
...Happy Reading...
Rutinitas baru pagi ini bagi Gemintang, selama Peter masih cuti agar menjadi asisten pribadinya, atau lebih tepatnya Chris sendiri yang menyuruh Peter untuk mengambil cuti, agar lebih punya banyak waktu untuk dihabiskan bersama keluarga barunya dan Chris sendiri bisa berduaan dengan Gemintang dalam waktu yang lama.
Bekerja dengan senantiasa bisa memandang wajah pujaan hati, bukannya itu adalah nikmat tersendiri bagi seorang pria yang sedang gencar-gencarnya PDKT dengan seorang wanita seperti Chris sekarang ini, walau masih milik orang lain, namun setidaknya dia punya banyak harapan, karena surat gugatan cerai sudah melayang ditempat suaminya.
" Mas... nanti aku mau ke kantorku ya, tadi ada pesan, aku disuruh ke kantor untuk tanda tangan berkas."
Gemintang sungguh-sungguh melakukan tugasnya sebagai asisten Chris dengan totalitas, bahkan dia yang membawa mobilnya, Chris tinggal duduk disampingnya sambil memangku Laptop kerjanya.
" Emang tanda tangan kamu sudah laku sekarang?" Ledek Chris dengan mata tak beralih dari layar laptopnya, karena sedang melihat berkas yang dikirim oleh Peter dari rumah.
" Dih... sembarangan aja kalau ngomong, dari dulu juga masih laku kali, sekarang aku dan bang Lewis sedang gencar-gencarnya belajar mengelola perusahaan, walau sebenarnya malas, tapi kami tidak akan membiarkan aset dan perusahaan peninggalan almarhum orang tuaku jatuh ke tangan orang lain." Jawab Gemintang dengan mantap.
" Jam berapa?"
" Sebelum makan siang."
" Aku ikut kalau begitu."
" Hah? ngapain sih mas, nggak usah deh, nanti malah banyak yang curiga lagi, dikira kita ada hubungan apa-apa lagi." Gemintang langsung saja menolaknya.
" Emang ada kan?" Chris meliriknya sekilas dan kembali fokus dengan laptopnya.
Astaga... kenapa dia maunya nempel mulu sih? apa coba kata karyawan-karyawanku nanti?
" Tapi kan hubungan bisnis doang, pokoknya nggak usah deh, kalau sampai mas William lihat, nanti proses perceraian aku jadi rumit."
" Bilang aja aku investor di perusahaanmu."
" Masak investor datang satu mobil barengan sih, mana percaya orang?"
" Nanti kamu turun duluan aja, gitu aja kok ribet."
" Emang mau ngapain sih ikut? emang mas nggak ada kerjaan lain?"
" Loh... katanya mau belajar, bagus dong kalau aku tahu perusahaanmu langsung, jadi pembelajarannya bisa lebih tepat dan akurat."
" Nanti kalau karyawannya nanya mas dari perusahaan apa gimana, atau tiba-tiba mas William datang gitu?"
" Kamu ini sebenarnya cuma takut kalau aku bertemu dengan William kan?"
" Tau pun!"
" Santai saja, nanti aku urus kerjasama sungguhan dengan perusahaanmu, asalkan nanti kita makan siang bareng, bilang aja sambil ngobrol tentang kerja sama bisnis."
Wagilasih... segitu mudahnya menjalin kerja sama?
__ADS_1
" Jadi mas mau ikut itu cuma karena mau makan siang bareng gitu?"
Hu um...
" Dih... percaya diri sekali kamu, aku cuma kasihan saja kalau kamu makan sendirian, nanti nggak doyan makan, kayak orang hilang juga pastinya!"
Padahal karena memang Chris maunya nempel terus, agar tidak ada celah bagi orang lain untuk berdekatan dengannya, Chris ingin hanya dia seorang yang selalu ada disamping Gemintang dan mendampinginya sampai Sah.
" Aku bukan anak kecil mas, kalau lapar pasti aku juga makan."
" Kalau nggak boleh ya nggak akan aku izinkan, kamu tetap harus menemaniku di perusahaanku, bagaimana?" Selalu ada alasan bagi Chris untuk itu semua.
" Ckk... ya sudahlah, terserah mas saja, tapi jaga jarak denganku ya mas, aku tidak mau ada gosip ngawur nantinya." Hanya mengalah yang dia bisa, karena berdebat pun percuma.
" Emang siapa juga yang mau nempelin kamu, kayak nggak ada kerjaan aja!"
Bukan Chris kalau harus kalah adu gengsi seperti ini, walau sikapnya saat ini memang sudah terlihat sangat jelas, bahwa dia menaruh perhatian lebih kepada Gemintang.
Gemintang pun menyadarinya, namun dia pura-pura tidak tahu saja, agar semua urusannya bisa selesai sesuai rencana, karena saat ini, untuk masalah percintaan memang sengaja dia kesampingkan terlebih dahulu dan tidak terlalu ambil pusing, karena statusnya juga masih istri orang sekarang.
