Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
139. Pesona Istri Pertama


__ADS_3

...Happy Reading...


Setelah pertempuran para calon Lansia itu sudah selesai, akhirnya Chris langsung bertindak, walau aksinya tidak ditemani oleh Gemintang, karena dia sudah tertidur duluan, setelah berdebat dengannya masalah ranjang bergoyang.


" Masih baik brangkas ayah belum pernah ganti sandi, jadi aku nggak perlu susah-susah membukanya." Umpat Chris dengan senyum kepuasan, sambil membawa beberapa dokumen ditangannya.


" Gila... benar saja, ternyata sudah ada beberapa anak cabang perusahaan yang beratasnamakan wanita itu, kenapa ayah tidak menyadarinya?" Chris sampai menggelengkan kepalanya.


" Apa sebegitu berpengaruhnya soal ranjang bergoyang dengan harta, apa ayah tidak pernah menyadarinya?"


" Ckk... aku pun tidak sempat mengecek anak cabang perusahaan disana, aku tidak terlalu memperhatikan, tapi pasti ada orang dalam yang membantunya, aku harus tetap menyelidiki masalah ini."


Chris mengumpat mama sambungnya berkali-kali, dia juga tidak menyangka bisa kecolongan info sepenting ini.


" Mungkin memang benar sih, karena kalau sudah tempur sama Gemintang aku juga sering lemah karenanya, mungkin ayah juga begitu." Dia bahkan menduga-duga sendiri.


" Woah... tapi kalau Gemintang kan tidak matre seperti itu, kekayaannya bahkan mungkin sebanding denganku, atau bahkan lebih banyak punya dia."


" So... tidak jadi masalah ya kan, mau harta, tahta atau wanita sekalipun, aku tetap memilih Gemintang Lea Prakoso, hehe.." Dia bahkan tersenyum sendiri seperti orang gila.


" Bangunin nggak ya dia? belum tuntas tadi urusanku gara-gara masalah mama Widya, hmm... kasian si otong, pasti puyeng tadi kepalanya karena perjuangannya belum selesai."


Namun saat melihat istrinya yang tertidur dengan lelap itu, Chris jadi tidak tega untuk membangunkannya hanya demi ha sratnya yang tertunda.


Akhirnya dia hanya bisa memeluk bantal guling sambil menatap wajah istrinya yang tetap cantik walau tidak bermake up sama sekali.


Setelah pagi menjelang, Gemintang sudah bangun duluan dan menyiapkan sarapan untuk mereka.


" Sayang.. kamu kok nggak bangunin aku tadi?" Saat Gemintang merapikan tempat tidurnya Chris langsung memeluknya dari belakang.


" Aku kasian sama mas, pasti tadi malam boboknya sudah menjelang pagi ya?" Walaupun tadi malam berdebat, namun Gemintang tidak mau menperpanjang masalah sampai berlarut-larut, asalkan suaminya sudah mengerti, hukuman satu malam saja sudah cukup pikirnya.


" Kok kamu tahu? jangan-jangan kamu pura-pura tidur ya? dih... jahat banget kamu yank, membiarkan adekmu ini merana kesepian, susah tahu menidurkannya."


" Beneran tidur aku mas, cuma dugaanku saja itu, hehe..."


" Ganti rugi yank, buruan sini!"


" Enggak! aku sudah siapain sarapan buat mas, kita sarapan disini aja, aku lagi males sarapan dibawah." Ucap Gemintang mencari alasan, karena dia sedang mempertahankan kewarasan diri daripada harus menghadapi kedua mertuanya yang seolah tidak menggangapnya ada, walaupun saat pernikahannya mereka datang.


" Ckk... kenapa akhir-akhir ini kamu pelit ya?"


" Biarin, biar cepet kaya!"


" Kaya apa?"


" Kaya hatilah, kalau cuma kaya harta doang aku sudah terbiasa." Jawab Gemintang dengan bangganya.


" Hmm... mulai deh!"


" Owh ya mas, sebenarnya apa alasan orang tua mas dulu mau merestui hubungan kita dan datang ke pernikahan kita? aku penasaran banget sampai sekarang, mau tanya dari dulu tapi takut."


