Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
135. Misi Kebaikan


__ADS_3

...Happy Reading...


Terkadang menghadapi masalah itu jatuhnya lebih menyela, terima sih terima, karena tau kalau semua itu tidak mungkin diulang, hanya saja banyak sekali keluhan tidak terimanya.


Bahkan kita sering menyela takdir itu sendiri, kenapa harus begini? kenapa harus begitu? dan masih banyak kata kenapa lainnya.


Menjadi dewasa itu, sejujurnya perlu pengendalian diri, terlebih pada emosi, kita memang tidak dituntut, namun juga perlu, agar nanti saat menua, tidak ada sesal untuk hal yang lalu.


Pagi tadi Peter dan juga Sabrina sudah datang ke Apartement mereka, Gemintang sengaja mengundang mereka datang pagi-pagi, namun saat mereka sudah datang on time, ternyata yang mengundang masih mengunci pintu didalam kamarnya dengan dihiasi suara-suara merdu yang membuat Peter dan Sabrina geleng-geleng kepala dan memilih duduk santai sambil menghabiskan cemilan yang ada di Lemari Es mereka.


" Kalian sudah datang?"


Terlihat Gemintang dan Chris turun dari tangga dan bergandengan tangan dengan mesra tanpa merasa bersalah sama sekali.


" Kalau tau begini, jangan nyuruh kita datang pagi-pagi wahai Sumarni!"


" Pantesan lama kan mas, dia keramas dulu ternyata." Umpat Sabrina saat menatap sepasang pengantin baru itu yang sudah pamer kemesraan pagi-pagi begini.


" Keramasnya sih nggak lama, tutorial sebelum keramas itu yang lama, hehe.." Gemintang pun menjawabnya dengan santai tanpa rasa segan sedikitpun.


" Maybe karena lama nggak dipakai kan yank, uji coba kali, takut kalau turun mesin, servicenya kan susah kalau begonoan?" Umpat Peter semakin menjadi.


" Dasar Sumarno! mulutmu itu kalau ngomong ya, nerocos aja kayak Burung Beo disambelin!"


" Kenapa? mau marah loe, harusnya gue yang marah, minta datang pagi tapi tengah hari baru nonggol, itu kamar apa pacuan kuda, entah kayak apa isinya!"


" Jangan meninggikan suaramu dengan istriku Peter, mau ku potong gajimu nanti!" Chris langsung menyepak kaki Peter dihadapannya.


Plak!


" E... Gemintang, gue bela-belain cabut pagi-pagi, tapi elu malah tancap gas sampai jam segini, ngerjain gue loh ya!"


Karena Chris memarahi Peter, Sabrina langsung memukul lengan sahabatnya itu, sebagai ajang membalaskan dendam dari suaminya, karena sudah pasti Chris segan kalau memarahi dirinya.


" Dih... kenapa elu jadi ikutan marahin gue?" Gemintang langsung mengusap lengannya, karena Sabrina kalau bercanda memang suka pakai tenaga.


" Sayang... gimana aku nggak semakin cinta sama kamu? kamu selalu membelaku, kamu memang terbaik di dunia ini Nana sayang, i love you.." Peter langsung menggesekkan hidung mancungnya ke hidung Sabrina dengan gemas.


" Dasar laki bini semprul semua!" Umpat Gemintang yang sebenarnya cuma iri saja, karena ada orang yang lebih mesra daripada mereka.


" Lagian kamu ngapain nyuruh mereka datang pagi-pagi sayang? hari ini mas masih libur loh, kamu nggak mau lanjut honeymoon kemana gitu?" Chris langsung tidak mau kalah, dia menaikkan kedua kaki Gemintang ke pangkuannya dan langsung memijitnya perlahan.


" Justru karena itu aku mengajak mereka."


" Ngajak mereka ikut honeymoon gitu?"


" Yes."


" Are you sure? kamu nggak takut mereka gangguin bulan madu kita yank?"


