
...Happy Reading...
Tidak ada hubungan yang bertahan jika ketulusan dibalas kecurangan dan tidak ada kisah berbuah manis, jika kesetiaan dibalas dengan sebuah pengkhianatan.
Saat ini Lewis masih merasakan apa itu kerinduan yang mendalam, setelah hampir satu tahun lebih dia meninggalkan istri dan keluarga besarnya berlayar ke berbagai negara.
" Sayang... sebelum kesini tadi aku sudah menyiapkan kamar hotel terbaik sesuai keinginanmu saat tahun lalu." Ucap Lewis sambil membelai lembut pipi istrinya.
Setelah berhasil memberikan surprize kepada istrinya tadi, tanpa pikir panjang lagi Lewis langsung menarik lengan istrinya dan dia bawa pergi, tanpa perlu persiapan, karena dia sudah menyiapkan semuanya dari awal.
" Benarkah? kamu benar-benar selalu membuatku takjub mas, aku jadi makin sayang banget sama kamu deh, hehe.."
Farah langsung memeluk Lewis dengan erat, walau pikirannya tertuju kepada William yang entah pergi kemana saat ini.
" Tapi kamu kayak nggak seneng gitu lihat aku pulang? nggak se exited dulu lagi, kenapa sayang?"
" Masak sih yank, orang aku seneng banget gini kok, aku bahagia banget mas sudah pulang tauk, sudah lama banget aku nungguin kamu yank." Farah langsung berlagak manja seperti biasanya, agar kebusukannya tidak tercium saat ini.
" Maaf ya sayang, kamu kangen ya?"
" Banget yank." Farah kembali menempelkan tubuhnya dengan manja.
" Mata kamu kok sembab gini, kayak kurang tidur? kamu bergadang ya tadi malam?" Lewis mengamati setiap detail wajah cantik istrinya.
" Eh... enggak juga, cuma ada syuting iklan sampai malam, jadi memang kurang tidur mas, hehe..." Jawab Farah sambil tersenyum dengan genitnya.
Padahal dia hanya berbohong, memang dia tidak bisa tidur semalaman, tapi bukan karena syuting iklan, tapi karena sedang syuting drama pertengkaran dengan William secara live dan real.
Flash back
" Bebih... kamu mau kemana?" Farah mencegah William yang ingin mengejar Gemintang pergi.
" Aku harus mengejar istriku, aku tidak mau berpisah dengannya." William ingin kembali berjalan keluar, namun lagi-lagi Farah mampu mengendalikan dirinya.
" Bebih... kalaupun kamu berpisah dengan dia, aku pun rela menggantikan dia untukmu sayang."
" Enak saja kamu ini, kamu kan juga sudah punya suami, mau main dua kamu!" Apapun yang terjadi William tetep kekeh ingin mempertahankan Gemintang disisinya.
" Beb... kalau kamu memang mau aku berpisah dengan suamiku, aku akan melepas mas Lewis demi kamu!" Farah pun tidak mau ditinggalkan William begitu saja."
" Aku tetap mau mencari Gemintang, awas kamu!" Didalam hatinya, sesungguhnya nama Gemintanglah yang merajai, Farah dihidupnya hanya sebagai pel@mpi@san hasr@tnya yang kadang menggila, karena takut kalau Gemintang sakit karena tidak kuat jika harus melayaninya.
" Beb... jangan begini dong, aku sudah terlanjur sayang sama kamu, aku nggak mau jauh dari kamu." Farah langsung memelvk William dari belakang dengan erat."
" Lepas Farah... tapi aku tetap tidak bisa berpisah dengan Gemintang, aku juga mencintainya!" William tetap mencoba melepaskan diri dari pelukan Farah.
" Beb... lalu apa artinya kita selama ini? aku selalu memenuhi kebutuhan batin kamu yang tidak cukup diberikan oleh istrimu itu, kapanpun kamu mau, trus apa kamu mau meninggalkan aku begitu saja sekarang?" Farah akhirnya mengeluarkan unek-uneknya, karena baginya berhubungan dengan William juga menjadi candu baginya, karena selama dimenikah dengan Lewis tidak mendapatkan semua itu darinya.
" Aku... aku hanya ingin mencari Gemintang saja mbak." William langsung menurunkan intonasi suaranya.
" Tapi aku tidak ingin kamu pergi bebih!" Entah mengapa malam ini Farah merasa takut ditinggalkan.
" Aku tetap harus pergi mbak."
" Bebih, jangan pergi sayang."
" Maaf... aku tetap harus pergi."
" Okey... sekarang begini saja, kamu mau pilih dia atau aku!" Farah langsung memberikan sebuah pilihan.
" Mbak, aku tidak bisa memilih sekarang!"
" Aku mau kamu pilih salah satu diantara kami sekarang juga!" Farah tetap ngotot juga.
