
...Happy Reading...
Dengan anggunnya Sabrina berjalan melewati tubuh Peter yang masih melongo karena merasa tidak percaya.
" Abang Lewis sudah datang ya? abang udah sarapan pagi belum tadi?"
Peter bahkan sampai menoleh seratus delapan puluh derajat ke arah Sabrina, namun Sabrina sama sekali tidak menolehnya, jangan kan menoleh melirik pun dia tidak mau.
" Lah... ini gimana ceritanya?"
Gemintang pun sama dengan Peter, dia ikut melongo, dia fikir tadi akan ada pertunjukan seru, ternyata zonk, karena melihat ada abang Lewis yang sedang berbicara dengan stafnya dibelakang sana.
" Nana... hei... sayang?"
Siaaall... aku yang mau kenakan dia, malah aku sendiri yang kena!
Peter langsung berkacak pinggang sambil menggerutu dengan kesal, bahkan merasa malu sendiri, tingkat kepercayaan dirinya yang tadi melambung tinggi, tiba-tiba bagai balon udara yang meletus di Angkasa, jatuh berderai tak bersisa.
" Pffttthhh..." Sabrina bahkan menahan senyumannya saat melihat wajah bingung dari Peter tadi.
" Hei.. ada Sabrina? abang belum sempat sarapan sih tadi, mau sarapan bareng sama abang nggak?" Tanya Lewis dengan full senyum.
" Ya mau dong bang, kita ke Pantri yuk? aku bawa nasi goreng spesial tadi, kita makan berdua mauk?" Sabrina semakin membumbui kisahnya pagi ini.
" Mau dong, masakan kamu kan memang paling mantap, pedes nggak?" Tanya Lewis dengan semangat.
" Jelas pedes dong bang, pedesnya nampol kayak omongan mantan, pokonya pasti sesuai dengan selera kita, hehe..."
" Tunggu... woi... aku ikut sarapan bareng kalian!" Teriak Gemintang seketika.
Dan saat melewati tubuh Peter yang masih mematung di tempat kayak patung Pancoran itu, Gemintang berhenti sejenak dan berbisik dengannya.
" Heh... Sumarno, kalau kamu tidak bertindak dengan cepat, istri sirimu itu pasti akan berpaling dengan abangku tersayang, aku jamin itu."
" Cih... tidak akan!" Peter langsung melengos kesal.
" Dih... kok nggak percaya, makanya jadi cowok yang Gentle dong, jangan lembek kayak marshmelow, haha syukurin luu!" Ejek Gemintang sambil menjulurkan lidah kearahnya.
" Ckk... hei Sumarni, awas kau ya!" Peter tidak terima, namun dia bisa apa.
Sedangkan staf HRD yang berbicara dengannya tadi pun seolah tersenyum mengejeknya dan memilih undur diri dalam diam.
__ADS_1
" Ya sudahlah, jika kamu tidak bisa mengambil HATInya, setidaknya ambil saja HIKMAHnya, hehe... bye Sum!" Gemintang langsung berjalan lenggak-lenggok meninggalkan Peter yang sudah melotot kesal karenanya.
Aish... kenapa susah sekali menakhlukkan hati wanita yang satu itu!
Peter semakin kesal dibuatnya, sudah rencananya gagal, ditambah lagi dia sendiri yang seolah seperti cacing kepanasan. Niat hati bikin istrinya cemburu namun kenyataan yang ada malah dia sendiri yang jadi cemburu buta.
" Hei Na... tunggu dulu."
Gemintang langsung mendekati Sabrina dan menarik lengannya.
" Apa?" Tanya Sabrina dengan santainya.
" Bang... abang turun saja duluan, kami ke kamar mandi sebentar." Karena ingin berbicara sesuatu, dia menyuruh abangnya turun duluan.
" Okey, jangan lama-lama ya." Jawab Lewis yang tidak menaruh rasa curiga sama sekali.
" Apa sih Gem?" Tanya Sabrina, padahal dia sudah menduga pasti sahabatnya itu juga penasaran dengan aksinya tadi.
" Loe nggak jadi marah sama Peter tadi?" Gemintang langsung mulai menginterogasinya.
" Marahlah." Sabrina langsung bersidekap dalam menanggapinya.
" Trus kenapa kamu diam saja, hanya melewati dirinya tanpa berkata apa-apa tadi kan?" Jiwa keponya langsung muncul.
Tadi saat dia balik badan, tanpa sengaja Sabrina melihat Lewis datang dengan salah satu staf karyawannya, jadi dia sengaja 'ngeprak' suaminya itu, sebagai balasan karena sudah menghancurkan pintu kamar rumah kontrakannya.
" Na... sebenarnya kamu bisa nggak sih nerima Peter seperti itu, kayaknya dia sudah mulai luluh dan menyukaimu deh? kalau kamu memang tidak bisa membalas perasaannya, lebih baik kamu lepaskan saja dia, jangan menggantungnya seperti jemuran dong." Gemintang merasa kasihan juga sebenarnya.
" Kenapa?"
" Emang kamu nggak cemburu sama perempuan yang tadi?"
