
...Happy Reading...
Saat mereka hanya tinggal bertiga duduk di ruang tamu yang mewah itu, Peter langsung mulai membuka suara untuk mengutarakan apa yang mengganjal dihatinya, walau harus menghela nafas berulang kali terlebih dahulu.
" Mama kok ngomongnya kayak judes banget sih sama istriku? mama nggak suka sama dia?" Peter seolah tidak suka melihat perkataan dari mamanya.
" Bukannya nggak suka nak, tapi sebagai seorang istri, dia seharusnya bisa menjaga makan minum sang suami dong? jangan semua pesan!" Ucap Mamanya dengan wajah yang sudah tidak bersahabat.
" Dia sudah menjagaku dengan baik dan benar Ma, tapi kebetulan saja ini akhir pekan, dan kami memang belum sempat belanja, dan satu lagi kopi buatan Sabrina itu paling enak sejagad raya yang pernah Peter coba tau."
" Cih... mama kok nggak percaya."
" Ma... dia wanita pilihan Peter, jangan perlakukan dia seperti itu dong Ma?"
" Mama kan hanya ngomongin fakta tadi kan?" Mama Peter tetap kekeh dengan asumsinya.
" Sudahlah Ma, masih pagi, jangan ribut-ribut disini, ada Damia juga kan? nanti kedengeran sampai sana." Akhirnya papa Peter ikut buka suara juga.
" Mama tuh sebenarnya pengen jodohin kamu sama Damia, dia kan sepupu yang paling dekat denganmu dari dulu, disaat kamu benci dengan semua wanita, hanya dialah yang sering kamu ajak ngobrol selama ini kan? sekarang dia sudah sarjana, dengan lulusan nilai yang bagus dan tamatan luar negri lagi, apa kamu tidak berminat dengannya saja?" Mama Peter langsung mengutarakan apa yang dia tahan sedari tadi.
" NO! pilihanku adalah Sabrina seorang, dan yang menjalani kehidupan pernikahan ini adalah aku, jadi aku yang berhak memilih siapa pendamping istriku." Peter langsung menolak mentah-mentah tawaran dari mamanya itu.
" Tapi nak, Damia itu..."
" Sekali enggak ya tetap enggak ma, aku cuma mau Sabrina, itu saja!" Peter langsung memotong pembicaraan mamanya.
" Apa kamu tidak mau memikirkan Damia dulu nak, apa kurangnya dia coba?"
" Apa lagi yang harus Peter pikirkan ma, Peter sudah menikahi Sabrina, dan dia sudah menjadi milikku sepenuhnya."
" Peter, dengarkan dulu penjelasan mama."
" Sudahlah, tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, istriku cuma Sabrina dan hanya Sabrina sampai kapanpun itu, tidak ada yang bisa memisahkan kami, sekalipun itu mama! maaf.. Peter mau kebelakang dulu!"
" PETER!"
Mama Peter langsung berteriak memanggil putranya, namun Peter sama sekali tidak menggubrisnya, dia tetap melenggang pergi ke dapur menyusul istrinya.
" Anak itu memanglah, wataknya keras sedari dulu, nggak pernah mau dengerin orang tua kalau lagi ngomong!" Umpat Mama Peter yang seolah kecewa, karena semua tidak sesuai dengan yang dia harapkan.
" Sudahlah Ma, kalau memang dia nggak mau dengan Damia ya sudahlah, jangan memaksanya, yang penting dia mau menikah, jadi kekhawatiran kita kan tidak terjadi, yang penting kita dapat cucu nanti, jadi ada penerus dari keluarga kita, okey?" Papa Peter terlihat menjadi penengah diantara mereka, karena dulu dia sempat tahu tentang trauma putranya saat masih remaja.
" Tapi Pa, kasihan Damia, padahal dia sudah seneng banget mau ketemu Peter, mama juga sudah menawarkan dia jadi mantu mama kemarin dan dia setuju sekali."
__ADS_1
" Tapi anak kita sudah menikah Ma, mau gimana lagi? mungkin Damia datang diwaktu yang tidak tepat."
" Mama pengen juga punya menantu kayak Damia loh Pa, alim, sopan dan pinter segalanya kan?" Mama Peter seolah membanggakan Damia didepan suaminya.
" Siapa tahu mantu kita juga nggak kalah sama Damia kan? kita kan cuma belum mengenalnya saja?" Papa Peter berusaha berpikir positif, karena putranya memang tidak pernah bermain-main dengan wanita selama ini.
" Ckk... dia masak aja nggak bisa Pa, padahal itu kodratnya seorang wanita kan? apa lagi yang lainnya, kalau cuma modal cantik aja, jaman sekarang gampang pa, skin care banyak dijual dimana-mana, yang burik pun bisa jadi cantik." Dia langsung menyimpulkan semua, sebelum tahu kebenarannya.
" Jangan begitu dong Ma, semoga menantu kita cantik luar dalam ya Ma, berdoa saja yang baik-baik okey?"
" Ckk... mama mau istriahat dulu lah, mau mandi juga, biar adem ini kepala mama."
" Ya sudah, papa antar ke kamar yuk, papa juga capek banget, pegel semua badannya."
Akhirnya orang tua Peter masuk kedalam kamar tamu di apartement Peter yang memang luas dan tersedia beberapa kamar yang lain disana.
