
...Happy Reading...
Entah mengapa pertemuan kali ini Chris merasa ada yang aneh pada dirinya, walau dia memiliki tingkat rasa percaya diri yang penuh karena belum pernah ada sejarah didalam hidupnya ditolak seseorang dalam hal apapun, namun sedari tadi dia mondar-mandir didepan kaca besar dikamarnya.
Seolah memastikan tidak ada yang kurang dalam penampilannya malam ini, setelan jas mahal, kemeja import yang bahannya adem, jam tangan mahal edisi terbatas juga sepatu yang sudah kinclong, bahkan mungkin kalau lalat hinggap pun sudah terpleset karena terlalu licin.
" Apa yang kurang ini? rambut sudah okey, stelan jas baru kemarin launching, wajah? hmm... sudah tampan sejak lahir, perfect!" Chris bahkan sampai memutarkan tubuhnya didepan kaca, untuk melihat seluruh penampilan dirinya, padahal selama ini dia tidak pernah perduli, bahkan saat bertemu artis bintang tamu secara langsung saat ulang tahun perusahaanpun dia tidak sampai mempersiapkan diri terlalu lama seperti ini.
" Bos... beneran mau makan malam sama mbok Sum?" Tanya Peter yang tiba-tiba langsung nyelonong saja masuk ke dalam kamar.
" Mbok Sum siapa?" Chris menaikkan kedua alisnya.
" Si Sumarni lah, siapa lagi?"
" Maksud kamu Gemintang? suka sekali ganti-ganti nama kamu ini!"
" Hehe... tapi kenapa firasatku nggak enak ya sama perempuan itu." Ucap Peter seketika.
" Maksud kamu gimana?"
" Entahlah... aku hanya berfikir kalau wanita itu punya sesuatu yang kita tidak tahu."
" Kamu jangan memprovokasiku!" Chris langsung mendelik kesal kearah Peter.
" Boleh aku menyelidiki latar belakang wanita itu dulu bos?"
" Ckk... jangan bilang kamu juga menyukainya!" Chris malah beranggapan lain.
" Menyukai? sama si Sumarni? woahaha... apa kata dunia, mau sampai Supermi berubah jadi Supermen juga tidak akan terjadi Chris, bisa hancur rumah tanggaku dengan dia bahkan mungkin sebelum malam pertama." Peter langsung menatap takjub dengan anggapan saudara sekaligus big bossnya itu.
" Baguslah, jadi kamu tidak harus bersaing denganku, karena sudah pasti kamu yang akan kalah."
" Cih... jangan-jangan kamu memang benar-benar menyukainya, bukan karena suruhan ayahmu?" Peter tersenyum miring melihat Chris yang langsung melengos.
" Kita berangkat sekarang, kamu sudah pesan restoran termahal kan?" Chris langsung berjalan keluar tanpa mau menjawab pertanyaan dari Peter.
" Haish... ribet ini urusannya." Peter hanya bisa mengikuti langkah bosnya saja.
Dia sebenarnya masih penasaran namun dia urungkan saja niatnya, namun dia mencoba berfikir positif saja, karena tidak ingin saudaranya itu salah paham dengannya dan punya fikiran menjadi saingannya.
Karena kata orang cinta itu gila, tidak memandang sahabat apalagi saudara, kalau memang Chris ternyata benar-benar menyukai gadis itu, jalinan persaudaraan sekaligus persahabatannya bisa hancur seketika kalau dia menentangnya.
" Peter.. kamu turun belikan aku cincin berlian paling mahal disana." Sebelum mereka sampai ditempat hotel yang mereka pesan mobil Chris berhenti disalah satu toko berlian terbesar di kota itu.
" Paling mahal, apa paling bagus?"
__ADS_1
" Paling mahal saja, karena kalau mahal sudah pasti bagus!" Jawab Chris dengan santainya.
" Pendapat macam apa itu?"
" Sudah cepat turun sana! jangan buang waktuku disini."
" Yaelah... nggak sabaran banget dah, seberharga itu kah seorang Sumarni?" Umpat Peter sambil mendengus dibelakang.
" Nggak usah milih, tanya saja yang paling mahal langsung bungkus!"
" Siap bosku, tapi jawab dulu satu pertanyaanku!"
" Apalagi?"
" Jikalau aku dan Gemintang sedang sakit parah, tapi kami ada dirumah sakit yang berbeda, jaraknya nya pun sangat jauh dan kami berdua sama-sama memerlukan kamu, karena urgent semua, siapa yang akan kamu tolong duluan?"
" Aku bukan dokter, kalau orang sakit itu butuhnya dokter, bukan aku!" Chris langsung saja mengelak.
" Astaga.. ini cuma perumpamaan Chris, jawab saja apa susahnya!"
" Hmm... aku akan melindungi kalian berdua, jadi kalian tidak perlu merasakan kesakitan!"
" Bukan begitu maksudku?"
" Sudah diam! berisik lagi aku turunkan kamu di kebun binatang, biar disambut sama teman-temanmu disana!"
