
...Happy Reading...
Udara AC di Bus yang terasa menusuk dikulit, tidak membuat seorang Peter tertidur nyenyak, padahal dalam bus itu sudah difasilitasi dengan Leg rest yang luas dan selimut tebal yang sangat nyaman untuk tidur didalam perjalanan.
Bahkan saat cahaya sudah menembus kaca bus itu, Peter masih berperang dengan fikirannya sendiri, bagaimana tidak berangkat ke kampung orang masih berstatus perjaka dan pulang sudah beristri namun berasa sudah seperti duda.
Sebenarnya dia merasa sedikit bersalah saat melihat Sabrina bersedih karena semua yang terjadi padanya, namun Peter tetap saja pergi meninggalkannya.
" Ckk... bodo amatlah, aku kan sudah menolongnya, harusnya dia berterima kasih denganku, bukannya malah ngambek trus ngusir aku kan? kalau dia masih tidak terima bukan salah gue juga dong ya?"
Peter mengumpat Sabrina perlahan, dia seolah masih belum bisa legowo dalam menerima kejadian ini.
" Tapi kenapa aku nggak tega lihat raut wajahnya tadi?"
" Apa dia benar-benar menginginkan tidur berdua denganku? kenapa dia semarah itu tadi?"
" Haish... resiko jadi orang tampan, selalu diinginkan oleh gadis manapun." Entah mengapa Peter malah beranggapan seperti itu.
" Terserah dia saja lah, suka-suka dia saja, yang penting aku sudah menjalankan keinginan bapaknya, kalau harus langsung berpisah juga tidak akan jadi masalah, aku kan sama sekali tidak ada rasa dengannya, jadi buat apa pusing-pusing mikirin dia." Umpat Peter yang malah jadi uring-uringan sendiri, dia seolah tidak perduli namun entah mengapa jauh dilubuk hatinya ada rasa kecewa saat dia diusir walau tidak dengan kata-kata kasar.
Akhirnya Peter turun dari bus yang membawanya ke kota, dia langsung mencari taksi untuk mengantarkan dirinya pergi ke Apartement Chris untuk mengambil barang-barang yang tertinggal disana.
Nit... nit... nit...
Peter lansung membuka pintu apartement milik Chris, dia masih hafal dengan sandinya, karena dia fikir jam segini Chris pasti sudah berada di kantor perusahaannya, secara dia kan gila kerja sedari dulu.
" Heh... ngapain kamu disini?"
Chris yang ingin melihat siapa yang datang langsung terkejut karena melihat Peter.
" Astaga... kita saudara bukan sih? biasanya juga aku datang kapan saja tidak pernah ada masalah?" Peter langsung nyelonong saja masuk tanpa memperdulikan tatapan terkejutnya Chris.
" Bukan begitu, tapi bukankah seharusnya kamu masih di kampung? emangnya kalian tidak mengadakan acara doa tahlilan gitu? trus istrimu sekarang mana?" Chris bahkan melongokkan kepalanya keluar pintu, namun tidak ada seorangpun yang berada diluar sana.
" Aku disuruh pulang kok, ya pulang saja lah!" Peter langsung duduk di sofa dan merapikan barangnya yang tertinggal kemarin disana.
" Kenapa?" Chris langsung mulai menginterogasi asisten sekaligus saudaranya itu.
" Entahlah?" Peter hanya menaikkan kedua bahunya, bingung sendiri mau menjelaskan secara detail atau tidak.
" Harusnya kamu malam pertama kan ini? kenapa sudah sampai disini saja?" Chris langsung mulai mengejeknya.
" Cih... malam pertama apa! malam-malamku masih akan terus sama seperti biasanya!" Peter langsung berdecih saat mendengar kata malam pertama.
" Kenapa? apa mungkin sudah tidak berfungsi lagi onderdil milikmu itu? waah... jangan-jangan punyaku juga sudah nggak bisa On lagi nih, kita berduakan memang tidak pernah menggunakannya, ya nggak?" Chris berbicara sesuka hatinya yang membuat Peter langsung melotot kearahnya.
" Dih... apa yang anda pikirkan bos, jangan berasumsi sendiri, anda tahu bagaimana saya." Peter langsung tidak terima karenanya.
" Jadi kenapa kamu disuruh pulang?" Chris belum puas dengan jawaban dari Peter, entah kenapa dia kepo sekali tentang masalah ini.
" Hufth... mungkin kami memang tidak ditakdirkan untuk bersatu." Peter akhirnya menyandarkan tubuhnya sambil mengingat kejadian saat itu.
