
...Happy Reading...
Kegelapan tidak bisa mengusir kegelapan; karena hanya cahaya yang bisa melakukannya.
Begitu juga dengan kebencian, ia tidak bisa mengusir kebencian; karena hanya cinta yang bisa melakukan itu.
Perbanyak cinta untuk mengikis kebencian karena cara terbaik untuk menghadapi kebencian adalah dengan menggantinya dengan cinta.
Beberapa moment yang Peter alami, membuatnya sadar bahwa dia mulai tertarik dengan istrinya sendiri, apalagi saat melihat istrinya berinteraksi dekat dengan pria lain, dia sungguh tidak rela, hatinya seolah terbakar oleh bara api yang panas, dan jantungnya seolah tertusuk sembilu saat Sabrina bercanda tawa dengan pria lain didepan kedua matanya sendiri.
" Peter... aku sudah membantu menggantikan baju Sabrina, bantu gendong dia ke tempat tidur." Ucap Gemintang saat dia keluar dari kamar mandi.
Tubuh Sabrina masih lemas, jadi Gemintang memapahnya sampai di dalam kamar mandi tadi.
" Kenapa sudah kamu gantikan?" Wajah Peter terlihat kecewa.
" Jadi?" Gemintang langsung menaikkan kedua alisnya.
" Suaminya kan ada, setidaknya biarkan dia menunjukkan rasa perdulinya sebagai suami dong." Ucap Peter dengan santainya, seolah tidak ada masalah yang terjadi di antara mereka.
Padahal Peter baru melakukan CPR saja, belum melakukan hal yang lainnya, namun seolah dia sudah menjadi suami yang siaga saat ini.
" Heleh... emang siapa suaminya?" Gemintang langsung tersenyum miring mendengar perkataan Peter.
" Ya akulah, masak iya kamu sudah amnesia, bukannya kamu juga hadir dalam pernikahan kami, bahkan kamu yang menyuruhku menikahinya!" Umpat Peter dengan mantap.
Terkadang dalam hidup ini, saat seseorang pergi menjauh dari diri kita, baru akan terasa arti hadirnya.
" Dan itu yang membuat aku menyesal, lalu kemana saja kamu selama ini? aku yang amnesia atau kamu yang pura-pura lupa!" Cibir Gemintang dengan heran, karena dulu dia pikir pilihannya itu tepat dan karena memang tidak ada yang lain.
" Yaudah sih, diungkit-ungkit muluk kayak punya utang dah, dasar renteniir! namanya juga orang berproses, pelan-pelan dong, step by step, sesuatu yang dipaksakan tidak akan berbuah hal yang baik, karena sesuatu yang instant tidak akan terasa luar biasa." Ucap Peter sok bijak.
" Heleh... kalau musim hujan tiba juga mie instant yang paling dicari!" Selalu saja pikirannya keluar dari topik pembicaraan utama.
" Jangan bandingkan aku dengan mie instant Sumarni!" Dan Peter selalu naik darah dibuatnya.
" Trus sekarang kamu sudah merasa luar biasa lah? sudah betul gitu semua sikap dan perilakumu itu?" Gemintang langsung mulai menginterogasinya.
" Ya setidaknya kan aku sudah mencobanya, masalah hasil kan ada ditangan Tuhan yang maha Esa." Jawab Peter dengan lesu.
" Hari gini baru mau mencoba? sudah terlambat wahai Calon Duda, istri loe sudah nggak berselera lagi denganmu."
Puas sekali rasanya Gemintang bisa mengeluarkan unek-uneknya, apalagi saat Peter mulai menyadari salah dan silapnya seperti ini.
" Hei... wahai Janda, tidak ada kata terlambat berusaha dalam cinta, selama aku belum mengucap kata talak untuknya, dia masih menjadi milikku, Just for Me, right!"
" Banyak sekali tingkahmu, sudah tahu cinta kamu sekarang!" Ingin rasanya Gemintang memberikan satu jurus pencak silat untuknya, namun dia sadar bahwa dia tidak menguasainya.
" So... awas, Janda minggir dulu, orang tampan mau lewat!" Dia langsung mengibaskan jambul rambutnya yang tidak seberapa itu dengan sok keren.
