
...Happy Reading...
Bagaimana kondisi Gemintang saat ini memang sangat sulit untuk dijelaskan. Sudah badan capek, mata ngantuk, kepala terasa berat, ditambah lagi suasananya dingin mencekam.
Saat ini suhu di area perbukitan pada tengah malam begini sudah mencapai hampir satu derajat celcius, dan yang lebih parahnya lagi, Gemintang harus melihat dua orang yang sedang tarung dibawah selimut.
Bahkan suara desa han mereka sampai terdengar ditelinga Gemintang, bagaimana tidak, walaupun tenda itu luas, tapi tidak ada sekat didalamnya, sudah pasti kegilaan Peter terpampang nyata walau gelap dan didalam selimut tebal sekalipun.
" ASTAGA SABRINA!"
Ingin sekali rasanya dia menendang dua manusia itu agar menggelinding jatuh ke jurang sana, namun dia sadar bahwa dua orang itu adalah sahabatnya.
" Hehe... maaf Gem, kamu kok udah bangun sih?" Sabrina langsung menyembunyikan kepala suaminya dibawah selimut sambil cengengesan.
" So, kamu nyuruh aku tetep pura-pura tidur agar kalian tetap bisa lanjut begitu?" Gemintang sebenarnya penasaran juga tapi dia tidak kuasa untuk melihatnya.
" Dih... kamu bangun pun aku tetap bisa lanjut!" Umpat Peter yang kembali membiarkan si Bruno menari-nari indah didalam selimut dengan santainya.
" Astagfirulloh dua manusia ini benar-benar sudah gila!"
Gemintang fikir kalau dia sudah menangkap basah kegilaan mereka, sepasang suami istri itu akan berhenti, namun Peter pantang di larang, apalagi itu adalah haknya, sebelum dia sampai finish, apapun halangan dan rintangan yang menghadang dia akan tetap kembali berjuang.
" Mas... sudah dong, ada Gemintang itu?"
Sabrina langsung mendekap erat tubuh suaminya agar dia bisa diam ditempat, tidak seperti cacing yang tidak bisa diam.
" Nanggung yank, bentar lagi selesai ini." Rengek Peter dibawah sana dan tidak memperdulikan bagaimana tanggapan Gemintang yang semakin kesal karenanya.
Ya ampun, mau nolak kok enak, mau nyuruh mas Peter pergi, tapi pasti si Bruno belum berpakaian juga, aduh gimana ini?
" Tapi mas, malu ihh..." Sabrina langsung menjewer telinga suaminya karena dia tetap asyik didalam sana dan tidak bisa diam.
" Siapa suruh dia memisahkan kita malam ini kan? resiko ditanggung penumpang dong?" Peter tetap tidak mau mengalah, dia sengaja melakukan itu untuk memberikan pelajaran kepada Gemintang, agar tidak seenaknya saja menyuruh istrinya ini itu dan mengajak pergi istri orang sampai harus berbohong dengan suaminya sendiri.
" Woahaha... apa kau bilang tadi? aku penumpang, eh.. Peter, dimana sih kamu beli urat malumu itu, kenapa gampang sekali putus, pasti KW itu kan!"
Gemintang sudah tidak tahan lagi, dia mencari-cari ponselnya yang entah menyelip dimana, tiba-tiba tangannya jadi gemetaran, entah karena kedinginan atau karena sudah lama tidak mendengar suara desa han yang membara seperti itu dengan jelas.
" Maaf ya Gem... jangan marah okey, kamu tahu kan kalau menolak ajakan suami itu dosa?" Sabrina tidak tega, namun apa daya, dia sudah mengabaikan suaminya berkali-kali demi dia, dan kali ini dia tetap akan memenuhi keinginan suaminya itu.
" Kamu masih ingat dosa? trus kalau melakukan hal itu dihadapan seorang Janda, apa itu akan menjadi sebuah pahala?" Disaat panik seperti ini, entah apa-apa yang dia pegang semua jadi serba salah.
" Habis nanggung banget ini, tinggal satu kali tanjakan doang, emm... gimana kalau kamu tunggu di luar sebentar?" Sabrina menggigit bibiirnya sendiri setelah mengatakannya, karena dia sudah menduga ekspresi Gemintang nantinya.
