Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
126. Tak mampu Merindu


__ADS_3

...Happy Reading...


Peter menatap Damia dari kejauhan, memang terlihat jelas ada raut kesedihan diwajah ayunya, walau papa dan mamanya selalu mengajaknya mengobrol, namun terkadang dia hanya menatap kosong pandangan kedepan.


" Damia, bisa ikut Aa sebentar ke luar, sudah lama kita nggak ngobrol bareng kan?" Peter mencoba untuk terlihat seperti biasanya.


" Baik Aa." Damia menyambutnya dengan penuh suka cita.


" Pah, Ma, temenin Chris ngobrol dulu ya."


Pokoknya Peter ingin menyelesaikan semuanya hari ini, dia tidak ingin istrinya terus-terusan mendapatkan tekanan dari keluarganya.


" Iya nak, kalau mau pergi jalan-jalan juga nggak papa kok." Mama Peter masih mencoba berharap walau sudah terlihat kalau tipis harapannya.


" No, aku hanya mau ngobrol santai didepan saja." Jawab Peter dengan cepat dan langsung berjalan keluar mendahului Damia.


" Ajaklah Damia jalan-jalan, sudah lama sekali loh dia nggak pulang ke sini kan?" Ucap Mama Peter dengan penuh harap.


" Aku tidak mungkin meninggalkan istriku dirumah, sedangkan aku pergi jalan-jalan ma." Menjaga hati istrinya adalah prioritasnya kali ini, karena sekarang dia sudah menjadi kepala keluarga, jika dia goyah, rumah tangganya pun bisa hancur kapan saja.


" Ya sudahlah, terserah kamu saja."


Perasaan Damia sudah semakin tidak enak saja, semua angan-angannya sebelum datang kemari sudah hilang bahkan mungkin tak berbekas lagi, setelah dia melihat ada seorang wanita disamping Peter tadi.


Sejak Damia tahu, bahwa ternyata sepupu itu boleh menikah dengan kita, Damia memang menaruh rasa yang lebih kepada Peter.


Namun saat itu dia masih di bangku sekolah, dan Peter sudah kuliah, Damia sering memandangnya secara diam-diam, dan berharap suatu saat nanti bisa bersanding dengannya.


Damia sungguh tidak tahu jika Peter yang seolah anti perempuan itu pernah mengalami trauma, setau dia, Peter bersikap seperti itu karena memang tidak mau pacaran disaat umurnya masih muda saja.


Dan saat itulah harapan Damia kepadanya semakin melambung tinggi, dia berusaha mengkorek semua info tentang Peter, tentang kebiasaannya dan lain sebagainya, hingga dia tau bahwa Peter bercita-cita ingin menjadi seorang pengusaha muda yang sukses.


Akhirnya sejak saat itu Damia belajar sungguh-sungguh, agar prestasinya ikut melonjak tinggi, dan bisa mengambil perhatian dari sosok Peter.


Benar saja, karena deretan prestasinya yang memukau, dia bisa dekat dengan Peter, walau baru menjadi sebagai teman sharing dalam hal study, dan diantara puluhan gadis-gadis yang ingin mencoba mendekat dengan Peter, hanya Damia lah yang dia tanggapi.


Hingga Damia berjanji sendiri didalam hati, akan melanjutkan kuliah hingga sarjana dan mendapatkan nilai yang memuaskan untuk kembali memikat hati Peter, kalau perlu ke jenjang yang lebih serius lagi.


Namun ternyata Takdir berkata lain, disaat orang tua Peter pun menyetujui jika dia dekat dengannya, tapi ternyata kini Peter sudah ada yang punya, bahkan tanpa adanya kabar atau surat undangan yang datang kerumahnya.


" Dek... gimana nilai IPK kamu kemarin?"


Peter langsung membuka obrolan, saat mereka sudah duduk bersebelahan disebuah kursi didepan Apartement miliknya.


" Alhamdulilah nilainya sangat memuaskan Aa." Jawab Mia dengan senyum manisnya.


" Syukurlah kalau begitu, Aa sih emang yakin kamu bisa menjadi lulusan terbaik di kampus manapun dek, dari dulu kamu selalu gigih dalam berusaha dan belajar dan sekarang pasti kamu tinggal menuai hasilnya saja kan?" Peter mencoba mencairkan suasana terlebih dahulu.


" Aku ingin Aa bangga denganku, makanya aku selalu rajin belajar dan tidak main-main dalam hal study."