" Nggak papa, yang penting kan kamar kita terpisah, skalian mereka kan juga belum sempat honeymoon waktu itu kan?"


" Yeay... nggak sia-sia kamu jadi bestieku Gem, aku padamu pokoknya mah!" Sabrina langsung bersorak kegirangan.


" Tumben loe baik Sum, nggak ada niatan jahat kan loe sama kami, atau jangan-jangan ada rencana terselubung lagi!"


Tau aja loe Peter, tapi tenang saja, rencanaku ini untuk kebaikan suami gue, saat ini gue butuh elu, karena hanya elu yang bisa membantu gue buat menenangkan suami gue kalau dia meradang nantinya, tapi kan elu dapat untungnya juga, skalian bulan madu gratis, hehe...


" Negative thingking aja loe ama Gue No! tapi emang lebih tepatnya gue cuma ngajakin Sabrina aja sih, elu kalau nggak mau ikut ya terserah saja, nih ya.. sebelum gue kenal elo, gue udah berteman baik dengan istri loe, suka duka kami bersama, jadi kalau gue mau seneng-seneng gue pasti ngajak dia!"


" Enak aja, kalau loe ngajak dia otomatis ngajak gue dong, kami sudah sehidup semati sekarang, tidak akan terpisahkan, catat itu Sum!"


" Emang kalau aku mati duluan, mas mau langsung nyusul gitu? atau nemenin aku mati juga?" Sabrina malah jadi iseng bertanya tentang hal itu.


Cvp


" Kamu ini kalau ngomong sembarangan ya!" Peter langsung menyosor bibiir istrinya dengan gemas, dia paling tidak suka kalau membahas soal itu.


" Astaga mas."


Cvp


" Tarik kata-katamu itu, kamu nggak boleh bicara mendahului takdir kayak begitu." Dia belum bisa membayangkan jika harus berpisah dengan istrinya, walau mungkin itu kapan saja bisa terjadi, karena takdir Tuhan tidak ada yang tahu.


" Udah dong mas, malu." Sabrina tidak bisa apa-apa jika suaminya sudah seperti itu.


Cvp


" Ngerti nggak?" Peter masih belum puas kalau istrinya belum mengiyakan perkataannya.


" Iya... iya ngerti, maaf mas, aku nggak ngomong kayak gitu lagi deh." Sabrina langsung memilih memelvk suaminya saja dan menyembunyikan wajahnya didada bidang milik Peter.


" Haish... kita langsung berangkat saja, entar Joko Tingkirku ini minta nambah lagi gara-gara lihat kebucinan kalian, harus keramas lagi gue nanti, capek lagi, mana dingin, anginnya kenceng banget akhir-akhir ini."


Gemintang langsung menarik lengan suaminya, saat kedua matanya tertegun melihat kemesraan sahabatnya itu.


" Sayang.. aku pengen berlibur ke pulau Bali, boleh nggak?"


" Boleh dong sayang, beneran nggak mau ke luar negri?"


" Enggak lah, aku sudah bosan jalan-jalan keluar negri, mending kita menikmati suasana kearifan lokal di negara kita, mereka aja pada datang ke sini kan, karena memang negara kita kaya akan budaya?"


" Baiklah sayang, asal kamu bahagia, mas ikut aja kemana kamu mau pergi."


" Mantep, kalau begitu pinjam dompet sama ponselnya."


" Buat apa?"


" Kenapa sih mas, aku cuma mau beli sesuatu dulu, emang ada yang mas sembunyikan dari aku, kenapa aku nggak boleh pinjam dompet dan ponselnya?"


" Eh.. bukan begitu sayang, nggak ada yang mas sembunyikan dari kamu sayang, suer deh, nah bawa deh, kamu ambil semuanya."


