
...Happy Reading...
Suasana ruangan di lantai yang Sabrina dan Gemintang tempati cukup sepi, saat tadi Gemintang melewati ruangan William pun terlihat tidak berpenghuni, karena mungkin sedang ada jadwal meeting, itu mengapa Gemintang bisa berbicara lepas dan santai diruangannya tanpa takut suaminya mendengarnya.
" Ya mau gimana lagi, temui dia, bilang kalau kamu sudah menikah, apa susahnya?" Sabrina memang tidak pernah mau ambil pusing.
" Maunya juga gitu tadi, tapi mereka keburu pergi meeting."
" Ckk... apa ini yang dinamakan, istri orang lebih menantang? gimana nasib para gadis jomblo kayak gue dong Gem, masak harus sama suami orang juga biar cepat laku?"
" Duda aja gimana? sama bang Lewis aja besok Na?"
" Gilak kamu ya, doain kakak kamu sendiri jadi duda?"
" Apa yang harus dipertahankan dari hubungan kami coba? nggak ada sama sekali Na."
" Hmm... iya juga sih, padahal dulu aku sempat iri loh, lihat kemesraan bang Lewis sama si Farah ahli neraka itu." Sabrina mengingat dulu saat mereka baru saja menikah.
" Hmm... dan akhirnya aku mengerti bahwa, sebaik apapun kami, secinta apapun kami, sesayang apapun kami, dan setulus apapun aku dan bang Lewis kepada pasangan kami masing-masing, semua tidak akan pernah ada harganya di mata orang yang tidak pernah bersyukur memiliki kami." Gemintang merasa nasip keluarganya tidak begitu baik.
" Mungkin memang harus begitu proses hidup kalian berdua, karena terkadang perlu patah dulu, agar lebih bijak bagi kalian dalam menentukan arah." Sabrina mengusap punggung sahabatnya yang sudah terlihat lesu.
" Trus gimana, mau nggak jadi kakak ipar gue?" Ucap Gemintang kembali.
" Dih, ogah gue iparan sama elu!" Jawab Sabrina dengan cepat, karena itu sama sekali tidak pernah terfikirkan olehnya.
" Emang kenapa kalau gue? apa yang salah dari gue, mau aku pecat jadi sohib gue luu, asal kamu tahu, didalam hidup kami berdua cuma satu yang kurang!"
" Apaan?" Tanya Sabrina yang langsung kepo.
" Gampang kena tikung." Jawab Gemintang dengan lesu.
" Haha.. itu sih derita kalian cuy, fuuh.. ternyata tampan, cantik dan kaya juga bukan jaminan hidup kita bisa bahagia ya? emm... trus rencana elu apa nantinya?" Tanya Sabrina yang malah jadi penasaran.
" Nanti malam mas Chris ngajak gue dinner, apa yang harus gue lakukan Na, walau sering resek, tapi saat dekat dengannya, aku merasa dia itu sebenarnya orang baik, perhatian, walau sangat cuek?" Gemintang mengingat sosok pria yang tanpa sadar sering dia jumpai akhir-akhir ini.
__ADS_1
" Tapi tetap saja, status elu masih istri orang Gemintang Lea Prakoso, yang terpenting sekarang kamu jujur aja dengan pak Chris dulu, selanjutnya biarkan mengalir saja." Saran Sabrina.
" Nanti kalau dia marah gimana Na?" Entah mengapa terbersit wajah melow Chris di pikirannya.
" Itu sudah konsekwensi kamu, lagian marah atau tidaknya nggak ngaruh juga kan di hidup kamu? pikir saja belakangan." Sabrina sebenarnya juga tidak punya solusi lain, karena itu memang salahnya Gemintang, tidak terbuka sejak awal saat mereka melakukan perjanjian itu.
" Kalau begitu temenin gue Na." Rengek Gemintang yang langsung menarik-narik lengan sahabatnya itu.
" Naikin gaji gue mulai bulan depan gimana?" Sabrina mencari kesempatan dalam kesempitan, itung-itung iseng-iseng berhadiah, walau hanya candaan semata awalnya.
" Dasar sahabat licik!" Umpat Gemintang sambil melotot.
" Kalau deal kita berangkat, kalau tidak ya maap-maap aje lah ya, jadi obat nyamuk itu berat cuy, kamu nggak akan kuat!" Sabrina langsung mengambil ancang-ancang saat Gemintang sudah mengangkat vas bunga dihadapannya.
" Awas kamu ya!"
" Hahahaha.."