Namun William tetap diam saja, dia tidak bisa berfikir dengan jernih kali ini, karena didalam pikirannya dia tidak ingin kehilangan Gemintang disisinya, apalagi Gemintang sempat membahas Pengadilan agama tadi, tapi juga ragu kalau mau melepas Farah sekarang.
__ADS_1
" Bebih... jangan pergi, please." Rengek Farah kembali sambil memohon.
William sebenarnya tidak tega, namun kakinya terus saja melangkah keluar dari rumah itu.
" William... sayang... jangan pergi!"
" Bebih... tolong jangan tinggalkan aku!" Farah sampai menarik lengan William karena dia tetap diam saja.
Saat pegangan tangannya terlepas, Farah berganti menarik kaki William disana, bahkan sampai terseret dilantai, karena William tetap teguh dengan pendiriannya, kaki jenjangnya terus melangkah keluar tanpa memperdulikan rengekan Farah dibawah sana.
" Aaaaaaaa... William, aku benci kamu!"
Teriak Farah saat William mengibaskan tubuhnya dan memilih berlari keluar mengambil mobil dan segera mencari keberadaan Gemintang.
" Tapi aku tetap mencintai kamu bebih, aku tidak bisa hidup tanpamu sekarang, hiks.. hiks.."
" Sampai kapanpun, kamu akan tetap menjadi milikku William, hanya milikku."
Farah terduduk bersimpuh dilantai yang dingin dengan dibanjiri oleh air mata dan satu misi untuk tetap mempertahankan William apapun yang terjadi nanti.
Flashback off
" Kalau begitu aku akan mengobati rasa rindumu selama aku pergi sayang." Lewis langsung menarik istrinya kedalam dekapan hangatnya.
" Hmm.." Farah langsung menggangukkan kepalanya, kalau soal masalah kepvas@n ranj@ng dia memang jagonya.
" Aku kangen banget yank."
Lewis yang selalu menjaga pandangannya dan menjaga semua h@sr@t dirinya sebagai lelaki saat sedang berlayar, seolah ingin menumpahkan segala kerinduannya hari ini dengan yang sah untuknya.
Sebuah kecvpan hangat di kening Farah mengawali pemanasan hari ini, sinar matahari yang terik tidak menghalangi mereka, karena kamar hotel yang Lewis pesan sungguh istimewa dan berkelas pastinya, ditambah dengan semua fasilitas yang elit tentunya.
" Mas... aku... aku..."
" Kenapa sayang, kamu tidak sedang datang bulan kan?"
Lewis tidak menghentikan aksinya, dia terus saja menelusuri bagian-bagian penting dari diri istrinya yang selalu membuatnya dirinya melayang ke nirwana.
" Emh... tidak mas, tapi tahan dulu sebentar ya."
Farah sudah menger@ng kecil saat bibiir Lewis sudah bermain-main di sumber air milik istrinya.
" Nggak mau... mas rindu sayang."
Lewis sudah seperti orang keset@nan, setelah puas disana, dia merosot turun kebawah dan semakin membuat Farah kelabakan merasakan sensasinya.
" Mas.. aku ke kamar mandi dulu, aku sudah keb€let ini, dari tadi nahan." Farah langsung menjauhkan kepala suaminya yang ingin bergerily@ di area itu.
" Ckk... ya sudah, buruan!"
Lewis membanting tubuhnya diatas kasur mewah itu, karena keinginannya yang sudah sampai diubun-ubun harus tertahan sementara.
Ting!
Tiba-tiba ada notif pesan yang terdengar dari ponsel Farah, tanpa rasa curiga Lewis iseng-iseng mengambilnya sambil menunggu istrinya selesai dari kamar mandi pikirnya.
1 Message from Tukang Galon
Maaf, aku tetap tidak bisa melepasnya, sementara aku ingin sendiri dulu, jangan mencariku..
" Kenapa dengan si tukang galon ini? melepas apa? tutup galon gitu? atau melepas tabung itu dari dispenser?" Lewis heran sendiri saat membacanya sekilas.
" Eh... tumben sekarang dikunci layar ponselnya, ya sudahlah, cuma pesan dari tukang galon saja kok." Dia ingin membuka chat keseluruhannya, namun terkunci layarnya.
" Tapi ngapain juga harus menyendiri dulu si tukang galon tadi? baru dapat rejeki nomplok apa gimana, trus nggak boleh nyariin dia buat mesen dan pasangin galon gitu? sombong amat dia, dari toko mana lah ini." Lewis melempar ponsel istrinya diujung kasur begitu saja, sambil mengumpat habis si tukan galon tadi.
__ADS_1
" Sayang... maaf lama ya."
" Enggak kok sayang, sini buruan! owh iya... galon dirumah habis ya?" Tanya Lewis seketika.
" Emm... kurang tahu deh yank, emang kenapa?" Tanya Farah sambil duduk dipangkuan suaminya.
" Itu tadi diponselmu ada pesan dari tukang galon." Ucap Lewis yang melihat teks pesan itu dilayar awal tanpa bisa membuka aplikasi pesannya.
Degh!
