
...Happy Reading...
Pertikaian suami istri itu masih terjadi, sedangkan Gemintang masih mencari cela dimana dia bisa masuk kedalamnya, tanpa harus membuat suasana semakin keruh, karena hanya akan membuat dirinya dan keluarganya menahan malu didepan orang banyak.
" Mas.. kamu pulang duluan aja ya, bawa saja mobilku." Ucap Gemintang perlahan.
Saat abang dan kakak iparnya sudah keluar dari hotel, Gemintang segera mengikutinya secara diam-diam, diikuti oleh Chris yang langsung membuntutinya dari belakang.
" Nanti kamu ikut nangis, mewek kejer ditengah jalan gimana, kalau sampai pingsan, siapa nanti yang akan membantu kamu." Ucap Chris yang malah seperti orang meledek.
" Astaga... mas pikir aku selemah itu?" Umpat Gemintang sambil melirik pria disampingnya itu.
" Siapa tahu nanti mereka jadi baikan, trus kamu ditinggal sendirian lagi."
" Ckk... abangku tidak sebodoh itu! ngapain juga masih mempertahankan wanita gila seperti dia, apa mas nggak dengar tadi abang sudah menalak istrinya!"
" Trus kamu kapan?" Tanya Chris seketika.
" Apanya?"
" Nalaknya?" Ucapnya dengan santai.
" Mana aku tahu, yang pasti aku juga mau cerai dengan suamiku, sama seperti abangku."
" Bagus itu!" Jawab Chris dengan cepat.
" Apanya yang bagus, mas seneng kalau aku jadi janda ya?" Ingin marah namun Gemintang sudah tidak punya tenaga.
" Kalau iya kenapa?" Chris malah kembali bertanya tanpa rasa segan sama sekali.
" Pulang sono mas, kok jadi kesel aku lihat wajah mas sekarang, kayak ngejek banget gitu!" Umpat Gemintang sambil melengos.
" Kamu ngusir aku?"
" Kalau iya kenapa? lagian juga nanti kalau sampai Farah lihat kita berdua, dia bisa bikin gosip baru, dan itu akan menyulitkan aku nantinya, jadi biar tidak semakin rumit masalahnya mas pulang duluan saja."
" Ya sudah... nanti kalau sudah selesai semuanya, kamu datang ke apartementku ya, aku libur hari ini."
" Ngapain?"
" Mobilmu emang nggak mau kamu ambil?"
" Owh... iya juga ya, ya sudah nanti aku kesana."
" Eits... satu lagi."
" Apalagi sih mas?"
" Ku tunggu Jandamu."
" Massss! mau pulang sekarang atau aku lempar pakai sendal nih!" Gemintang bahkan langsung melepas sendalnya dan melotot kearah Chris yang malah cengengesan.
" Gitu aja kok marah, jelek kamu kalau begitu." Ledek Chris kembali.
" Biarin!" Gemintang langsung membuang muka.
" Satu yang perlu kamu ingat, jika kamu ingin berlari, silahkan saja, tapi kamu akan sadar bahwa berjalan bersamaku akan jauh lebih indah, bye!"
Chris langsung melenggang meninggalkan Gemintang dengan sebuah senyuman yang terukir manis di bibiirnya, sedangkan Gemintang hanya bisa melongo setelah mendengarnya, sambil terus memandang punggung Chris dari belakang, yang sudah berlalu dan mulai menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
Kenapa hatiku jadi ser-seran begini? ada apa denganku? astaga... sadar Gemintang, bukan saatnya memikirkan masalah hati, karena masalah rumah tanggamu masih perlu kamu tangani.
Akhirnya Gemintang mengusir kegalauan dirinya dan memilih mengejar abang dan istrinya saat mereka hampir sampai di parkiran, saat melihat kanan kiri suasana sepi, Gemintang langsung mendekat kearah abang dan kakak iparnya yang masih kejar-kejaran, karena sepertinya Farah tidak mau melepas Lewis begitu saja.
" Menjauhlah dariku, sebelum kesabaranku habis!" Lewis mengibaskan tangan Farah yang ingin menempel dilengannya.
" Mas... aku sudah berjuang selama ini, apa hanya dengan satu kesalahanku lalu dengan mudahnya kamu menceraikan aku, memang dimana kamu ketika aku butuh? dimana kamu ketika aku sakit? apa kamu tidak memikirkan hal itu!" Teriak Farah masih belum terima.
Entah apa yang ingin Farah pertahankan didalam hubungannya, padahal rasa cintanya pun sudah terkikis dan mulai tergantikan oleh William.
" Seribu kesalahanmu akan aku ampuni, kecuali perselingkuhan, kamu paham Farah!" Sudah tidak ada kata sayang lagi dalam nama panggilan mereka.
" Tapi mas... aku janji tidak akan mengulanginya lagi, ayolah... beri aku kesempatan satu kali lagi sayang, bukankah setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan?" Rengek Farah dengan segala dramanya.
" Heleh... tidak akan ada kesempatan kedua kalinya untuk sebuah pengkhianatan!" Gemintang langsung mendekat kearah mereka.
