Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
104. Dijual Murah


__ADS_3

...Happy Reading...


Lewis masih termangu melihat mantan istrinya bersama dengan tiga lelaki didalam ruangan. di sebuah gedung tua yang sudah mulai usang.


Dia disuruh melakukan hal-hal gila demi kepuasan pria bertampang preman itu, saat Farah terlihat lemah karena mungkin dia terpengaruh oleh minuman dari Neraka, pria itu tak segan-segan untuk menam parnya karena merasa tak puas hati.


Bugh!


" Bisa nggak yang kuat sedikit, jangan lembek kamu jadi wanita!"


Namun saat pria itu sampai menendang tubuh Farah hingga dia tersungkur di lantai, Lewis tanpa sengaja mendorong pintu itu.


" Heh... siapa kamu!" Teriak Pria itu yang langsung membetulkan celananya yang hampir melorot dan juga Torpedonya yang masih ingin bermain Cilubbaa bersama Farah.


Asiaaall... kenapa aku sampai mendorong pintunya?


Karena terlalu terkejut melihat orang yang pernah dia puja-puja sampai harus diperlakukan dengan kasar seperti itu, rasa iba dari diri Lewis langsung muncul seketika.


" Mas Lewis?"


Terlihat wajah Farah begitu memelas saat memandangnya, tatapan mata indah Farah yang dulu sempat membius diri Lewis, ditambah suara isakan yang mengingatkannya kepada kejadian awal mereka bertemu membuat Lewis berulang kali menghela nafas panjangnya.


" Siapa dia? apa kamu mengenalnya!"


Pria itu langsung menarik rambut Farah tanpa perasaan, agar pandangan Farah tertuju ke arahnya.


" Eherm... aku bukan siapa-siapanya."


Lewis berusaha bersikap santai saat kedua pengawal pria itu langsung bersiaga dan siap melaksanakan perintah dari big bosnya.


Dan jawaban itu berhasil membuat Farah semakin terisak dan hanya menundukkan pandangannya, ketika dia sudah tidak dianggap sama sekali oleh Lewis.


" Lalu apa urusanmu kemari? cepat pergi dari sini, sebelum nyawamu melayang karena tangan-tangan kekar pengawalku itu."


Bagaimana aku bisa menolongnya? tanpa harus terlihat aku masih perduli dengannya, aku sungguh tidak ingin berurusan lagi dengannya, namun aku juga tidak tega melihat dia diperlakukan seperti itu.


" Opsh... sory, aku cuma tidak sengaja lewat saja tadi, mau cari buah Mangga dibelakang gedung tua ini buat rujakan, tapi tadi kayak dengar suara orang didalam sini, aku kira ada hantu disini? pengen sekalian uji nyali... eh... ternyata ada kalian disini lagi ngumpul-ngumpul." Jawab Lewis pura-pura santai, padahal jantungnya juga sudah ser-seran.


" Jangan beralasan kamu, omong kosong saja!" Pria itu langsung tidak percaya, siapa yang mau rujakan malam-malam begini pikirnya.


Mampus... kalau mereka tidak percaya, bisa habis aku malam ini.


" Seriusan bos." Lewis mencoba meyakinkan walau terlihat ragu.


" Lalu kenapa perempuan ini mengenalmu!" Bahkan dia sengaja memperlihatkan otot-otot dilengannya agar terlihat menyeramkan.


" Owh... itu panjang ceritanya, dulu aku memang pernah mengenalnya dengan baik, dulu tapi ya, sekarang sih ogah." Lewis tidak memungkirinya, karena sempat terlintas satu ide untuk menolong mantan istrinya itu.


Jleb!


Perkataan Lewis memang terlihat biasa saja, tapi bagi Farah itu terdengar sungguh-sungguh menusuk tepat di ulu hati Farah, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain hanya menangis dan meratapi nasipnya yang sial.