" Hoerk... pengen muntah aku lihatnya!" Umpat Gemintang dengan tatapan jengah.
Peter langsung sengaja menabrak lengan Gemintang yang masih sewot dengannya itu, karena dia akhirnya bisa tersenyum lepas karena bisa membalikkan kata-kata dari Gemintang.
" Nana kuh... apa sudah selesai ganti bajunya? yok... mas gendong ke Ranjang ya." Peter langsung bersiap untuk menggangkatnya dengan menggunakan kata-kata semanis madu.
" Nggak... nggak usah pak." Sabrina bahkan sampai memundurkan kepalanya karena terkejut mendengarnya.
" Panggil aku MAS, apa kamu lupa siapa yang menolongmu tadi?" Peter langsung punya kesempatan untuk bisa mengembalikan panggilan itu lagi.
Kejadian itu memang menakutkan, tapi akan selalu ada hikmah dibalik sebuah musibah dan akhirnya Peter lah yang menang banyak dalam tragedi kali ini.
Aish... sudah pandai dia mencari alasan!
" Iya.. iya terima kasih banyak, tapi aku masih bisa jalan sendiri kok." Sabrina tetap nekad ingin berdiri walau sudah tidak punya tenaga.
" Duh.. kamu ini jadi perempuan bandel banget kalau dibilangin, berdiri saja masih sempoyongan kok mau jalan sendiri!"
Peter langsung saja menggangkat dan menggendong Sabrina layaknya princes, tanpa memperdulikan rengekan istrinya itu.
Kenapa dia jadi baik begini, apa gara-gara mandi air garam?
Sabrina mencuri-curi pandang wajah Peter saat dia berada didalam gendongannya. Sabrina juga tidak menampik, bahwa Peter memang tampan dan dia juga termasuk dalam golongan atau kriteria pria idaman setiap wanita.
" Apa kamu merasa kedinginan? mau aku buatkan teh hangat?" Peter membaringkan tubuh Sabrina perlahan dan membantu menyelimuti tubuhnya yang memang terasa dingin.
__ADS_1
Aku memanglah bukan wanita yang selalu memahami cara berfikirmu mas Peter, aku juga bukan wanita yang menyenangkan, dan bukan wanita yang bisa kamu banggakan, karena aku adalah wanita yang punya sejuta kekurangan, apa mungkin nanti kamu bisa menerima semuanya?
" Enggak usah, aku mau istirahat saja, mas boleh keluar saja kok." Sabrina tidak ingin menyusahkannya, badannya memang masih lemah karena syok, jadi dia memilih untuk memejamkan matanya saja.
" Nana..."
Suara Peter tiba-tiba terdengar merdu dan mendayu-dayu.
Eh... kenapa lagi dia? mau apa lagi dia?
Sabrina langsung memiringkan tubuhnya dan memilih membelakangi tubuh Peter, saat dia terlihat mencondongkan tubuh kekar itu kearah dirinya.
" Nana... kamu masih marah denganku ya?" Peter semakin menjadi, bahkan dia membaringkan tubuhnya dibelakang tubuh Sabrina.
Dag.. dig.. dug..
Jantung Sabrina seolah berdetak tidak menentu, karena tubuh mereka berdempetan, bahkan bau parfum milik Peter pun tercivm olehnya.
" Mas... aku... aku mau istirahat dulu sebentar ya." Sabrina langsung mengalihkan topik pembicaraan saat fikirannya seketika kacau akibat ulah Peter yang diluar ekspetasinya.
" Jawab dulu pertanyaanku Nana." Peter menoel-noel lengan Sabrina dengan satu jarinya, entah mengapa dia gemas sekali melihat istrinya sekarang, dia sungguh terlihat lucu baginya, apalagi saat ngambek seperti itu.
" Badanku sakit semua mas, lain kali saja kita membahasnya." Ucap Sabrina kembali.
" Aku tahu kalau selama ini aku memang cuek orangnya, tapi aku tidak bermaksud untuk mengacuhkan dirimu, semua yang terjadi terlalu terburu-buru buat ku Nana? jadi aku hanya butuh waktu saja."
