Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
49. Menggila


__ADS_3

...Happy Reading...


Didalam hidup ini, jangan pernah menunggu kehilangan dahulu, untuk menyadari bahwa ada seseorang yang sangat berarti untuk kita.


Suami istri ditakdirkan untuk saling melengkapi, didapati kelebihan padanya maka banyak bersyukur, didapati kekurangan padanya maka perbanyak sabar, bukan malah mencari bunga yang baru, setelah itu kamu hanya bisa menyesalinya karena tidak sesuai dengan yang kamu harapkan dan pada akhirnya itu sudah tidak ada gunanya lagi.


Setelah hubungan gelap William dengan kakak iparnya terbongkar dihadapan Gemintang sendiri, dia berusaha mencari istrinya namun tidak bertemu, berbagai kafe dan tempat tongkrongan sosialita istrinya sudah dia datangi, namun hasilnya nihil, William tidak menemukan keberadaan Gemintang.


Dan akhirnya William memilih menepi dan menenangkan diri, entah mengapa saat ini dia sangat takut kehilangan istrinya.


" Gemintang... kamu dimana sayang?"


William berada disebuah hotel mewah sendirian, dia memilih menginap disana, karena sedari kepergiannya dari rumah, Farah terus saja menelponnya dan mengiriminya chat setiap saat, namun anehnya William sama sekali tidak tertarik untuk menggangkatnya, hingga dia memilih untuk membalas satu pesan untuk Farah.


Maaf, aku tetap tidak bisa melepasnya, sementara aku ingin sendiri dulu, jangan mencariku..


Itulah pesan terakhir yang dia kirimkan kepada Farah, sebelum William menonaktifkan ponselnya.


" Sayang... bukan begini yang mas inginkan."


" Tahukah kamu, mas hanya tidak ingin membuatmu kewalahan karena n@fsvku dan akhirnya melukaimu Gemintang, aku masih sangat menyayangimu."


William meracau sambil duduk di lantai, disalah satu sudut ruangan, dengan ditemani puluhan botol minuman haram yang selalu dia pelvk secara bergantian.


Keadaan dirinya sangat kacau, kedua matanya memerah, rambutnya berantakan, baju yang dia pakaipun sudah terlihat acak-acakkan, kondisinya saat ini sungguh tidak karuan.


Bahkan dia melupakan tugasnya sebagai seorang CEO di perusahaan milik keluarga Gemintang, dia bahkan sudah mengurung diri sehari semalam, setelah tertidur dia bangun, m@bok lagi, tidur lagi, seperti orang yang tidak punya semangat hidup.


Dia tidak lagi bisa menghubungi istrinya karena nomor dirinya sudah di blokir.


Prangg!


Tiba-tiba William menyampar botol-botol yang ada dihadapannya dengan tenaga yang tersisa, bahkan sampai menimbulkan suara bising karena terkena dinding, hingga terdengar sampai ke luar ruangan.


" Gemintang... kamu dimana!"


" Gemintang... sampai kapanpun aku tidak rela berpisah denganmu!"


" Aku berbuat seperti ini karena tidak mau kamu sakit yank?"


" Gem... pulang ya, aku kangen kamu sayang!"


" Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa... GEMINTANG!"


William berteriak seperti orang kesetanan, dia sudah setengah sadar saat ini, entah berapa botol minuman yang sudah dia habiskan, tanpa mengisi perutnya dengan sumber karbohidrat dan protein sedikitpun.


Sedangkan saat itu ada seorang cleaning service wanita yang sedang bertugas membersihkan ruangan sesuai dengan jadwalnya.


Tok.. tok...


" Permisi!" Cleaning service itu mengetuk pintu kamar William.


" Gemintang... apa itu kamu sayang? akhirnya kamu datang juga menemuiku yank, aku rindu kamu."


William berjalan sempoyongan, bahkan sampai berpegangan tembok saat ingin pergi berjalan kearah pintu, dia masih berhalusinasi, seolah semua wanita adalah Gemintang di fikirannya.


