Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
27. Mendidih


__ADS_3

...Happy Reading...


Gemintang yang sekarang sudah mulai membiasakan diri menjadi pribadi yang kuat dan tabah, dia bahkan bisa tersenyum dan nampak bahagia didepan orang yang paling dia benci sekalipun.


Okey... mari kita mulai drama sore ini, seberapa kuat dirimu menahannya.


" Sayang.. kamu dari mana saja? kenapa ponselmu tidak aktif?" William sudah seperti orang satu minggu tidak bertemu, bahkan dia menenggelamkan wajahnya dicervk leher istrinya.


" Tadi siang aku makan Lobster sama Sabrina." Gemintang memasang tampang sedihnya.


" Apa? Lobster? kamu kan alergi makan Lobster dan segala jenis udang sayang." William langsung merenggangkan pelvkannya dan menatap wajah istrinya.


" Hiks.. hiks.. aku kira sudah sembuh, soalnya setelah makan aku nggak merasakan efek apapun." Gemintang bahkan pura-pura terisak walau air matanya juga tidak keluar.


" Astaga sayang... kenapa Sabrina tidak bilang tadi, dia cuma bilang kalau kamu pergi mendadak gitu, jadi mas nggak tau yank." William bahkan mengusap rambut Gemintang dengan mesra.


" Soalnya saat aku sudah berpisah dengan Sabrina siang tadi, aku belum merasakan efek apapun, semua terlihat biasa saja, tapi setelah aku pergi badanku jadi gatal semua, aku demam tinggi sayang." Gemintang langsung membalas pelvkan suaminya dengan erat.


Hoeeek... sayang palelu peyang, aku bahkan sudah malas sebenarnya manggil kamu sayang, karena hangatnya pelvkanmu bahkan tidak lagi semanis dulu.


" Trus kamu gimana? sudah pergi ke dokter belum, aku antar sekarang ya, kita pergi ke rumah sakit sekarang juga, mas ambil kunci mobil dulu ya." William ingin beranjak pergi dari sana namun langsung ditarik kembali oleh Gemintang.


" Aku sudah pergi ke klinik yank, tadi juga sudah dikasih obat penurun panas dan obat alergi kok, ini masih aku bawa juga sisanya." Gemintang menempelkan wajahnya di dadaa bidang suaminya sambil melirik kearah Farah yang ternyata sudah membuang muka.


Untung saja tadi Chris membawakan dirinya obat alergi untuk berjaga-jaga dirumah, jadi semakin meyakinkan drama ini agar menjadi lebih menyenangkan.


" Benarkah? maafkan mas ya sayang... mas nggak tahu kalau kamu sakit, sekarang sudah nggak demam kan?" William langsung menempelkan pipinya di kening Gemintang.


" Kayaknya sudah enggak deh, tapi badanku rasa-rasanya masih sakit semua, tadi rasa-rasanya aku sudah nggak kuat, bahkan aku sampai disuntik dan dibawa ke ruang rawat inap." Ucap Gemintang dengan manja, padahal tidak ada hubungannya alergi dengan sakit persendian, namun dia harus totalitas dalam berakting, agar semua berjalan sukses seperti yang dia inginkan.


Cup


William langsung menghujani kecvpan di kening Gemintang.


" Maaf sayang... maafkan mas ya, habisnya ponsel kamu nggak aktif yank, jadi mas bingung mau nyari kamu kemana?" William mengusap wajah cantik istrinya.


" Batreku habis mas, aku lupa ngecas ponsel tadi, kita duduk disofa dulu yuk, kakiku pegel banget." Rengek Gemintang yang mulai mengatur strateginya.


" Kita ke kamar aja yuk? ayok mas gendong ya sayang." William langsung sigap ingin menggendong istrinya ke kamar.


" Aku masih mau disini dulu, lagian aku pengen banget minum susu jahe buatan mbak Farah." Pinta Gemintang dengan manja.


" Emm... gimana kalau mas aja yang buatin ya?" William tidak ingin melihat Farah semakin cemburu karenanya.


Enak saja, o... tidak bisa, dia harus merasakan kesakitan ini.


" Aku mau buatan mbak Farah, buatan mas ngak sesedap buatan mbak Farah." Gemintang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.


" Tapi..."


" Mbak... mbak Farah?" Gemintang sengaja memperjelas permintaannya.


" Heh, iya.. iya.. mbak buatin sekarang ya."


Seperti biasa, Farah pun jagonya dalam berakting, dia bahkan bisa tersenyum dengan ceria walau api cemburu sudah terbakar didepan mata.