Chris langsung ketakutan sendiri dan menyerahkan ponsel juga dompetnya ke tangan Gemintang, dia takut kalau istrinya mencurigainya dan menggangap dirinya punya orang ketiga, karena hal itu yang ingin dia hindari, sebab dia tidak ingin menguak kisah lara di masa lalu dari istrinya itu.

__ADS_1


" Sabrina, ikut gue yuk?"


" Okey!"


" Ssst... minta dompet dan ponsel laki loe juga!"


" Buat apa!"


" Nggak usah banyak nanya dulu bisa nggak, lakuin aja, nanti gue ceritain kalau sudah sampai disana."


" Okey." Walau Sabrina juga masih bingung, namun dia melakukannya juga, karena dia tahu, pasti ada sesuatu hal yang terjadi, kalau Gemintang sudah seperti ini.


" Mas... aku lupa bawa dompet juga, pinjam dompetmu juga, siapa tahu nanti ada yang pengen aku beli."


" Ya sudah... kamu bawa aja sekalian, ponsel mas juga iya nggak? mana tahu kamu mau ikutan temenmu itu!"


" Kalau aku sih percaya denganmu mas, kamu tidak akan menduakan aku kan."


" Tentu sayang."


" Tapi entar kalau tokonya bisa bayar pakai mobile banking kan lumayan, daripada ribet kan? sini aku pinjam sekalian, hehe.."


Bukan Sabrina kalau tidak pandai memutar balikkan fakta, dia paling jago bermain dan berkata-kata secara halus.


Akhirnya dua wanita itu pergi ke salah satu toko yang ada didaerah itu dan mengambil beberapa cemilan dan minuman disana.


" Mbak, boleh aku nitip tas dulu?"


" Emang mbak mau kemana?"


" Mau pergi, mbak simpan aja disini, yang aman tapi ya, jangan sampai ada orang yang mengambilnya selain saya, dan ini tips buat mbaknya." Gemintang menyerahkan sepuluh uang lembar berwarna merah kepada kasir toko itu.


" Hah... banyak banget, tapi maaf mbak, saya nggak bisa."


" Nggak usah takut mbak, aku tidak menyimpan obat-obatan terlarang, nih ya.. aku tunjukkan isinya, aku cuma mau nitip aja kok mbak!"


Gemintang langsung membuka satu persatu isi didalam tasnya itu dan menunjukkannya."


" Mana dompet dan ponsel laki loe, sama punya loe skalian!"


" Ssst... loe mau ngrampok kami apa gimana?"


" Dih... sory ya, kekayaan gue lebih dari cukup untuk membiayai anak cucu gue kelak, ngapain juga ngrampok kalian berdua, nggak ada guna!"


" Sombong amat dah!"


" Makanya ngikut aja loe, nggak usah banyak protes, gue lagi ada misi kebaikan ini, entar gue kasih bonus kebaikan sama bonus uang juga deh buat elu, okey?"


" Kalau Nyai sudah berkehendak, aku bisa apa."


Sabrina memilih menurut saja apa yang diminta sahabatnya itu, dia juga percaya, tanpa dia tanya pun jika sudah saatnya, Gemintang pasti cerita dengannya tentang semua hal yang terjadi padanya.


Rencana pertama selesai, Gemintang meninggalkan tas yang berisi dompet dan juga ponsel mereka semua di toko itu.


" Okey sayang, let's go!"


Akhirnya mereka berempat naik pesawat menuju destinasi yang Gemintang inginkan, dia hanya bisa berharap bahwa rencananya mendamaikan mama mertuanya dengan suaminya bisa berjalan dengan lancar.


" Wow... bagus banget pemandangannya mas." Akhirnya setelah menempuh waktu beberapa jam perjalanan, mereka sampai juga disebuah tempat yang cantik dan indah.


" Kamu suka?"


" Suka banget!"


" Kalau kamu suka, besok mas buatkan Villa ditempat ini, mau?"


" Mau banget, hehe.."


" Kamu sudah pesan Villanya?"


