Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
69. Musibah atau Berkah?


__ADS_3

...Happy Reading...


Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, akhirnya Peter dan keluarga kecil barunya sudah sampai disebuah apartement mewah miliknya.


Ruangan tamu yang luas dengan dapur bersih disudut ruangan, juga beberapa kamar, dan dihiasi ornamen modern namun tetap mewah yang tertata rapi disana, dengan nuansa warna abu-abu dan putih.


" Fuuuh... ruangan mewah ini terlihat kayak suram ya buk, coba ada nuansa pink color, pasti lebih berwarna rumah ini." Umpat Sabrina sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.


" NO! jangan pernah memakai sesuatu yang berwarna pink dirumah ini, aku tidak suka." Peter yang tanpa sengaja mendengarnya langsung memberikan ultimatum saat itu juga.


Cari masalah dulu lah...


" Kalau pakai baju pink pun tidak boleh kah?" Sabrina langsung tersenyum miring melihatnya.


" Di dunia ini masih banyak kan, kayak nggak ada warna lain selain warna pink?" Umpat Peter kembali.


Selain tidak suka, warna itu juga mengingatkan dia kepada mantan kekasih satu-satunya saat di bangku SMA dulu, yang sudah berhasil membuatnya trauma sampai sekarang.


" Warna pink itu bagus loh, lembut, menenangkan, kenapa nggak suka?" Tanya Sabrina yang sengaja bermain-main dengan Peter.


" Jelek!" Jawabnya dengan mantap.


Ternyata berdebat dengannya memang menyenangkan, walau sebel, namun melihat dia kesal seperti itu kok aku malah jadi gemas ya, pantas saja Gemintang sering berdebat dengannya.


" Berarti kamu memang tidak suka kelembutan, pantesan suka marah-marah nggak jelas, dasar lelaki Pekok !" Sabrina menaikkan satu sudut bibirnya.


" Apa itu Pekok, pake bahasa itu yang baik dan benar kalau ngomong." Peter yang tidak begitu paham dengan bahasa daerah langsung saja protes.


" Sabrina... sudahlah, kamu ini usil banget jadi istri, kalau memang suamimu nggak suka yang jangan pakai, masalah kecil aja kok sampai berdebat, nggak usah dibesar-besarkan, lagian juga sejak kapan kamu suka warna pink!" Akhirnya ibu Sabrina langsung berkomentar setelah melihat kelakuan putrinya, yang memang sengaja cari gara-gara.


" Sejak hari ini buk, aku jadi suka sekali warna pink!" Sabrina tersenyum licik saat melihat Peter yang semakin melotot kearahnya.


Saat Peter bilang tidak suka, Sabrina malah semakin suka mendengarnya, apa yang suaminya benci itu sepertinya mulai sekarang akan menjadi sesuatu yang terfavorit baginya.


" Sekali enggak tetap enggak!" Jawab Peter yang langsung melengos kesal.


Kalau saja tidak ada ibu Sabrina, mungkin mereka sudah perang besar saat ini.


" Woah... kamu menghilangkan hak asasi manusia sebagai seorang istri, karena yang seharusnya mengatur rumahmu ini menjadi indah dan berseri adalah seorang istri, biar lebih berwarna, nggak seperti hidup kamu itu loh mas, Garing!" Ledek Sabrina terus menerus.


" Jangan pernah kamu coba-coba mengganti perabot diruangan ini dengan warna pink, kalau tidak mau barang itu, aku buang sia-sia." Ancam Peter.


" Astaga... kalian berdua ini, kalau begini caranya kapan aku bisa cepat dapat cucu?" Ibu Sabrina langsung menengahi perdebatan mereka.


" Ngomong apa sih ibu ini?"


" Ckk... sudahlah, dimana kamar ibu nak Peter? pinggang ibu sudah mau patah ini rasanya." Ibu Sabrina ingin istirahat dulu, masalah putrinya akan dia fikirkan nanti saja menurutnya.


" Di ujung buk, atau mau yang diatas juga ada, di sebelah kamar Peter." Jawab Peter dengan sopan.


" Nggak usah nak, ibu tidur dilantai bawah saja, nanti kalau kalian main kuda-kudaan, suaranya sampai dikamar ibu lagi, kemarin aja kalian sudah nggak sabar, sampai pemanasan dikamar ibuk, hiiii... merinding ibuk tuh jadinya." Ibu Sabrina mengusap lengannya yang tiba-tiba meremang.


" Ibu salah paham itu, kami nggak ngapa-ngapain kok buk, beneran deh!" Sabrina langsung melakukan pembelaan.


" Ngapa-ngapain juga kamu sudah sah Na, tinggal secara hukum saja kalian belum resmikan, rencananya kapan nak Peter?"


Degh!


Bahkan Peter masih ragu dengan hubungan ini, beberapa hari ini dia berfikir keras, namun belum menemukan solusinya.


" Emm..." Peter kembali berfikir.


" Begini aja buk, kita beri waktu buat mas Peter dulu aja, dia kan harus mengatur banyak hal, pekerjaannya banyak banget soalnya, jadi nggak usah terburu-buru gitu." Bukan hanya Peter, sebenarnya Sabrina pun juga belum siap lahir batin.