Peter hanya bisa tersenyum saat melihat gelagat Chris tadi, karena sudah dapat dia pastikan kalau saudaranya itu menyukai Gemintang, karena posisi dirinya yang sudah bertahun-tahun dekat dengannya, bahkan setiap harinya pasti bertemu, dan ternyata bisa sama pentingnya dengan perempuan yang bahkan belum lama dia kenal.
Setelah mendapatkan cincin termahal disana, Peter segera mengemudikan mobil itu kembali dengan kecepatan sedang, suasana di mobil saat ini hening, mereka bergelut dalam pikiran mereka masing-masing, hingga mobil mewah mereka sampai di pelataran hotel berbintang itu.
" Kamu pastikan tidak ada yang kurang dalam ruangan itu."
" Aku sudah memesan ruangan esklusif disana dan itupun paling mahal, mungkin bisa buat biaya makan aku tiga bulan bahkan lebih." Jawab Peter dengan cepat.
" Good." Chris langsung melenggang masuk dengan diikuti Peter dibelakangnya.
" Apa kamu bisa nyanyi?"
" Aku bukan seorang penyanyi Chris?"
" Kalau main piano?" Chris melihat ada sebuah piano disudut ruangan itu.
" Chris.. sebenarnya yang mau melamar itu aku apa kamu? kenapa aku yang harus tampil disini?" Peter menatap heran saudaranya itu.
" Namanya juga sedang dinner, dimana-mana juga harus ada hiburannya."
__ADS_1
" Ya sudah.. tinggal panggil saja seorang pianis, apa susahnya coba?"
" Aku tidak ingin orang luar ada didalam ruangan ini!"
" Ya sudah... nanti kalau Si Sumarni itu masuk, kamu tinggal pasang badan didepan sambil bawa cincin, setelah aku mulai bernyanyi, tapi ingat bonus bulan depan harus lebih mahal dari kemarin." Peter tidak pernah mau membuang-buang kesempatan yang ada dalam bentuk apapun.
" Namanya Gemintang!" Chris langsung memelototkan kedua matanya.
" Siapapun itulah, ayo kita bersiap dibelakang, kita matikan dulu lampunya dan hidupkan lilinnya." Peter seolah menjadi instruktur dalam acara lamaran Chris malam ini.
" Apa penampilanku sudah okey?" Tanya Chris saat dia sudah berada diujung ruangan.
" Jaman sekarang itu wanita tidak terlalu melihat penampilan, cukup punya black card dan semua yang serba mewah, mereka pasti akan jatuh cinta dengan mudahnya." Jawab Peter sok tahu, karena dia suka mengintip sosial medianya Lambene turah yang fenomenal itu.
" Begitukah? kalau begitu sudah jaminan kan kalau dia tidak akan menolakku malam ini?"
" Haha... apa kamu ragu? apa kita batalkan saja acara malam ini?" Ledek Peter seketika, dia kembali dibuat heran, Chris yang selalu percaya diri dibuat bimbang oleh seorang Gemintang.
" Tentu saja tidak, pantang ada yang menolakku, kita mulai sekarang, petugas hotel sudah memberitahuku, Gemintang sudah masuk kedalam." Jawab Chris sambil berulang kali membetulkan jas mahalnya.
Tak lama kemudian Gemintang dan Sabrina masuk kedalam ruangan itu dengan segala obrolan hebohnya yang tidak begitu jelas terdengar dari telinga mereka, karena Peter dan Chris berada di sudut ruangan yang terlihat gelap.
" Astaga.. ternyata dia tidak sendirian, jangan-jangan kalau malam pertama temennya itu juga ikut masuk kedalam kamar lagi?" Chris langsung menghela nafasnya saat melihat dua sekawan itu.
" Alhamdulilah." Lain Chris lain pula Peter yang malah berucap syukur karena setidaknya dia tidak akan jadi patung penghibur sendirian didalam ruangan itu.
" Kita mulai... nyalakan lampunya dan bernyanyilah!" Ucap Chris yang sudah berdiri dan membawa satu buket bunga yang ditengah-tengahnya terselip kotak kecil yang berisikan cincin berlian.
" Biasanya tak pakai minyak wangi.. biasanya pakai minyak bekas... so lali.. lali.. ola.. olala.."
" PETER!" Mata Chis bahkan membulat dengan sempurna saat Peter sengaja bernyanyi sesuka hatinya.
" Hehe... sedikit pemanasan bos." Peter langsung terkekeh geli dan langsung meletakkan sepuluh jarinya diatas piano, siap untuk melantunkan satu lagu romantis untuk mereka.
Tiba-tiba ruangan yang tadinya gelap langsung berubah menjadi terang, menampilkan sosok dua pria tampan di sudut ruangan.
Mata Chris langsung terarah ke Gemintang dengan sorot mata tajam walau tidak terselip senyuman, ada rasa lain yang dia ingin ungkapkan namun tidak bisa terealisasikan.
" Mas Chris?"
" Hmm.."
Hanya itu yang keluar dari mulutnya untuk saat ini, semua kata-kata yang dia rangkai dalam pikirannya tadi, seolah hilang seketika saat berada dijarak terdekat dengan Gemintang.
..." Nikmati dulu pahit-pahitnya dalam hidup, kamu bukan hancur kamu sedang berproses. This will make you proud of yourself."...
__ADS_1
TO BE CONTINUE...