" Alasannya?" Chris bahkan seolah sudah siap menjadi pendengar setia.
" Anda tahu kisah kelam saya bukan? jadi aku memang belum siap sepenuhnya untuk menjalin hubungan layaknya suami istri bos." Peter mengusap wajahnya dengan kasar, saat mengingat kejadian masa lalunya yang masih terekam jelas dipikirannya.
" Come on Peter, itu sudah sangat lama okey, cobalah untuk melupakannya?" Chris heran sendiri dengan sahabatnya itu.
Flashback
POV Peter
Ketampanan wajahku memang seolah sudah menonj○l sejak aku masih dibangku sekolah dan hari ini adalah hari yang paling aku dan teman-temanku nantikan selama tiga tahun menggali ilmu dibangku SMA, yaitu hari kelulusan sekolah, aku memang tidak satu angkatan dengan Chris, karena dia satu tahun lebih tua dariku.
" Hai sayang..."
Gadis paling populerpun bisa aku dapatkan dengan mudahnya, karena kata mereka semua yang diidam-idamkan para wanita ada padaku.
" Hai... nggak ikut party kelulusan sekolah yank?" Gadis bernama Lita sang primadona satu angkatanku itu langsung berjalan mendekat kearahku.
" Aku mau party berdua saja denganmu, malam ini aku jemput ya?" Aku langsung mengedipkan satu mataku kearahnya, wajahnya yang ayu, jalannya yang anggun itu selalu terbayang saat malam-malamku tiba.
Andai aku tidak disuruh kuliah menyusul Chris di luar negri, sudah pasti langsung aku nikahin dia setelah penerimaan ijazah, walau mungkin harus menetang orang tua, karena kami masih sama-sama anak ABG.
__ADS_1
" Maaf... aku nggak bisa kalau malam ini, soalnya ada acara makan bareng sama keluarga."
" Aaaaa... tapi aku kangen jalan bareng sama kamu, sejak ujian kita jarang kencan berdua sayang."
" Yank... jangan pegang-pegang gitu, malu dilihat orang."
Cewekku langsung saja protes saat aku ingin bermanja-manjaan dengan dia, kalau aku pegang lengannya saja dia langsung menolak dengan berbagai alasan.
Bukannya marah, tapi aku malah senang, berarti dia bukan cewek gampangan, karena walau dia primadona, tapi selama sekolah disana dia berpacaran baru denganku saja, itu kenapa aku sangat menyayangi dia dan berharap dia juga menjadi masa depanku nanti.
Harapan terbesarku adalah bisa menemani dia juga menjaganya agar tidak tersentuh pria manapun selain aku sampai dewasa dan kelak setelah sudah waktunya tiba, aku akan segera melamar dan menikahinya.
Kami berdua berpacaran sangat sehat, jangankan bercivman di bibiir, dulu aku pernah nekat mencivm pipinya sekali saja, namun akhirnya aku hampir kena gampar olehnya, mungkin dia memang diajarkan oleh orang tuanya untuk tidak masuk dalam pergaulan bebas remaja saat masih masa-masa sekolah.
Jadi walau keinginanku sudah sampai diubun-ubun, namun aku selalu menahan sekuat tenaga, dan rencananya malam ini aku ingin mengajaknya kencan romantis, karena sudah lulus SMA, tidak ada alasan lagi dia untuk menolakku pikirku, namun ternyata dia tidak bisa juga.
Kecewa sudah pasti, karena aku sudah memesan restoran mahal malam ini, semua sudah aku siapkan jauh-jauh hari, tapi apa daya, tidak mungkin aku memaksakan kehendak jika alasannya karena ada acara keluarga, bisa-bisa nanti aku malah ditentang oleh keluarganya jika ingin serius dengannya.
" Trus kapan kita bisa ngedate bareng yank, kita sudah lulus sekolah loh dan nanti aku harus kuliah di luar negri juga, kamu ikut ya?"
" Nanti aku bicarakan sama kedua orang tuaku ya?"
" Maksa dikit ya yank, aku nggak mau jauh-jauh dari kamu, apalagi harus LDR."
Renggekku dengan manjanya, entah mengapa aku selalu nyaman saat didekatnya, walau hanya melihat senyumannya saja hatiku sudah deg-deg ser tidak karuan.
" Ta... kita pulang yuk, paman sama bibi sudah nungguin kamu."
Dialah Nova, saudara sekaligus teman akrab satu bangku sejak kelas satu SMA, kemana-mana mereka selalu berdua, mereka bahkan seperti kembar siam yang sulit dipisahkan.