__ADS_1


" Sayang... badanku terasa dingin." Rengek Gemintang kembali.


" Makanya kita ke kamar saja sayang, disana kan ada selimut tebal kita." Jawab William dengan penuh kelembutan, yang dulu sering membuat hati Gemintang trenyuh seketika, namun tidak untuk sekarang.


" Aku mau disini dulu, trus maunya kamu yang jadi selimut aku." Gemintang memulai aksi manjanya seperti dulu lagi.


" Ini Gem susuu jahenya... coba diminum, sudah pas belum rasanya, mumpung masih anget juga." Farah meletakkan satu gelas susu jahe dihadapan mereka yang sedang berpelvkan dengan mesranya.


" Makasih banyak mbak Farah." Ucap Gemintang sambil tersenyum penuh kepalsuan.


" Sama-sama dek."


" Tiupin mas... masih panas ini." Pinta Gemintang dengan manjanya.


Cih... aku sudah menyampurnya dengan air dingin setengah tadi, jadi itu tidak terlalu panas.


Farah kembali membuang pandangan kesamping, dan itu membuat Gemintang semakin semangat dalam melanjutkan sandiwaranya.


" Minum pelan-pelan ya, kamu sudah makan belum tadi, apa kamu butuh sesuatu yang lain yank?" Tanya William sambil meminumkan susu jahe itu ke mulut istrinya.


" Sudah kok, aku cuma butuh kamu saja sekarang mas." Ucap Gemintang sambil mengungsel-ungselkan wajahnya didadaa suaminya.


" Pasti sayang... mas akan selalu ada untukmu." Jawab William dengan senyuman.


Entah mengapa hatinya kembali bahagia saat istrinya kembali minta bermanja-manjaan dengannya, namun dia hanya segan melakukan itu didepan Farah yang malah asyik duduk dihadapan mereka sambil menghidupkan TV.


" Mau kiss yank." Rengek Gemintang dengan senyum liciknya.


Gimana mbak pelakor? apa hatimu baik-baik saja?


" Okey... tapi kita ke kamar aja yuk, lebih leluasa disana." Jawab William yang sebenarnya hanya ingin menjaga hati Bunga barunya.


" Ya sudah hayuk... sayang dong, mas kan sayang banget sama kamu." William kembali merengkuh tubuh istrinya dan menyambar bibirr istrinya.


Dan saat William hanya menempelkan saja bibirrnya, Gemintang langsung memilih memulai duluan untuk memperdalam civmannya, dia bahkan langsung membelit lidah suaminya dengan ganas, membuat siapa saja yang melihat langsung merinding disko.


" Sayang kita lanjut dikamar ya?" Wliliam mengusap kepala istrinya dengan lembut sambil melirik keberadaan Bunga barunya yang terlihat sudah cemberut dan kesal.


" Aaaaa... aku mau disini mas."


" Nggak enak, ada mbak Farah itu loh." William terlihat sedikit gusar, kalau hanya berdua saja dengan Gemintang sudah pasti dia yang akan menerjang duluan.


Mau marah silahkan? mau ngamuk juga aku nggak perduli, gosong-gosong dah tuh hati kebakar bara api cemburu, haha


Saat Gemintang kembali melirik Farah, wanita itu terlihat memejamkan mata dan mencengkeram ujung roknya, seolah menahan sesuatu yang ada pada dirinya.


" Mbak Farah sudah terbiasa melihatnya, nggak ngaruh ya kan mbak, itu acara Tv nya juga bagus kan mbak, hehe."


Gemintang langsung mencari titik sensitif suaminya, yaitu dengan menghujani kecvpan di leher suaminya, bahkan meninggalkan bekas-bekas merah disekelilingnya.


" Emh sayang... kita..."


Saat Gemintang sudah beraksi disana, seolah kesadaran William sudah hilang entah kemana, rvdalnya pun langsung berdiri tegak ditempatnya, seolah sudah melambai-lambai ingin disentvh.


" Mas aku rindu." Ucap Gemintang yang sengaja dia keraskan.

__ADS_1


" Mas juga sayang." Tangan William bahkan tanpa sadar sudah sampai ke dua gunung kembar milik istrinya.


" Mas... pelan-pelan sayang." Gemintang sengaja mengeluarkan suara gilanya agar Farah kepanasan dan bahkan mengeliatkan tubuhnya dengan gerakan yang cukup menggivrkan bagi Farah yang haus akan kasih sayang.