" Kenapa mesti takut, kamu boleh bertanya apapun tentang mas sayang?"


" Makanya, apa syarat yang mereka berikan kepada mas."


" Tidak ada syarat kok?"


" Jadi?"


" Kamu pasti nggak percaya kalau mas bilangin."


" Percaya kok, aku selalu percaya dengan mas, makanya aku mau menikah dengan mas." Jawab Gemintang dengan mantap, karena menurutnya sebuah kepercayaan ada hal yang paling pokok atau sebagai pondasi dalam kehidupan rumah tangga seseorang.


" Aku bilang kalau nggak direstui mau mencari mama Widya dan ikut dengannya."


" OWH YA? MASAK SIH MAS?" Gemintang langsung menatap wajah suaminya penuh dengan ketidak percayaan.


" Tuh kan, baru aja kamu selesai bicara, sudah ngomong pake kata masak sih? itu namanya kamu tidak percaya."


" Ya bukannya apa gitu mas, kebetulan banget gitu, bisa pass momentnya."


" Entahlah, aku pun merasa heran, padahal aku cuma asal bicara saja karena tidak punya alsan lain, tapi malah jadi kenyataan, seolah dongeng itu nyata dalam keadaan seperti ini."


" Mungkin ini yang dinamakan ikatan batin antara ibu dan anak kandung, tidak ada yang tidak mungkin didunia ini mas, karena Tuhan maha pembolak-balik hati manusia."


" Tapi aku lega yank, aku fikir dulu kehidupan dewasaku akan dipenuhi oleh dendam dengan semua wanita, yang seolah sudah mendarah daging, tapi berkat kamu seolah ada sinar terang diwajahmu yang membuat mas selalu ingin berada didekatmu, melindungimu serta menyayangimu."


" Ya ampun, kata-kata mas sungguh sangat menentramkan hati, luph yuu pull deh pokoknya!" Gemintang langsung mencubit gemas kedua pipi suaminya.


" Owh ya.. Mas sudah berhasil mengambil berkasnya, nanti kita urus semuanya dikantor, okey?"


" Benarkah? emm... semoga semua berjalan sesuai rencana ya mas, kasian mama Widya, dia pasti tidak menerima keadilan selama ini?"


" Hmm... Walau sebenarnya mama Widya ada salahnya juga, seharusnya dia tidak perlu pergi dari rumah ini, sebelum terbongkar kebusukan wanita itu agar dia tidak sok berkuasa dirumah ini."


" Terkadang tidak semua wanita mempunyai mental baja mas, ada kalanya wanita juga sering rapuh, kalau selalu dibanding-bandingkan juga siapa yang bisa tahan kan?"


" Kalau sampai mas tanpa sengaja memperlakukanmu seperti itu, tolong ingatkan mas ya? terkadang kalau mas capek atau kurang jatah sering kelewatan, hehe.."


" Tiap pagi juga aku keramas terus mas, hampir tiap malam juga nambah, apa masih kurang?"


" Nggak papa dong, udah sah ini, berpahala tahu, yang penting kalau nggak sama kamu kan mas nggak mau?"


" Itu yang aku suka dari mas, luph you sekebon deh, hehe..."


" Kalau begitu kita tuntaskan sekarang juga, biar ayah tahu siapa mama sebenarnya."


" Asiap mamaskuh."

__ADS_1


Akhirnya setelah selesai sarapan pagi, mereka langsung bersiap menuju kantor dengan senyum kepuasan.


Walau mungkin ayahnya akan terluka karena fakta pahit dari istri keduanya, namun dia juga berhak tau yang sebenarnya, agar menjadi pelajaran hidup, bahwa seharusnya dia mencari tahu kebenaran dulu, jangan percaya sesuatu hanya dari sepihak saja.


Suasana kantor sudah terlihat sibuk pagi ini, dengan kegiatan dan tanggung jawab mereka masing-masing.


" Selamat pagi tuan muda? nampak segar sepertinya, tadi malam habis berapa ronde Sumarni?" Peter yang sudah datang duluan langsung menyapa kedatangan mereka.


" Sekali-kali bisa nggak kamu panggil aku nyonya muda?" Umpat Gemintang sambil melengos.