" Okey... kalau begitu aku pulang duluan ya yank, maaf nggak bisa nemenin kamu malam ini." Lita langsung menangkupkan kedua tangannya didepan dadaa, dia terlihat sangat kecewa, tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa.
" Ya udah deh, mau gimana lagi, tapi lain waktu harus bisa ya."
" Siap deh." Lita langsung mengacungkan kedua jempolnya.
" Okey bye... hati-hati dijalan sayang." Aku langsung memberikan kiss bye kepadanya dan disambut dengan kedipan mata cantiknya, begitu saja senangnya hatiku sudah tidak terkira.
Hingga saat malam tiba, aku terpaksa datang ke restoran yang aku pesan karena tidak bisa aku cancel lagi dan kalau bisa pun percuma, karena semua sudah aku bayar lunas dan uangpun tidak akan kembali.
Chrispun ternyata mau menemaniku, hubungannya yang memang tidak begitu baik dengan mama sambungnya membuat dirinya tidak betah berada dirumah terlalu lama dan lebih sering menginap dirumahku kalau pulang.
" Gilak... bisa gatel-gatel gue habis makan di nuansa serba pink kayak gini, emang nggak ada warna lain kah?"
Chris langsung saja protes saat aku ajak masuk kedalam restoran privat itu, karena memang Lita suka sekali warna pink, jadi aku sengaja memilih dekorasi serta bunga semua berwarna pink.
" Ckk... bukannya keren apa, kita bisa jadi pinky boy!"
" Hoeerkkk... gilak ya, hanya demi seorang perempuan yang entah jodoh siapa nantinya kamu sampai rela kayak begini, mana gagal total lagi sudah habis duit banyak, nih ya Peter... dimana-mana semua perempuan itu sama, nyebelin dan hanya bisa nyusahin kita saja, ngapain juga sih kamu pacaran sampai harus buang-buang waktu dan tenaga saja."
Aku tahu kenapa Chris begitu benci dengan seorang wanita, karena mungkin ada wanita kedua yang masuk dalam rumah tangga orang tuanya sehingga ibu kandungnya memilih pergi dari rumah dan meninggalkannya saat dia masih kecil, entah benar atau tidaknya aku kurang begitu tahu karena ayahku yang bercerita, namun ayah sudah berpesan kepadaku untuk tidak pernah membahas masalah ibunya didepan Chris.
" Udah deh, nggak usah berisik setelah selesai makan kita langsung pulang saja!" Aku langsung menyantap hidangan spesial yang sudah tersaji dimeja.
" Nggak pake lama, mataku sudah sakit melihat silaunya warna pink didalam ruangan ini!" Umpat Chris yang langsung menyantap hidangannya dengan cepat seperti orang yang satu minggu tidak diberi makan.
Akhirnya hanya dalam waktu lima belas menit saja, ruangan yang aku sewa cukup mahal itu kami tinggalkan begitu saja.
Saat kami keluar dari restoran itu, aku berpapasan dengan keluarga besar Lita, ternyata mereka juga pesan tempat disini, tau gitu aku nggak cepat-cepat keluar tadi sesalku.
Namun saat aku lihat dan cermati, tidak ada Lita dan Nova disana, dengan modal nekat aku beranikan diri saja bertanya kepada salah satu saudaranya disana.
" Maaf Om... saya teman sekolah Lita dan Nova, mereka nggak ikut makan kesini Om?"
" Owh... kebetulan sekali ya, mereka memang tidak ikut karena katanya ada acara perpisahan dirumah."
" Dirumah? rumah siapa Om?"
" Kamu nggak tahu? ya dirumah Lita, kamu bukan teman satu kelas ya?"
" Bukan Om, saya teman satu angkatan tapi beda kelas."
" Owh... sayang sekali, kalau begitu Om duluan ya, itu semua sanak saudara sudah masuk kedalam."
__ADS_1
" Baik Om, terima kasih atas waktunya."
Aku langsung mengepalkan kedua jemariku dengan kesal, katanya acara keluarga, nyatanya dia mau ngadain acara perpisahan kelas dirumahnya, walau aku bukan satu kelas kan aku pacarnya, apa salahnya jika ikut sekalian kesana.
" Chris... antarkan aku ke rumah cewekku!" Aku langsung berlari kearah tempat mobil kami terparkir.
" Ngapain? aku nggak mau ya jadi obat nyamuk disana!"
" Nggak, nanti kamu bisa langsung pulang saja!"
