
...Happy Reading...
Rasa lelah bercampur dengan rasa bersalah membuat kepenatan didiri Gemintang seakan menumpuk menjadi satu seperti gunung, apalagi setelah melihat api kemarahan Chris yang terpancar dari wajahnya tadi masih terekam dengan sempurna di mindanya.
Dari sudut hatinya yang paling dalam, Gemintang bisa memaklumi ketika Chris semarah itu, namun entah mengapa dia seolah kecewa ketika Chris tidak mau mendengarkan penjelasannya lebih rinci tentang semua itu.
Padahal dia ingin menjelaskan semua permasalahannya malam ini sampai clear, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa, tidak mungkin dia merengek di tempat umum juga, dan tidak elok jika harus mengemis-ngemis waktu dengan seorang pria hanya karena ingin menjelaskan permasalahannya sendiri.
" Sudahlah... jangan terlalu dipikirkan, apa jangan-jangan kamu juga menaruh rasa dengannya?" Tanya Sabrina sambil mengunyah kacang rebus dibawah pohon rindang, didekat sebuah alun-alun kota, karena sedari tadi Sabrina merengek untuk sekedar mengisi perutnya yang memang kosong belum terisi apa-apa.
" Ckk... kenapa arah pikiranmu selalu kesitu saja, aku sekarang masih dalam fase trauma dan jera asal kamu tahu." Jawab Gemintang yang langsung membuang arah pandangannya lurus kedepan.
" Tapi tidak semua pria dimuka bumi ini sama seperti suamimu itu, jangan sampai hidupmu terpuruk hanya karena satu pria, bertahanlah sebentar lagi, kita akan menyelesaikan semuanya." Sabrina mengenggam erat jemari sahabatnya, untuk sekedar memberikan sedikit kekuatan.
" Yang aku takutkan iyalah, disaat aku nanti membuka hati lagi, pada akhirnya aku kecewa dan terluka lagi." Gemintang seolah sudah prustasi dengan yang namanya lelaki.
" Iya juga sih, aku pun tidak bisa menjamin tentang itu semua."
Karena Sabrina juga tidak punya pengalaman yang banyak soal percintaan, karena selama ini bekerja dan mencari uanglah prioritas utamanya.
" Itulah... sebab tidak semua orang paham tentang sulitnya jatuh cinta kembali setelah patah hati yang hebat." Gemintang kembali menghela nafas kasarnya.
" Kok gue jadi ngeri ya mau jatuh cinta lagi?" Sabrina mengusap lengannya yang malah tiba-tiba jadi merinding.
" Nggak usahlah, jomblo saja sampai tua, biar tidak merasakan terluka karena putus cinta." Ucap Gemintang yang terlihat terluka begitu dalam.
" Tapi Jomblo juga berat Tsay!" Sabrina langsung menyenggol lengan sahabatnya itu.
" Yaelah...gimana sih luu!" Umpat Gemintang yang langsung mendengus kesal.
" Aku kan juga ingin merasakan disayangi, dimanja-manja, diajak kencan berduaan dengan mesra, it's my dream maszeh!" Gerutu Sabrina sambil mengunyah kasar kacang rebus di mulutnya.
" Aish... otw janda gue sob, kalau begitu hidup Janda!" Teriak Gemintang sambil mengangkat satu tangannya ke udara.
" Dasar wong edan, jadi janda kok malah bangga, apa kamu siap untuk menikmatinya, ditengah gencaran cibiran emak-emak netizen di area komplekmu?" Ledek Sabrina yang langsung menaikkan kedua alisnya.
" Huft... gimana ya, menikmati rasa pahit lebih baik, daripada menghayal rasa manis yang tak pernah terwujud kan sob?" Kata bijak dari Gemintang tiba-tiba muncul disana.
" Berat banget perkataan elu dah!" Sabrina sampai menggelengkan kepalanya.
