanya masih saja terpejam.


" Hmm... ternyata dia masih pingsan!"


Gemintang memilih menarik kursi dan meletakkan kepalanya ditepi ranjang sambil memandang wajah seorang pria yang dulu sangat dia sayangi, sangat dia cintai, bahkan selalu dia bangga-banggakan didepan semua orang, namun kini dia menghancurkan itu semua dalam sekejap mata.


Gemintang berbicara sendiri perlahan, sambil terus memandangi wajah tampan William yang dulu selalu dia rindukan setiap saat.


" Sedari dulu, setiap hari, selalu kita lalui dengan kata sayang dan senyuman darimu yang tidak pernah surut untukku, kamu selalu membuatku merasa istimewa walau akhirnya aku kecewa..."


" Bukan perpisahan yang menjadikan penyesalanku begitu mendalam, tapi kenapa dulu aku harus mencintaimu dengan begitu besar, mencintaimu kini akhirnya membuat hatiku terluka dan penyesalan terbesarku adalah kenapa dulu aku harus bertemu denganmu mas..."


" Apapun itu, terima kasih sudah pernah hadir didalam hidupku mas, terima kasih atas semua kenangan indah yang pernah kita lalui, setidaknya aku pernah bahagia bersamamu, walau aku tidak bisa menemanimu sampai ke Surga kelak..."


" Perjuanganku sebagai seorang istri cukup sampai disini saja mas, pergilah... carilah kebahagiaanmu, walau tidak bersamaku."


Tanpa terasa air mata Gemintang meleleh membasahi kedua pipi tirusnya, baginya seorang William terlalu indah untuk dilupakan, namun terlalu sedih untuk dikenang, hingga akhirnya kedua matanya terpejam masih dengan posisi kepalanya dia letakkan ditepi ranjang.


Waktu tanpa terasa cepat berlalu, hingga sore itu mulai berganti malam, asisten rumah tangga disana pun tidak ada yang berani membangunkan mereka, karena semua terlelap dengan lelahnya masing-masing.


Ketika sudah tidak ada pergerakan dari Gemintang, William seketika membuka kedua matanya dan menoleh kearah istrinya yang masih terlelap duduk disampingnya.


Sebenarnya dia sudah sadar semenjak Gemintang masih mengeluarkan unek-unek dihatinya, bahkan saat Gemintang menyentil torpedonya, sekuatnya dia mencoba untuk tidak menjerit, walau sebenarnya Ngilu dan nyeri terasa, namun demi mendengar curhatan istrinya dia rela menahannya.

__ADS_1


Dan saat Gemintang mengutarakan kata perpisahan, sebenarnya dia sudah ingin menangis dan memohon kepada istrinya, namun dia yakin, kalau dia bangun saat itu, Gemintang pasti akan pergi darinya saat itu juga.


" Maafkan aku sayang... aku memang salah, tapi masih bisakan aku meminta ampun denganmu Gem?"


William mengusap rambut Gemintang yang menjuntai menutupi wajah cantiknya.


" Apa kamu tahu sayang, mas sudah lama mengidap gangguan hypers€xual addiction atau sering disebut compulsive s€xual behaviour, hal itu mas sadari setelah kamu pernah mengalami keguguran kala itu, aku merasa sangat bersalah saat itu."


Akhirnya keluarlah air mata seorang William, dia sangat merindukan wanita disebelahnya yang kini sudah menjauh dari sisinya, bahkan mungkin kalau dia tidak tergeletak seperti ini, wanita itu mungkin sudah tidak sudi satu kamar lagi dengannya.


Terkadang dia juga merasa bersalah saat ingin melakukan hubungan haram itu dengan kakak iparnya, namun gangguan ditubuhnya seolah memaksa dirinya untuk terus melakukan hal gila itu lagi.


Dia tidak mampu membatasi diri dalam memenuhi dorongan s€ksual untuk terus menerus berhubungan ¡nt¡m.


Sering juga dia merasa bersalah dan membenci diri sendiri karena terobsesi dengan aktivitas s€ksual, tetapi tetap tidak dapat berhenti melakukannya.


Dia juga sempat berusaha untuk lepas dari obsesi s€ksual, akan tetapi kerap gagal dan kambuh dalam prosesnya.


" Dan sejak saat itu, aku tidak berani mengajakmu bermain terlalu sering, dan akibatnya hasr@tku semakin menggebu namun tidak berani menyalurkannya denganmu."


" Aku takut jika menceritakan semua ini denganmu, kamu jadi membenciku dan malah merasa jijik denganku atau bahkan kamu akan terbebani dengan keadaanku."


" Hingga aku memilih menyembunyikan semuanya darimu."


" Namun suatu hari, disaat hasratku tidak terkontrol, kakak ipar datang menemuiku, dan ternyata dia juga haus akan belai@n dari seorang pria, karena Bang Lewis kan memang jarang pulang."


" Awalnya aku tidak sengaja yank.. namun lama kelamaan aku ketagihan, karena kakak ipar juga selalu menginginkan hal yang sama setiap harinya."


" Aku tahu... aku salah, namun gangguanku ini semakin tidak terkendali, aku juga pernah periksa ke dokter dan diberi obat, namun itu tidak bertahan lama, tetap saja aku merasakan kesakitan jika tidak berhubungan ¡nt¡m dengan seseorang setiap harinya Gem..."


" Sayang... tolong jangan tinggalkan aku, aku masih sangat mencintaimu Gem... aku tidak mau berpisah denganmu, apapun yang terjadi nanti."


" Maafkan aku sayang, aku tidak bisa melepasmu begitu saja."


Akhirnya William bangun, mengumpulkan energinya yang masih tersisa, untuk membopong tubuh Gemintang dan menidurkannya diranjang yang dulu setiap harinya menjadi tempat mereka berdua beradu des@h@n, walau William pernah membawa Farah masuk dan berhubungan didalamnya, tapi mereka melakukannya disofa.


" Aku sangat merindukanmu istriku, aku kangen menghabiskan malam-malam indahku berdua bersamamu yank."


Baru sehari semalam dia tidak melihat wajah istrinya sama sekali, seolah ada yang kosong dari dirinya, ada sesuatu yang mencubit di ulu hatinya, apalagi harus berpisah untuk selamanya.


" Gemintang sayang... bisakah kita kembali seperti dulu lagi?"


Dengan deraian air mata dan suara seraknya, William ikut berbaring disamping tubuh Gemintang dan memelvknya dengan erat.

__ADS_1


Beberapa kecvpan manis penuh deraian air mata singgah menghiasi wajah Gemintang yang terlelap seperti orang pingsan, karena terlalu penat menghadapi realita kehidupan yang menerpa dirinya dan keluarganya kini.


..."Diatas cinta masih ada yang lebih tinggi, yaitu sebuah Kepercayaan, sebagaimana jalannya, kebenaran akan menunjukkan identitasnya."...


__ADS_2