Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
97. Loh kok?


__ADS_3

...Happy Reading...


Sesaat sebelum kejadian...


Pagi ini Peter sengaja ingin mengunjungi rumah istrinya, karena sejak tragedi penggrebekan yang berujung salah paham kemarin, mereka sama sekali belum bertemu lagi, jangankan untuk bertemu, Peter melakukan panggilan telpon saja tidak diangkat, di chat pun tidak dibalas.


Setelah sampai didepan kontrakannya, ternyata sudah sepi, karena Sabrina memang baru saja berangkat ke Kantor.


" Nana?" Peter berulang kali mengetuk pintu namun tidak ada jawaban.


" Kemana sih orangnya? apa sudah berangkat kerja ya? pagi sekali?" Dia yang berangkat bekerja memang tidak pernah dituntut oleh waktu, jadi tidak tahu jam berapa pastinya karyawan biasa datang ke kantor.


" Emangnya dia sudah sembuh apa, kenapa sudah berangkat kerja?"


" Ckk... nggak tahu apa kalau suaminya itu banyak uang, sampai susah mau menghabiskan sendiri."


" Coba dia mau nurut, tinggal di Apartement saja, nggak usah kerja juga nggak masalah kok, aku mampu mencukupi semua kebutuhannya."


" Hallo mas ganteng, ehh... kita ketemu lagi? mau nyari Sabrina ya?"


Tiba-tiba tetangga sebelah kontrakan Sabrina keluar dan menyapa Peter yang masih uring-uringan sendiri.


" Iya tante, apa tante melihat Sabrina? dari tadi saya ketuk-ketuk nggak keluar orangnya." Tanya Peter dengan sopan.


" Dia sudah berangkat kerja mas, kalau mau ketuk pintu rumah tante aja yang sebelah, pasti tante langsung keluar, hehe..."


Astaga... tante-tante jaman sekarang ini, gatel nya minta ampun dah!


" Owh... terima kasih tante, lain kali saja, kalau begitu saya pamit saja."


" Mampir lah dulu ganteng, nanti tante buatin kopi hitam deh, biar hitam rasanya tetep mantep dan nagih pastinya, hehe.."


Ya ampun, otakku malah jadi traveling, mending gue kabur aja!


" Maaf tante, tapi saya sedang banyak pekerjaan, jadi saya pamit dulu tante, permisi."


Peter langsung buru-buru pergi dari sana, takut pula nanti dia diburu oleh tante-tante girang, pikirnya.


Karena memang sedang tidak ada meeting atau hal yang penting di kantornya, jadi Peter berniat untuk pergi ke kantor Gemintang untuk mencari istrinya, dia sebenarnya masih khawatir dengan keadaan Sabrina, tapi mau bagaimana lagi kalau kehadirannya di tolak oleh istrinya sendiri.

__ADS_1


" Permisi mbak, Sabrina nya sudah berangkat belum ya?" Peter bertanya kepada salah satu karyawan yang baru saja melewati loby perusahaan.


" Sabrina bagian keuangan bukan pak?" Ucap Wanita yang bertubuh tinggi dan berparaskan baby face itu.


" Iya, betul sekali mbak, apa mbak mengenalinya?" Peter sungguh tidak menyangka, walau istrinya termasuk karyawan baru disini, tapi banyak dikenal jugs pikirnya.


" Iya pak."


" Kalau begitu boleh tunjukkan ruangannya dimana?" Tanya Peter dengan antusias.


" Tentu... mari pak saya antar ke ruangannya."


Setelah sampai di lantai paling atas, ternyata pintu ruangan Gemintang dan Sabrina sudah terbuka, karena mereka memang satu ruangan walau disekat oleh dinding kaca.


" Ini pak ruangan Sabrina, dia ada didalam."


Hmm... gimana kalau gue uji coba saja, apa dia benar-benar tidak ada rasa denganku sama sekali? atau memang dia hanya jual mahal kan? gue godain dulu aja ini mbaknya, kayaknya dia wellcome dan asyik diajak ngobrol nih, hehe...


" Terima kasih banyak ya mbak, sudah mau nganterin sampai diruangan Sabrina." Peter seolah berbasa-basi terlebih dahulu, agar bisa mengajak ngobrol wanita itu lebih lama disana.