" Eherm... mbak ke belakang dulu ya, kalian silahkan lanjut saja."


Akhirnya Farah sudah tidak kuasa lagi berada diantara sahutan suara diruangan itu, walau tadi dia sempat mengeraskan volume TV namun, suara mereka tetap saja menggangu otaknya.


Mampvslah situ... emang enak lihat adegan live? untung aku punya alasan agar nanti dikamar mas William tidak menerjangku, aku bisa membuat alasan tidak boleh berhubungan int¡m dulu, takut menular, haha...


" Maaf ya mbak, kami menggangu yaa?" Gemintang mencoba menahannya, dia hanya sengaja ingin memamerkan suaminya yang sedang asyik meminum susu murni miliknya, walau dalam hati jijik terasa.


" Eng... enggak kok, silahkan lanjutkan saja." Bahkan bibiir dan tangan Farah terasa gemetar, tiba-tiba keinginan mendalamnya ikut keluar saat mendengar suara yang seolah mendayu-dayu dari William yang selalu dia rindukan, apalagi tadi malam dia tidak mendapatkannya, bahkan dia berlalu dari sana sambil memegang dadaanya yang sudah berdetak dengan kuatnya.


" Mas... jangan digigit sayang." Gemintang semakin mendramatisir suaranya, bahkan menekankan kepala suaminya lebih dalam lagi.


Bagaimana mbak pelakor? jantungmu okey? yang bawah gimana? sudah b@sah apa belum, malam ini akan aku buat mas William tetap berada dikamarku, syukurin kamu, pasti langsung cenat-cenut obralanmu itu, haha...


" Maaf sayang.. emh." William sudah setengah sadar karena Gemintang sengaja membuat suaminya forepl@y, karena dulu memang itu keahliannya.


" Mas.. sudah ya, kata dokter aku belum boleh berhubungan, nanti bisa menular ke kamu." Gemintang berusaha menjauhkan wajah suaminya yang sudah mupeng berat.


" Kenapa sayang? aku nggak masalah kok yank?" Rengek William.


" Nggak bisa mas, aku masih dalam pengawasan dokter, kalau aku tiba-tiba demam nanti malam, harus segera minum obat."


" Tapi aku pengen banget yank, si adek sudah pegel berdiri sedari tadi."


" Nanti aku bantu keluarkan secara manual ya, yang penting mas nggak boleh kemana-mana, saat aku tidur nanti, mas harus jagain aku, jangan tinggalin aku walau sedetik saja."


" Ya enggaklah sayang, emang mas mau kemana? kamu kan lagi sakit."


Entah sungguhan atau tidak tapi Gemintang ingin mengawasinya nanti malam, kalaupun suaminya terlihat menyelinap keluar, dia akan mengikutinya, bahkan dia rela jika harus mengintip lewat jendela, agar dia mendapatkan banyak bukti untuk perselingkuhan mereka berdua.


" Makasih ya mas... aku jadi makin sayang sama mas deh."


Hoerk... pengen muntah lagi kan gue jadinya, tapi ya sudahlah, yang penting sudah berhasil bikin mbak Pelakor nyut-nyutan disana, haha..


" Tapi besok kalau sudah sembuh kamu nggak boleh nolak mas ya sayang." Pinta William yang sudah menahan segala rasa.


" Tentu dong mas, itu sudah kewajibanku." Gemintang tersenyum melihat wajah suaminya yang terlihat sudah mendidih karena keinginannya yang sudah melambung tinggi ke puncak, namun terhempas seketika tanpa ada penyaluran.


" Okey... kita pindah kamar ya, bantuin mas tidurin si adek, sudah nyeri banget ini sedari tadi, bandel pengen berontak keluar terus."


" Ahehe... asiap sayangku."


Bertahanlah Gemintang, jaga mata, jaga hatimu jangan sampai lemah, kamu pasti bisa melalui cobaan ini dengan kuat.


Terpaksa Gemintang menyanggupinya, yang terpenting dia tidak harus melayani kewajibannya sebagai seorang istri malam ini.


...Baik buruknya seorang Istri tergantung kepada Suami....


...Cantik, bila suami memberi hak untuk berhias....


...Shalihah, bila suami membimbing agama dengan baik....

__ADS_1


...Berakhlak, bila suami menasehatinya dengan baik....


...Namun jika suami memperlakukan sebaliknya, dia pun akan menerima timbal baliknya, dia akan memetik buah dari apa yang dia tanam dalam biduk rumah tangganya....


__ADS_2