" Sudah kok didekat sini, aku juga udah transfer DP kemarin mas, nanti kita tinggal bayar sisanya aja kalau sudah datang kesana."


" Kalau begitu kita kesana yuk, badanku udah capek banget ini, pengen buruan mandi dan istirahat." Ucap Sabrina yang memang sudah kelihatan letih.


" Selamat sore nona dan tuan, ada yang bisa kami bantu?" Tanya seseorang yang bertugas menjaga Villa itu saat mereka sudah sampai disana.


" Saya sudah pesan atas nama Gemintang Lea Prakoso kemarin."


" Owh okey, kami sudah menyiapkan semuanya didalam noma, kami juga sudah menyiapkan hidangan untuk kalian semua sebelum istirahat."


" Okey, terima kasih pak."


" Sama-sama nona dan tuan, silahkan menikmati liburan kalian, terima kasih sudah mempercayai kami menemani liburan anda, setelah nona Gemintang selesai nanti bisa hubungi saya untuk melanjutkan sisa biaya administrasinya."


" Siap pak."


" Kalau begitu saya permisi."


Pria itu langsung menggundurkan diri dan kembali ke tempatnya.


Dan setelah mereka semua sudah selesai bersih-bersih dan menikmati hidangan yang telah disajikan secara eksklusif, tiba waktunya penjaga Villa itu kembali menemui mereka.


" Permisi nona Gemintang, silahkan selesaikan administrasinya terlebih dahulu."


" Baik pak, bisa pakai mobile banking kan?"


" Bisa nona, pakai kartu kredit juga bisa."


" Baiklah, sebentar ya pak, saya cari tas ku dulu."


Gemintang langsung pura-pura mencari tas miliknya kedalam koper kecil yang dia bawa tadi.


" Mas...tas ku kok nggak ada?" Gemintang pura-pura panik dan ketakutan."

__ADS_1


" Cari dulu yang benar sayang, mungkin terselip di koper?"


" Nggak ada mas, beneran, sudah aku keluarkan semua isinya ini, orang aku nggak bawa barang banyak kok tadi?"


" Jangan bercanda loe Gem, gue tadi nitip dompet sama ponsel kami ke tas mu itu loh!" Sabrina ikut membumbuinya.


" Beneran Na, astaga... apa tertinggal di toko saat kita beli cemilan tadi ya?"


" Gila loe ya Gem, trus gimana dong nasip kita? haduh... liburan ala sultan kok kere begini?"


" Ya ampun Sumarni! aku nggak mau ya jadi gelandangan disini, mana bisa kita hidup nggak pakai uang disini Sum!"


" Ya ampun, gue beneran lupa Peter, jangan bikin gue tambah panik dong!" Kalau masalah sandiwara Gemintang memang jagonya.


" Bagaimana mbak? apa ada masalah?"


" Em... begini pak, apa saya bisa membayarnya besok?" Chris langsung maju untuk bernegosiasi dengannya.


" Maaf besok kapan ya pak, soalnya dalam perjanjian harus lunas setelah sampai."


" Haduh... gimana ini, maaf ya mas, aku yang salah, aku yang ceroboh."


" Sudahlah... it's okey, namanya juga lupa, owh ya Peter.. hubungi karyawan bagian keuangan kita, siapa tahu dia bisa transfer dulu uangnya."


" Aku nggak hafal nomornya bos?"


" Emang ponselmu dimana?"


" Dibawa istriku tadi, trus dititipin di tas bini loe!"


" Astaga... begini saja pak, kami pasti akan bayar, bahkan bisa dua atau tiga kali lipat dari biaya sewa villa ini, tapi setelah kami pulang dulu."


" Maaf sekali pak, tapi kami tidak bisa."


" Aku bayar tripel nanti pak, aku transfer semuanya, atau kalau mau cash juga nggak papa, nanti saya kirim, tapi setelah saya pulang."


