Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
25. Si Julid


__ADS_3

...Happy Reading...


Beraneka makanan bertemakan hidangan sehat dan lezat sudah terhidang semua diatas meja, bau wangi masakan Peter benar-benar menggoda selera.


Bahkan Gemintang sampai memejamkan kedua matanya untuk meresapi dan menebak jenis masakan apa itu.


" Woah... harum sekali masakannya, sepertinya enak banget ini." Kepala Gemintang sudah melongok ke arah meja makan.


" Kalau begitu kembalikan gitar itu ketempat semula, kita pergi ke meja makan." Chris langsung bangkit dan berjalan menghampiri Peter yang terlihat bersemangat karena Motor sport idamannya akan dia dapatkan hanya dengan menyajikan beberapa makanan kali ini.


" Siap maszeh." Mata Gemintang bahkan sudah berbinar-binar, perutnya memang terasa lapar, karena tadi dia juga sempat memuntahkan isi dalam perutnya saat suhu demamnya meninggi.


" Makan juga salad buah dan sayurnya, jangan cuma lemak dan kolesterol aja yang kamu timbun di dalam perutmu itu." Ucap Chris saat melihat Gemintang hanya memindahkan potongan daging dan telor gulung ke dalam piringnya.


" Iya... belakangan itu nanti, pengen coba dagingnya dulu, kayaknya enak banget." Jawab Gemintang yang langsung tidak sabar ingin mencicipi masakan Peter.


" Sudah pasti enak hasil karyaku, dijamin seratus persen!" Sahut Peter dengan bangganya.


" Woah... bisa empuk gini ya, meresap juga bumbunya loh, padahal masaknya tadi nggak lama-lama banget kan?" Gemintang seolah takjub dengan hasil masakan Peter yang benar-benar pas di lidahnya.


" Jelas! bukan cuma bekerja, tapi masak juga butuh skill yang tinggi." Ucap Peter kembali, seolah dia sudah berpengalaman di bidangnya.


" Terbaik deh!" Puji Gemintang dengan tulus, sambil kembali menyuapkan potongan daging ke mulutnya.


" Makanya jadi perempuan itu jangan cuma bisanya ngabisin duit buat shoping dan bergaya, otak juga harus dipenuhin dengan ilmu sebanyak-banyaknya biar bisa menjadi pribadi yang berkualitas dan bermanfaat bagi orang banyak." Oceh Peter yang langsung memimpin kuliah singkat sore ini.


Walau semua yang Peter katakan itu ada benarnya, namun kata-kata itu seolah menusuk ke ulu hati Gemintang, sehingga membuat lidahnya terasa kelu, daging yang tadinya lezat terasa tiba-tiba menjadi hambar dan tidak ada rasa.


" Walau jaman sekarang sudah ada emansipasi wanita, tapi perempuan itu harus bisa memanjakan lidah para lelakinya dengan hasil keringat sendiri, jangan cuma mengandalkan asisten rumah tangga." Ucap Peter kembali.


" Masak iya semua harus cowok yang melakukannya, toh kalau menikah yang dikasih mahar siapa? ya kali cuma masak doang nggak becus, trus bisanya apa? kel○nan doang? beuh... di pinggir jalan kalau malam-malam juga banyak berkeliaran, murah lagi, ngapain juga seorang pria melamar seorang wanita mahal-mahal kalau tidak bisa apa-apa? bahkan masak yang setiap harinya dilakukan aja tidak becvs, hah... sungguh tiada guna!" Umpat Peter panjang kali lebar dengan mulut pedas level mercon.


Klonteng!


Gemintang langsung sengaja menjatuhkan sendok yang dia pegang diatas piring dihadapannya.


" Kalai kamu nggak ikhlas masakin makanan untuk perempuan yang tiada guna sepertiku, nggak usah masak! toh... aku juga tidak akan mati kalau cuma tidak makan sore ini." Gemintang langsung merasa tersindir.


" Lagian juga aku mampu kok beli makanan model apapun, atau bahkan dengan restorannya skalian juga mampu aku beli." Gemintang pantang direndahkan begitu saja.


