Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
121. Mertua


__ADS_3

...Happy Reading...


Rutinitas pagi hari bagi seorang Sabrina sudah berganti saat ini, dulu dia sering malas-malasan membuat sarapan pagi, lebih sering makan roti atau mampir ke kantin sebelum bekerja.


Namun sekarang, kerja ataupun nggak kerja, dia harus tetap bangun pagi untuk membuatkan sarapan sang suami, karena sebagai istri yang baik, dia harus menjaga suaminya dalam hal makan minumnya, maupun perhatian lainnya sebagai seorang istri.


Itulah yang diajarkan oleh ibunya dulu saat dia masih belia, walau tidak secara langsung, namun ibunya memang tidak pernah lalai dalam menjaga keluarga kecil mereka, dan memang bisa dijadikan panutan saat Sabrina sudah berkeluarga.


" Sayang..."


" Sayangkuh..."


" Sabrina..."


Peter sudah berkoar-koar saat dia terbangun, namun tidak mendapati istrinya tidur disampingnya, hanya sebuah bantal guling yang teronggok saja menggantikan keberadaan Sabrina tadi.


" Astaga... suaranya itu loh?" Sabrina langsung mencuci tangannya yang kotor karena bergelut dengan bumbu masakan.


" Nana sayangggggg!" Teriak Peter kembali.


" Allohuakbar, iya mas... ada apa?" Jawab Sabrina dari dapur.


" Kamu dimana?" Terlihat Peter menuruni tangga dengan wajah khas baru bangun tidur dan hanya menggunakan kandang dan rumah si Bruno saja.


" Di Dapur mas, lagi buat sarapan ini, ada apa sih, pagi-pagi kenapa sudah teriak?" Jawab Sabina yang langsung mendekat kearah Peter yang sudah tersenyum-senyum melihatnya.


" Kenapa udah bangun sih, kirain kabur tadi?"


" Kenapa? pengennya sih emang mau kabur aja, apalagi kalau tiap malam mas giniin aku."


" Dih jutek banget ngomongnya, nggak boleh kayak gitu sama suami Nana sayang." Peter langsung menyentil hidung mancung istrinya.


" Ckk... ya udah, kenapa? mau minta ulil-ulil lagi? nggak cukup apa mas buat aku gempor kayak begini?" Umpat Sabrina seolah seperti orang yang teraniaya.


" Hehe... masak udah gempor sih yank, baru berapa ronde coba?"


Dih.. berapa ronde katanya, memang cuma enam ronde hitungannya, tapi kan @hh nya berkali-kali dia!


" Gimana nggak gempor kalau setiap dua jam sekali mas bangunin aku, ngerjain aku terus, heran aku tuh, nggak ada capeknya loh?"


" Ibadah yank, gimana sih? mau ditambahin pahala kok nggak mau." Peter selalu punya jawaban kalau soal yang sedap-sedap.


" Pahala ya pahala mas, tapi nggak gini juga, kamu nggak lihat sih gimana jalannya aku sekarang gimana, udah kayak nenek-nenek umur sembilan puluhan tau mas, pinggang rasanya mau patah, memar semua tubuh aku mas buat!"


" Ya udah, mas pijitin deh, yok balik ke kamar." Peter tidak menyangkalnya, karena mumpung hari ini libur kerja, dia memang sengaja nglemburin istrinya, apalagi cuaca malam tadi sangat mendukung sekali untuk berkembang biak, jadi modal secangkir kopi hitam saja dia bisa terjaga semalaman.


" Ogah... paling juga mijitnya lima belas menit doang, setelah itu mas minta bayar ulil-ulil lagi, nggak mau lah aku!" Sabrina yang melihat senyum mesvm dari suaminya itu jadi tidak mudah percaya.


" Ya enggaklah, beneran cuma mijit doang kok, soalnya sebentar lagi mertua kamu mau datang." Ucapnya yang sontak membuat mata istrinya kembali mendelik dengan sempurna.


" Mertua kamu? maksud mas siapa?" Karena terlalu kaget, dia jadi oneng sesaat.


" Emang mertua kamu ada berapa?" Peter hanya terkekeh saja melihatnya.


" Mas... ihh, jangan bercanda deh!" Sabrina langsung memukul dadaa bidang suaminya.

__ADS_1


" Kenapa lagi sayang, mau nambah lagi biar ganjil tujuh ronde apa? emang bagus sih kalau ganjil-ganjil, yok... kita masuk kamar lagi atau mau coba di meja dapur itu saja?" Peter semakin gemas melihat istrinya seperti itu.


" Diih... apaan sih mas, mas ini tega ya!"


