
...Happy Reading...
Mereka melanjutkan perjalanan yang tinggal beberapa meter itu dengan segala perdebatan mereka yang masih berlanjut.
" Bocah kecil itu selalu berbicara jujur apa adanya, dia saja mengakui kalau kita memang tampan ya kan bos, situ syirik ye...? eh.. kamu tau nggak kalau syirik itu tanda tak mampu!" Peter selalu punya cara untuk membalas ledekan orang, bahkan sambil menatap Gemintang dengan tatapan mengejek.
" Ckk... terserah kalian saja lah, capek aku berdebat sama kamu Ter, owh iya... apa tadi kalian kasihkan semua uang cash kalian sama adek itu?" Tanya Gemintang.
" Iya.. nanti kami bisa ambil lagi, jumlah uang itu tadi tidak seberapa." Ucap Chris yang langsung menimpali, uang satu juta menurutnya memang bukan apa-apa.
" Kalau gue masih dong." Jawab Peter yang kembali melihat isi dompetnya.
" Berapa?" Tanya Gemintang ikut menoleh kearahnya.
" Dua puluh sembilan ribu lima ratus rupiah." Peter menghitung uang yang tertinggal di dompetnya.
" Astaga Skuter... ATM jauh loh, kalau nanti kalian kehabisan bahan bakar gimana? kalian harus dorong mobil ya!" Bukannya tidak ikhlas, namun Gemintang juga tidak bawa uang sepeserpun, kalau nanti ada apa-apa dijalan kan ribet urusannya.
" O... tenang saja, aku sudah isi full bahan bakar sebelum jalan masuk ke desa tadi." Jawab Chris yang langsung menaikkan kedua alisnya dengan bangga.
" Baguslah kalau begitu, tapi entah mengapa firasatku sedikit tidak enak, kita kayak milyader tapi miskin nggak sih kalau disini, walaupun punya kartu blackcard tapi ATM nggak ada, dipasar pedesaan sama toko kelontong mana laku tuh kartu!" Gemintang tersenyum kecut karenanya.
" Nggak usah dipikirkan, nanti kita langsung balik saja sebelum petang." Jawab Chris dengan santainya.
" Gemintang!" Teriak Sabrina yang langsung berlari menghambur kedalam pelukan Gemintang saat dia baru saja turun dari mobil.
" Na... gimana kondisi ayah kamu?"
" Dia masih belum sadar Gem."
Masih terlihat sisa air mata di pipi putih Sabrina, ditambah lagi wajahnya yang pucat dan lesu karena mungkin kurang istirahat.
" Dimana beliau sekarang?"
" Ada didalam."
" Kenapa kamu nggak bawa beliau ke rumah sakit Na."
" Kemarin tuh udah baikan trus bisa dibawa pulang, tiba-tiba tadi pagi ngedrop, mau dibawa ke kota tapi ambulance nya belom ada, mereka masih membawa pasien ke kota."
" Astaga... kalau begitu ayo cepat bawa ayah kamu ke rumah sakit, biar mas Chris yang antar."
" Sabrina... bapak kamu sudah sadar, beliau ingin berbicara dengan kamu." Ibu Sabrina terlihat panik berlari keluar menemui mereka.
__ADS_1
" Permisi... boleh saya numpang ke kamar mandi? saya kebelet ini." Peter yang sudah tidak tahan langsung nyelonong meminta izin kepada ibunya Sabrina.
" Ya... masuk saja nak." Jawab Ibu Sabrina yang langsung menarik putrinya masuk kedalam rumah.
" Bapak... mana yang sakit pak? kita periksa ke rumah sakit lagi ya pak, Gemintang dan temennya bawa mobil, jadi kita bisa berangkat kerumah sakit sekarang." Sabrina langsung merapikan baju bapaknya.
" Nak... apa pria tadi calonmu?" Dalam keadaan yang sudah lemas pun bapak Sabrina malah tersenyum, karena baru pertama kalinya ada pria asing masuk kedalam ruamahnya.
" Heh? siapa pak?" Tanya Sabrina yang langsung terheran.
" Tadi yang minta izin ke kamar mandi." Kata Bapaknya dengan suara yang sudah lesu.
Apa maksud bapak itu pak Peter ya? ckk... mau ke kamar mandi aja ngapain pakai izin sama bapak segala sih, kan jadi salah sangka bapakku.
" Owh... itu tadi..."
" Nak... bapak sudah tidak kuat lagi, hanya satu keinginanku, Sabrina."
" Tapi pak?"
" Stttt... dengerin dulu kalau bapak kamu mau ngomong." Gemintang dan Chris ternyata ikut masuk kedalam kamar bapaknya Gemintang.
" Nak... bapak cuma pengen melihat kamu menikah, karena kamu anak satu-satunya kebanggaan bapak." Ucapnya lirih.