" Eherm.. uhuk.. uhuk.. aku kok tiba-tiba jadi batuk ya? padahal pengen coba panggil gitu, tapi tidak bisa Sum! maap-maap lah yee!" Jawab Peter yang langsung membuat drama dipagi hari.


" Mas.. asisten kamu itu nyebelin banget, bisa nggak sih ditukar tambah?"


" Bisa... tuh... ada yang berminat menjadi asisten suami loe, anak baru, masih gadis, body bohay, semlehot dan asoy pastinya, kalau kamu mau bisa gue atur, gimana?"


" Dih... amit-amit jabang bayi! tidak boleh ada wanita manapun, mau gadis atau tidak, tetep nggak boleh jadi asisten suami gue, mengerti kamu!" Gemintang seolah memberikan perintah.


" Kalau laki loe mau, kenapa tidak? kerja itu yang sportif, jangan Baperan!" Umpat Peter yang langsung tersenyum licik.


" Mas... asistenmu itu loh, bikes banget tau nggak!" Gemintang langsung merengek manja dengan suaminya yang hanya tersenyum saja melihat kegaduhan mereka yang memang seperti biasa kalau sudah bertemu, tidak pernah bisa akur.


" Peter, jangan ganggu istriku, bisa nggak?"


" Maaf bos, aku tidak bisa!"


" SUMARNO, awas kamu ya!"


" Dududu... lalalala..." Peter sama sekali tidak merasa takut, dia malah bersiul-siul ria saat mendengarnya.


" Hei.. sudah-sudah, ada yang harus kita bahas yang lebih penting soal ini, ayo kita masuk ke ruanganku!" Chris kembali menjadi penengah diantara mereka.


" Tunggu pembalasanku!" Gemintang langsung mengarahkan kedua jarinya kearah mata Peter yang malah menjulurkan lidahnya dengan nada mengejek.


Setelah beberapa waktu mereka berdiskusi secara serius, akhirnya mereka bertiga mendapatkan keputusan yang mufakat.


" Okey, siang ini juga aku ingin kamu menjadwalkan rapat pemegang saham Peter." Chris langsung memberikan tugas penting.


" Siang ini juga mas?" Gemintang langsung melongo mendengarnya.


" Iyalah, semua sudah beres, biar Peter yang mengatur segalanya."


" Gimana keadaan ayah mas? kesehatannya sudah stabil belum? aku takut loh mas nanti beliau terkejut dan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan?"


" Iya juga Chris, kasihan paman, sebaiknya besok saja kita rapatkan, hari ini kamu antar paman check up dulu, takut pula nanti si nenek sihir itu ngamuk dan paman yang jadi sasaran kan?"


Tidak salah aku memilih istri, walau dia belum diterima, tapi dia tetap mengkhawatirkan kesehatan ayahku.


" Emm... aku rasa ayah sudah baik-baik saja, tadi malam aja dia sehat bener, bisa sampai beberapa kali tanjakan!"


" Mas...!"


" Tanjakan mana?" Peter yang masih belum terkoneksi dengan channel itu masih sedikit kebingungan.


" Tanjakan tangga!" Sahut Gemintang sambil mencubit pinggang suaminya.


" Hehe... sudahlah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, nanti kamu siapkan saja ambulance dan beberapa dokter spesialis penyakit ayah, suruh mereka standby di Kantor untuk jaga-jaga."


" Baiklah, kalau memang bos sudah mantap."


" Iyalah... jangan terlalu lama menyimpan bangkai, nanti bisa membawa penyakit!"


" Penyakit apa mas?"


" Penyakit Hati!"


" Mas keren!" Puji Gemintang yang ternyata mampu membuat Chris Ge eR.


" Iyalah.. sudah sedari dulu suamimu ini keren sayang!"


" Hoerrk! pengen banget muntah dadakan gue!" Peter langsung pura-pura mau muntah melihat kemesraan mereka berdua.


Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu pun telah tiba, rapat pemegang saham yang termasuk dadakan ini pun segera dimulai.


Pemilik saham gabungan dari perusahaan keluarga Chris pun sudah mulai berdatangan, begitu juga dengan ayah dan mama sambung Chris juga sudah duduk dibangku paling ujung.