" Iya buk... saya sependapat dengan Sabrina." Sahut Peter dengan semangat, karena memang dia belum punya solusi lain.

__ADS_1


" Kalau begini saja kalian kompak." Ibu Sabrina langsung tersenyum menyeringai.


" Kalau begitu aku temenin ibuk saja ya." Sabrina langsung mengangkat koper dan tas yang dia bawa.


" Ngapain?" Lirikan ibu Sabrina terlihat tajam saat mendengarnya.


" Ya nemenin ibuk lah, ibu kan nggak terbiasa tidur di kota, jadi biar nggak kaget tidur bareng aku aja." Sabrina langsung memberikan alasan sedapatnya saja, karena dia sama sekali tidak berkeinginan untuk tidur dengan Peter.


" Trus suamimu tidur sama siapa? masak udah nikah masih tidur sendirian?"


Bodo amatlah, lagian juga dia nggak mau disentuh, nanti kepedean pula kalau aku tidur satu kamar sama dia, nanti dia pikir aku kegatelan lagi pengen tidur berdua, maap-maap aje lah yer...


" Mas Peter itu kalau malam nglembur kerja dirumah, jadi dikamarpun masih menyelesaikan pekerjaan juga, padahal aku sudah capek pengen istirahat buk." Sabrina langsung pura-pura memasang wajah kusutnya.


" Sebagai istri yang baik, kalau suami lembur ya ditemenin, setidaknya buatin kopi kek, atau buatin cemilan gitu, biar nggak ngantuk."


Males banget oey...


" Mas Peter itu diet buk, kalau malam nggak mau ngemil atau makan apapun." Sabrina seolah sudah mengetahui kebiasaan Peter, padahal dia hanya sok tahu saja.


" Kalau dia nggak mau makan ya kamu kan bisa bantu pijitin dia, biar dia semangat nglembur gitu kan?" Ibu Sabrina tetep saja ngotot dengan pendapatnya.


" Astaga ibuk."


" Sabrina.. ayok masuk ke kamar."


Sudah pegel badan, ditambah mendengar perdebatan ibu dan anak itu semakin membuat kepala Peter terasa pusing, akhirnya dia memutuskan untuk menyuruh Sabrina ikut ke lantai atas.


Dia bilang apa? yakin tuh ngajakin gue ke kamar? nggak takut apa kalau gue *****-*****?


" Aku sama ibuk saja mas, besok lagi kan bisa?" Sabrina menolak secara halus.


" Aku capek Sabrina, jangan membuatku menyuruhmu sampai berkali-kali." Ucap Peter dengan tegas.


" Sabrina, jangan melawan suamimu, dengerin kalau suami kamu ngomong, patuhi perintahnya, jangan durhaka kamu sama suami." Ibu Sabrina langsung melotot kearahnya.


Bertahan Sabrina... setidaknya sampai ibu pulang kembali ke kampung, aku akan balik ke kontrakan lagi aja, biarpun kecil tapi terasa nyaman, tidak seperti disini, mewah tapi suram.


" Huft... iya.. iya, aku ke kamar." Kalau ibunya sudah pidato panjang lebar, Sabrina tidak bisa berbuat apa-apa lagi, hanya bisa menurut saja.


" Nah gitu dong nak, mulai sekarang kamu harus membiasakan diri, kalau kamu itu sudah bersuami, dan ada seseorang yang harus kamu utamakan, mengerti Sabrina?"


" Siap buk!" Hanya itu yang bisa dia jawab, daripada nanti semakin melebar kemana-mana pidato dadakan dari ibunya.


Dengan semangat yang pas-pasan, Sabrina menarik koper dan tas yang dia bawa tadi mengikuti langkah Peter yang sudah tersenyum mengejek kepadanya.


Ckk... malah senyum-senyum lagi dia, pasti dia sedang ngejek gue, bukannya bawain kopernya ke atas, ini malah jalan melenggang aja, sudah kayak model, nasip-nasip.. punya suami nggak ada perhatiannya sama sekali, pantesan Gemintang selalu berdebat dengannya, emang orangnya nyebelin pake banget sih!


Ruangan kamar Peter cukup luas, namun memang tidak banyak perabot didalamnya, hanya ada kamar mandi dalam disudut ruangan, kasur kingsize dan almari pakaian saja didalamnya, serta satu TV Lcd yang tertempel di dinding, sungguh kamar yang sangat simpel bagi pengusaha kaya sepertinya.


" Baju aku ditata di almari sebelah mana mas?" Sabrina langsung membuka kopernya dan ingin memindahkan beberapa baju yang dia bawa tadi.


" Di lemari kamar sebelah." Jawab Peter sambil menggulung lengan kemejanya.


" Memang itu almarinya sudah penuh ya? perasaan lemarinya gede banget, ada beberapa pintu, owh iya... pengusaha seperti bapak kan pasti fashionable ya kan." Sabrina bertanya namun dia jawab sendiri.


