Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
44. Dewasa karena Keadaan


__ADS_3

...Happy Reading...


Setiap takdir dari Alloh adalah cerita indah yang telah ditulis untuk kita. Alloh membuat rencana untuk setiap pertemuan kita dengan seseorang, namun juga bisa memisahkan kita dengan sekejab mata atas kehendak-Nya.


Karena sudah pasti akan ada makna disebalik tabir kehidupan yang sering kita anggap kejam, karena kita hanya manusia biasa yang hanya bisa melihat dengan mata. Namun semua sudah digariskan, bahkan aku seolah bisa menjadi pribadi yang lebih dewasa karena keadaan.


Setelah mendengar Bang Lewis sudah pulang, aku langsung mengendarai mobilku dengan kecepatan penuh, berharap Bang Lewis belum sempat masuk kedalam rumah mewah yang sudah seperti Neraka karena kedua penghuninya. Dan tadi bahkan aku tidak memperdulikan mas William yang mungkin sudah emosi karena aku tinggal begitu saja.


" Alahay.. kenapa pake acara macet segala sih!"


Aku meletakkan kepalaku yang terasa berat ini diatas stang bundar milikku, pantas saja macet karena memang ini jamnya para pekerja mulai beraktifitas dipagi hari untuk mencari nafkah keluarganya.


" Semoga Bang Lewis belum bertemu wanita itu, aish... kenapa abang datang sekarang sih?"


Perasaanku semakin tidak karuan, antara rasa takut dan juga gelisah, aku sungguh tidak ingin Bang Lewis terpuruk sepertiku atau bahkan akan beraksi anarkis saat melihat dua ahli Neraka itu bermesraan didepan mata abangku, karena yang rugi juga pasti abang sendiri.


Saat kemacetan mulai terpecahkan, aku segera memacu laju mobilku kembali, hingga butuh waktu hampir satu jam aku baru sampai kembali ke dalam rumahku.


" Abang!"


Aku kembali berlari masuk kedalam rumah dan langsung berteriak memanggil Bang Lewis, bahkan si bibi yang berada di dapurpun langsung berlari tergopoh-gopoh menyambutku, karena mungkin suaraku sudah menggema sampai ruang dapur.


" Nyonya Gemintang, akhirnya nyonya pulang juga." Senyum wanita setengah baya itu langsung terbit saat melihat diriku ini.


" Abang Lewis mana bik?" Tanyaku dengan degub jantung yang sudah tidak menentu, apalagi akhir-akhir ini aku sudah jarang berolahraga karena terlalu sibuk mengurus perasaan, dan itu membuat tubuhku gampang capek dan ngos-ngosan walau baru berlari sebentar saja.


" Tadi bibi lihat Tuan Lewis pulang dan tak selang berapa lama kemudian pergi dengan nyonya Farah keluar." Ucap bibi yang sama sekali tidak menaruh rasa curiga, karena pasti wajar menurut bibi, lama tak berjumpa dan ingin berduaan saja tanpa ada yang menggangu pikirnya.


Namun ini akan menjadi boomerang, ataupun bertambahnya rasa sakit yang akan bang Lewis terima kelak, karena semakin banyak kenangan indah yang tercipta, akan semakin sulit untuk melupakan begitu saja.


Banyak yang aku pelajari dalam kisahku sendiri, menangis karena kehilangan, kecewa karena tidak dihargai dan terluka karena dikhianati.


Semua itu cukup memberiku pandangan, dimana aku bisa melihat bahwa tidak semua orang yang terlihat baik, akan berbuat baik, bahkan orang terdekat di kehidupan kita sekalipun.


" Astaga, kemana mereka pergi bik?"


" Saya tidak tahu nyonya, saya tidak berani bertanya kalau Tuan tidak mengatakan sendiri." Jawab bibi dengan wajahnya yang penuh tanya, karena tidak biasanya dia melihatku seperti ini, namun aku juga tidak bisa menyalahkannya, karena itu memang bukan wewenangnya.


" Ponselnya pake acara nggak aktif lagi, abang pergi kemana sih?" Aku kembali menghubungi nomor bang Lewis namun sekarang malah tidak aktif.


" Mungkin sedang jalan-jalan nyonya?"


" Aish... ya sudahlah, nanti kalau abang sudah pulang, segera hubungi aku ya bik." Entah mengapa aku sudah tidak betah berlama-lama lagi saat berada dirumahku sendiri.


" Kalau Tuan William yang pulang bagaimana nyonya?" Tanya bibik yang langsung membuat kepalaku sontak menoleh kearahnya.


" Emang dia pergi kemana bik?" Antara penasaran dan juga sedikit lega, berarti abangnya tadi tidak melihat adegan yang tidak pantas dipandang mata, namun aku juga khawatir kalau Farah akan mempengaruhi bang Lewis nantinya.