" Chris... tumben ada rapat dadakan? apa terjadi sesuatu?" Robert langsung penasaran karenanya.


" Iya yah, ada beberapa masalah serius, dan ada juga beberapa perubahan nama pemilik anak cabang perusahaan."


" Owh ya? kenapa kamu tidak memberi tahu ayah?"


" Iya Chris, seharusnya kamu memberitahu kami sejak awal, jadi ayah kamu bisa turun tangan sendiri." Claudya langsung pura-pura ikut andil, sok menjadi orang yang penting, padahal dialah dalang dari semua ini.


" Semua hak ayah, sudah diberikan kepadaku dan aku sudah memikirkan baik buruknya keputusan ini, aku hanya ingin perusahaan ini bisa tetap baik-baik saja walau banyak orang yang sengaja ingin mengelabuhi perusahaan kami."


" Maksudnya?" Claudya langsung memicingkan kedua matanya.


" Tidak ada maksud apa-apa, silahkan kembali duduk mendampingi ayah disana dan jangan banyak protes, anda cukup diam saja." Umpat Chris dengan wajah geramnya.


" Chris!" Claudya langsung merasa tidak terima.


" Mama.. sudahlah, Chris pasti sedang banyak masalah, ayo kita ikut bergabung di meja rapat!" Robert langsung tersenyum dan mengusap lembut lengan istrinya agar dia lebih tenang.


" Tapi yah, dia nggak sopan sama mama?" Rengek Claudya yang sok manja.


" Sudahlah mama sayang, jangan terlalu diambil hati okey?"


Ayah Chris langsung menarik tubuh istrinya dengan sabar dan mengajaknya pergi dari hadapan Chris daripada mereka ribut disana.

__ADS_1


Dan pemandangan itu pun tidak luput dari pandangan Widya yang duduk di salah satu sudut ruangan dengan memakai kaca mata hitam dan juga masker hitam.


" Sabar ya mah, terkadang Alloh memang memberikan pasangan yang salah dulu kepada kita, bukannya tidak menyayangi kita, namun pasti ada sesuatu dibalik itu semua, siapa tahu jodoh mama Widya sedang otewe ya kan?"


Gemintang yang tidak sengaja melihatnya langsung mencoba menghibur mama mertuanya, dia ikut prihatin saat melihat mama mertuanya seolah tertegun dengan pandangan kearah mereka sedari tadi.


" Otewe kemana? mama sudah tua nak, nggak mau lagi mikir hal-hal begituan lagi."


" Jodoh orang nggak ada yang tahu ma?"


" Tapi mama tahu apa yang terbaik buat mama saat ini."


" Apa coba?" Gemintang tau kesakitan mamanya, namun dia tidak mampu berbuat apa-apa.


" Punya kamu sebagai menantu mama dan Chris disamping mama, itu sudah lebih dari cukup nak."


" Yakin?"


" Kenapa tidak, mama hanya butuh kasih sayang dari kalian, bukan dari pasangan."


" Hmm... mama jangan khawatir ya, aku dan mas Chris akan selalu ada buat mama, okey?"


" Terima kasih sayang."


" Kalau begitu kita ikut gabung ke meja rapat sekarang ma?"


" Nanti saja, belum saatnya mama muncul di meja rapat itu, tunggu waktu yang tepat, okey?"


" Wuidih... jadi kartu As mama ya? okey... Gemintang nemenin mas Chris disana ya, semangat ya ma, tunjukkan pesona mama okey?"


" Pasti sayang!"


" Tos dulu kita ma, hehe.."


Mereka bahkan bertos ria layaknya anak ABG yang siap berperang memberantas kejahatan di muka bumi ini.


Peter langsung membuka rapat pemegang saham dadakan di siang itu, semua mata tertuju kepadanya, sifat selengek an dan kelakuan jahilnya tidak terlihat saat bekerja, dia bahkan terlihat berwibawa dengan setelan jas mahalnya.


" Ada dua perusahaan yang diambil alih oleh pemegang saham milik ibu XX, karena ada beberapa masalah yang menimbukan beberapa kerugian diperusahaan kita." Ucap Peter mengawali topik utama mereka.


" Kenapa bisa begitu? apa harga saham kita anjlok?" Tanya salah satu petinggi perusahaan itu.