" Bagaimana nasipku setelah ini ya Na, aku merasa menjadi wanita paling gagal diseluruh dunia." Gemintang langsung mulai menyadari semua kekurangan yang ada pada dirinya.
__ADS_1
" Nggak boleh gitu, itu namanya kamu menjadi salah satu orang yang nggak pandai bersyukur, it's okey to be imperfect Gem." Sabrina tidak suka sahabatnya terlihat lemah seperti itu.
" Mungkin aku yang keliru dalam mengambil sebuah keputusan di hidupku."
Hawa dingin di sekitar alun-alun itu terasa menyapu seluruh tubuhnya, bukan hanya di luar saja, namun hati Gemintang pun seolah kedinginan dan mulai membeku.
" Kamu berhak melakukan kesalahan, keliru dalam mengambil keputusan, tersesat dalam perjalanan, atau bahkan jatuh dalam pijakan, yang perlu kamu lakukan hanyalah bangun dan melanjutkan perjuangan Gem, kamu pasti bisa, right?" Sabrina mencoba tersenyum walau hatinya pun ikut sakit melihat sahabatnya down seperti ini.
" Bagaimana jika aku masih merasa terpuruk Na, aku juga wanita biasa bukannya wonder women?" Gemintang menyandarkan kepalanya di bahu Sabrina dengan lesu.
" It's okey, take your times, pulihkan dirimu sampai tidak ada sesuatu yang bisa menjatuhkanmu lagi kawan." Sabrina mengusap rambut sahabatnya, seolah kesedihan itu dapat dia rasakan juga.
" Thanks Na, aku tak tahu akan jadi seperti apa tanpa kamu disisiku, terima kasih karena selalu menemaniku disetiap langkah-langkah sepiku." Gemintang mengeratkan pelukan dipinggang Sabrina.
" Itu gunanya kawan Gem, harus bisa saling menyemangati, jangan pernah merasa sendiri karena aku akan selalu bersamamu dan juga masih ada Alloh yang senantiasa bersama kita, okey?"
Hanya itu yang bisa Sabrina berikan kepada Gemintang untuk membalas budinya yang selalu membantu dirinya diam-diam dalam hal materi.
Bahkan dulu pernah saat dia kelimpungan ingin membayar biaya kuliah yang nunggak beberapa semester, sampai dia malu berangkat ke kampus takut ditagih oleh pihak kampus, tiba-tiba dapat pemberitahuan bahwa semua kekurangannya sudah dilunasi bahkan untuk beberapa semester kedepan, dan itu pun Gemintang tidak mau mengaku kalau dia yang membayarnya. Padahal sudah jelas-jelas ada bukti pembayaran atas nama Gemintang disana.
" Eh... sebentar, ada panggilan masuk!" Sabrina langsung menggeser layar ponselnya untuk menjawab.
" Ada apa Na? apa yang terjadi?" Gemintang langsung menatap wajah sahabatnya dengan penuh tanya.
" Ayah terpeleset dari kamar mandi, dan mengalami gejala stroke, maaf ya Gem... aku harus pulang kampung dulu." Sabrina langsung beranjak berdiri, pikirannya langsung tertuju ke ayahnya.
" Aku antar ya?" Gemintang pun ikut khawatir jadinya.
" Nggak usah, suasana hatimu juga sedang tidak baik-baik saja, biar aku naik bis malam saja." Sabrina lebih takut jika Gemintang yang mengantarnya sendiri malam ini.
" Tapi aku ingin mengantarmu Na, aku juga pengen melihat keadaan ayah kamu." Gemintang sudah beberapa kali ikut pulang kampung halaman sahabatnya itu, dan dia juga sudah mengenal baik orang tua Sabrina.
" Lain kali kamu bisa kesana, kamu juga belum istirahat sekarang, kampungku jauh, aku takut kamu kenapa-kenapa nanti dijalan, antarkan saja aku ke Terminal bis sekarang ya?" Sabrina langsung mengambil jalan tengah saja saat temannya sudah ngotot seperti itu.