" Peter... sudahlah!" Chris mencoba menengahi perdebatan mereka.


" Lagian apa salahnya kalau aku nggak bisa masak? bukannya aku malah bisa membantu usaha kuliner agar lebih maju? kalau semua makhluk didunia ini semua masak nggak ada yang beli, siapa yang mau beli dagangan mereka? sedangkan mereka juga perlu menafkahi keluarga mereka masing-masing." Gemintang tak mau kalah kalau cuma berpidato singkat.


" Ngeles aja kamu bisanya!" Peter masih belum mau mengalah.


" Loh... tidak semua orang bekerja menggunakan skill bukan? tidak semua orang berpendidikan tinggi dan mampu membayar biaya kuliah, dan tidak semua orang juga bisa bekerja di perusahaan atau instansi dan sebagainya, jadi apa kabar pedagang kaki lima? apa kabar orang-orang yang kelas ekonomi menengah ke bawah?" Emosi Gemintang semakin memanas ke ujung kepala.

__ADS_1


" Semua itu tinggal tekad dan kemauan kita bukan?" Ucap Peter kembali.


" Hei... kamu!" Gemintang ingin kembali berdebat.


Brak!


Chris langsung menggebrak meja makan yang ada dihadapannya sebelum mereka kembali bertengkar.


" STOP! bisa nggak kalian berdua diam dan hanya makan saja tanpa bersuara." Chris sudah tidak tahan lagi, dia sang empunya rumah malah terasa diasingkan sedari tadi oleh dua manusia yang sedang beradu pendapat.


" Aku sudah kenyang! bahkan mual setelah makan makanan dia, aku muntahkan saja!" Ucap Gemintang dengan wajah yang sudah memerah.


" Dih... sok kali kamu, tadi bilangnya enak? dasar perempuan plin plan!" Peter kembali ngegas dan membuat Gemintang semakin kesal.


" Hoeeerrk." Gemintang seolah ingin memuntahkan dua suapan makanan yang masuk ke mulutnya.


" Jangan Gemintang, cepet makan, jangan hiraukan Peter!" Teriak Chris yang langsung protes.


" Aku nggak mau makan lagi hasil karyanya, ini sangat memuakkan!"


" Kau yaaaa!" Peter langsung melotot.


" Gemintang, perut kamu kosong, kalau nggak mau pingsan, ayo cepat makan, lagian ini bahan makanan bukan Peter yang bawa, jadi cepat lanjutkan makanmu!" Chris kembali menggeser lauk yang ada dihadapannya ke arah Gemintang.


" Woah... kamu sekarang sudah mulai berkhianat ya Chris? kamu lebih membela dia dari pada aku?" Peter langsung merasa tidak terima.


" Pokoknya aku nggak mau makan masakan dia lagi." Gemintang bahkan memundurkan kursinya, pura-pura merajuk.


" Tapi kamu harus makan, demammu juga baru saja turun." Entah mengapa Chris terlihat perduli sekali.


" Kalau begitu mas aja yang masakin buat aku, walaupun cuma telur goreng juga aku akan sangat menikmatinya, daripada makanan enak tapi masaknya nggak ikhlas, bahaya entar malah jadi penyakit." Bukan Gemintang kalau tidak bisa membalikkan keadaan.


" Ckk... tapi ini banyak makanan Gemintang, siapa nanti yang mau makan?" Chris mengedarkan pandangan ke arah beberapa piring makanan yang tersaji.


" Biar saja dia yang menghabiskan, aku sudah tidak berselera lagi!" Jawab Gemintang yang langsung menjeling kerah Peter yang sudah tersenyum sumbang, karena dia merasa dipojokkan dengan sepasang kekasih dalam drama ini.


" Tapi aku sebentar lagi harus berangkat meeting Gem, kalau masak yang lain nanti aku bisa terlambat." Chris melihat jam di pergelangan tangannya.


" Kalau begitu aku nggak usah makan, aku sudah kenyang kok, gampang nanti makan diluar juga."


" Huft... Ya sudahlah, kamu mau makan apa? spagetti mau?" Akhirnya Chris yang mengalah, asalkan perut Gemintang terisi pikirnya.