Aku sengaja tidak menghubungi Lita terlebih dahulu, karena ingin tahu seperti apa pesta perpisahan dirumahnya, kenapa harus dirahasiakan denganku, atau mungkin dia punya kekasih lain selain aku, jadi dia bermain cantik dengan memberikan alasan agar tidak ketahuan denganku.
Namun saat aku sampai didepan rumahnya, kondisi didalam rumah cukup sepi, dan tiba-tiba ada asisten rumah tangganya yang keluar, aku langsung saja bertanya dengannya.
" Bi... maaf saya teman satu sekolah Lita, apa Lita nya ada?"
" Owh ada mas, dia ada dikamarnya bersama nona Nova."
" Owh... begitu ya, boleh saya masuk kedalam, soalnya kami mau buat acara perpisahan nanti."
" Begitu ya... pantesan nona tadi suruh belanja banyak, kalau begitu masnya masuk aja ya, bisa langsung hubungin ponsel nona, soalnya bibi sudah ditungguin sama ojek langganan bibi itu."
" Iya Bi... makasih ya."
Pucuk dicinta ulampun tiba, berbohong sedikit saja tidak masalah pikirku, toh aku ini kekasihnya, satu angkatan juga, jadi tidak masalah.
Saat aku masuk kedalam ruang utama aku tidak menemukan siapapun disana, aku sudah beberapa kali menjemput Lita kerumah dan orang tuanya pun baik denganku, karena tadi aku melihat semua orang tuanya ada di Restoran, otak cerdasku langsung mulai beroperasi, aku beranikan diri masuk kedalam kamarnya, toh didalam sana ada Nova juga.
Tapi saat aku sudah sampai didepan pintu kamar itu, ada suara-suara yang aneh kurasa, walau aku tahu benar itu suara perempuan semua.
" Issh... emh... evgh..."
Saat aku tempelkan telingaku merapat kedaun pintu, suara desah@n itu semakin terdengar dengan jelas.
" Nova... emh... cepetin dikit."
Aku hafal dengan benar, bahkan diluar kepala kalau itu memang suara kekasihku Lita.
Gilak... apa mereka nonton film orang dewasa ya?
Aku semakin penasaran karenanya, aku takut jika ada pria lain didalam sana, walau itu tidak mungkin pikirku, karena jangankan punya otak omes, aku civm saja Lita selalu menolakku.
Karena terlalu penasaran, aku mencoba membuka pintu kamarnya perlahan dan ternyata tidak dikunci.
" No... Nova... emh... vgh... ○gh...
DUAAR!
Seolah hujan, petir, angin ribut, halilintar datang menyambar-nyambar.
Apa yang aku lihat sungguh diluar dugaanku, memang tidak ada pria satupun disana, tidak ada juga laptop atau apapun yang menayangkan siaran film orang dewasa.
Namun kekasih hatiku yang sangat aku jaga bertahun-tahun tanpa tersentuh itu melakukan ○ral s€xs dengan Nova sahabat karibnya, bahkan mereka melakukan tanpa menggunakan satu helai benangpun, layaknya berhubungan int¡m seperti suami istri.
Hoerkk... apa mereka berdua Lesb!an?
Tiba-tiba perutku terasa mual, tidak pernah terbayangkan sekalipun diotakku jika kekasih yang sangat aku sayangi itu ternyata pecinta sesama jenis, bahkan sudah melakukan sesuatu hal diluar kodratnya, sebagai manusia normal.
" Ssstttt... ponselmu ketinggalan, kamu ngapain disitu, nggak sopan kamu ngintip orang didalam kamar begitu!"
Aku kira Chris sudah pulang, ternyata dia mencariku untuk memberikan ponselku yang tertinggal di mobilnya.
" Hoeerrkk!"
" Heh, Peter kamu kenapa?"
" Hiiiiiiii... ayok kita pulang, perutku mual sekali."
Aku langsung menarik lengan Chris dan pergi berlalu dari sana, pantas saja Lita tidak pernah mau aku sentuh, apalagi aku civm, ternyata dia sukanya sesama Tempe Mendoan.
POV End
Sejak saat itu, Peter malas sekali jika harus berhubungan dengan seorang wanita, walau tidak semua perempuan seperti itu, namun rekaman siaran langsung yang dia lihat saat itu masih selalu terngiang-ngiang dikepalanya, membuat dirinya merasa risih, jika berhubungan soal asmara dengan seorang perempuan.
__ADS_1
..."Berharap sewajarnya saja, agar tidak menyesal saat Realita mengajakmu Bercanda."...