" Kakak sudah pasti bangga dengan kecerdasanmu itu."


Aku mau Aa juga bangga dengan orangnya.


" Iya Aa."


Dari taapan Damia saja, sudah terlihat jelas bahwa dia begitu mengagumi sosok Peter, dari matanya, bodynya, ketampanannya dan semua hal tentangnya.


" Kamu mau bekerja dimana setelah ini, masih stay disini atau kembali ke luar negri?"


" Pengennya sih disini A, kalau di tempat kerja Aa ada lowongan nggak?"


" Hmm... nggak tau sih, tapi kalau kamu mau Aa bisa atur semuanya kok." Dia tidak mau hanya karena masalah suka, akhirnya hubjngan persaudaraannya retak begitu saja, jadi semampunya Peter berusaha mencari jalan yang terbaik.


" Benarkah?"


" Emm... tapi Aa boleh tanya sedikit nggak?"


" Tentu boleh dong, mau tanya apa sih A?"


" Tapi kamu jangan marah ya, anggap saja kita flashback dimasa remaja dulu, kamu sering curhat juga kan dengan Aa?" Peter lansung menuju intinya saja, karena sepertinya kecanggungan diantara mereka sudah sedikit mencair.

__ADS_1


" Duh... aku kok malah jadi deg-degan ya A?" Ucap Damia yang langsung salah tingkah.


" Emm... emang sebenarnya pria yang kamu tunggu itu siapa sih dek?"


Degh!


" Fuh... sudahlah A, nggak usah bahas tentang hal itu lagi." Damia lansung melengos untuk menyembunyikan kesedihannya.


" Bukan Aa kan dek?" Peter mencoba menelisik, namun sepertinya dugaannya tidak meleset, karena Damia terlihat terdiam sejenak.


Memang Aa lah orangnya.


" Emm... Mia kok jadi haus ya, aku masuk dulu ya A, mau minum dulu sebentar." Damia mencoba menghindar saja dari kenyataan pahit ini.


" Damia, tunggu dulu dek?" Peter jadi semakin yakin, bahwa dugaan istrinya itu memang tidak salah, karena wanita memang sering lebih peka.


" Aku... aku.. em itu?" Damia bingung sendiri harus menjawab apa dulu, disatu sisi dia tidak ingin membebani hati Peter, namun disisi lain dia juga ingin memiliki Peter, walau mungkin itu akan sangat sulit terjadi.


" Jujur sama Aa, kita ngobrol dulu sebentar Mia." Peter berulang kali menghela nafasnya, dia sungguh tidak menyangka jika Damia menaruh rasa dengannya, padahal mereka sudah lama tidak bertemu, bahkan berhubungan lewat chat maupun media sosial pun tidak pernah, pikirnya.


" Maaf A, aku memang sudah jatuh hati sama Aa, bahkan sudah sejak jaman remaja dulu lagi." Akhirnya air mata Damia menetes juga saat itu, setidaknya dia tidak akan menyesal karena tidak pernah mengungkapkan, walau mungkin harus menerima sebuah penolakan.


Karena Damia memang sudah sejak lama memendam rasa itu, dan saat dia sudah siap untuk membuat bangga dengan segala prestasi yang dia raih, agar Peter melirik dengannya, namun ternyata saat ini Peter sudah ada yang punya.


Bahkan bukan hanya sekedar pacar, namun sudah berstatus sebagai suami orang, walau masih Siri, namun mereka sudah tinggal bersama.


Kalau ditanya bagaimana perasaan Damia, mungkin hatinya sudah hancur semenjak Peter memperkenalkan wanita disampingnya itu sebagai istri, dia pun sebenarnya masih ingin berharap tadinya, namun saat menyaksikan langsung kemesraan diantara mereka didapur tadi, apalagi mereka terang-terangan melakukannya didepan kedua matanya sendiri, akhirnya Damia mulai sadar diri ternyata dirinya tidak begitu berarti untuk pria pujaan hatinya sedari dulu itu.


" Damia, kamu tidak salah, memang kita tidak pernah tahu, dengan siapa hati kita akan berlabuh, bahkan tidak pernah kita sangka akan jatuh dengan siapa, itu sudah kodrat yang DiAtas." Peter mencoba mencari kata yang tidak menyakiti perasaan Damia.


" Maaf Aa, maafkan Mia." Jawab Damia dengan dadaa yang mulai terasa sesak.