" Tega kenapa sih Nana sayang? mas salah apa lagi coba?" Peter sebenarnya tahu apa yang dirasakan istrinya, namun dia tidak terlalu ambil pusing, karena sedari dulu orang tuanya memang selalu menyuruh dia untuk segera menikah, namun dia yang malas.


" Salah besarlah, mas udah buat aku begadang semalaman dan sukses buat aku gempor sampai susah berjalan begini, dan mas dengan santainya bilang sebentar lagi orang tua mas mau datang? astaga mas, kamu benar-benar terlaluuu!"


Ingin rasanya Sabrina menangis saat ini juga, sebagai menantu yang belum pernah bertemu dengan mertuanya, sudah pasti banyak yang harus dia persiapkan, apalagi dia juga harus menjamunya dengan baik, apa kata mereka jika orang tua datang tidak ada sambutan sama sekali, pasti orang tua Peter akan menggangapnya sebagai menantu yang tidak berguna, dan tidak menghargai kedatangannya, pikirnya.


" Kenapa sih yank? apa masalahnya?"


" Mas nggak ngerti deh?"


" Ya gimana mas mau ngerti kalau kamu nggak bilang sayangkuh?"


Peter langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang dan menyandarkan dagunya di pundak Sabrina dengan manjanya.


" Harusnya mas itu bilang dari awal, jadikan aku bisa persiapan dulu, mana aku belum belanja juga mas, kulkas kita kosong itu, cuma ada sayur, telor, sama mie instat doang, masak iya cuma mau dimasakin mie rebus aja?"


" Ngapain susah-susah sih yank, tinggal delivery makanan aja kan gampang." Peter tidak pernah terlalu ambil pusing soal itu.


" Kalau kata ibu itu, kita harus memanjakan keluarga kita dengan hasil keringat sendiri, itu bukti bahwa kita sayang dan hormat dengan mereka."


" Owh begitu... mas jadi makin tambah sayang deh sama kamu, walau keluarga kamu sederhana tapi selalu penuh dengan kehangatan kasih sayang keluarga, emang nggak salah mas mau nikahin kamu dulu kan?" Peter langsung menghadiahkan kecvpan-kecvpan hangat dikepala istrinya, walaupun sama-sama kecvt karena belum mandi.


" Apa sih mas ini." Sabrina langsung tersenyum malu-malu saat suaminya menatap wajahnya dengan intens, apalagi ditambah dengan senyumannya, walau belum mandi juga tetap tampan."


" Hehe... it's okey, kalau kita tidak bisa menjamu mereka dengan hasil masakanmu sendiri sekarang, kita bisa lakukan itu besok, sekarang kamu mandi aja, sebentar lagi mereka akan sampai."


" Sebentar lagi banget ini mas? nggak nanti siang atau sore gitu?" Sabrina semakin lemas dibuatnya.


" Mereka sudah dijalan Nana sayang, mas juga baru tahu itu tadi, katanya mereka sudah sampai di bandara." Peter memang tidak menyangka mereka akan mengunjunginya secepat itu, karena biasanya akhir tahun baru mereka pulang dan tinggal lama disini.


" Dih... gemes aku sama mas tuh! mana nggak bisa jalan cepat-cepat lagi, linu-linu semua tubuhku ini, gimana ini!"


" Uluh.. uluh... ayok mas bantu, tinggal bilang tolong gendong mamasku tersayang gitu, apa susahnya sih?"


" Mas nyebelin!" Ingin sekali dia berteriak sekuatnya melihat tingkah suaminya itu, namun takut jika tetangga mendengarnya.


" Bilang sekali lagi, mas garap kamu didalam kamar mandi!"


Mulai deh... ancamannya itu loh, taulah sedap, aku pun suka, tapi kalau begini tiap hari apa nggak turun mesin aku?


" Aaaaaaaa... nggak mau!" Sabrina langsung berontak ingin turun dari gendongan suaminya.


" Hehe.. yaudah sana, kamu mandi duluan aja, ntar kalau barengan si Bruno juga bisa ngamuk lagi minta jatah, digedor-gedor pula nanti pintu rumah kita, mas mandi dibawah aja ya."


Melihat wajah istrinya yang merengek seperti itu dia semakin suka menjahilinya.


" Hmm.. yaudah sana."


Akhirnya mereka memilih mandi sendiri-sendiri, dan benar saja tak lama setelah mereka selesai mandi dan bersiap, pintu rumah mereka sudah diketuk dari luar.


Bismilah... ya Alloh, semoga mertuaku tidak sejahat seperti di sinetron ikan terbang, amin.

__ADS_1


" Mas... aku udah rapi belum?" Sabrina melihat baju yang dia kenakan dan melihat apa yang salah dengan wajah dan rambutnya.


" Udah kok." Jawab Peter dengan santai.


