Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
61. Bahu Jalan


__ADS_3

...Happy Reading...


Hari berganti pagipun menjelang, Gemintang bangun lebih awal hari ini, walau mata masih sedikit bengkak, hidung masih terasa sembab dan kepala masih sedikit berat, namun dia memaksakan diri untuk tetap sarapan pagi, karena sakit hati butuh tenaga juga, jadi tubuh harus tetap diberi asupan gizi agar tidak cepat tumbang.


Ingat dunia tidak selebar daun kelor, hilang satu tumbuh seribu.


" Hai dek... kamu sudah bangun?" Lewis ternyata sudah duduk santai di meja makan sambil menikmati segelas kopi hitam kesukaannya.


" Hmm... sudah bang, owh iya... abang yang bantuin ngurus sidang perceraianku ya? kata mas William surat gugatan ceraiku sudah sampai ketempatnya."


" Iya... banguslah itu, semua abang serahin ke pengacara kita, sekalian abang urus surat perceraian abang juga, kenapa? apa kamu sekarang menyesal?" Tanya Lewis yang langsung menelisik wajah dari adek semata wayangnya itu.


" Ya enggaklah bang, lebih cepat lebih bagus, sebenarnya tuh bang, sudah lama aku memergoki perselingkuhan mereka, aku cuma nunggu abang pulang aja, takut abang nggak percaya dengan ucapanku karena dulukan abang sayang banget sama istri abang yang satu itu."


" Itu dulu... tapi setelah aku melihat video saat dia menyentuh barang milik laki-laki lain, aku sudah langsung tidak berselera lagi melihatnya, karena barang murahan kan memang cepat membosankan." Jawab Lewis dengan tenang dan damai.


Tapi kenapa aku masih sering teringat dengan mas William ya? abang cuma lihat videonya saja sudah bosan, ini aku lihat livenya loh, kenapa aku tidak bisa semudah bang Lewis dalam hal melupakan seseorang?


" Abang kelihatan seger banget hari ini, mau kemana? owh... atau abang sudah punya gebetan baru lagi ya, makanya abang dengan mudahnya melupakan mbak Farah?" Tanya Gemintang yang langsung duduk dihadapan abangnya.


" Ngawur saja kamu kalau ngomong ya dek?" Lewis langsung menyentil kening adeknya.


" Hehe.. ya maaf lah bang, kan cuma nanya?"


" Untuk apa sih dek, kita terlalu larut dalam kesedihan, tidak ada faedahnya, jika memang dia bisa bahagia tanpa kita, untuk apa kita menahannya, hidup bukan melulu soal cinta dek, jika memang dia pergi dengan meninggalkan sebuah pengkhianatan untuk kita, berarti Alloh masih sayang sama kita, Dia memberikan petunjuknya dan tidak membiarkan hambanya terluka atau tersakiti lebih lama lagi."


" Lah iya... abang enak ngomong gitu, di kapal kan banyak yang seger-seger bang, bodynya juga pasti mantep-mantep, abang pasti bisa cuci mata setiap hari, hayow... ngaku loh bang?"


" Cih... kamu ini, tidak semua cowok modelnya seperti suamimu itu, abang selalu menjaga mata dan hati untuk kakak iparmu itu, namun ternyata semua sia-sia, tapi semua pasti ada hikmahnya, siapa tahu Alloh sudah menurunkan jodoh yang baru untuk abang kelak ya kan?"


" Tuh kan... emang abang sudah punya yang baru, cerita dong bang ke adek, kek mana orangnya?"

__ADS_1


" Beneran dek, abang nggak punya incaran atau apapun itu, abang ingin sendiri dulu, tidak mau memusingkan perihal cinta, karena ternyata sekuat apapun kita memupuk rasa cinta kalau yang dipupuk sudah tak layak, pasti tidak akan bagus hasilnya."


" Wuidih... ternyata abang setegar itu ya, salut gue sama abangku tersayang, trus mau kemana sudah rapi sepagi ini?" Tanya Gemintang yang langsung penasaran.


" Abang mau lihat perusahaan nanti, yah... walaupun abang nggak ngerti soal bisnis tapi setidaknya abang bisa tanya sama karyawan yang lainnya."


" Alhamdulilah... berarti abang mau berhenti menjadi pelaut? abang mau nerusin perusahaan peninggalan ayah kita begitu?" Gemintang langsung terlihat sumringah.


" Hmm... abang pengen coba dulu, kalau memang bisa ya, abang akan lanjut di perusahaan saja."


" Yeaaay... abang emang terbaik deh." Gemintang langsung melompat kedalam pangkuan abangnya dan memelvknya dengan erat.