" Sayang, kamu sudah datang?" Saat pintu itu terbuka William langsung memegang lengan cleaning service wanita itu dengan erat.


" Maaf pak, saya petugas kebersihan, mau membersihkan kamar bapak." Perempuan itu langsung memundurkan langkahnya dan menggengam sapu ditangannya lebih erat.


" Sayang... jangan pergi dariku, aku masih sayang kamu!" Celoteh William dengan suara paraunya.


" Maaf Tuan kalau saya menggangu, saya bisa datang nanti saja, permisi!" Cleaning service itu langsung memilih pergi saja karena dia tahu kalau William sedang m@buk berat.


" JANGAN PERGI, sudah berapa kali aku bilang, temani aku disini sayang!" Teriak William semakin menggila.


" Aw... aw... sakit tuan!" Cleaning service itu mer¡ntih kesakitan, karena William mencengkeram lengannya dengan begitu kuat.


" Kalau kamu melawanku, aku bisa berbuat kasar denganmu!" Wajah William sudah tidak beraturan, wajah tampannya pun sudah tergantikan dengan wajah lusuh karena tidak mandi dari sejak dia datang.


" Aaaa... tolong, jangan sakiti aku! sa.. saya.. hanya petugas kebersihan disini, sa... saya tidak mengenal anda tuan!" Tubuh perempuan itu semakin bergetar karena ketakutan, baru kali ini dia diperlakukan seperti ini di kamar VIP.


" Kamu milikku, tetap milikku, sampai kapanpun itu!"


William langsung menarik tubuh cleaning service itu dan membawanya ke ranjang di hotel itu.


" Jangan... jangan Tuan saya mohon!" Teriak Perempuan itu mencoba untuk melawan, namun tubuh mungillnya tidak bisa menahan kegilaan William.


" Kamu harus melaksanakan kewajibanmu sebagai istriku, kamu mengerti!" William langsung membuka paksa baju cleaning service yang sudah meneteskan air matanya itu.


" Aaaaaaa tuan.... saya bukan istrimu!" Dengan mengucap bismilah dia raih sapu disampingnya tadi.


Brak!


Perempuan itu memberanikan diri untuk memukul tamu kelas VIP nya dengan sekuat tenaga yang dia bisa, sebagai gadis yang masih suci, dia lebih memilih mempertaruhkan pekerjaannya daripada harus ternoda dengan seseorang yang tidak dia kenal, walau kaya sekalipun. Jika setelah ini dia dipecat, dia akan terima pikirnya.


" Aw... Gemintang, kenapa kamu menyakitiku!" William mengaduh kesakitan saat lengannya membiru.


" Ma... maafkan saya tuan tapi, aaaaa... tolong... tolong..."


Perempuan itu langsung menjerit histeris saat William menarik paksa dan menindih tubuhnya dibawah kungkungan tubuh kekarnya.


" Diam kamu!" Teriak William kembali memaksa.


Bugh!


Dengan wajah yang sudah panik, petugas cleaning kebersihan itu langsung meraih apapun yang ada diatas meja, dan tangan kirinya mendapati sebuah Vas bunga, lalu memukulkannya ke kepala William.

__ADS_1


" @rgh!"


William langsung memegangi kepalanya, dan dar@h segar pun mengalir dari sudut keningnya.


" Astaga... ada apa ini?"


Karena pintu kamar itu tidak tertutup, salah satu pegawai hotel yang tanpa sengaja melintas disana langsung melihat situasi didalam kamar itu.


" Tolong saya pak... dia memaksa saya." Saat William lengah karena menahan sakit dikeningnya, perempuan itu langsung bangkit berdiri, sambil membenahi bajunya yang sudah terbuka hampir separuh.


" Gemintang, jangan pergi, jangan tinggalkan aku, aku mencintaimu sayang!" Teriak William kembali sambil menarik paksa petugas kebersihan itu kembali.


Dugh!