" Menikahlah nak, selagi bapak masih bisa membuka mata." Bapak Sabrina kembali mengutarakan keinginannya dengan jelas.
" Bapak ini ngomong apa sih, bapak harus sembuh ya, yang kuat dong pak." Sabrina langsung menitikkan air mata kesedihannya.
" Perjalanan ke kota cukup jauh nak, entah nanti diperjalanan bapak masih sempat bernafas atau tidak."
" Jangan ngomong begitu dong pak, bapak harus semangat, semua penyakit pasti ada obatnya, jangan putus harapan dong pak, semua demi Sabrina dan ibuk, kami sayang sama bapak." Sabrina langsung memelvk tubuh bapaknya yang sudah kurus kering.
" Kalau kamu sayang sama bapak, menikahlah dengan calonmu itu sekarang juga, baru bapak bisa tenang nak." Ucapnya kembali yang sontak membuat Sabrina terkejut bukan kepalang.
" Tapi dia bukan calonku pak?" Sabrina langsung bicara apa adanya.
" Dia sepertinya pria yang baik, bapak senang melihatnya, kalian bisa menikah Siri dulu sekarang, kalau menikah secara hukumnya bisa kalian sah kan pelan-pelan."
Apalah bapak ini, baru pertama kali lihat kok sudah senang, masak iya langsung nyuruh nikah Siri juga, aku sama sekali tidak punya perasaan dengannya pak?
" Tapi pak--" Sabrina merasa sangat keberatan.
" Hanya itu yang bapak harapkan nak, uhuk.. uhuk.." Sesak nafas bapaknya kembali kambuh.
__ADS_1
" Astaga bapak!"
Sabrina langsung berlari mengambil tabung oksigen yang dia pinjam dari puskesmas dikampungnya dan langsung memasangkan selang di hidung bapaknya, karena separuh tubuh ayahnya juga sudah tidak bisa bergerak lagi karena serangan stroke.
" Mana si Peter, lama sekali dia pergi ke kamar mandi?" Bisik Chris yang ikut panik saat melihat kondisi Bapak Sabrina kembali drop.
" Tuh dia orangnya." Gemintang menunjuk Peter yang sudah terlihat di ujung pintu.
" Peter." Teriak Chris yang langsung berjalan cepat untuk menarik lengannya.
" Iya sabar bos... mau berangkat sekarang kah?" Peter sudah siap jika mau mengantar bapak Sabrina ke rumah sakit di kota sekarang.
" Bukan.."
" Apa nggak jadi?" Peter menaikkan kedua alisnya dengan heran.
" Menikahlah dengan Sabrina." Ucap Chris yang seolah seperti sedang meledakkan bom dihadapan Peter yang tidak tahu apa-apa.
Duar!
" Kalian ngeprank aku ya? mau buat surprize apa gimana?" Peter malah menaikkan satu sudut bibirnya dengan tatapan aneh.
" Iya... surprize kehidupan!" Jawab Chris dengan cepat.
" Jadi sakit nggak sih bapaknya Sabrina? kok malah jadi ganti topik menikah, ini gimana ceritanya?" Peter malah seperti orang Oon dibuatnya.
" Sudahlah... bersiaplah untuk menikah sekarang juga."
" Apaan? kenapa harus gue, kenapa bukan anda saja bos?" Antara panik dan juga terkejut saat Peter mendengarnya.
" Kamu kan tahu aku suka dengan siapa, lagian juga kamu jomblo kan? calon juga nggak punya, incaran juga nggak ada, sudahlah menikah saja dengan Sabrina, daripada jadi bujang lapuk sampai tua!"
Chris tahu betul keseharian Peter, yang memang tidak mau mengenal wanita lagi setelah cinta monyetnya berujung memilukan.
" Ada apa ini? apa aku sedang bermimpi? atau kalian sedang akting sebuah drama?" Peter bahkan memukul kedua pipinya dengan wajah kebingungan, dia masih tidak percaya, karena tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba dia disuruh menikah begitu saja, bahkan tanpa persiapan dan rasa apapun.
Plak!
" Cepat bersiap, aku akan menjadi saksi dalam pernikahanmu!"
Entah kenapa Chris seolah yakin untuk menyuruh Peter sang asisten sekaligus saudaranya itu, untuk menikah dengan Sabrina saat itu juga.
Takdir memang misteri. Manusia hanya bisa mengira dan menduga ke mana takdir atas pilihan hidupnya bergulir.
__ADS_1
Karena apa pun bisa terjadi hanya dalam satu hari. Kita lahir dalam satu hari. Kita mati dalam satu hari. Kita bisa berubah dalam satu hari. Dan bahkan kita bisa jatuh cinta dalam satu hari, tidak ada yang tahu bagaimana skenario dari yang Maha Kuasa. Satu-satunya keharusan adalah mengikutinya, menerimanya, ke mana pun Takdir itu menuntun langkahmu.