" Abang tidak mau meninggalkan kamu sendirian dalam keterpurukan seperti sekarang, cuma kamu keluarga satu-satunya yang abang punya." Tanpa terasa kedua mata Lewis sudah memanas.


" Terima kasih bang, aku memang sangat membutuhkan abang disini." Gemintang pun langsung mewek saat sudah bicara dari hati ke hati dengan abangnya.


" Maafkan abang ya, karena saat kamu terluka abang tidak ada disisimu, abang fikir William bisa menjagamu dengan baik, karena sejauh ini abang melihat William dan kamu saling menyayangi, itu kenapa abang rela berpisah jauh denganmu dan menyerahkan kepada William yang ternyata kelakuannya malah seperti binatang." Tetesan air mata seorang abang pun akhirnya jatuh juga.


" Tidak ada yang salah dalam hal ini bang, mungkin memang sudah menjadi takdir kita."


" Hmm... semua orang juga pasti pernah di posisi, dimana dirinya merasa sangat lelah, namun mereka masih bisa bertahan sampai sekarang, dan kita harus menjadi manusia yang kuat, walaupun sok kuat sih, hehe..."


" Ya iyalah, biarpun capek nggak usah banyak ngeluh, masa iya manusia seperti kita nyerah begitu saja dengan keadaan, tetep dikuat-kuatin dek, nggak selamanya kek gini kok."


" Ternyata sebuah masalah bisa menjadikan kita lebih dewasa ya bang, dulu... sama sekali tidak pernah terpikirkan olehku bisa kemana-mana sendiri, mikir sendiri, semua sendiri, aku kira tanpa mas William aku tidak akan bisa hidup dengan baik, ternyata Tuhan selalu adil, memberikan sahabat-sahabat terbaik untuk menemaniku dan memberi semangat hidup buatku untuk bisa melupakan dia yang menyakitiku."


" Bukan dirinya yang harus kita lupakan dek, tapi harapan kita, bukan salah keadaan tapi perasaan kita, sebab jika memang hatinya sudah tidak bisa lagi untuk kita, dari sisi manapun kita mencintainya, terluka itu tetap akan menjadi bagian kita."


" Aku pun sepemikiran sama abang."


" Lupa, melupakan, dilupakan, terlupakan atau pura-pura lupa, itulah manusia, saat dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan."

__ADS_1


" Nggak nyangka ya bang, mereka bisa jahat banget seperti itu dengan kita? padahal kita berdua memperlakukan mereka secara istimewa."


" Tidak papa dek, tapi entah mengapa abang kok marah merasa lega ya, kayak nggak ada beban gitu saat melepas Farah, nggak ada lagi tanggung jawab abang sebagai seorang suami dan anak menantu."


" Apa orang tua mbak Farah masih sering minta uang bulanan?" Gemintang menaikkan kedua alisnya karena terheran.


" Iyalah, tapi mungkin bulan kemarin itu akan menjadi yang terakhir, abang sudah nggak punya tanggung jawab lagi sekarang, biar Farah sendiri yang menanggungnya, lagian dia kan juga bekerja kan?"


" Owh... tidak bisa, sekarang kita yang memegang kendali perusahaan itu, tanpa suplay dan dukungan dari perusahaan kita, mbak Farah itu apa! masih banyak wanita yang masih fresh yang lain, yang bisa kita rekrut."


" Jangan terlalu mendendam dek, itu tidak baik."


" Bukan mendendam bang, cuma agar dia sedikit belajar tentang bagaimana menghargai seseorang, dan tahu akibat dari mengkhianati keluarga kita itu seperti apa jadinya, hehe.."


" Apa kamu sudah punya rencana?"


" Owh... jelas dong! kita tunggu saja tanggal mainnya!"


" Adek abang memang keren!"


" Iya dong bang, yang penting masih ada abang yang bisa menjadi bahu sandaranku kali ini."


" Kalau misalnya nggak ada abang, kamu mau nyandar sama siapa dong?"


Mas Chris dong.. eeh opsh!


" Sing tenang maszeh, kan masih ada Bahu Jalan untuk bersandar, haha..." Jawab Gemintang yang hampir saja keceplosan.


" Melas tenan toh kamu nduk, hahaha..." Lewis langsung mengacak rambut adeknya dengan gemas.


Dan akhirnya mereka berdua tertawa cekikikan berdua, walau perihnya luka di hati masih sedikit tersisa, namun mereka yakin bahwa setiap cobaan pasti akan segera berlalu.

__ADS_1


..."Jangan menguji seseorang perihal Rasa, jika sudah memakai Logika, maka dia bisa meninggalkanmu tanpa sebuah Kata."...


TO BE CONTINUE...


__ADS_2