Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
67. Mediasi


__ADS_3

...Happy Reading...


Hari ini Gemintang dan juga Lewis sedang bersiap, mereka berdua akan berangkat ke kantor Pengandilan Agama, karena sidang perceraian mereka dilakukan di hari yang sama, walau di waktu yang berbeda.


Hari ini mereka dijadwalkan untuk melakukan proses mediasi, karena memang William dan Farah sama-sama bersikeras untuk tidak ingin bercerai.


Mediasi di Pengadilan Agama/Mahkamah Syar'iyah adalah suatu proses usaha perdamaian antara suami dan istri yang telah mengajukan gugatan cerai, dimana mediasi ini dijembatani oleh seorang Hakim yg ditunjuk di Pengadilan Agama.


" Bang... jadwalnya abang duluan kan?" Mereka sudah berada diruang tunggu dengan didampingi oleh kuasa hukum masing-masing.


" Iya, kamu mau ikut masuk nemenin abang dulu nggak?" Lewis duduk berangkulan dengan adek semata wayangnya.


" Iya dong, males juga nungguin diluar, penasaran banget pengen lihat salah satu ahli neraka kesayangan abang itu." Ledek Gemintang yang langsung mendapat sentilan oleh abangnya sendiri.


" Noh... lihat, ahli neraka kesayangan kamu juga sudah datang." Ucap Lewis seketika.


" Mana?" Gemintang langsung mengedarkan pandangan kesekeliling untuk melihat keberadaan William.


" Tapi bohong! ciee... yang masih sering kangen walau hati sudah terluka?" Ternyata Lewis pun bisa bercanda saat ini.


" Apaan sih bang, bales dendam ini ceritanya." Gemintang langsung sewot karenanya.


" Kamu yang mulai duluan tadi?"


" Wahai orang-orang yang beriman, janganlah engkau suka mendendam, mau apa nemenin dua ahli neraka itu." Ucap Gemintang dengan penuh drama.


" Ulululuh... marah kamu dek?" Lewis langsung menoel pipi adeknya.


" Ya enggaklah, ngapain juga marah, abang lupa apa, kalau nasip kita sama? sama-sama diselingkuhi? sama-sama terkhianati dan hari ini sama-sama ke pengadilan agama untuk bercerai?" Tidak ada guratan marah diwajahnya, karena memang itu kenyataannya.


" Iya juga ya, apes banget nasip kita, hahaha..." Mereka akhirnya tertawa bersama saat merenungi nasip mereka masing-masing.


Mungkin disana, hanya merekalah penggugat cerai yang bisa tertawa selepas itu, karena mungkin hati mereka sudah terlalu sakit untuk merasakan, jadi seolah sudah kebal dan malah tidak terasa lagi.


" Bang... kesayangan kamu sudah datang tuh." Gemintang menyenggol lengan abangnya.


Ternyata dari ujung terlihat Farah sedang berjalan dengan didampingi kuasa hukumnya.


" Bisa berhenti bilang kesayangan nggak kamu?" Lewis seolah jengah saat mendengarnya, walau sekilas dia juga langsung melirik Farah saat dia datang, karena bagaimanapun juga, hatinya pernah terpaut begitu dalam dengan wanita itu.

__ADS_1


" Dih... abang dulu yang sering bilang begitu kan? aku kan cuma mengingatkan saja." Gemintang terus saja meledek abangnya yang pura-pura acuh dan tidak perduli, padahal sebenarnya masih ada sisa-sisa rasa dengannya.


" Karena melupakan tidak semudah membalikkan gorengan diatas wajan, semua butuh proses yang panjang, apalagi pernah melekat dihati." Umpat Lewis sambil menyilangkan kakinya dengan santai.


" Mas Lewis?"


Farah yang melihat keberadaan Lewis langsung berjalan mendekat dan ingin menyalaminya.


" Hmm..."


Namun Lewis hanya mengganguk dan bergumam saja, tanpa mau melihat apalagi menyambut uluran tangannya, dia pura-pura sibuk dengan ponselnya.


" Bagaimana kabar mas Lewis?"


Tanya Farah yang langsung membuka obrolan saat itu, dan mencoba untuk tetap mencari celah untuk berdamai.


" Baik." Satu kata saja yang terucap dari bibir Lewis.


Kemarin saat dia mendapatkan surat gugatan cerai itu, dia berusaha menemui Lewis, namun Lewis selalu menghindar, bahkan dia sengaja pergi dan pulang larut malam.


Bukan karena masih cinta orangnya, tapi jika Farah bercerai nantinya, dia tidak akan lagi bisa sesering itu bertemu dengan William, karena didalam otaknya sudah dipenuhi suara jeritan dari bibiir seksi William, dia adalah seorang wanita yang over, dan tidak pernah merasa puas dalam hal apapun.


Ditambah lagi, aliran dana yang selama ini memenuhi rekeningnya akan hilang seketika, bahkan dia masih ada tanggungan untuk membiayai adek-adeknya dan juga orang tuanya di kampung.