" Baiknya kau segera lenyap dari pandanganku, atau aku yang akan melenyapkan kamu sendiri!" Hardik pria itu dengan amarah yang sudah membara.


" Emm... kalau boleh tahu, apa kesalahan wanita itu, kenapa kalian sampai memperlakukan dia layaknya seekor binatang seperti itu?" Tanya Lewis dengan nada tenang, walau sebenarnya didalam hati dia juga merasa sedikit khawatir, masalahnya dia hanya tau ilmu dasar bela diri saja, tidak sampai menguasainya.


Kalau harus dihadapkan dengan satu pria kekar yang sedari tadi sudah memperhatikannya itu, sudah pasti dia akan kalah, mungkin satu atau dua kali tendangan saja Lewis sudah tumbang, apalagi diserang bertiga, sudah pasti dia akan masuk ruang ICU setelahnya.


" Itu bukan urusanmu!" Umpat pria itu yang langsung tersenyum licik.


" Hmm... begini saja, aku tuh tipe orang yang nggak tegaan kalau melihat orang tersiksa seperti itu, jadi kalau boleh tau nih, apa syaratnya biar wanita itu boleh dilepaskan begitu saja, kasian dia kan, kalian kan juga punya istri dirumah pasti tahulah perasaannya." Ucap Lewis yang mencoba mencari alasan yang tepat walau mungkin sepertinya sulit.


" Cih... memang kau siapa, sampai berani mengaturku?" Pria itu langsung berkacak pinggang dan memperkikis jarak diantara mereka.


" Memanglah aku bukan siapa-siapa, aku juga bukan artis atau public figur, tapi bisalah kalau cuma beli dia doang."


Apa sebegitu tidak berharganya aku dimatamu mas, aku begini karenamu..


Walaupun Farah memang sudah hilang rasa malunya, namun saat melihat Lewis berbicara seperti itu hatinya terasa sangat sakit sekali.


" Kau mau beli wanita ini, hei... asal kamu tahu, dia sudah menghabiskan uangku ratusan juta rupiah tau nggak!" Pria itu seolah menantang ekspresi dari Lewis.


" Owh.. begitu." Lewis pun terlihat manggut-manggut saja, dan itu ternyata membuat pria itu penasaran


" Owh saja?"


" Trus?" Lewis menaikkan kedua bahunya.


" Kalau kau memang sangat menginginkan dia, kamu harus bayar uang ganti rugi." Pria itu mulai buat perhitungan dengan Lewis.


" Hmm... kalau masalah sangat menginginkan dia itu tidak, sama sekali tidak ingin, cuma aku kasihan saja sama dia." Lewis bahkan tidak mau melirik ke arah Farah yang sudah tidak tahu harus bagaimana itu.


Hilang sudah semua marwah yang ada pada dirinya, saat dia salah memperhitungkan tentang seorang pria, karena dia fikir semua pria bisa dia takhlukkan dengan segala pesona kecantikannya, namun kali ini dia memang apes, dia sendiri kena karmanya.


" Mas Lewis."

__ADS_1


Ingin marah pun dia tidak sanggup, karena kedatangan Lewis memang sangat dia perlukan saat ini.


" Sepertinya kalian kenal dekat, apa dia kekasihmu?" Melihat Farah seolah meminta perhatian lebih dengan Lewis, pria itu seolah sedang memikirkan sesuatu yang bisa menguntungkan dirinya.


" NO.. dia bukan siapa-siapa aku saat ini, seriusan bos, aku cuma kasihan saja, hanya itu." Lewis memang tidak ingin terlihat ambil berat, karena nanti dia juga yang akan diperalat oleh mereka.


" Okey... kalau begitu ganti uangku senilai Lima ratus juta rupiah, cash!" Tantang pria berbaju serba hitam itu.


" DEAL... beritahu aku nomor rekening anda, biar aku transfer sekarang juga, tapi lepaskan dia, biarkan dia pergi kemanapun sesuka hatinya."