Entah dapat kekuatan dari mana, petugas kebersihan itu langsung mendorong tubuh William yang sempoyongan dan akhirnya tumbang saat tubuhnya terbentur dengan sudut meja.


" Saya bukan Gemintang Tuan, anda salah orang!" Teriak Perempuan itu saat dia sudah menjauh dari sisi William.


" Apa dia sedang m@bok?" Pegawai hotel pria itu langsung mendekat kearah William.


" I... iya pak, tubuhnya bau @lkohol menyengat sekali." Jawab Perempuan itu dengan tubuh masih bergetar.


" Astaga.. apa dia pingsan? kamu memukulnya sampai berdarah loh mbak, lengannya pun sampai membiru!" Pegawai hotel itu melihat keadaan William yang sudah tidak sadarkan diri.


" Maaf pak... tapi dia mencoba menodai saya."


" Bantu aku mengangkatnya!"


" Tapi pak?" Perempuan itu sedikit ragu untuk kembali mendekat, karena dia masih ketakutan melihat wajah William.


" Cepat! dia tamu kelas VIP asal kamu tahu, kalau dia sampai kenapa-kenapa, atasan kita pasti akan marah, kamu yang akan kena sanksi nantinya."


" Tapi saya kan korban disini pak, sa.. saya takut pak."


" Ckkk... ya sudah, kamu tunggu dia, biar aku mencari bantuan dulu!" Salah satu pegawai itu langsung berlari mencari bantuan dibawah.


" Ma.. maafkan saya tuan, aku tidak bermaksud melukaimu, aku hanya melindungi diri saja."


Akhirnya perempuan itu terduduk dilantai sambil mendekap tubuhnya sendiri dan menangis meratapi nasip apesnya, dia sudah tahu konsekwensi yang akan dia terima setelah ini.


Beberapa staf dan pegawai hotel dan juga kepala petugas kebersihan sudah berkumpul dikamar tempat William berada saat ini.


" Kenapa bisa seperti ini?" Tanya staf petinggi hotel itu.


" Pria itu ingin menodai salah satu petugas kebersihan kita pak." Jawab kepala petugas kebersihan disana.


" Tapi kan tidak harus dengan kekerasan seperti ini, dia sampai berdarah seperti itu."


" Tuan itu m@buk tadi pak."


" Ya... tapi tetap saja tindakannya salah, jangan seperti itu, dia tamu kelas VIP, kalau sampai dia tidak terima, ini bisa berpengaruh besar dengan hotel kita, kalian mengerti!"


" Jangan cuma menegurnya, pecat dia, reputasi hotel kita bisa hancur karenanya." Umpat staf itu dengan kesal.


" Baik pak." Kepala petugas kebersihan itu langsung mengangguk patuh, sebagai bawahan dia bisa apa, walau kesucian orang harus dipertaruhkan.


" Sekarang kalian hubungi keluarganya, tanya di meja recepsionit sana, aish... dia ini pengusaha terkenal asal kalian tahu!"


Salah satu petinggi staf di hotel itu langsung pergi meninggalkan kamar itu dengan gelisah, dan mulai memikirkan cara untuk meminta maaf saat William sadar nantinya.




Tulilut... tulilut...



Saat dalam perjalanan pulang bersama abang tersayang, ponsel Gemintang langsung berbunyi.



" Hallo, siapa ya?" Sapa Gemintang saat mengangkat panggilan di ponselnya dengan nomor tidak dikenal.



" Maaf nona, apa saya sedang berbicara dengan nona Gemintang Lea Prakoso?" Ucap recepsionist hotel itu dengan lemah lembut.



" Ya... saya sendiri, ada apa ya mbak?" Gemintang menaikkan kedua alisnya karena penasaran.



" Begini nona, Tuan William sedang tidak sadarkan diri, beliau m@buk berat nona, apa kami harus mengantarnya ke kediaman rumah anda nona?"



Mencari identitas dan alamat seorang pengusaha terkenal sangat mudah jaman sekarang, apalagi KTP William ada disana.