" Lihat dulu yang benar mas?" Saat Peter terburu-buru ingin membukakan pintu, Sabrina kembali menarik lengan suaminya.


" Ya ampun sayang, sejak jadi istri mas kamu itu cakepnya udah nggak ketulungan, jadi mau pakai apapun kamu itu istri tercantik mas, okey." Mau heran dan tertawa tapi itu lah istrinya, semakin dia tertawa dan banyak komentar pasti semakin lama pintu itu akan terbuka.


" Enak saja, sebelum jadi istri mas juga aku sudah cantik tau!" Dia langsung merengut kesal, ada-ada saja tingkahnya yang membuat Peter selalu gemas karenanya.


" Masak? nggak lihat tuh dulu, padahal kita kan satu perusahaan?" Peter kembali terkekeh saat mengingatnya, jodoh memang lah rahasia, karena tidak ada yang tidak mungkin jika Alloh sudah berkehendak.


" Gimana mau lihat, kepala mas itu selalu mendongak ke atas kalau lewat didepan karyawan di kantor mas dulu, jadi aku yang ibarat remukan kue ditepi kaleng ini mana terlihat oleh kedua mata mas itu." Sabrina kembali mengingat sosok Peter sebagai atasannya dulu yang memang super sadis.


" Utututuu... manalah mas tau kalau kamu itu adalah jodohku? tau gitu aku cicil kamu dari dulu kan?" Dia bahkan mengedipkan satu matanya untuk meledek istrinya.


" Enak saja kalau ngomong mas ini." Sabrina langsung mencubit pinggang suaminya.


" Peter... ini mama sayang."


Terdengar suara teriakan orang dari luar pintu, karena mereka berdua malah asyik berdebat sebelum membukakan pintu apartementnya.


" Astaga, ayok mas kita bukain pintunya." Giliran Sabrina yang sekarang jadi tambah panik, saat baru mendengar suara teriakannya saja.


" Mama, papa? gimana kabarnya?"


Peter langsung memeluk tubuh kedua orang tuanya bergantian, namun mata kedua orang tuanya tidak tertuju dengannya, pandangan mereka masing-masing langsung terlihat menjeling kearah Sabrina, yang memang sudah menunduk hormat sedari pintunya terbuka tadi.


" Who is she Peter?" Tanya Mama Peter yang langsung kepo.


Apalagi seorang ibu, pikirannya sudah pasti melalang buana entah kemana-mana, saat melihat sepagi ini ada seorang perempuan yang sudah berada didalam apartement milik anaknya.


Karena Peter memang belum sempat memberitahukan pernikahan Sirinya ini kepada orang tuanya, setelah berencana untuk meresmikan secara hukum dan negara nanti, baru dia akan bercerita.


" She is my wife, ma." Peter langsung memelvk pinggang ramping Sabrina dengan senyuman lebarnya, seolah dia bangga dan ingin mengucapkan 'ini loh istriku'.


" WIFE?" Teriak Mama Peter yang seolah terkejut seperti melihat hantu.


" Uhuk.. uhuk.. uhuk.."


Papa Peter yang baru saja ingin berkata-kata langsung tersedak terlebih dahulu, karena terlalu terkejut mendengarnya.


Mampus gue... apa mereka akan marah? apa gue terlalu jelek dan tidak selevel dengan mereka? kenapa mereka terkejut sekali? apa mereka tidak akan merestui hubungan kami? aduh gimana ini, mana aku udah nggak bisa tanpa mas Peter lagi?"


Belum apa-apa Sabrina sudah down duluan, baru melihat dirinya saja mereka sudah terkejut bukan kepalang, dia bahkan belum menceritakan kalau dia berasal dari keluarga yang sederhana dan tak selevel dengan mereka, Sabrina sungguh tidak bisa membayangkan bagaimana kisah cinta selanjutnya setelah hari ini.


Jika Alloh menghadirkan seseorang yang menghadiahkan air mata, itu berarti Alloh mendidik kita untuk Sabar.


Jika kita tak pernah mengusik kehidupan seseorang tapi dia melukai kita, saat itu Alloh mendidik kita untuk Kuat.


Jika Alloh mempertemukan kita dengan seseorang yang membuat kita tersenyum, saat itulah Alloh mengajarkan kita rasa Syukur.


Jika tanpa sebab seseorang hadir menghina kita, saat itu Alloh mendidik kita untuk Ridho dan memacu diri agar lebih baik lagi.


Sabar, Ridho dan Bersyukur atas apa yang hadir menyapa dalam kehidupan kita, sekalipun itu tidak kita sukai, boleh jadi itu cara terindah dari Alloh untuk menempa pribadi kita agar kian mulia.

__ADS_1


__ADS_2