" Apa katanya yank, mana tadi ponselku?" Raut wajah Farah langsung berubah, seketika dia langsung melompat mencari ponselnya.
" Itu ada diujung kasur." Jawab Lewis dengan raut wajah keheranan.
" Owh.. iya, tadi aku lupa kalau pesen galon, si bibik nggak kuat ngangkat sendiri kali, hehe... owh iya sayang... emm... gimana kalau setelah ini kita pindah rumah, aku pengen banget yank punya rumah sendiri." Farah langsung mengalihkan topik mereka.
" Heh? kenapa tiba-tiba, dulu mas pengen pindah tapi kamu nggak mau?"
" Kalau aku pikir-pikir, sepertinya lebih nyaman kalau kita punya rumah sendiri deh, pengen gitu bisa dekor ruangan sesuai keinginanku, kalau sekarang bukannya aku tidak suka tinggal dirumah kita, tapi aku segan kalau ingin mendekor atau mau menata dengan gayaku, takut kalau Gemintang tidak menyukainya, jadi biar kita juga bisa lebih leluasa saat berdua gitu, gimana sayang?" Farah mencari-cari alasan yang masuk akal, padahal dia cuma mau menghindari Gemintang saja.
" Okey, tapi tidak sekarang ya yank, aku lama kok pulangnya kali ini, jadi kita bisa nyari sambil jalan-jalan nanti."
" Tapi aku maunya setelah kita pulang dari sini, kita sudah langsung pindah yank, kalau belum dapat kita bisa cari apartement aja dulu, aku punya banyak rekomendasi tempat yang bagus kok."
Tumben dia ngebet banget, dulu katanya takut tinggal sendirian dirumahlah atau apalah, banyak alasannya, kenapa sekarang jadi beda?
" Kenapa sih yank, kamu berantem sama Gemintang?" Tanya Lewis yang menduga-duga.
" Enggak kok, aku cuma pengen kita berdua bisa lebih privasi, biar lebih intens gitu."
" Tapi kamu nggak biasanya seperti ini." Lewis malah jadi curiga karenanya.
" Apa sih yank, jangan mikir yang aneh-aneh deh, aku cuma mau berduaan terus sama kamu tanpa ada orang lain sayang."
Farah langsung mengeluarkan serangan mautnya, agar Lewis tidak banyak bertanya tentang hal itu. Dia langsung mendorong tubuh suaminya dan segera meng€ks€kusi, bahkan tanpa memberi jeda, Farah langsung menjadi pemimpin permainan siang yang penuh dengan g€lor@ asm@r@ yang membar@ darinya.
" ○ugh yank.. kamu memang selalu luar biasa, semakin hari kamu semakin lihai dalam segala hal." Bahkan Lewis langsung mer€m melek seperti biasa karena kreasi dari tangan dan bibiir Farah.
" Tentu dong bebih."
Eh.. sejak kapan dia manggil aku bebih? dan tadi itu... hmm, bibi nggak kuat ngangkat galon?"
" Sayang... kok melamun sih, kamu kurang menikmati ya? apa tempoku kurang cepat?" Farah menangkupkan kedua tangannya ke wajah suaminya, saat Lewis sedang memikirkan ucapan istrinya sedari tadi.
" Owh... aku sedang menikmatinya kok sayang, hehe..."
Namun entah mengapa mulutnya tidak sejalan dengan hatinya, dia sama sekali tidak menikmati, malah pikirannya bercabang kemana-mana.
Ehh... kenapa Farah tadi bilang bibi nggak kuat? emang sejak kapan dispenser dirumah diganti, bukannya biasanya cuma tinggal pasang tanpa harus diangkat?
" Sayang... ada yang kamu sembunyikan ya dari aku?" Lewis menatap tajam kedua mata istrinya, namun Farah langsung memalingkan wajahnya sambil berkilah.
" Apa sih yank... nggak ada, sudahlah, konsentrasi dong sayang, biar nanti kita bisa sampai di puncak bareng-bareng, hmpth!"
Farah yang mulai ketakutan langsung menghent@kkan tubuhnya lebih keras lagi dan memacvnya lebih cepat.
Gemintang?
" Sayang maaf, aku juga mau ke kamar mandi sebentar!" Entah mengapa tiba-tiba ada yang membuat Lewis merasa janggal dengan sikap istrinya.
" @rgh yank, kenapa kamu pergi begitu saja, sebentar lagi aku sudah selesai nih, aish!" Farah langsung melempar bantal disampingnya kesembarang arah karena merasa kesal, saat Lewis mencabut pedang pusakanya begitu saja dan segera mengambil ponsel kemudian langsung masuk ke dalam kamar mandi tanpa memperdulikan rengekan dari istrinya.
..."Jangan pernah mencoba untuk mengecewakan seseorang yang sudah banyak berkorban untukmu....
...Karena jika Ia sudah kecewa karena dikhianati, maka jangan pernah berharap kamu akan menemukan orang yang sama seperti Dia."...
__ADS_1