" Aish sial." Umpat Farah perlahan ketika melihat Gemintang berjalan mendekat kearah mereka, karena dia sudah melihat sendiri perselingkuhannya dengan William.
" Dek?" Lewis langsung berjalan mendekat kearah Gemintang.
" Asal abang tahu aja, aku pernah memergoki mereka berdua bermesraan didalam kamar abang, saat itu aku pergi karena tidak kuat untuk melihatnya, namun yang lebih gilanya lagi saat aku kembali, tahukah apa yang terjadi bang?"
" Apa?" Tanya Lewis sambil terus menguatkan hatinya sendiri.
" Diam kamu!" Farah langsung mendelik kesal kearah Gemintang, karena dia memang sudah memegang kartunya.
" Pelankan suaramu, jangan pernah membentak adekku!" Lewis menatap tajam kearah Farah dengan penuh kebencian.
" Baru beberapa menit saja aku tinggalkan, bukannya saling menyesali dan instropeksi diri, namun mereka malah asyik melanjutkan permainan menjijikkan itu setelahnya, tanpa rasa malu sedikitpun bang dan apesnya lagi bang, aku menyaksikan itu semua dengan kedua mataku sendiri!" Gemintang langsung saja menceritakan kejadian menyakitkan itu.
" Jangan dengarkan omongannya mas, adekmu itu hanya ingin menghasutmu saja!" Kilah Farah tanpa rasa malu sedikitpun, karena semua sudah terbongkar dia hanya bisa nekad saja membela diri walau mungkin tidak akan mengubah apapun.
" Cih... sebagai sesama wanita yang sudah bersuami, aku malu melihat kelakuanmu mbak Farah, kamu itu terlalu menjijikan karena pernah menjadi anggota keluargaku!" Gemintang langsung tersenyum miring melihat pembelaan dari Farah.
" JANGAN SAMPAI KAMU MENYENTUH ADIKKU WALAU SEDIKIT SAJA!" Teriak Lewis, baru kali ini dia membentak Farah begitu keras sekali, bahkan sampai membuat Farah terkejut dan memundurkan langkah kakinya.
" Jangan terpancing emosi dengan wanita itu bang, buang-buang tenaga saja, orang kalau sudah ketahuan salah, akan melakukan berbagai cara untuk mencari pembelaan, abang lihat sendiri kan videonya?" Gemintang tidak merasa takut sama sekali, dia malah semakin melebarkan senyumannya, semakin Farah marah semakin dia menunjukkan sifat aslinya didepan abangnya.
" Siaalan... jadi kamu yang memberikan video itu!" Umpat Farah semakin kesal.
" Kenapa? apa kamu pikir aku akan merahasiakannya karena ada mas William didalamnya? asal kamu tahu, secinta apapun aku dengan mas William, tidak akan membuatku menjadi gadis bodoh dengan memaafkan kelakuan kalian berdua, cam kan itu diotak mesvmmu!" Gemintang menekankan segala perkataannya.
" Awas kau ya!" Teriak Farah kembali tidak terima.
" PERGI DARI SINI, MENJAUH DARI AKU DAN KELUARGAKU!" Bentak Lewis kembali.
" Tapi mas?" Farah kembali merengek, dia masih mencoba untuk berharap walau hanya secuil.
" Sebelum aku berbuat kasar denganmu, ENYAH KAU DARI HADAPANKU SEKARANG JUGA!" Teriak Lewis dengan wajah yang sudah merah padam karena amarahnya.
" Aaaaaa... pokoknya aku tidak terima mas!"
Farah mengepalkan kedua tangannya dan melotot kearah Gemintang sebelum dia pergi meninggalkan sepasang kakak beradik itu.
Farah... sebenarnya aku masih sangat mencintaimu, ini seperti mimpi yang sangat sulit untuk aku terima, aku sangat kecewa dengan perubahan sikap dan kelakuanmu, dulu kamu tidak begini Farah, dulu kamu sangat lugu dan polos, oleh karena itu aku memilihmu menjadi pasangan hidupku dan berharap kelak bisa bertemu kembali di Surga, ternyata selama ini aku salah menilaimu.
" Are you okey bang?"
Setelah kepergian Farah, Gemintang menatap kedua mata abangnya yang ternyata sudah berair.
__ADS_1
" I'm okey dek, sini pelvk abang!"
Lewis merentangkan kedua tangannya kearah Gemintang dengan senyum yang terlihat sangat dipaksakan, walau sebenarnya didalam hatinya terasa hancur berkeping-keping saat itu.
Tidak bisa dipungkiri, walau Farah sudah mengkhianatinya sekarang, namun dia dulu juga pernah memberikan kenangan indah saat hidup bersamanya, dan untuk merasakan baik-baik saja, sebenarnya masih sangat sulit untuk diterima diri Lewis kali ini.
" Kalau okey kenapa abang nangis, tenang saja bang, wanita bukan cuma dia seorang, masih banyak wanita baik diluaran sana." Gemintang mengusap punggung abangnya.