" Okey... biar aku belikan online tiket bis nya ya." Gemintang langsung mengambil ponselnya dan membelikan Sabrina tiket VIP agar lebih nyaman di bis nanti.
" Makasih ya Gem." Sabrina pun bersyukur punya sahabat sebaik Gemintang yang selalu tahu apa yang dia butuhkan tanpa harus memintanya terlebih dahulu.
" Sama-sama, cepat naik ke mobil, jangan lupa sampaikan salamku kepada orang tuamu, besok aku akan kesana dengan sopir." Mereka berdua langsung bergegas masuk kedalam mobil.
" Kamu yang kuat ya disini, jangan sampai jadi wanita lemah, dan jangan sampai mengecewakanku, okey?"
__ADS_1
Sabrina pun sebenarnya tidak mau meninggalkan Gemintang disaat seperti ini sendiri, apalagi masalahnya belum selesai namun orang tuanya kini lebih membutuhkan dia, apalagi ibunya, pasti hanya bisa menangis saja kalau ayahnya sakit seperti ini.
" Iya."
Semoga aku bisa Na..
Setelah Gemintang memastikan Sabrina sudah naik bis, dia segera kembali pulang, karena malam sudah larut, dia takut William mencarinya dan membuat keributan malam-malam, tubuhnya sudah terasa lelah jika harus meladeni kegilaan suami nantinya.
" Kenapa sepi sekali?" Gemintang berjalan lunglai memasuki rumah mewahnya.
" Masih jam sembilan malam, apa mas William sedang lembur ya?"
Dia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut lantai bawah, namun tidak ada jejak orang disana, bahkan asisten rumah tangganya pun tidak terlihat disana.
" Aku mandi berendam saja dulu deh, badan aku pegel semua, ehh... tapi aku haus, susu hangat enak nih kayaknya."
Gemintang akhirnya memilih pergi ke dapur saja dulu, tenggorokannya terasa kering, tubuhnya pun terasa dingin, dan susu hangat memang solusi terbaik menurutnya, namun saat melewati kamar kakak iparnya dia mendengar ada suara tawa cekikikan disana walau samar-samar.
" Apa bang Lewis sudah pulang ya?" Entah mengapa Gemintang merasa penasaran kali ini, dia sengaja menempelkan telinga di lubang daun pintu kamar kakak iparnya, agar bisa lebih jelas mendengar suara didalamnya.
Degh!
Astagfirulloh... itu suara mas William, huh... aku sudah tidak tahan lagi sekarang!
Gemintang langsung memantapkan tekadnya, dia sudah tidak perduli dengan apapun lagi kali ini, hatinya sudah terlalu sakit menahannya selama ini, dia ingin terlepas dari semua beban ini.
Dugh!
Asial... pintunya di kunci!
" Bang Lewis, apa abang sudah pulang?" Teriak Gemintang sambil menggedor pintu itu, mau pergi juga percuma, karena dia sudah menggerakkan daun pintunya tadi, mereka pasti sudah mengetahuinya.
" Sayang... kamu sudah pulang?" Tak berapa lama pintu itu langsung terbuka, muncullah suaminya dari dalam sana dengan wajah panik.
" APA YANG SEDANG KAMU LAKUKAN MAS!"
Sebisa mungkin Gemintang menahan amarah dan tangisannya, walau matanya sudah memerah padam, hidungnya pun seolah sudah tersumbat dengan gumpalan penderitaan dan tangan juga kakinya pun sudah gemetaran.
Walau bukan kali pertama dia memergokinya, namun saat kondisinya sedang terpuruk seperti ini membuat dirinya begitu lemah tak berdaya.
..."Sabar, kuat, gapapa, bertahan ya, jangan dipikirin, pasti ada yang terbaik. Rasanya walaupun maksain ke diri sendiri buat selalu nggak pernah kelihatan lemah, tapi sebenarnya diri sendiri itu butuh waktu untuk menangis, mengeluh dan tempat untuk bersandar."...
__ADS_1