Namun Peter tetap tidak menggubrisnya, dia masih sibuk melepas jam tangan dan juga sepatunya, bahkan tanpa menoleh kearah Sabrina sedikitpun.


" Trus nanti beneran ini, kita tidur dengan berbagi ranjang? nggak takut nanti kamu aku sentuh-sentuh gitu? aku kalau tidur suka berubah ganas loh." Ucap Sabrina yang sengaja meledek Peter.


" Emang siapa yang nyuruh kamu tidur di kamar ini?" Peter berbicara dengan entengnya.


" Gimana sih, tadi katanya ngajak ke kamar? sudah ke kamar masih salah juga ini? jadi tadi cuma basa basi aja karena didepan ibuk gitu? wah... benar-benar, ular berkepala dua." Umpat Sabrina dengan kesal.


" Aku memang mengajak kamu ke kamar, tapi kamar di apartement ini nggak cuma disini, disebelah juga ada kamar, makanya jadi orang jangan ke Pede an kamu, siapa juga yang mau tidur satu ranjang dengan kamu, sory ya, jangan harap!" Peter langsung tersenyum menyeringai sambil berjalan menuju kedalam kamar mandi.

__ADS_1


Woah... gila, baru kali ini aku bertemu pria menyebalkan seperti dia, dan apesnya lagi, dia itu suamiku, bagaimana aku bisa bertahan kalau begini? aduh bapak... maafkan putrimu jika harus melanggar keinginan bapak.


" Dih... siapa juga yang ngarep, nggak ada untungnya juga buat aku."


Sabrina langsung menarik kopernya dan pindah ke kamar sebelah, setelah memastikan ibunya tidak melihat dirinya dari bawah.


" Dasar pria berhati dingin, haduh... hilang sudah cita-citaku punya suami yang bisa diajak healing anytime and anywhere ini."


Sabrina mengumpat sendirian sambil menata bajunya dialmari, ruangan itupun sama luasnya, namun perabotnya memang terlihat lebih sederhana.


" Haduh... mana lagi tas ku? ketinggalan pula dikamar sebelah."


Badannya yang sudah lelah karena hampir seharian duduk di mobil, membuat emosinya memang sedikit naik turun.


" Kenapa harus pake acara ketinggalan segala sih?"


Sabrina kembali membuka pintu kamar Peter dengan malas, dia hanya ingin mengambil tas nya yang tertinggal dan langsung pergi.


Ceklek!


Saat pintu sudah terbuka, ternyata ada pemandangan segar yang tidak sengaja Sabrina lihat.


" Aaaaaaaaaaaaa... Tutup pintunya!" Teriak Peter yang sontak langsung menutupi pedang Samurainya yang tiba-tiba sudah memanjang dengan sempurna.


Dia lupa mengunci pintu kamarnya, karena dia fikir Sabrina juga tidak akan kembali masuk ke kamarnya, jadi dia ingin menggunakan pakaian dalam dengan santai seperti saat masih sendiri.


" Apaan sih heboh banget, orang cuma mau ambil tas aku yang ketinggalan aja kok."


Sabrina seolah tidak berekspresi, walau sebenarnya kedua matanya jelas-jelas melihat apa yang seharusnya dia lihat saat malam pertama tiba.


" Apa kamu tadi nggak lihat?" Akhirnya Peter menarik kembali handuk yang dia lempar ke sembarang arah tadi.


" Lihat apa? burung peliharaanmu itu? dih... sory ya, nggak nafsu model begituan!" Umpat Sabrina yang langsung mengambil tasnya dan segera keluar dari kamar itu tanpa memperdulikan wajah Peter yang begitu heran melihatnya istri sirinya, yang seolah tidak ada respon apapun saat melihat benda paling berharga miliknya.


" HAH!"


Dan akhirnya Peter hanya bisa melongo saja saat melihat ekspresi Sabrina yang terlihat datar-datar saja, sampai pintu kamarnya itu tertutup kembali.


A few moment later...


" Subhanalloh..."


" Masyaalloh..."


" Astagfirulloh..."


" Allohuakbar..."


" Apa itu tadi, kok hitam, kok kayak ada tulangnya?"


" Ehh... kok beda sama punya bayi tetangga kosan ditempatku ya?"


" Haduh... gede banget lagi."


" Aww... mana panjang banget pula itu."


" Aduuuh... gimana kalau itu masuk?"


" Aish... tiba-tiba perutku jadi mules."


" Aduh... gimana ini Tuhan, dosa apa pahala saat aku ngelihatnya?"


" Sebenarnya ini musibah atau berkah?"


" Tapi kok gemes pengen narik, tapi... aaaaa... aku mau mandi keramas saja, biar lupa semuanya!"

__ADS_1


Setelah Sabrina berada didalam kamar sendiri, dia seperti orang yang sedang kesurupan, antara terkejut, kaget dan panik yang dia kumpulkan, dan disimpan dengan rapat, namun akhirnya meledak dengan dahsyatnya.


..."Hidup itu bukan tentang seberapa yang kita miliki, namun tentang seberapa yang bisa kita rasakan, untuk bisa kita syukuri."...


__ADS_2