Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
32. Karena Ayah


__ADS_3

...Happy Reading...


POV Chris


Sedari dulu tidak pernah terfikirkan olehku jika akan dekat dengan seorang wanita, namun akhir-akhir ini dia yang bernama Gemintang tiba-tiba muncul begitu saja dikehidupanku.


Apa aku tertarik?


Sedari awal pertemuan kami memang tidak pernah terencana, dan yang membuatku merasa tertarik dia tidak pernah mencoba untuk memakai topeng atau sejenis rayuan untuk membuat perhatianku beralih dengannya, namun ternyata takdir selalu mempertemukan kami dengan berbagai alasan, dan itu yang membuatku lama kelamaan selalu ingin melihat tingkahnya yang terkadang sering membuatku terkekeh sendiri.


Ucapannya yang ceplas-ceplos, dan tidak pernah ada kata jaim di dirinya membuat aku tak bosan-bosan berada didekatnya, namun aku memang bukan tipe pria yang bisa memperlakukan wanita dengan manis, bukan tidak mau, tapi memang tidak bisa, karena aku memang tidak pernah melakukannya selama ini.


Walaupun aku tumbuh dari keluarga yang berkecukupan, namun aku tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Karena ayah dan ibuku sudah berpisah sejak aku masih kecil, entah kemana dan dimana ibuku pergi aku tidak tahu, dan tidak pernah ingin mencari tahu.


Entah sudah seberapa besar rasa marah dan rasa benciku kepadanya, mungkin sudah tidak terukur, namun yang pasti aku hanya mendengar kisah ibu dari simbok yang sudah membesarkanku sampai aku beranjak dewasa.


Walau simbok sama sekali tidak pernah menceritakan hal buruk tentang ibuku, namun entah mengapa aku tetap benci kepadanya, bahkan disaat simbok hampir menghembuskan nafas terakhirnya dulu, dia sempat berpesan kepadaku untuk mencari keberadaan ibuku, namun sama sekali belum aku penuhi permintaan terakhirnya itu.


Bukan aku tidak bisa mencarinya, namun memang aku tidak mau melakukannya, aku sama sekali tidak berkeinginan untuk menemuinya.


Untuk apa aku mencarinya, sedangkan dia saja meninggalkan aku disaat aku hanya bisa menangis saja kala itu. Entah karena alasan apa aku tidak pernah mau mencari tahu dan ayahpun tidak pernah menceritakan kepadaku.


Kenyataannya aku bisa tumbuh dengan baik-baik saja dengan kasih sayang dari simbok yang sudah seperti ibu kandungku sendiri, sayang sekali... sekarang beliau sudah pergi meninggalkan aku dan tenang disisi-Nya.


Dan sejak saat itu, aku memilih pergi kuliah ke luar negri, sebenarnya aku juga malas untuk pulang, namun ayah selalu merengek-rengek memintaku untuk meneruskan perusahaan miliknya dengan ribuan alasan.


Akhirnya aku setuju untuk pulang dengan syarat tidak mau tinggal dirumah itu, karena aku malas bertatap muka dengan istri kedua ayahku.


Kamipun tidak terlalu dekat dari dulu, karena semenjak ayahku menikah dengan wanitanya kala itu, kasih sayang ayah seolah terbagi, dia lebih mengutamakan istrinya itu dari pada menemani keseharianku.


Hingga kemarin tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba ayah datang ke kantorku dan memintaku untuk menikah.


Menikah adalah hal yang tidak pernah terbesit sekalipun dipikiranku, namun ayah tetap saja memaksaku, sedangkan status Gemintang dihidupku saja hanya sebagai pacar pura-pura, walau aku akhir-akhir ini merasa nyaman dengannya, bahkan saat melihat dia sakit saat alergi makan Lobster kemarin, jiwaku seolah tergerak untuk melindunginya, dan tanpa sadar melakukan berbagai hal agar dia tidak merasakan kesakitan.


Namun semua itu juga tidak membuatku tertarik untuk mengajak Gemintang menikah, tapi alasan ayahku kali ini, mampu membuat pendirianku sedikit goyah.


Flashback


" Chris?"


Tiba-tiba ayahku masuk kedalam ruanganku disaat aku baru menyiapkan bahan untuk meeting nanti.


" Ayah? tumben ayah ke kantor? ada apa?"