" Seingat bibi tuh ya.. saat kemarin malam bibi baru pulang beli cemilan yang nyonya Farah pesan, Tuan William dan nyonya Farah bertengkar dan setelah itu Tuan William pergi keluar dan sampai sekarang Tuan belum pulang Nyonya." Bibi terlihat mengingat-ingat kejadian kemarin.


Owh ya? mereka bertengkar? so... aku harus tertawa atau bagaimana ini, hmm... karena selingkuh tidak selamanya indah cok.


" Bi... ayok bantu aku nyari sesuatu dikamar!"


Aku langsung berlari ke kamarku yang penuh dengan kenangan itu dengan terburu-buru dan disusul oleh bibi.

__ADS_1


" Nyari apa sih nyonya?"


" Buku nikah bi, tolong cari dimana saja, cepat bantu aku menemukannya bik."


Aku jadi teringat dengan buku berharga itu, langsung saja aku membuka lemari lima pintu yang ada didalam kamarku, aku pun tidak begitu mengingat menyimpannya dimana, karena dari dulu tidak terpikirkan ada kata cerai dalam kamus hidupku, karena memang kami sama-sama saling mencintai satu sama lain.


Namun jalan Tuhan tidak ada yang tahu, dan setelah aku mencari informasi, ternyata buku nikah juga menjadi hal yang penting ketika ingin mengurus perceraian, karena merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi.


" Nggak ada nyonya."


" Haduh... dimana ya bik, dulu mas William yang menyimpannya."


Aku sudah memeriksa seluruh dokumen-dokumen yang ada dilemari, namun tidak terselip dua buku nikah disana, ini salahku yang dulu sering tidak perduli dengan hal-hal seperti ini.


" Emang buat apa sih non, tumben nyari buku nikah?" Tanya Bibi yang mulai kepo.


" Nggak papa, pengen nyari aja, nanti bibi beresin lagi ya, dan kalau nemu buku nikah cepat hubungi aku, tapi jangan bilang-bilang sama Pak William ya bik, please.."


" Apa nyonya sedang ada masalah dengan Tuan?"


" Bisa dibilang seperti itu bik, jadi tolong bantu aku ya bik, aku harus pergi sekarang."


" Nyonya mau pergi lagi?"


" Iya bik, jaga rumah ya, dan ingat pesan aku ya bik, kalau bang Lewis pulang cepat hubungi aku."


" Siap nyonya, kalau Tuan William pulang apa perlu saya menghubungi nyonya juga?"


" Tidak perlu bik!"


" Mau dia pulang atau tidak terserah saja bik, suka-suka dia, bahkan kalau dia hilang ditelan bumi sekalipun, aku sudah tidak perduli lagi."


" Baik nyonya."


Mungkin bibi masih penasaran dengan ceritaku, namun sepertinya dia tidak berani bertanya yang lebih tentang itu dan aku pun sedang malas membahas tentang jantan ahli Neraka itu saat ini.


" Kalau begitu aku pergi bi."


Aku langsung kembali bergegas keluar dari rumah yang hawanya terasa sangat panas bagiku, walau rumah itu terdapat beberapa AC, namun panasnya hati seolah sudah dapat membakar tubuhku yang lemah ini.


Tuhan...


Bukannya aku kejam dan jahat, tapi bolehkah aku meminta, agar orang yang pernah menyakitiku datang meminta maaf sambil memberikan segepok UANG untukku, atau bahkan bongkahan emas berlian sekalian sama tambangnya kalau perlu, karena kata MAAF saja tidak akan cukup, untuk membeli obat luka di Apotik atau di sebuah Klinik maupun Rumah sakit manapun, hah... lama-lama aku benar-benar bisa gila karena ini semua.


" Astaga.. apa yang aku pikirkan, aku harus bagaimana ini? aku harus apa? dimana bang Lewis dan perempuan itu berada? jangan-jangan mereka sedang... argh... semoga mereka tidak sedang berbulan madu kembali sekarang.


" Bang Lewis, tolong tahan nafsvmu sebagai seorang suami dan cepat aktifkan nomormu itu, huft... aku sudah tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa."


Aku tahu bagaimana kebiasaan bang Lewis saat dia pulang berlayar, dia memang selalu mengajak istrinya untuk berlibur beberapa hari, agar bisa berduaan menyalurkan kerinduan sang suami kepada istri setelah lama tidak bertemu.


Bang Lewis adalah sosok suami yang romantis, dia selalu tahu bagaimana membahagiakan istrinya saat disisinya, namun satu yang menjadi masalah didalam rumah tangganya, dia tidak bisa memberikan waktu yang lebih untuk istrinya, bahkan untuk sekedar program hamil saja terkadang waktunya tidak tepat, jadi sampai sekarang mereka belum juga dikarunia seorang anak.


Dan itu mungkin yang membuat Farah merasakan kurang kasih sayang dan mencari pelampiasan atas hasr@tnya yang menggila.