Saat Sabrina terus menolaknya, dia langsung saja menyadari kesalahannya, karena hanya kali ini moment yang tepat karena mereka bisa berduaan.
Haduh... gimana ini, mana aku sedang malas mikir lagi?
" Ya sudah."
Tiba-tiba otaknya ngeblank, dia pun bingung sendiri jadinya, disaat dia ingin merelakan semuanya, tiba-tiba Peter datang kembali, bahkan dia berubah dan terlihat selalu berkelakuan manis dengannya.
" Ya sudah apa?"
Entah mengapa Peter jadi terlihat agresif sekarang, dia sungguh tidak mau kehilangan Sabrina untuk saat ini.
" Mas aku... "
" Iya Nana sayang." Peter tersenyum sambil mengedipkan satu matanya kearah Sabrina, saat dia membalikkan tubuhnya.
Astaga... apa aku salah dengar? Sayang? dia memanggilku sayang? ada apa dengannya? apa otaknya sedang bermasalah?
" Eherm... boleh nggak mas, kalau aku ditinggal sendirian dulu?" Sabrina malah jadi salah tingkah sendiri, dia lebih baik menjadi pihak yang agresif atau tukang gombal daripada begini.
" Boleh... tapi besok kamu harus pulang kembali ke apartement kita ya?"
Inilah maksud dari Peter tadi, walau Sabrina sedang marah dengannya, tapi kalau mereka tinggal satu atap, setidaknya dia bisa merayunya setiap hari, entah bagaimana pun caranya.
" Aku nggak bisa janji mas." Ucap Sabrina yang langsung membuang pandangannya.
" Kenapa sih Nana kuh, setiap orang itu pasti pernah melakukan kesalahan, kamu juga pasti pernahkan?" Peter masih belum menemukan cara jitu untuk merayunya, namun dia tidak pantang menyerah.
" Aku akan memikirkannya dulu." Sabrina pun masih belum yakin dengan semua ini.
" Kenapa harus dipikirkan sih Nana kuh? aku saja bahkan tidak memikirkan nyawaku saat menolongmu tadi, coba kamu bayangin, kalau tadi ada ikan Paus lewat, nasip kamu gimana?" Peter seolah menakut-nakutinya.
" Jadi Mas mau minta timbal balik dariku begitu?" Tanya Sabrina dengan tampang kesal.
" Ya iyalah... aku saja berani mempertaruhkan nyawaku untuk menolongmu, jadi kamu juga harus mempertaruhkan nyawamu buat aku, dalam tahu Na kedalaman air laut itu tadi?"
Hal ini akan dia jadikan senjata paling ampuh agar istrinya merasa punya utang budi dengannya.
" Okey, besok aku akan balik ke apartement mas, tapi asal mas bisa menjawab satu tebak-tebakan dariku." Akhirnya terlintas satu ide gilanya.
" Apalagi sih? kenapa kamu sama Gemintang itu suka sekali main tebak-tebakan? ini dunia nyata Nana, bukan dalam drama."
Peter langsung mengeluh, karena dia selalu tidak bisa menjawab tebak-tebakan dari Gemintang, seolah otaknya tidak sejalur dengan mereka.
" Mau jawab atau tidak itu urusan mas, kalau nggak mau ya sudah!" Sabrina langsung tersenyum tipis karenanya.
" Iya.. apa tebak-tebakannya, jangan yang susah-susah ya!" Dan Peter hanya bisa pasrah saja.
" Tebak aku!"
__ADS_1
" Sabrina Larasati." Jawab Peter dengan cepat.
" Bukan namaku mas, dengerin dulu kalau orang mau ngomong."
" Hehe... kamu semakin cantik kalau lagi cemberut begitu?" Peter mencolek hidung mancung Sabrina dengan gemas.
Ya Alloh gantengnya kalau dia lagi tersenyum begitu? kenapa aku baru melihatnya? astaga... kuat Sabrina, jangan lemah!
" Ehermm... Tebak aku, pagi-pagi aku ada dua, di siang hari aku ada tiga, kalau malam aku nggak ada, aku ada di ujung api dan di tengah air, aku punya kepala namun sayangnya nggak punya leher, kalau aku sudah besar dan tinggi, biasanya kepalaku hilang, dan yang paling penting, tanpa aku dunia dan cinta tidak akan ada, siapakah aku?"