Karena semenjak aku menggantikan posisinya di perusahaan ini, beliau benar-benar sudah berhenti dari dunia bisnis, ayah menyerahkan semua tanggung jawab dan urusannya denganku dan memilih istirahat dirumah menikmati masa tuanya.


" Paman? silahkan masuk."


Peter langsung menunduk hormat dan mempersilahkan ayahku untuk duduk.

__ADS_1


" Apa ayah sudah tidak boleh datang kemari?"


" Tentu saja boleh, ini kan perusahaan ayah bukan?" Aku langsung menghentikan aktifitasku sejenak.


" Chris, boleh ayah meminta sesuatu denganmu?" Tanya Ayah dengan nada yang telihat serius.


" Hmm." Walau malas, namun aku tetap mengiyakan saja, walau nantinya entah akan memenuhinya atau tidak, itu urusan belakang, aku hanya malas mencari ribut disini, badanku sudah cukup lelah mengurus Gemintang saat dia demam tadi.


" Menikahlah dengan Gemintang."


Glodak!


Karena terlalu terkejut tangan aku tanpa sadar menyempar laptop yang berada dihadapanku, sampai jatuh ke lantai.


Bayangkan saja, status saja cuma pacar pura-pura, ehh... malah disuruh menikah, mana mungkin itu terjadi kan?


" Astaga... gila kamu Chris, hati-hati dong, kalau rusak bagaimana, ada banyak file penting untuk meeting kita nanti." Umpat Peter yang langsung mengecek laptop itu tanpa memperdulikan wajahku yang menatap wajahnya dengan tatapan tajam dan membvnvh.


Bugh!


Sepatu kinclong milikku langsung melayang dikaki asisten sekaligus saudaraku itu.


" Aww... apaan sih Chris, sakit tahu!" Dan yang lebih menyebalkan lagi Peter malah terlihat cuek-cuek saja.


" Gimana ini?" Bisikku sambil memberikan kode kepada Peter untuk meminta bantuannya.


" Bantuin aku mencari alasan untuk itu Peter gendeng!" Aku semakin memelototkan kedua mataku kearahnya.


" Opsh... sory ya bro, aku disini kerja nyari duit, bukan nyari penyakit."


Kalau sudah berurusan dengan ayahku Peter selalu memilih mencari amannya saja, karena memang ayahku lah yang menyekolahkan dia sampai dia jadi sarjana bahkan yang merekomendasikan Peter menjadi asistenku sekarang dan aku tahu pasti, dia tidak akan berani melawan ayahku soal apapun itu.


" Kasih saran doang, agar aku punya alasan untuk menolaknya!" Aku bahkan sampai mengeratkan gigiku saat melihatnya, kesal sekali aku melihat Peter kali ini, otak cerdasnya seolah beku saat ayahku ada didekatnya.


" Eitss... aku nggak ikut-ikutan ya soal ini, kamu sendiri yang punya ide itu pada awalnya kan? aku angkat tangan bos, dan ingat ya Chris, kebohongan yang diceritakan terlalu sering, lama-lama akan terasa seperti kebenaran."


Bukannya membantu namun ucapan Peter malah seolah memojokkanku.


" Apa kamu tidak sayang dengan gaji besarmu itu, dan apa mau kutarik kembali motor sport yang sudah berada didalam garasi apartmentmu itu?"


Aku langsung saja mengancamnya, saat dia punya permintaan aku selalu mengabulkannya, ini aku hanya meminta bantuan saran saja dia lansung berkelit dan ingin mencoba kabur mencari aman, tidak akan aku biarkan dia lolos begitu saja.


" Hehe... jangan dong." Peter langsung menolaknya dengan pura-pura tertawa, sudah aku duga, karena dia yang memilih sendiri motor keinginannya itu, bahkan karena terlalu exited, dia meminta izin untuk beberapa hari ini berangkat kerja sendiri menggunakan motor sportnya itu sekaligus tes drive katanya.


" Kalian berdua sedang bicara apa? jangan main-main, ayah sedang ngomong serius ini." Ucap Ayahku yang sudah terlihat kesal karena malah kami tinggal ngobrol dibawah kolong meja, sambil membetulkan laptop tadi.