Saat aku kembali melajukan mobilku melewati sebuah taman yang rindang, tiba-tiba hatiku tergerak untuk sekedar duduk mencari angin dan melihat tawa bocah-bocah yang sedang bermain dengan riang disana.

__ADS_1


Angin yang berhembus sepoi-sepoi terasa menyejukkan hati, walau matahari sudah mulai meninggi diatas sana. Aku memilih duduk disebuah bangku kayu dibawah pohon beringin yang besar dengan pandangan lepas kedepan, walau otak masih saja berputar soal hati.


Terkadang aku merasa, bukan kecewa karena perpisahan, bukan juga kecewa karena caranya berpisah, tapi kecewa karena fakta tentang sebuah pengkhianatan yang suamiku lakukan dibelakangku, dan kecewa karena orang yang aku banggakan didepan semua orang ternyata nggak sebaik yang aku ceritakan.


Tiba-tiba saat aku masih terhanyut dalam lamunan panjangku, seorang gadis kecil datang dengan membawa sebuah gitar kecil dan satu buket mawar merah ditangannya.


" Kakak cantik, boleh aku duduk disitu juga?" Ucapnya dengan bahasa polosnya.


" Tentu adek manis, kemarilah." Aku tersenyum melihatnya, wajahnya memang terlihat manis, walau dipenuhi dengan peluh dan debu jalanan yang menempel, karena mungkin dia adalah seorang pengamen dijalan raya sebrang sana.


" Apa kakak sedang bersedih?"


" Hmm... tidak juga kok." Aku pura-pura tersenyum, walau memang perih, namun yang aku heran apa wajahku terlihat sangat memprihatinkan, sehingga gadis kecil itu bisa menebak suasana hatiku saat ini.


" Mau aku nyanyikan sebuah lagu kak?"


" Boleh." Balasku dengan senyuman.


" Siap kakak." Dia langsung memetik gitar kecil yang sudah terlihat usang.


" Kita pasti pernah dapatkan cobaan yang berat, seakan hidup ini, tak ada artinya lagi... Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah, tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik..."


Suaranya terdengar merdu, dari sini aku mulai menyadari artinya bersyukur, sebesar apapun masalah hidup yang aku jalani saat ini, tidak sebanding dengan masalah kehidupan diluar sana, seperti pengamen kecil ini misalnya, dia tidak lagi memikirkan yang namanya cinta kasih dari orang tua, yang biasanya seumuran dia hanya tahu bermain saja, bahkan dia hanya berfikir bagaimana caranya untuk bisa menghasilkan uang untuk bertahan hidup.


" Mau kakak traktir makan di restoran ujung sana dek?"


" Tidak aku sudah makan tadi."


" Owh ya... kalau kakak belikan es krim mau?"


" Sudah juga, aku sudah ditraktir makan es krim satu ember besar tadi."


" Ya sudah kalau begitu ini uang buat makan kamu saja!" Aku langsung menyelipkan beberapa lembar uang berwarna merah disaku bajunya.


" Nggak usah kak, aku juga sudah diberi uang jajan tadi." Dia kembali menolaknya.


" Tolong diterima dek, rezeki jangan ditolak, kalau enggak nanti kamu bisa belikan makanan juga buat teman-teman kamu yang lainnya, okey."


" Woah... kalau begitu terima kasih kak, teman-temanku pasti sangat senang nantinya." Ucapnya dengan riang gembira.


Gadis kecil ini benar-benar berhati baik, dia tidak serakah dalam hal seperti ini, selalu bisa merasa cukup, aku bahkan malu sendiri saat mengingat kehidupanku yang terus berfoya-foya sebelumnya.


" Ini buat kakak." Gadis kecil yang tidak mau aku traktir makan dan minum itu malah memberikan aku satu buket bunga mawar yang tadi dia bawa.


" Wah... ini buat kakak kah?"


Walau heran, namun tetap aku terima pemberiannya, karena dia terlihat antusias saat memberikannya, aku hanya tidak mau melihatnya kecewa.


" Dari kakak yang ada diujung sana." Ucapnya kemudian.


Saat aku baru membayangkan harga dari satu buket bunga yang tidak murah itu, tiba-tiba gadis kecil itu menunjuk seseorang yang sedang bersandar didepan mobil dengan gayanya yang menawan, juga ekspresinya yang cool dengan kaca hitam yang bertengger dihidung mancungnya.


Siapakah gerangan kakak itu?


Sabar itu pahit, jujur itu pahit, dan ikhlas itu juga sangatlah pahit. Namun semua yang pahit terkadang bisa menyembuhkan segala macam penyakit.

__ADS_1


Begitu juga dengan kopi, dia memang pahit, namun setelah diberi gula dan susu, akan lain rasanya. Begitu juga dengan kehidupan, semua akan indah saat waktunya telah tiba.


__ADS_2