__ADS_1
" Haish... terserah kalian saja, aku sudah tidak tahan lagi, kalian mau tempur sampai pagi juga terserah, berdoa saja biar nggak ada hewan yang masuk ke tubuh kalian, atau syaiton-syaiton jahat yang iri dengan kalian, ingat ini dihutan!"
Dia sudah tidak perduli lagi kemana ponselnya menghilang, dia memilih segera keluar saja dari tenda itu.
" Gem... jangan marah dong, kamu mau kemana?" Tanya Sabrina yang tidak bisa bergerak kemana-mana, karena Peter masih enjoy diatas tubuhnya.
" Bodo amat, yang penting tidak melihat dan mendengar suara bisikan Syaiton seperti kalian berdua!" Umpatnya dengan kesal, dia langsung berjalan menjauh dari tenda tanpa membawa alat penerangan, bahkan tanpa sepatu, dia lupa mengambilnya karena masih syock.
Entah mengapa dia seperti nonton film orang dewasa disaat masih remaja, ingin melihat tapi tidak kuasa, rasanya itu ngeri-ngeri tapi nagih, karena dia pernah merasakan kegiatan malam seperti itu.
" Mas Peter ihh... nggak kasihan sama Gemintang loh?" Sabrina mencubit gemas kedua pipi suaminya yang langsung nongol, disaat dia sudah tidak lagi mendengar suara Gemintang disana.
" Emang kamu nggak kasihan sama si Bruno? dia sampai berkerut karena kedinginan?" Ada saja jawaban dari Peter yang membuat Sabrina geleng kepala.
" Mas inilah... lain kali jangan begini, Gemintang itu belum punya lawan, kalau dia teringin gimana?"
" Suruh aja nyicil nanam saham sama Chris, dia pasti tidak akan menolaknya!" Ucap Peter dengan tanpa berpikir panjang, karena dia tahu betul bagaimana sahabatnya itu, tidak akan mempermainkan wanita yang sangat dia sayangi.
" Pfffthhh... mas ini ada-ada saja deh, emang dikira ngutang apa bisa nyicil?" Sabrina malah terkekeh sendiri jadinya.
" Biarkan saja, udah gede ini, pasti dia cuma ke warung angkringan diujung sana, kita lanjut aja ya sayang." Peter kembali memposisikan si Bruno yang sudah on fire.
" Mas juga... udah gede masih suka ngempeng!" Ledek Sabrina sambil mengusap kepala suaminya yang sudah menempel disana.
Disaat sepasang suami istri itu kembali melanjutkan pertempurannya, Gemintang berjalan sambil mengumpat sendiri dengan hati yang dongkol.
" Kok ada manusia model begitu ya? saat pengantin baru dulu aku juga semangat empat lima dalam berproduksi, tapi nggak segila itu juga kali, aish... memang sudah Edan itu si Sumarno!"
" Haduh... mana lupa bawa sepatu lagi? ckk... dingin banget jam segini, jadi pengen pipis ini, aduh... mana gelap lagi, aish.. ponselku juga entah nyelip dimana." Dia berjalan perlahan menyusuri jalan setapak dengan penerangan seadanya.
" Eh.. eh.. aaaaaa tolong!"
Karena memang jalannya tertutup dengan rumput yang rimbun, kakinya terpeleset dan hampir saja jatuh dari atas tebing.
Grep!
Saat Gemintang hampir saja terperosok ke bawah bukit, karena tidak memperhatikan jalan setapak itu, tiba-tiba ada tangan kekar yang menarik tubuhnya ke belakang dan memeluknya.
" Kenapa tidak bawa lampu emergency Gem, kemana ponselmu? kamu ini kebiasaan deh?" Suara yang dulu selalu dia rindukan itu kini kembali terdengar.
" Mas William? ngapain mas disini?" Gemintang terkejut, namun dia juga bersyukur, setidaknya nyawanya tertolong malam ini.
Aku rindu kamu, rindu dengan tempat ini, dan rindu semua tentang kita.
__ADS_1
" Nemenin kamu lah?"