Akhirnya satu jam sebelum makan siangpun telah tiba, Gemintang dan Chris kembali masuk kedalam mobilnya menuju ke perusahaan milik Gemintang.
Saat Gemintang sampai terlebih dulu kedalam ruangannya, salah satu stafnya berjalan tergopoh-gopoh mendekatinya.
" Maaf Bu Gemintang, ada yang perlu saya bicarakan." Ucapnya dengan terburu-buru.
" Ibu Farah datang, trus marah-marah bu, sudah saya tenangkan, tapi tidak bisa buk, katanya dia tidak terima karena semua fasilitas dan berbagai endorse yang sudah dia tanda tangani, dan semua kontrak yang berhubungan dengannya dibatalkan semua begitu saja."
Mampus dia sekarang, siapa suruh main-main sama keluarga gue!
" Dimana dia sekarang?" Gemintang langsung berdiri dengan semangat, sudah lama dia tidak bermain-main dengan orang.
" Di ruangan kepala bagian personalia buk, dia masih marah-marah, karena merasa tidak terima." Jawab Staf itu yang masih terlihat panik.
" Kita kesana sekarang, huhuy... andai ada Sabrina disini, pasti lebih seru, sayang dia masih cuti." Sudah lama dia menantikan saat-saat kehancuran seorang Farah Amelia, model terkenal yang akan jatuh dan turun drastis menjadi model jalanan.
" Mari bu, sebelum dia mengacaukan seisi perusahaan ini." Staf itu semakin mempercepat langkahnya.
" Coba saja kalau berani, aku kacaukan hidupnya sekalian."
Gemintang berjalan dengan tenang, tanpa rasa takut apalagi bimbang dan ragu karena memang itu ulahnya dan sudah dia duga, suatu saat Farah pasti akan datang untuk mengamuk, dan ternyata ini lah saatnya.
Benar saja, bahkan ada beberapa karyawan yang dimaki habis-habisan oleh Farah, suaranya bahkan terdengar sampai luar ruangan.
" Aish... suaranya sudah mirip sama singa betina yang lagi ngamuk ya pak?" Ucap Gemintang dengan senyum miring.
" Dari tadi itu buk." Jawab Staf itu dengan menggebu-gebu, karena dia bingung mau melapor sama siapa, sedangkan William sudah tidak pernah lagi datang ke kantor, sejak Lewis mengusirnya dari rumah.
__ADS_1
" Heran aku, apa nggak capek koar-koar jam segini?" Sepanjang perjalanan menuju ruangan personalia itu, Gemintang asyik mengumpat Farah saja.
" Mungkin sudah sarapan kali buk?" Staf itupun selalu saja menanggapi umpatan Gemintang dengan semangat.
" Bisa jadi, sepertinya tadi dia sarapan sambel mercon, makanya suaranya bisa menggelegar seperti petasan."
" Hihihi... bu Gemintang bisa aja." Staf itupun malah tertawa cekikikan saat mendengar banyolan Gemintang.
" Mau kemana Gem?" Chris yang baru saja masuk langsung terheran melihat Gemintang yang seolah berjalan semangat empat lima.
" Eh... bapak Chris yang terhormat, silahkan tunggu diruangan saya sebentar ya pak, ruangannya ada diujung sebelah sana."
Ngomong apa sih dia? kenapa panggil pak lagi?
" Ibu Gemintang Lea Prakoso, saya tanya sekali lagi, anda mau pergi kemana?" Chris tidak mau kalah untuk memanggilnya secara formal.
" Hehe... mau main game sebentar." Bisik Gemintang, saat stafnya berjalan duluan.
" Game?" Chris menaikkan kedua alisnya.
" Hmm... atau bisa dibilang sebuah pertunjukan sih."
" Ikuut!" Ucap Chris degan cepat.
Selama mengenal Gemintang lebih dekat, dia seolah melihat dunia baru dari seorang wanita, yang menurutnya tidak monoton seperti gadis-gadis lainnya, yang dia kenal sebagai rekan bisnis.
" Ckk... kemana-mana maunya ikut mulu, kalau ke Toilet mau ikut skalian nggak?"
" Boleh, dengan senang hati."
Astaga, bujang yang satu ini?
" Ya sudah, tapi jadi penonton saja ya, nggak usah komentar nanti."
" Okey, nevermind." Chris berjalan mengikuti langkah Gemintang dengan penasaran, seperti apa pertunjukan yang akan dia lihat dari seorang Gemintang.
" It's show time... yuhuuy!"
Gemintang langsung kembali meneruskan perjalanannya untuk menemui Farah, dia sudah tidak sabar, ingin melihat kehancuran dari seorang Farah, perusak rumah tangganya dan juga rumah tangga abangnya sekaligus.
Kehidupan itu cuma dua hari, satu hari berpihak kepadamu dan satu hari melawanmu.
Maka pada saat ia berpihak kepadamu, jangan bangga dan gegabah.
Dan pada saat dia melawanmu, bersabarlah, karena keduanya adalah ujian bagimu.
TO BE CONTINUE...
__ADS_1