" Mau.. pake banget lagi." Gemintang bahkan menangkupkan kedua tangannya ke wajahnya sendiri sambil tersenyum dengan imutnya.


So cute... kok jadi gemas ya, ehh...


" Ya sudah.. tunggu sebentar ya, aku buatkan." Chris bahkan tersenyum saat melihat wajah Gemintang, dia langsung kembali menggulung lengan bajunya dan beranjak pergi ke dapurnya kembali.

__ADS_1


" Dih... sok Caper kamu! nggak cukup apa punya satu muka!" Umpat Peter yang semakin terpojokkan.


" Heh... inget ya, besok kalau punya istri muliakanlah dia, istrimu bukan pembantumu, yang hanya dibebankan kewajiban untuk melayanimu, tapi dia adalah amanah yang memiliki hak atas dirimu, inget baik-baik tuh raja Julid!" Gemintang bahkan menjulurkan lidahnya diakhir ucapannya.


" Sok tahu kamu!" Bantah Peter.


" Aku mau ikut." Gemintang langsung ikut berdiri.


" Kemana?" Tanya Chris yang malah terheran.


" Ikut ke dapurlah." Jawabnya sambil melengos saat tatapan Peter terarah kepadanya.


" Kamu tunggu disitu aja." Chris kembali menoleh kearah Gemintang.


" Dih... ogah aku duduk satu meja dengan si Julid itu, bisa kumat lagi alergiku karenanya." Gemintang bahkan mengibaskan rambut panjangnya didepan wajah Peter yang sudah melotot kesal.


" Baiklah... dan kamu Peter?" Chris berganti menoleh kearah Peter yang sudah bersidekap dengan kedua taringnya yang sudah ingin keluar.


" Apa lagi? dimana-mana itu selalu saja pria yang salah!" Gerutu Peter.


" Kelak.. kalau kamu mau mencari jodohmu, jangan mengharuskan wanitamu pandai untuk memasak, kamu mencari istri untuk menjadikan dia pendamping hidup atau mau menjadikan dia juru masakmu?"


Entah dapat ilmu dari mana Chris bisa berkata-kata seperti itu, padahal dulu tidak pernah terlintas sedikitpun nama seorang wanita di pikirannya.


" Entah...nggak kuat bayar asisten rumah tangga ya bos?" Cibir Gemintang ikut membumbui.


" Diem kamu!"


" Owh ya.. emang kamu punya pacar? emang kamu berminat untuk menikah juga?" Chris mencoba mengingat-ingat keseharian saudaranya itu yang tidak pernah bersama dengan seorang perempuan, sama sepertinya.


" Cih... Jomblo abadi aja banyak gaya, Jomblo itu memang Free sih, Freehatiin banget, haha!"


Walau terkadang sering merasa kesal namun semenjak kenal dengan dua pria itu, Gemintang sering tertawa walau disaat hati sedang terluka.


" SUMARNI... awas kamu ya!" Peter langsung bangkit dari duduknya.


" Ahahaha.. satu-satu aku sayang Mia, dua-dua juga sayang Ria, tiga-tiga sayang si Maria, satu dua tiga kena tikung semua, hahaha..."


Gemintang memilih kabur sambil bersenandung ria sesuka hatinya dan memilih berlindung dibelakang tubuh Chris yang sudah memegang panci yang juga ikut menahan senyuman karena melihat kekesalan Peter saat ini.


Baru kali ini dia melihat saudaranya itu diremehkan oleh seorang wanita, namun malah terlihat lucu baginya, akhirnya Peter hanya bisa mengepalkan kedua tangannya ke arah Gemintang yang sudah tertawa cekikikan disana.


..."Ketika dalam sebuah perjuangan terdapat tantangan yang besar, berarti keberhasilan yang menanti juga lebih besar."...


..."Semuanya akan terasa berat. Tapi berat bukan berarti tidak mungkin."...


..."Hidup adalah perjuangan dan harus diperjuangkan. Sempurnakan usaha dengan doa, kemudian bersabar menunggu hasil yang sempurna."...

__ADS_1


__ADS_2