Karena waktu mediasi masih beberapa saat lagi, Farah mencoba merayu suaminya kembali, siapa tahu dia bisa meluluhkan hatinya disaat detik-detik sidang perceraian mereka akan segera dimulai.


" Tidak." Jawab lewis kembali dengan singkat, padat dan jelas.


" Mas... aku tahu kamu marah, tapi kan nggak harus bercerai secepat ini juga kan mas, pernikahan kita sudah lama loh mas, sayang kan kalau hubungan kita harus berakhir disini."


" Harusnya semenjak pertama kali kamu ingin melakukan perbuatan gilamu itu, kamu sudah tahu konsekwensinya, kamu kira aku pria seperti apa Farah? kau pikir aku tidak punya hati?" Lewis tetap kekeh dalam pendiriannya.


" Aku tahu mas, aku mengakuinya kalau perbuatanku ini salah, oleh karena itu, berikan aku waktu sebentar saja untuk berubah, aku tidak akan mengulanginya lagi mas."


" Mau seribu kalipun aku memberimu kesempatan, itu tidak ada gunanya, karena sepertinya penyakitmu itu sudah mendarah daging." Umpat Lewis.


" Mas... terlalu banyak kenangan yang sudah kita lalui walau harus terpisah jarak dan waktu kan, aku tidak pernah melawanmu, dalam hubungan keluarga kita, aku juga selalu mendukungmu, apa itu tidak cukup sebagai alasan?"


" Tidak!" Jawab Lewis dengan santai.

__ADS_1


" Tapi aku masih sayang kamu mas, aku tidak mau bercerai darimu." Rengek Farah sambil mencoba mengeluarkan air mata buayanya, agar Lewis kasihan dengannya.


" Kamu hanya sayang dengan uangku, tidak dengan aku." Jawab Lewis dengan tegas.


" Mas..."


" Sudahlah Farah, mau kamu bicara tentang apapun, itu tidak akan merubah keputusan gugatan ceraiku denganmu."


" Sekali ini saja mas." Pinta Farah dengan wajah memohon.


" Sebaiknya kamu bersiap, sebentar lagi proses mediasi akan segera berlangsung." Lewis langsung memilih beranjak pergi dari sana.


" Mas... sampai kapanpun itu, aku akan tetap memperjuangkanmu mas." Rengek Farah yang terlihat kesal, karena usahanya terlihat sia-sia saja, pendirian Lewis terlalu kuat, jika hanya dipatahkan dengan air mata palsunya.


" Silahkan saja, tapi perjuanganmu tetap akan sia-sia, aku sudah punya cukup bukti dan itu terlalu kuat walau kamu mau menetangku dengan cara apapun."


" Mas tolonglah... hargai perjuanganku dalam mempertahankan hubungan kita selama ini mas."


" Hahaha... perjuangan apa yang kamu maksud? perjuangan dari sisi yang mana? atau mungkin perjuanganmu untuk mendes@h, sambil membayangkan uangku begitu? owh... itu menjijikkan sekali Farah."


Lewis tertawa sumbang dengan segala ocehan Farah terhadapnya, bahkan Gemintang terus menahan tawa sedari tadi, saat menyimak obrolan mereka.


" Mas... tega sekali kamu bilang begitu."


" Itu nyata Farah, dan itu memang kamu dan wujud aslimu, dasar Rubah tak tahu malu!"


Lewis langsung memilih masuk kedalam ruangan itu, sebenarnya dia juga tidak mau datang ke pengadilan tadi dan ingin mewakilkan kepada kuasa hukumnya saja, karena takut hal ini akan terjadi, tapi setelah dipikir-pikir kembali, dia ingin melihat sejauh mana pembelaan dari istrinya dan seperti apa alasan yang ingin Farah katakan nantinya.


" Ckk.. ckk.. ckk.. heran gue, ternyata semurah itu hargamu mbak, sudah ketahuan juga masih tidak tahu malu mengemis cinta, ehh... atau mungkin hanya ingin mengemis harta saja? hedeh... bahkan hargamu lebih murah dari harga Bakso Tusuk di pinggir jalan sana, padahal itu rasanya jauh lebih enak dan gurih loh."


" Diam kamu!" Bentak Farah.


" Wuidih... @nj*ng menggongong kafilah berlalu, kamu yang hewannya, aku yang numpang lalu, permisi."


" GEMINTANG!" Teriaknya dengan kesal.


" Bye.. bye..!"


Gemintang sengaja berhenti sejenak disamping Farah, untuk sekedar memberikan komentar atas drama yang berlangsung beberapa saat tadi.

__ADS_1


..."Kita bisa bermain Drama tapi tidak bisa bermain dengan Karma, kita bisa bersembunyi dari Kesalahan, tapi tidak bisa bersembunyi dari sebuah Penyesalan."...


TO BE CONTINUE...


__ADS_2