" Emm... begini paman, mereka berdua kan belom lama jadian dan masih saling mengenal satu sama lain, jadi apa ini tidak terlalu terburu-buru, apalagi jika harus masuk dalam tahap menikah sekarang?" Peter langsung mendapatkan alasan spontan untuk membantuku, dan aku pun langsung manggut-manggut saja, untuk meyakinkan ayah tentang soal itu.


" Sejak kapan kamu berani melawanku Peter?" Ayahku langsung berkacak pinggang didepan Peter dan sontak saja langsung membuat nyalinya mencivt begitu saja.

__ADS_1


" Hehe... aku mana berani paman, tadi cuma usul saja, dan usul orang seperti diriku yang tidak tahu menahu soal cinta itu bisa diabaikan begitu saja kok paman, beneran deh, hehe..."


Entah siapa yang sebenarnya Peter bela ini, aku berasa punya asisten yang berkhianat.


Namun anehnya, entah mengapa tekad ayahku begitu kuat, padahal biasanya dia tidak pernah memaksaku sampai sebegitunya.


Sekarang malah aku yang jadi menyesal sendiri sudah membuat rencana ini, karena akhirnya akan menyulitkanku sendiri setelahnya, aku tidak terfikir jika endingnya seperti ini.


Apa aku bilang putus saja dengan Gemintang ya? tapi apa ayahku tidak curiga kalau tiba-tiba langsung bilang putus?


" Emm... Yah, beri aku waktu, karena hubungan aku dengan Gemintang sedang tidak baik-baik saja, kami sedang bertengkar yah."


Entah mengapa seolah ada suara yang membisikkan alasan itu ditelingaku, namun cukup membuat ayah melamun sejenak, dan sepertinya dia sedikit percaya tentang hal itu.


" Apa kamu menyakitinya?" Tanya ayahku dengan lirikan tajamnya.


" Tidak ayah, kami hanya sedikit berselilih pendapat saja." Jawabku dengan cepat.


" Chris... jangan hanya karena perbedaan pendapat kalian yang tidak seberapa itu, lalu sampai menjadikan hubungan kalian patah ditengah jalan, karena kamu pasti akan menyesal nantinya." Ayah langsung menundukkan pandangan dengan tatapan kosong, seperti sedang menyesali sesuatu, namun entah apa.


" Tuh.. dengerin itu sob, bener kata paman!" Peter pun membela ayahku, sudah pasti, karena ayahku bahkan lebih menyayanginya melebihi ayah kandungnya sendiri.


" Aku akan memikirnya dulu yah."


" Jangan lama-lama, sebelum apa yang kamu inginkan tidak bisa kamu dapatkan hanya karena kata terlambat."


" Aku harus meeting dulu yah, klien kita sudah menunggu."


" Hmm... ayah tunggu sampai kamu selesai, pembahasan kita belum selesai, masih ada hal penting yang harus ayah bicarakan kepadamu."


" Kenapa harus sekarang sih yah?" Aku mencoba mengulur waktu.


" Karena kita tidak akan pernah tahu umur seseorang Chris."


" Ayah kenapa selalu bilang seperti itu?" Walau aku tidak terlalu dekat, namun aku tidak suka jika ayah membahas soal kematian.


" Karena memang begitulah kenyataannya, bisa jadi sekarang kita segar bugar, tapi esok kita sudah terbujur kaku tanpa bisa untuk bernafas lagi."


" Stop Yah!"


" Pergilah ke ruang meeting, ayah akan menunggumu disini."


Hari ini ayah sungguh membuatku merasa pusing, karena tidak biasanya dia seperti ini, sedangkan aku masih belum punya solusi untuk masalah menikah, lalu apa Gemintang akan setuju kalau kami menikah walau mungkin tidak ada rasa sama sekali? otakku langsung ngeblank seketika.


Sedangkan hubunganku dengan Gemintang, seolah terlalu dekat untuk disebut sekedar Teman, terlalu jauh untuk disebut Pasangan, terlalu tidak masuk akal untuk disebut Masa depan dan terlalu Konyol stuck di zona nyaman yang terkadang melibatkan perasaan, tanpa ada sebuah komitmen dan juga ikatan.


Jadi apa aku sebut saja dia Sephia?


..." Dunia ini ibarat sebuah Bayangan, kalau kamu berusaha menangkapnya Ia akan lari, tapi kalau kamu membelakanginya, Ia tak punya pilihan selain mengikutimu."...

__ADS_1


__ADS_2