" Sama-sama pak, kalau begitu saya permisi dulu." Dia langsung ingin pamit undur diri.


" Bagian HRD pak." Jawabnya dengan senyuman ramahnya.


" Owh... pantesan, mbaknya ramah dan cocoklah kalau bekerja di bagian itu." Peter sengaja memujinya, padahal selama ini dia tidak begitu ambil tau tentang hal itu semua.


" Lah... bapak bisa aja." Wanita itu pun langsung tersipu, jarang-jarang ada yang memuji dirinya, pikirnya.


" Jangan panggil bapak dong, saya belum tua banget kan?" Peter bahkan menampilkan senyuman termanis yang dia punya.


" Trus maunya siapa? Pakde gitu?"


Ternyata dia juga bisa diajak bergurau, dan hal itu semakin menyempurnakan misi Peter dan membuat dia merasa lebih untung dan terbantu pastinya.


" Ahahaha... ntar dicariin Budhe nya lagi, panggil mas saja boleh deh."


Peter langsung pura-pura tertawa bahagia saat ngobrol dengan staf HRD itu, padahal obrolan mereka biasa aja, tidak ada yang spesial sama sekali.


Hanya saja dia ingin membuat istrinya itu kepanasan didalam ruangannya sana. Karena sudah pasti mereka bisa mendengarnya dari dalam, dan Peter memang sengaja mengeraskan tawanya agar lebih terdengar renyah walau memang garing sebenarnya.

__ADS_1


Benar saja, setelah dia ngobrol beberapa saat dengan staf HRD itu, Peter melihat Sabrina berjalan kearahnya dengan wajah yang terlihat berapi-api.


Yes... dia pasti jealous, yuhuuu... ternyata dia juga sudah menyukaiku, pasti cuma jaim dan jual mahal saja selama ini, hehe...


Di dunia ini, siapa sih yang tidak terpesona dengan pesona pria tampan sepertiku, PETER DI LAWAN, mana bisa, hahay...


Saat jarak mereka sudah mulai berdekatan, Peter semakin terlihat percaya diri, dengan angkuhnya dia merapikan dasi dan juga jas mahalnya.


Saat ini Peter pun bahkan sudah terkesan seperti orang yang besar kepala, karena maknanya kalau Sabrina marah dan melabrak dirinya kini, akan terlihat perasaan Sabrina yang sesungguhnya.


Sabrina sudah tidak akan bisa mengelak lagi nantinya, jadi keuntungan sudah pasti ada dipihak Peter.


" Benar-benar ya pria yang satu ini, mulutnya memang tidak bisa dipegang!"


Aku harus memberinya pelajaran, okey mas Peter... kita lihat saja siapa yang akan kebakaran jenggot kali ini...


Langkah Sabrina sudah terlihat meyakinkan, amarahnya seolah terlihat menggebu-gebu, seolah kekesalan di dirinya sudah menumpuk menjadi satu saat ini.


" Sikat Bestie... jangan kasih ampun!"


Gemintang sebagai team kompor mleduk pun langsung terlihat berjalan mengikuti Sabrina dari belakang, karena tidak mau melewatkan hiburan pagi ini walau hanya satu detik saja, pikirnya.


Semakin kamu marah, aku semakin suka sayang!


" Kemarilah Nana sayang... tunjukkan rasa cemburumu terhadapku." Umpat Peter dengan nada lirih dan wajah yang masih terus tersenyum dengan riangnya.


" Abaaaaaaaaaanggg." Teriak Sabrina dengan nada manjanya.


Heh? kok abang? sejak kapan dia memanggilku dengan sebutan abang?


Peter yang tidak merasa menyuruh Sabrina memanggil dirinya dengan sebutan abang langsung bingung sendiri.


" Loh kok?"


Gemintang pun sama, dia tak kalah bingung dengan apa yang terjadi, berbagai pertanyaan dan anggapan langsung bersarang di otak Peter dan juga Gemintang.


Sebuah kenyamanan pasti datang tanpa sengaja, dan sebuah kepergian pasti datang secara tiba-tiba.


Tak ada takdir yang terlambat, semuanya akan tiba pada waktu yang tepat.

__ADS_1


TO BE CONTINUE...


__ADS_2