" Okey, kalau begitu boleh kalian tinggalkan kartu identitas kalian semua, sebagai bukti?"


" Dompet sama ponsel kami semua tertinggal di tas istri saya pak, nama saya Chris Arthur, bapak bisa cek siapa saya."


" Maaf pak, ini sudah ketentuan dari pemilik Villa kami, dan saya hanya bertugas, karena saya bukan pemilik Villa ini."


" Aissshhh!" Chris hanya bisa mendengus kesal.


" Trus gimana dong pak? ini sudah malam, boleh kami menginap satu malam dulu nggak pak?"


" Maaf nona, tidak bisa."


" Saya kan udah bayar uang muka kemarin, kalau kami cancel aja gimana?"


" Kalau cancel uang DP hangus nona, dan nona masih harus membayar fasilitas serta hidangan malam spesial tadi, biar saya rincikan sekalian harganya ya nona."


" Hei... apa kamu tidak tahu siapa aku?" Chris mulai meradang.


" Maaf pak, saya hanya bekerja disini dan saya hanya menjalankan tugas saja."


" Tapi..."


" Mas... jangan marahin bapak ini, bukan salah dia, tapi salah aku yang ceroboh, maafkan aku mas." Gemintang langsung memeluk tubuh suaminya, agar emosinya tidak meledak disana.


" Biarkan mereka tinggal disini." Tiba-tiba terdengar suara dari wanita anggun yang berjalan kearah mereka.


" Tapi maaf Nyonya Widya, mereka tidak bisa menyelesaikan administrasinya sekarang."


" Saya mengenalnya, mereka itu adalah putra-putri saya, layani mereka dengan baik."


" Baik Nyonya."


" Ini hotel mama, eh... tante juga?" Gemintang pura-pura terkejut.


" Hmm... silahkan kalian istirahat, mama senang sekali kalau kalian menyukai tempat ini, enjoy your holiday, mama tinggal dulu ya."


" NO! kami akan pergi!" Umpat Chris dengan jutek.


" Mas... pergi kemana? ini sudah malam, lagian aku capek banget mas."


" Kamu sengaja mengatur semua ini?"


" Mas nuduh aku? mas nggak percaya sama istri mas?"


" Bukan begitu sayang?"


" Kalau begitu ayo kita pergi, biarkan saja istrimu ini pingsan atau tidur dijalanan atau mungkin sakit karena kedinginan."


" Sayang?"


" Pentingkan saja ego mas itu, daripada keselamatan istri dan saudaramu itu!"


" Sayang, maafkan mas, bukan maksud mas seperti itu, okey... kalau begitu kita istirahat kedalam ya, jangan marahin mas dong?"


Uraaaaaaa... misi selanjutnya berjalan dengan lancar, tinggal misi intinya nanti, semoga semua berjalan dengan lancar, amin.


Gemintang akhirnya bisa tersenyum dan mengedipkan satu matanya kearah mama Chris.


Widya sangat bersyukur dan bahagia sekali saat tadi malam Gemintang menghubunginya dan memberitahukan rencana yang dia buat kali ini.


Walau Widya juga ragu akan berhasil atau tidak nanti, namun setidaknya dia sudah berusaha semaksimal mungkin, agar tidak ada kata sesal dikemudian hari, apapun hasilnya nanti dia sudah berpasrah kepada Sang Pencipta. Karena tidak ada sebutir pasirpun bergerak, tanpa izin dan kehendak dari-Nya.


Disetiap nafas ada kehidupan, disetiap langkah ada tujuan, disetiap harapan ada kepastian dan semoga disetiap doa ada jawaban.


Takdir memang milik Alloh, tapi doa dan usaha adalah milik kita.


Namun kita harus selalu ingat, jangan terlalu menginginkan sesuatu, hingga kita lupa arti Doa adalah meminta, bukan memaksa.

__ADS_1


__ADS_2