Tanpa membutuhkan waktu yang lama untuk berfikir, Lewis langsung menyetujui saja syaratnya, karena sebenarnya dia ngeri juga kelamaan disana dengan oang-orang yang bertampang seperti Mafia.


" Eiittsh... tidak semudah itu brother!"


Pria itu langsung tersenyum licik dan terus memperhatikan Lewis dari ujung kepala sampai ujung kaki, sepertinya dia sedang memperhitungkan sesuatu.


" Why?" Lewis sudah menduga, pasti akan ada tingkah licik berikutnya.


" Aku belum sempat menik mati tubuhnya yang seksih itu, kami sudah melakukan perjanjian, tapi dia sudah menikmati semua fasilitas dariku, jadi kalau kamu ingin dia lepas dariku, bayar dua kali lipat."


Saat syarat pertama dengan mudahnya di setujui, tentu saja dia langsung mau ambil keuntungan yang lebih banyak dalam hal itu.


" Maksudnya dua kali lipat dari lima ratus juta begitu?" Lewis langsung menaikkan kedua alisnya, sempat terkejut, tapi dia sudah punya siasat lain untuk mengantisipasi semuanya.


" Tentu, kalau tidak jangan harap kamu bisa membawanya."


Dia sudah terlihat percaya diri sekali akan kaya mendadak hanya karena menahan seorang Farah.


" Cih... wanita itu, kamu suruh aku bayar satu Milyar, pffthhh..." Lewis langsung menahan tawanya, dan itu semakin membuat harga diri Farah hancur lebur tak bersisa.


" Bukannya kamu sangat menginginkannya? aku tahu seleramu, dia cantik, body bohay, kamu pasti ingin mencicipi rasanya bukan?" Pria itu sengaja mengiming-imingi Lewis.


" Bahaha... asal kamu tahu saja, setiap lekuk tubuhnya aku sudah hafal, bahkan dimana letak tahi lalat ditubuhnya pun aku tahu."


Perkataan Lewis sempat membuat mereka terkejut, dan tidak percaya, karena mungkin dari tampangnya dia terlihat orang baik-baik dan bukan seorang player pikir mereka.


" What?" Ketiga pria itu saling pandang satu sama lain.


" Dan satu lagi, saat itu jelas aku yang pertama, tapi setelah aku jangan kau tanya, bahkan saat ini mungkin sudah banyak lelaki yang mencobanya setelah aku, jadi apa kamu masih ingin menjualnya dengan harga yang mahal?"


Degh!


Farah hanya bisa menunduk dan menggeratkan barisan gigi putihnya tanpa bisa membantahnya.


" Kamu jangan mempermainkanku!" Pria itu seolah tidak terima.


" Jadi kamu mau bayar dia berapa, yang pasti hutang dia lima ratus juta denganku." Umpat Pria itu yang memang tidak mau kena rugi.


" Hmm... Lima ratus juta lebih seratus ribu rupiah." Tawar Lewis yang langsung membuatnya melongo.


" Seratus ribu? wanita seperti dia kamu hargai seratus ribu saja? hei... asal kamu tahu, bahkan harga cabai dan minyak goreng saja sekarang sudah melambung tinggi, uang seratus ribu itu jaman sekarang dapat apa!" Dia bahkan tertawa saat mendengar penawaran dari Lewis.


Sedangkan Farah sudah tidak bisa lagi menahan rasa malunya, akhirnya deraian air matanya kembali jatuh dengan deras.


" Dapat dia lah, waah... nggak nyangka, orang seperti kalian ternyata sayang istri juga, trus kenapa masih bermain dibelakang?" Lewis pun tak kalah terkejut saat mendengarnya, namun dia sendiri merasa lucu saat mengingatnya.


" Itu bukan urusanmu!" Pria itu langsung melengos dengan kesal saat mendengar ejekan dari Lewis.