" Cih... dia mbak Nia, staf HRD kita, aku mengenalnya dengan baik."
" Tau... tapi kalau dia termakan omongan Peter gimana? trus suka sama Peter dan merebutnya darimu, hayow?" Gemintang seolah menakut-nakutinya.
" Mbak Nia itu sudah menikah, bahkan diperutnya itu sudah tumbuh janin enam minggu, jadi apa kamu pikir dia akan meninggalkan ayah dari janinnya dan memilih seseorang yang baru saja dia kenal? kok kayaknya nggak mungkin, karena aku tahu juga mbak Nia itu baik orangnya." Itu kenapa alasan dia santai saja sedari tadi.
" Owh ya?" Gemintang langsung kembali dibuat melongo oleh sahabagnya itu.
" Kenapa sih? apa kamu sudah mulai berani mengkhianatiku dan berpihak dengannya sekarang?"
__ADS_1
" Dih sory ya, sampai kapanpun aku tetap akan Kontra dengan yang namanya Sumarno itu! cuma ya... aku nggak mau aja, kalau nanti kamu jadi wanita yang keji dan mungkar, karena kamu hanya akan menyiksa batin dan perasaan suamimu itu, entar kalau kamu masuk Neraka, trus kamu sebut-sebut lagi nama gue, karena gue yang nyuruh Peter nikahin elu, kan ngeri juga bestie." Celoteh Gemintang dengan segala persepsinya.
" Cih... pikiranmu itu Gem, hmm... jika sesuatu sudah dimulai dengan kata 'Bismilah' jangan berhenti ditengah sebelum terucap kata 'Alhamdulilah'. Kenapa mundur hanya karena gerimis? bukankah kemarin sudah melewati badai? semakin kuat sabar kita, maka semakin Alloh siapkan bahagia lebih besar untuk kita."
" Mantep." Gemintang langsung mengacungkan kedua jempolnya.
" Bila kita lelah istirahat sebentar, sujud dan ruku' lah yang lebih lama, karena mungkin ada langit yang harus kita sapa."
" Cieeeeee... so, maknanya kamu juga sudah mulai menerima dia dihidupmu ya? atau jangan-jangan malah kamu juga sudah mulai mencintainya?" Gemintang sengaja menggoda Sabrina yang seolah mengungkapkan isi hatinya tanpa sengaja itu.
" Diamlah, ayo kita turun temani abangmu sarapan!" Jawab Sabrina yang langsung pura-pura memasang tampang datarnya.
" Tapi beneran Na? loe nggak nyesel kan nanti?"
" Tidak ada orang yang sempurna di dunia ini kan Gem, kenapa juga aku harus menolak orang seperti dia coba?"
" Sejak kapan?" Kedua alis Gemintang pun langsung terangkat karena terlalu penasaran.
" Hmm... mungkin sejak melihat dia yang mau menjabat tangan pak Naib, didepan kedua orang tuaku."
" Haish... berarti sejak pertama kali kalian resmi menikahlah ya, gilak... kok iso yo?" Gemintang seolah tidak percaya akan hal itu.
" Aku memang tidak mudah untuk menyukai seseorang, tapi siapapun dia yang mau berkorban demi keluargaku, jauh didalam lubuk hatiku, aku sangat menghargainya, dan tidak memungkinkan juga untuk aku bisa menyukainya bukan?"
" Apalagi kalau orangnya tampan dan kaya, siapa juga yang mau nolak ya kan?" Ledek Gemintang sambil menyenggol lengan Sabrina.
" Nah, itu tau! akhir-akhir ini aku hanya ingin melihat seberapa jauh pembuktian cintanya, itu saja!"
Sabrina bahkan mengedipkan satu matanya, dia memang masih meragukan tentang hal ini semua, karena selama ini dia juga tidak pernah menyadarinya. Namun perlahan-lahan hati dan pikirannya mulai terbuka, seiring kesungguhan Peter dalam mendekatinya.
" Bahahaha.. elu emang sahabat paling gilak Na, tapi gue sayang, hehe.." Sabrina mencubit gemas kedua pipi sahabatnya itu.
Alhamdulilah... aku ikut senang Sabrina, jika kamu bisa bahagia dengan kehadirannya, aku yakin ayahmu pun akan ikut tersenyum bahagia di Syurga.
Akhirnya mereka berdua berjalan berangkulan untuk turun ke Pantri, setidaknya Gemintang sudah lega kalau sepasang suami istri siri itu bisa saling menerima satu sama lain, walau masih belum ada yang berani saling terbuka.
Kita tak pernah tahu, hati mana yang mudah terluka, tapi kita tahu setiap ucapan harus kita jaga.
Jangan menurunkan mimpimu hanya untuk menyesuaikan dengan kenyataan, tapi tingkatkan keyakinanmu agar sesuai dengan tujuan.
Bermimpi seperti langit, bersabar seperti sosok Ibu, berjuang seperti sosok Ayah, berproses seperti Padi, perlahan tapi pasti.
__ADS_1
Jangan lupa loh ya, tinggalkan jejak kalian bestieš„°