" Sayangkuh."
Saat sampai didapur, Peter langsung memeluk pinggang istrinya dari belakang tanpa rasa segan dan malu, walaupun ada Damia disana yang sedang meracik kopi untuk ayah Peter.
" Mas... ada Damia tuh, nggak malu apa?" Sabrina mendongakkan wajahnya kearah suaminya, pura-pura saja protes, padahal dia senang diperlakukan seperti itu didepan sepupunya yang bernama Mia.
" Ngapain mesti malu, Dek Mia kamu nggak masalah kan?" Ucap Peter yang malah semakin mengeratkan pelukannya dengan mesra.
Damia hanya tersenyum saja tanpa mau memperhatikan keduanya, dia memilih mengaduk kopi hitam itu, walau sudah lebih dari dua puluh tujuh kali dia mengaduknya.
" Emm... Damia boleh aku tanya sedikit?" Sabrina mencoba mengkorek info tentangnya.
" Boleh teh." Jawabnya dengan lemah lembut.
" Apa Damia sudah punya kekasih sekarang?"
" Belum teh?" Jawabnya dengan cepat.
" Kenapa belum? kamu kan cantik dek, pinter lagi, masak nggak ada satupun yang nyangkut di hati kamu itu, dari segitu banyaknya cowok di kampus kamu itu nggak ada?" Peter pun seolah kepo juga dengan sepupunya itu.
" Aku sudah pernah berjanji dengan seseorang, untuk selalu menunggunya." Damia menatap pandangan kosong kedepan.
" Menunggu siapa?" Tanya Peter yang semakin penasaran dibuatnya, mereka memang dekat sedari kecil, karena jarak rumah orang tuanya dulu juga memang saling berdekatan.
" Apa Aa lupa, aku pernah bilang dengan Aa saat kita sering ngobrol bareng dulu?"
" Emang siapa sih, beneran dah Aa lupa?"
__ADS_1
" Sudahlah, lagian juga dia sudah menikah sekarang, entah apa yang harus aku lakukan dengan janjiku itu."
Degh!
Seolah ada batu besar yang menghantam tubuh Sabrina, entah mengapa nalurinya berkata bahwa lelaki yang dimaksud Damia itu adalah suaminya sendiri, walaupun dia tidak menyebutkan namanya.
" Hah?" Peter masih belum mengerti.
" Aku permisi ke depan dulu Aa, kopi dan tehnya sudah jadi, nanti keburu dingin lagi, permisi ya Aa, Teh" Damia langsung membawa nampan berisi minuman yang dia buat tadi.
Pasti ada sepenggal kisah dari masa lalu mereka berdua, karena ternyata dia tetap berbicara sopan denganku? mungkin dia memang tidak sejahat yang aku kira, tapi memang dia terlihat menaruh rasa yang lebih dengan suamiku, but why?
Sabrina mulai berperang dengan bantinnya sendiri, namun tetap belum menemukan jawabannya.
" Maksud Mia siapa sih? nggak ngerti dah aku? tapi bodo amatlah, ya kan sayang?"
Peter tidak mau ambil pusing, dan malas juga mau mengingat-ingat ucapan Damia dulu, dia memilih kembali memeluk istrinya saja.
" Mas nggak tahu apa pura-pura nggak tahu?" Sabrina langsung menyindirnya.
" Tentang?" Peter menarik kembali tubuh istrinya yang terlihat ingin melepaskan diri darinya.
" Aish... lepaslah, jadi pengen balik kampung aku rasanya, kangen banget sama ibuk!" Umpat Sabrina yang langsung menghempaskan lengan kekar suaminya.
" Jangan dong sayang, hei... mau kemana?" Teriak Peter yang malah jadi bingung sendiri.
" Kamar!"
" Masih pagi yank, masak udah ngajak ngamar lagi, rambut juga masih basah habis kramas yank, biarkan Bruno istirahat dulu!" Peter malah berpikiran lain.
" Bodo amat!"
" Astoge.. salah lagi deh gue! kapan benernya ini jadi pria? masak harus jadi 'Pelangi' dulu baru bisa menang, dih.. amit-amit dah!"
Tenang sayang, apapun yang terjadi aku akan selalu berada disampingmu, hingga ujung usiaku.
Akhirnya Peter lebih memilih mengejar istrinya ke kamar, apapun yang terjadi prioritas kebahagiaan utama Peter saat ini adalah Sabrina, jadi apapun yang terjadi, dia akan selalu berada disampingnya sampai kapanpun itu.
Menikah itu bukan tentang banyak persamaannya, tidak juga mencari yang banyak bedanya, tapi menikah itu adalah sebuah proses untuk sama-sama menuju Taqwa dan juga sebuah proses untuk saling menerima kekurangan di masing-masing pasangan.
Menikah itu membersamai dalam setiap kebaikan, apa artinya menikah, tapi dikemudian hari banyak masalah yang tidak pernah terkonversi menjadi nilai ibadah.
Bahwa orang yang menikah dengan cara niat ibadah kepada Alloh, dia akan mengkonversi semua potensi masalah, menjadi potensi Ibadah.
__ADS_1
WES POKOK E JEMPOLMU SEMANGATKUH BESTIE, NGONO WAE😊