" Hmm... jangan-jangan kalian memang sering nemenin istri belanja ya, kok bisa tahu harga bumbu dapur segala?" Lewis kembali mempermainkan emosi mereka.


" Diam kau!" Dia semakin naik pitam mendengar ejekan Lewis.


" Begini saja deh, karena kalian ternyata perhatian dengan kebutuhan istri di dapur, aku kasih tambah, limpul deh." Lewis kembali berulah.


" Limpul itu berapa?" Tanya dia dengan acuh.


" Lima puluh rebu rupiah!" Jawab Lewis dengan cepat.


" WHAT, kamu sudah gila ya?" Emosinya kembali meledak-ledak.


" Kalau anda tidak mau ya terserah saja, aku tidak memaksakan hal itu, lagian juga anda pasti tahu kan kalau akhir-akhir ini banyak terjadi penyebaran virus, apalagi sudah bekas orang banyak, woaah...mengerikan sekali."


" Asiaaal... jadi kamu mau bayar dia berapa?" Teriaknya yang sudah tidak sabar.


" Lima ratus juta tambah seratus lima puluh ribu rupiah, udah banyak lah itu, ya kan."


" Lima ratus juta itu uangku, dan kalau harga wanita itu cuma seratus lima puluh ribu, itu cuma dapat ayam goreng satu kotak saja."


Maaf Farah, walau mungkin ini terdengar sangat menyakitkan bagimu, namun hanya ini yang bisa aku lakukan, kalau Gemintang sampai tahu aku membantumu, mungkin dia akan marah besar denganku kali ini.


" Hei bro... aku bahkan lebih menikmati ayam goreng satu kotak itu daripada dia, lebih bergizi ayam goreng itu bukan dan jelas-jelas tidak punya efek setelahnya?"


" Atau kamu hanya ingin menipuku?"


" Apa untungnya aku menipu kalian? kalau kalian tetap kekeh menginginkan dia dan menolak uangku, it's okey, aku tidak masalah kok, silahkan saja, aku pergi bye..." Lewis langsung melambaikan satu tangannya dan berbalik arah meninggalkan mereka.

__ADS_1


" Mas Lewis... tolong aku." Ucap Farah dengan lirih.


" Hei bos, kalau wanita itu memang diobral, bisa jadi memang penyakitan, makanya dijual murah, tapi resikonya tinggi bos, bayangkan saja kalau bos nanti tertular penyakit menular itu." Satu pengawal disebelahnya langsung memberikan pendapatnya.


" Iya juga bos, masih banyak gadis cantik diluar sana, rugi besar nanti kalau anda yang tertular virusnya." Pria pengawal yang satunya pun seolah memperlancar ide dari Lewis.


" Aish... Brengsek memang dia."


Lewis sengaja memperlambat langkahnya untuk mendengar umpatan mereka.


" Hei.. tunggu!"


Cih... aku sudah menduganya.


" Why? apa kalian berubah pikiran? sory... aku tidak punya banyak waktu." Lewis tersenyum saat melihat gelagat mereka.


" Okey lah, kau bawa saja wanita mura han itu pergi, haish... menyesal aku mendekatinya saat itu, sekarang transfer dulu uangnya, barang bagus cuma laku seratus lima puluh ribu rupiah, rugi bandar gue!" Pria itu langsung memperlihatkan nomor rekening dari ponselnya.


Dia pun seolah jijik saat melirik kearah Farah, padahal kalau Lewis tidak datang mungkin dia sudah terbang melayang ke awang-awang dengan Farah walau ditempat yang jauh dari kata layak itu.


" Wokey brother, mana nomor rekeningnya, biar aku transfer."


Setelah mendapatkan notifikasinya, Lewis langsung memberikan kode kepada Farah agar dia pergi keluar duluan.


" Okey, sana bawa pergi wanita itu jauh-jauh, aku sudah tidak selera lagi dengan bekasmu itu."