" Hmm.." Lewis tidak bisa berkata apa-apa, ucapan adeknya itu bukannya membuat air matanya berhenti mengalir, namun malah semakin membuat punggungnya bergetar hebat dan semakin pecah tangisannya.
" Bang... kok malah tambah nangis sih, sudah dong, jangan terlalu bersedih, wanita seperti itu tidak pantas abang tangisi!" Gemintang semakin mengeratkan pelvkannya.
" Uhuk... uhuk..."
Bahkan Lewis sampai terbatuk karena menahan sesak didalam dadaa.
" Tuh kan sampai batuk-batuk, abang pasti bisa melupakannya, abang terlalu baik untuk memiliki wanita seperti dia, sudah dong bang." Gemintang ikut meneteskan air mata saat melihat betapa hancurnya hati abangnya saat ini.
" Huuft... abang bukannya menangisi Farah dek." Lewis membuang nafasnya perlahan dan mencoba untuk menenangkan dirinya.
" Jadi?"
" Abang tuh bersyukur banget, akhirnya kamu sudah dewasa sekarang, abang tidak menyangka kamu bisa setegar ini menghadapi kenyataan pahit begini dek."
Abang nggak tahu saja, sebenarnya hatiku juga remuk bang, hancur lebur tak bersisa, apalagi saat melihat orang yang paling aku cintai beradu des@h@n secara langsung dihadapanku, dan yang lebih perih lagi, itu terjadi bukan hanya sekali, berkali-kali bahkan dengan keluarga kita sendiri bang.
" Hiks.. hiks.. abang." Gemintang kembali mengeratkan pelukannya dan membasahi kemeja abangnya dengan air mata.
" Maafkan abang ya dek, tidak bisa menemanimu saat hati kamu bersedih dan terluka parah, padahal cuma tinggal abang saja keluarga kamu satu-satunya, tolong maafkan abang ya dek."
Lewis tidak bisa membayangkan betapa terlukanya hati dan perasaan Gemintang kala itu, apalagi dia sendirian saat itu.
" Abang tenang saja, adek sudah kuat kok bang, lama-lama juga terbiasa, lagian ada Sabrina juga yang selalu menenangkanku dan juga ada... emm... pokoknya adek sudah baik-baik saja sekarang bang.
Dan ada mas Chris juga yang secara tidak langsung sering menguatkan aku, walau terkadang sering membuatku kesal juga.
" Abang bangga punya adek seperti kamu." Lewis mengusap air mata adeknya disela-sela kepedihan hatinya.
" Adek juga bangga punya abang Lewis, yang selalu bisa menggantikan ayah dan ibu untuk menjagaku sampai aku tumbuh dewasa." Gemintang pun ikut mengusap air mata abangnya yang masih terus menetes.
" Maafkan abang karena sering meninggalkan kamu untuk waktu yang lama ya dek?"
" Nggak papa bang, aku cuma berharap kelak kita berdua bisa melanjutkan sisa-sisa perjalanan hidup kita masing-masing, dengan bahagia dan tidak lagi dengan deraian air mata."
" Pasti dek, kita berdua pasti bisa bahagia, ayah dan ibu kita pasti mendoakan kita dari Surga, mereka berdua akan selalu dihati kita, untuk menguatkan putra putrinya, kita harus tetap tegar jangan sampai membuat mendiang orang tua kita bersedih, karena melihat anaknya terpuruk hanya karena salah memilih pasangan hidup."
" Iya bang... walau masih sulit, tapi aku selalu mencoba untuk mengikhlaskan itu semua, aku kira dulu dia takdir, ternyata hanya sekedar mampir."
" Kita pasti bisa dek, melupakan memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi secara perlahan semuanya pasti akan hilang." Sebagai seorang abang, Lewis harus tetap bisa menjadi sosok yang mampu menguatkan.
" Disaat aku terpuruk, aku selalu mengingat senyum ayah dan ibu dan itu cukup menguatkan aku bang, walau akhirnya aku jadi rindu mereka berdua."
" Cukup kita pahami saja dek, merelakan bukan berarti menyerah, tapi perlu diingat bahwa tidak semua yang kita inginkan terbaik untuk kita, tapi rencana Alloh lah yang paling baik." Lewis mengusap rambut adiknya penuh dengan kasih sayang.
" Abang memang terbaik deh." Gemintang menyembunyikan wajahnya dipelvkan hangat abangnya.
" Kita pulang yuk, jangan biarkan dua benalu itu menguasai rumah peninggalan orang tua kita." Lewis tidak ingin kembali menjadi sorotan ditempat umum.
" Hmm." Gemintang menggangukkan kepalanya walau terasa berat.
__ADS_1
Akhirnya, kakak beradik ini memilih bergandengan tangan untuk saling menguatkan, tetap berdiri tegak walau hati mereka sudah terkoyak dan terus mencoba untuk tersenyum, walau hatinya terasa sesak.
..." Terkadang hidup hanyalah tentang kamu berdoa dan melihat mana yang dikabulkan dan juga mana yang tidak. Pelajaran terberatnya adalah menerima atas semua kehendak-Nya."...