" Pak Chris, bisa tolong jelaskan lebih detailnya?" Peter langsung memberikan waktu dan tempat untuk big bosnya.


" Begini bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, saham kita tidak turun, namun ada beberapa saham anak cabang yang diambil alih oleh ibu XX, karena ada sesuatu masalah dan masalah itu sudah di cover oleh ibu XX."


" Berarti tidak berpengaruh dengan saham kami kan?"


" Jelas tidak, saya mengadakan rapat disini hanya untuk memberikan pengumuman bahwa ada dua anak cabang perusahaan kita yang berpindah tangan, agar kalian juga menjadi saksi, tidak ada kerugian atau apapun untuk saham kalian."


" Owh... kalau begitu kami ikut lega, tapi anak cabang perusahaan yang mana, yang berpindah tangan pak Chris?"


" Anak cabang perusahaan yang ada di kota Bandung."


Degh!


Wajah santai Claudya langsung berubah menjadi panik saat mendengar nama kota itu, karena hanya ada dua cabang anak perusahaan mereka yang ada disana."


" Apa? maksud kamu anak cabang perusahaan yang mana Chris?" Claudya tanpa sadar langsung bangkit dari duduknya.


" Yang anda ambil alih sekaranglah!" Jawabnya dengan nada santai.


" Tapi Chris, why?" Claudya langsung merasa tidak terima.


" Tunggu-tunggu! maksudnya diambil alih oleh mama mu Chris?"


" Hmm... bukan mamaku, tapi diambil oleh istri ayah!"


Dan ternyata hal itu tanpa sepengetahuan Robert, dulu memang dia pernah mengatakan akan memberikan hak kuasa untuk anak cabang itu kepada anak tirinya, namun hanya penghasilannya saja, bukan diambil alih hak milik saham perusahaannya.


" Dua perusahaan itu hampir bangkrut, karena anak tiri ayah itu sering menyelundupkan uang perusahaan untuk berfoya-foya, tapi ayah tenang saja, dua perusahaan itu sudah selamat berkat seseorang."


" Hah? seseorang siapa?" Tanya Robert dengan serius.


" AKU MAS!"


Widya langsung berjalan dengan anggun dan mendekat kearah meja rapat sambil melepas masker dan kaca mata kerennya dengan penuh pesona, riasan wajah juga baju branded yang terbalut ditubuhnya seolah menutupi umurnya yang sudah mulai senja, menjadi seperti mama muda sosialita.


DUAR!


Pesona istri pertama memang beda, keren ma!


Gemintang dan Chris langsung kompak mengacungkan jempol mereka kearah Widya yang tersenyum kearahnya.


" KA... KAMU WI... WIDYA!"


Robert sampai tergagap saat melihat istri pertamanya muncul disana, bahkan dia sampai memegangi dadanya yang sepertinya mulai terasa sesak karena terlalu terkejut dengan apa yang baru saja dia lihat.


" Peter, siapkan Ambulance!" Chris langsung mengambil tindakan saat melihat ayahnya panik dan mulai sesak nafas.


Begitu juga dengan Claudya yang langsung melotot dan menggeratkan barisan giginya karena kejutan yang tidak terduga siang ini, dia seolah mendapatkan ancaman besar karena kedatangannya.


Claudya berpikir kalau Widya sudah hilang tanpa jejak, atau bahkan hilang ditelan bumi karena tidak pernah mendengar kabar tentangnya, dia beranggapan mungkin Widya sudah jatuh miskin atau jadi pengemis karena pergi tidak membawa apa-apa, dia sungguh tidak menyangka kalau ternyata Widya adalah pemegang saham yang biasanya tidak mau disebutkan namanya, hanya sering dipanggil dengan sebutan Ibu XX di Perusahaan itu.


Wanita yang dia hina, yang dia remehkan karena ketidakmampuannya dulu, ternyata sekarang bisa sukses secara diam-diam.


Hidup mencari kesempurnaan akan membuat kita sering tertekan.


Hidup melengkapi kekurangan membawa keikhlasan dan ketenangan jiwa.

__ADS_1


Karena jiwa yang tenang lebih mahal dari harga segalanya yang ada di dunia ini.


__ADS_2