" Aku pun sama, bye!"


Lewis langsung mempercepat langkahnya untuk segera pergi dari sana, dia memang tidak ingin melaporkan ini ke pihak berwajib, karena dia faham mungkin ini memang berawal dari kesalahan dari Farah sendiri.


" Masuk mobil cepat!" Ucap Lewis yang takut kalau mereka akan berubah pikiran nantinya.


" Terima kasih mas karena sudah membantuku." Ucap Farah sambil menunduk malu.


" Pakai jacket ini!" Lewis memberikan jacket miliknya untuk menutupi tubuh Farah.


" Nggak usah nggak papa mas."


" Kalau misalnya ada orang memberimu sebuah roti, yang satu terbungkus rapat dan rapi dan yang satu berlobang-lobang, kamu pilih yang mana?"


" Hmm... pilih yang terbungkus rapi lah!"


" Seperti itulah sebenarnya pria saat memandang seorang wanita, kalau memang dia punya niatan baik, makanya jadi wanita itu jangan obral aurat, bukannya tambah cantik tapi kamu semakin dipandang rendah karenanya."


" Maaf mas."


" Untuk apa kamu minta maaf denganku, aku hanya sekedar memberikan saran, mau kamu terima ya syukur, tidak juga aku tidak perduli, karena aku memang sudah tidak punya hak atas dirimu saat ini."


" Aku tahu mas... aku pasti akan mengembalikan uang mas yang tadi."


" Tidak perlu."


" Aku tetap ingin mengembalikannya kepada mas."


" Kalau begitu terserah saja, tapi jangan jadikan itu sebagai alasan untuk bertemu denganmu, karena setelah ini aku tidak mau kembali berurusan denganmu lagi."


" Mas, tapi..."


" Kalau kamu memang ingin mengembalikan uang itu, kamu bisa datang ke kantor temui asistenku, jangan pernah coba-coba untuk menghubungiku kembali."


" Mas... apa sebenci itu kamu denganku, aku sungguh menyesal mas?"


" Yaa... aku benci dengan semua kelakuanmu itu, Farah... ingat satu hal, waktu tidak akan memberi kesempatan untuk mengulangi apa yang sudah dilewati, tapi waktu memberikan kesempatan agar kamu melakukan perubahan, ingatlah bahwa hidup di dunia ini singkat, jangan hanya memikirkan nikmat dunia, pikirkan juga Akhiratmu kelak."


Farah pun tidak bisa mencari kesempatan lain, harapannya untuk bisa kembali dengan mantan suaminya itu bahkan satu persen pun seolah sudah tidak ada.


Cekiiit!


" Ada apa mas?" Farah terkejut saat Lewis mengerem mobilnya mendadak dan menurunkannya disebuah halte bis malam.


" Ambil uang ini dan cepat kamu turun, itu ada bis menuju rumahmu adikmu!"


" Tapi mas, aku..."


" Cepat turun, naik bis atau naik apapun itu terserah kamu, aku harus pergi!"


" Mas?"


Farah tidak bisa berkata apa-apa lagi saat Lewis sudah membukakan pintu mobilnya dengan paksa.


" Turun!"


Astaga... Gemintang dan Sabrina, aish... kenapa aku bisa lupa, mana tadi tas Gemintang masih didalam mobil lagi, jadi mereka bayar pakai apa?


Lewis tiba-tiba langsung menambah kecepatan mobilnya dengan penuh, tanpa memperdulikan Farah yang terlihat ketakutan saat dia tinggalkan.

__ADS_1


..."Sesuatu yang tak bisa kembali yaitu; Waktu yang telah berlalu, Kata yang telah diucapkan, Kesempatan yang telah dilewati, dan Kepercayaan setelah hilang."...


INGAT BESTIE, JEMPOLMU SEMANGATKUH🥰


__ADS_2