" Apa dia benar-benar William suami saya mbak, nggak salah orang kalian?" Tanya Gemintang yang langsung terheran.



" Benar nona, beliau memang tuan William Austin suami nona, pihak hotel kami sudah mencari tahu kebenarannya nona."

__ADS_1



*Ngapain lagi dia di hotel segala? sama siapa lagi dia? bukannya selingkuhannya tadi baru saja pulang*?



" Apa tidak ada orang lain bersamanya mbak?" Gemintang mencoba memastikan, siapa tahu ada selingkuhan lainnya pikirnya.



" Tidak ada nona, tuan William sendirian saja dari kemarin."



" Aish... ya sudah, kalian antarkan saja kerumah, sebentar lagi saya pulang." Karena bagaimanapun juga alamat rumah di identitas William pasti dirumahnya juga.



" Baik nona, terima kasih." Pihak hotel langsung menutup panggilan telponnya.



" Kenapa lagi dengan pria gila itu?" Saat mendengar nama suami adeknya disebut saja sudah enék bagi Lewis.



" Dia pingsan karena m@bok bang."



" Biarkan saja, mau dia mati sekalipun ngapain kamu mesti perduli lagi dengannya? apa kamu masih mencintainya?" Tanya Lewis dengan malas, rasa sakit hatinya seolah sudah menggunung, saat pria itu merenggut kebahagiaan dirinya dan juga adeknya.



" Bukan begitu bang, tapi statusnya dia masih suamiku, kalau berita ini sampai tersebar dimana-mana, aku juga yang malu."



" Pulangkan saja dia kerumah orang tuanya, gitu aja kok repot."



" Tapi tidak dengan kondisi dia yang seperti itu bang, orang tua mas William itu sangat baik denganku selama ini bang, bahkan dia menggangap aku layaknya anak sendiri, kasih sayangnya denganku tidak jauh berbeda dengan kasih sayang ibu kita dulu, aku sangat menyayangi kedua orang tuanyanya bang, aku tidak mau ibu tiba-tiba pingsan karena melihat anaknya seperti itu."



" Huft... kamu tetap saja seperti itu." Umpat Lewis yang hanya bisa menghela nafasnya saja.



" Dalam situasi seperti ini mas William lah yang salah, ibu dan ayah mertua tidak tahu apa-apa bang, aku bisa membenci mas William, tapi tidak dengan kedua orang tuanya." Tutur Gemintang saat mengingat betapa baiknya kedua orang tua William dengannya.



" Ckk... terserah kamu saja!"



" Dulu... mas William itu pernah menjadi aminku yang paling serius, tapi sekarang dia akan menjadi ikhlasku yang paling tulus, walau mungkin itu sulit, aku akan terus mencobanya bang."



" Aku jadi malu sendiri, masih bolehkan aku memanggilmu Bocil dek?" Lewis melirik wajah adeknya sekilas.



" Aku sudah besar bang, bukan lagi gadis kecil yang meminta gendong denganmu."



" Hmm... padahal aku rindu saat-saat itu, kalau tahu menjadi dewasa sesakit ini, bukannya lebih baik kita kembali ke masa kecil kita?"



" Ogah... abang juga sering jahil denganku, bahkan boneka teddy bearku pun abang ambil diam-diam."



" Bahahaha... kamu masih ingat saja hal itu, memalukan sekali."



Akhirnya kakak beradik itu memilih bernostalgia dengan masa kecil mereka, untuk sekedar sedikit melupakan luka yang mendera jiwa.



♡♡♡



*Tidak semua orang akan menyukaimu, tidak semua orang akan mendukungmu, dan tidak semua orang akan menghargaimu, meskipun itu hal yang pantas kamu dapatkan*.



*Itulah hidup*...


__ADS_1


*Pada dasarnya kamu hanya perlu menyadari bahwa, yang Maha Kuasa lah yang memegang kendali penuh atas Dirimu*.


__ADS_2