Wajahnya yang memang tampan sedari dulu, ditambah senyum manis yang selalu terukir dengan indah, dibawah temaramnya sinar rembulan yang sedikit tertutup oleh awan, membuat mata Gemintang seolah enggan berkedip.
" Mas ngikutin aku?" Gemintang mencoba sadar dari lamunan segala tentangnya.
" Emm... bukan ngikutin sih, tapi kan emang mas sudah pernah berjanji denganmu, akan selalu menemani kamu pergi ke sini di hari ulang tahun pernikahan orang tua kamu kan, apa kamu lupa? kita pernah berjanji dibawah pohon besar di samping tendamu yang sekarang kamu pakai itu?" Karena mereka memang sering mendirikan tenda disana, walau tidak menginap sekalipun.
" Mas tau tendaku? berarti mas ikutan camping juga disini?" Gemintang seolah tidak percaya, karena sore tadi dia tidak melihat William sama sekali.
" Ya iyalah... maaf mas banyak kerjaan dari tadi siang, jadi baru sampai malam tadi dan mas juga buat tenda dia area perkemahan tepat diatas tenda kamu." Jawab William dengan mantap, bahkan dia selalu tersenyun saat menatap wajah mantan istrinya itu.
Kenapa kamu masih mengingat lagi moment-moment penting keluargaku mas, padahal kamu sudah bukan lagi bagian dari keluargaku sekarang?
" Mas... harusnya kamu nggak perlu nglakuin ini lagi, kita kan sudah bukan suami istri lagi?" Gemintang mencoba untuk tetap tenang, dia sudah malas berdebat, apalagi ribut-ribut di malam hari seperti ini.
" Fuuh... coba mas lihat kakimu dulu, ada yang luka nggak? kenapa nggak pakai sepatu? ayok mas gendong!" Dia menghela nafasnya dengan berat dan memilih mengalihkan topik pembicaraan yang seolah menusuknya berulang kali tepat di ulu hati.
William seolah masih belum bisa menerima kenyataan kalau dia sudah berpisah dengan Gemintang, entah kenapa masih terasa berat bagi William untuk melepasnya.
" Mas... nggak usah, aku bisa jalan sendiri." Gemintang langsung menolaknya.
" Itu kakimu kena duri kayaknya Gem, berdarah itu, ayok mas gendong, mas bawa kotak P3K di tenda, kalau lukamu kena tanah bisa bahaya."
Seperti biasa, perhatian William untuk Gemintang memang tidak perlu diragukan lagi, dari awal ketemu sampai menikah dan sudah bercerai sekalipun, tidak ada yang berubah, masih tetap sama.
Bahkan saat dia mendua dengan Farahpun, perhatian William kepada Gemintang masih seperti hari-hari biasanya.
" Nggak papa mas, aku tetap mau jalan sendiri, berani kotor itu baik, nanti bisa di cuci, i'm good right!" Gemintang berjalan sedikit terpincang-pincang dan tetap menolak tawaran dari mantan suaminya itu.
" Tapi aku yang tidak baik-baik saja melihat kamu tidak menggunakan alas kaki seperti ini, ya sudah.. kalau tidak mau digendong, kamu pakai sendal mas aja, sini aku pakaikan." William langsung jongkok dan melepas alas kakinya.
" Mas... tidak usah, ini cuma luka kecil biasa, tidak sebanding dengan luka yang mas berikan untukku!"
" Huh... mas tau, mas yang salah, tapi kali ini biarkan mas mengobati dulu lukamu itu, sekecil apapun itu tetap luka, jika mas belum bisa mengobati lukamu yang besar, mas akan mengobati luka kecilmu itu dulu, okey!"
William langsung saja menggendong tubuh Gemintang tanpa permisi, walaupun dia terus menolak, namun William tetap memaksa dan membawa mantan istrinya itu ke tenda miliknya.
Tidak semua yang dibakar api akan hangus menjadi abu, batu bata sengaja dibakar agar lebih kokoh.
Begitu juga dengan kehidupan, tidak semua yang menimpa kita akan menghancurkan, terkadang kita sedang di uji, agar menjadi pribadi yang lebih kuat.
...****************...
__ADS_1
Hari ini othor hanya mampu satu bab ya bestie, itupun jam tayangnya kesiangan, maafkeun...🙃