Mampus gue, ini mah bukan sulit lagi, ini terlalu rumit, bahkan lebih susah dari pelajaran fisika dan matematika? aish... kecil harapan gue kalau seperti ini.
" Sabrina... tolonglah, jangan main-main kayak gini? aku serius mau mengajak kita berdamai loh." Peter langsung lemas duluan, karena sudah menduga bahwa dia akan kalah kali ini.
" Coba jawab dulu mas, sepele gitu masak nggak bisa?" Ledek Sabrina dengan senyum liciknya.
" Kalau salah tapi kamu tetep balik ke apartement aku kan?"
" Entahlah!"
" Kok entah sih?"
" Mau jawab apa enggak, kalau enggak aku tidur nih." Dia langsung mengancamnya saja.
" Hantu." Jawab Peter asal.
" Bukan."
" Siluman."
" Juga bukan."
" Arwah gentayangan karena putus cinta." Jawaban Peter malah semakin ngaco saja, karena memang tidak terlintas jawaban lainnya.
" Satu kesempatan lagi."
" Sabrina, kenapa cuma satu?"
" Nggak perduli." Sabrina langsung melengos karena menahan tawanya.
Haish... bodo amatlah, kalau dia tidak mau balik ke apartementku besok aku paksa saja dia, mana tahu aku tebak-tebakan kayak gini, emang aku anak SD apa, main kayak beginian?"
" Badarawuhi."
Peter langsung saja menyebut hantu yang sedang trend disalah satu film bioskop saat ini, bahkan dia menggoyangkan kedua tangannya, layaknya seorang penari di film itu.
" Tet... salah! jadi mas keluar dulu sana, kapan-kapan saja aku balik ke apartement mas, itu pun kalau aku mahu!" Jawab Sabrina dengan puas hati.
" Aish... Nana, kamu ini jahat sekali." Umpat Peter yang langsung memeluk bantal guling yang ada disana, layaknya anak kecil yang sedang merajuk minta dibujuk.
Maaf mas, tapi aku masih belum yakin denganmu dan untuk saat ini aku sedang membiasakan diri untuk belajar mengerti bahwa yang namanya kecewa, sedih, itu juga bagian dari proses hidup yang harus kita terima.
" Mas lebih jahat!" Ucap Sabrina sambil menjulurkan lidahnya, saat melihat ekspresi lucu dari suaminya itu.
" Pfftthhh... harusnya kamu tanya aku dulu tadi Sumarno!" Gemintang ternyata sudah ada didepan pintu ruangan itu sambil membawa satu gelas air hangat untuk Sabrina.
" Emang kamu tahu?" Tanya Peter dengan wajah penasaran.
" Taulah, kacang aja kalau cuma kayak gitu mah." Karena dua sekawan itu memang paling ahlinya.
" Apaan?"
" Huruf i Sum! gitu aja nggak bisa, cih... malu-maluin aja kamu ini, lain kali berguru sama gue, bawa Gula sama Teh ke rumahku!" Cibir Gemintang dengan senyum yang meremehkan.
" APA! Huruf i doang? kok bisa?" Peter langsung melongo setelah mendengarnya, ternyata se sepele itu pikirnya, padahal dia sudah membayangkan yang serem-serem tadi.
" Cobalah ingat-ingat lagi." Ledek Gemintang.
" Aishh... aku benci huruf i."
Peter langsung beranjak pergi dari ruangan itu dengan seribu rasa kekesalan dihati. Sedangkan Sabrina hanya bisa tersenyum dalam kebimbangan dan juga keraguan.
Dia masih memikirkan apa yang harus dia lakukan setelah kejadian hari ini.
Suatu hari nanti kau tak lagi berharap 'senang' melainkan 'tenang'. Memilih 'dimengerti' bukan hanya 'dicintai'. Lebih peduli 'diterima' daripada 'dipuja'.
__ADS_1
Kala itu kau sudah paham, bahwa rumah bukanlah tentang 'mewah' sebuah bangunan, tapi tentang 'Hangat Hati' tempatmu pulang.
YOK... JEMPOLMU SEMANGATKUH BESTIE...🤩