" Begitu juga dengan Aa dek, aku pun tidak menyangka bisa menyandarkan hati Aa sepenuhnya kepada teteh kamu itu, tolong kamu jangan salah paham ya, Aa ngomong begini agar kamu tidak banyak berharap dengan Aa, karena pasti hanya akan percuma saja nantinya." Peter mengusap lengan Damia yang mulai bergetar karena menahan tangisnya.


" Mia sadar diri A, Mia memang bukan siapa-siapa yang berani protes dengan Aa, Mia juga tidak berani untuk meneruskan kemauan Aunty juga, tapi Mia juga butuh waktu A, karena memang sudah sejak lama rasa ini tertanam dihati Mia." Dia bahkan menggunakan hijabnya sebagai penutup wajahnya yang mungkin sudah tak karuan.


" Aa mengerti Mia, Aa pun tidak menyalahkan kamu, kamu gadis yang cantik, baik, soleha lagi, pasti banyak diluaran sana yang bisa membahagiakan kamu dek, karena hati Aa sepenuhnya sudah dimiliki oleh tetehmu itu, sudah tak bersisa lagi."


" Jangan marah ya sama Aa, tolong jangan membenci Aa juga, okey?" Peter sebenarnya tidak tega membuat seorang gadis menangis karenanya, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa juga untuknya.


" Mana bisa aku benci sama Aa, aku cuma kagum aja sama teh Sabrina, dia bisa memiliki Aa sepenuhnya, bahkan Aa terlihat sangat menyayanginya dan tidak ingin kehilangannya."


" Dia memang wanita spesial buat Aa, tanpa kehadirannya mungkin Aa akan terus membenci semua wanita yang berusaha mendekati Aa, kecuali kamu, karena kamu tidak pernah menunjukkan itu, hehe..." Peter mencoba membuat lelucon, walau terasa garing.


" Jadi kalau dulu aku sempat mengutarakan isi hatiku, Aa juga akan menjauhiku, begitu?" Tanya Damia dengan wajah sendunya.


" Hmm... maybe yes, maybe no!"


" Aku mengerti A, akupun tidak ada niatan untuk menghancurkan rumah tangga Aa, kalau Mia tau Aa sudah menikah, pasti Mia tidak akan mau diajak kemari."


Aku sudah menyerah A, aku sadar bahwa hati ini sudah tak mampu untuk merindu sosok dirimu, yang kini sudah menjadi milik orang lain, tapi entah mengapa hati ini sakit sekali rasanya A... pedih banget..


" Maafkan orang tua Aa ya dek, mereka juga memang belum tau kalau Aa sudah menikah, mereka pasti tidak sengaja melakukan ini, Aa percaya pasti kamu akan mendapatkan yang terbaik, okey."


" Iya Aa, Mia mengerti." Dia menunduk sambil terus mengusap air matanya yang terus saja menetes membasahi kedua pipinya.


" Karena sesuatu yang dipaksakan juga pasti tidak akan baik hasilnya, temukan orang yang benar-benar tulus menyayangimu, agar rumah tanggamu kelak bisa langgeng sampai menua dan juga glowing bersama."


" Glowing? mana ada semakin tua semakin glowing sih A?" Akhirnya Damia bisa tersenyum walau hatinya terluka.


" Bukan kulitnya yang glowing, tapi rambutnya, hehe..."


" Dih... Aa bisa aja deh, emm... doain adek ya A, agar adek bisa menemukan sosok pria seperti Aa diluaran sana, aku juga pengen seperti teteh Sabrina yang begitu di ratu kan sama Aa." Itulah harapan Damia saat ini, karena mencoba tegar adalah hal yang bisa dia lakukan sekarang.


" Amin, tidak harus sama, yang penting setia dan bisa saling menerima kekurangan pada diri pasangan masing-masing, okey?"


" Hmm."


" Kalau begitu kita masuk lagi yuk, entar istri Aa ngambek lagi liat aku berduaan sama kamu kan?" Peter langsung menoleh kearah pintu masuk.


"Eherm.. eherm!"

__ADS_1


Dan ternyata Sabrina memang sudah berdiri dibelakang mereka berdua sambil bersidekap dan menyandarkan kepalanya di gawang pintu, dia tanpa sengaja mendengarkan perbincangan diantara mereka.


Gimana kalau aku ngerjain mas Peter? dosa nggak ya? tapi kan biar tambah mesra, jadi lanjut aja kali ya, mari kita akting, hehe...


" Bagus ya, istri masak didapur suami cekikikan diluar dengan wanita lain?" Ledek Sabrina dengan wajah yang pura-pura masam.