Sabrina sengaja membuat lelucon, agar Gemintang sedikit melupakan kesedihan dihidupnya, karena sudah terlalu banyak air mata yang jatuh sia-sia karena kelakuan suami dan kakak ipar gilanya itu.
Seperti biasa Gemintang dan Sabrina hanya menggunakan pakaian casual yang terlihat santai saja, padahal alamat yang dikirim oleh Chris adalah sebuah restoran berkelas dan bintang lima.
" Nggak salah alamat kan luu?" Sabrina melihat hotel berbintang dihadapannya.
" Jangan norak deh, kayak nggak pernah gue ajak ke restoran berbintang saja kamu ini, ayo masuk!" Jawab Gemintang dengan santainya.
" Bukan begitu bro, coba lihat deh, cuma kita yang pakai celana jeans dan sniker, yang lain pakai dress, gaun dan high heels Gem!" Sabrina melihat orang yang keluar masuk restoran di hotel itu.
" Kenapa kamu mikirin kayak begituan? kita kesini bukan untuk berpesta, bahkan aku kesini mau menolak niat baik seseorang, ngerti nggak kamu!" Gemintang langsung menoyor kening sahabatnya itu.
" Ckk... ya kan siapa tahu gue dapet jodoh Mr. Tajir nanti didalam." Geritu Sabrina sambil memonyongkan bibiirnya.
" Buat apa nyari yang kaya, kalau yang sederhana saja bisa membuatmu bahagia Na." Celetuk Gemintang.
" Wuidih... dalem banget ucapan kamu sob, tapi cukup kamu ingat saja ya Gem, kalau kamu jatuh, aku akan menjadi orang yang pertama untukmu dan mengangkatmu dalam setiap keterpurukan." Ucap Sabrina seolah terlihat sangat meyakinkan.
__ADS_1
" Janji ya?" Senyum Gemintang langsung terbit saat mendengarnya.
" Hu um, tapi setelah aku selesai tertawa, haha."
" Dasar teman durjana kamu ini!"
Mereka berdua terus bercanda tawa sampai salah seorang pelayan restoran berbintang itu menanyakan reservasi untuk mereka berdua.
" Ada yang bisa kami bantu nona? sudah reservasi apa belum?" Tanya pelayan itu dengan sopan.
" Sudah mas, atas nama pak Chris." Jawab Gemintang dengan senyuman.
" Owh pak Chris, kalau begitu mari saya antar."
" Ehh... bukan disini ya?"
Sabrina merasa heran sendiri saat mereka berjalan melewati meja puluhan meja makan yang dipenuhi dengan orang-orang yang terlihat berkelas disana.
" Bukan nona, reservasi pak Chris ada di ruangan ekslusif, silahkan masuk nona." Pelayan itu menunduk sopan dan segera berpamitan undur diri setelah mengantarkan Gemintang dan Sabrina ke salah satu ruangan tersendiri.
" Ruang ekslusif kok dipojokan sih Gem, jangan-jangan pak Chris cuma dapet voucher hadiah dari snack kali ya? padahal yang depan tadi sudah cukup mewah loh, ada pemain orchestranya juga lagi, kalau disini sepi cuy?" Sabrina seolah menyayangkan hal ini.
" Ckk... kamu pikir snack apa yang bisa ngasih hadiah voucher makan ditempat mahal seperti ini, dasar ratu Halu, ayoklah kita masuk dulu!" Gemintang langsung menarik lengan Sabrina dan membuka pintu ruangan esklusif itu perlahan.
Berrr!
Saat pintu ruangan terbuka, bau harum semerbak dari bunga mawar segar menyeruak sampai di hidung mereka, bahkan dua wanita itu sampai memejamkan mata sejenak untuk menikmati sensasi harum ruangan itu.
" Apa kita sudah berada di surga Gem, it's so beautiful, i like it?"
Kedua mata Sabrina langsung membelalak dan seketika berbinar saat melihat apa yang ada didepan mata, bahkan kedua kaki mereka menginjak karpet merah yang dipenuhi bunga mawar putih disekelilingnya, ditambah lilin-lilin kecil yang menerangi jalan sampai disebuah meja yang sudah tertata sangat indah dan mewah tentunya diujung sana.
Pada kenyataannya bahwa hidup akan terus berlanjut, tanpa memandang keadaanmu, yang pasti kamu harus melanjutkan kehidupanmu. Sedih, sakit, terluka, senang dan bahagia adalah teman perjalanan yang akan membawa hikmah selama hidupmu.
..." Semua manusia pernah patah. Bedanya ada yang patah, merunduk layu lalu mati. Ada yang patah berusaha bangkit, lalu terus hidup."...
__ADS_1