" Heh? enggak sayang, ampun! dia itu beneran cuma adek sepupu, mas nggak ngapa-ngapain kok, nggak ada niatan lain, kami cuma ngobrol biasa saja tadi!" Peter langsung bangkit dan mendekati Sabrina seketika, meninggalkan Damia yang hanya bisa tersenyum dengan getir.


" Aku benci mas Peter!" Sabrina pura-pura merajuk agar dibujuk.


" Sayang... jangan begitu, maafkan mas, tapi sumpah, mas cuma ngobrol biasa, aku nggak selingkuh yank, mana mungkin juga aku mendua, karena cuma kamu wanita satu-satunya yang ada dihatiku, jangan benci mas dong yank, mas mohon."


" Tetap aja benci!" Lirik Sabrina sambil berjalan masuk kembali kerumahnya.


" Nana sayang, tolonglah jangan begini.." Peter langsung menarik tubuh istrinya untuk memeluknya.


Saat sudah melihat wajah Peter panik, dia langsung tersenyum dan berbisik disamping telinga suaminya.


" Benci, benar-benar cinta."


" Allohuakbar, senang kamu bikin jantung mas mau copot ya!" Akhirnya Peter menggelitiki pinggang istrinya dengan gemas.


" Haha, ampun mas."


" Tau aja kamu, ini waktunya mubang spesial tengah hari kan." Peter bahkan melakukan hal itu didepan keluarganya.


" Mas mau makan masakan aku tadi?"


" No!"


" So?"


" Mas mau makan kamu!"


" Ogah!"


" Yank... dosa nolak suami tau!"


" Tuh... dicariin pak Chris, suruh jadi bridesmaid nya pengantin wanita!" Sabrina yang melihat tatapan orang tua Peter langsung berusaha meloloskan diri dari pelukan suaminya.


" Yang bener saja, masak iya mas pake gaun?"


" Keren apa, sepertinya kamu cocok pake gaun!" Gemintang langsung berjalan mendekati mereka.


" Memangnya nak Gemintang kapan mau menikah?" Mama Peter langsung ikut andil bersuara.


" Doa nya saja tante, mungkin bulan depan." Jawab Gemintang dengan wajah yang terlihat berbinar.


" Siapa yang mau kamu nikahin bulan depan?" Chris langsung menajamkan pandangannya kearah Gemintang.


" Heh? ya mas lah, siapa lagi?" Jawab Gemintang yang malah jadi malu sendiri.


" Dih... orang aku mau nikahin kamu sabtu depan kok!" Chris lansung berbicara dengan lantangnya.


" Mas... tapi sabtu depan itu tinggal beberapa hari lagi loh?"


" Biarin, mas yang mau nikahin kamu kok, yang penting semua beres!"


" Aish... akhirnya, keluar juga sifat aslimu yang dulu mas, kalau sudah bertekad, tidak ada yang bisa menghalangi, gaaaaasslah kalau begitu!"


Akhirnya mereka semua ikut tertawa melihat kegesrekan calon pengantin itu.


Dan Damia hanya bisa menatap sendu dari sudut ruangan, melihat sosok Peter yang selalu menempel dengan istrinya, dia tau benar posisinya saat ini.


Ya Tuhan... jika hambamu ini memang tidak bisa memiliki hatinya, semoga engkau kuatkan iman hambamu untuk tetap berada diJalurMu, karena aku percaya, jodoh, rezeki, maut ada diTanganMu, dan aku yakin bahwa SkenarioMu pasti lebih indah dari yang kami sangka dan kami duga, amin


Dia memang sangat mengagumi sosok Peter sejak dulu, namun dia juga sadar, bahwa kagum saja tidak cukup untuk membahagiakan seseorang dan juga untuk menjamin sebuah rumah tangga bisa langgeng selamanya.


Jangan pakai takaran hidup orang lain sebagai takaran hidupmu. Karena sepatu manusia tidak harus sama.


Kalau ukuran sepatumumu 40, nikmati dan syukuri nomor 40. Jangan minta nomor 43, nanti kelonggaran, dipakai pun tak nyaman, yang ada kamu malah bisa terjatuh. Jangan pula minta nomor 38, terlalu sempit nanti kakimu bisa lecet-lecet kemudian sakit.

__ADS_1


Lihatlah dengan penuh kesyukuran, bahwa 'Inilah Ukuranmu', karena Alloh tahu mana yang terbaik untukmu.


__ADS_2