
...Happy Reading...
Kampung pedesaan Sabrina memang area pegunungan, namun memiliki keindahan yang sangat luar biasa.
Ribuan pepohonan berjajar seolah menyambut kedatangan mobil mewah Chris yang menyusuri jalan setapak di kampung itu.
Itulah kenapa alasan Sabrina lebih memilih mengontrak didekat tempat kerjanya, karena jarak tempuh rumahnya memang terlalu jauh.
" Aje gile... biarpun kawasan pedesaan, indah juga tempatnya, bagus ini bos kalau kita beli trus kita bangun Villa dan restoran out door, pasti banyak pengunjungnya." Jiwa bisnis Peter langsung muncul saat kedua matanya tidak lepas melihat keindahan disekeliling jalan.
" Tergantung juga pemilik tanahnya, mau dijual apa tidak, biasanya mereka sulit untuk diajak bernegosiasi, apalagi izin dari lingkungan sekitar juga terkadang sulit." Chris pun langsung menanggapinya dengan serius, mereka berdua memang selalu klop jika sudah membahas tentang masalah bisnis dan pekerjaan.
" Iya juga sih, terkadang pemikiran mereka memang tidak sampai sejauh itu, padahal jika dibangun seperti itu akan ada banyak keuntungan juga dari itu semua, bisa memajukan kampung mereka, fasilitas jalan dan juga penerangan pasti juga lebih baik."
" Ada satu jalan, kalau kalian ingin membangun ide kalian berdua di area ini." Gemintang ikut bersuara akhirnya.
" Apa?" Tanya Chris dan Peter dengan kompak.
" Menikahlah dengan orang sini, pasti kalian juga ikut punya hak atas dari aset tanah kampung halaman ini."
" Tuh bos... nikahin gadis desa dari sini, daripada ngarepin calon janda yang entah kapan jadinya."
Plak!
Gemintang langsung memukul kaki Peter dengan kesal.
" Maksud elu apa skuter, mau apa gue tampol pake sepatu gue nih." Entah mengapa Gemintang merasa tersindir walau tidak secara langsung.
" Masalah rasa itu sulit tergantikan Peter, tidak semudah seperti kita memilih varian kopi." Jawab Chris sambil melirik calon janda idamannya dengan senyuman mahalnya.
" Kalian berdua ini sama saja!" Umpat Gemintang yang langsung memasang tampang bodo amat.
" Trus kemana nih arah rumahnya, GPSnya berhenti disini, sinyalnya hilang." Chris langsung menoleh ke kanan dan ke kiri.
" Astaga... aku juga sudah lupa, lama sekali nggak main kerumahnya." Gemintang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Jangan bercanda kamu Sumarni, jangan bilang kita tersesat ya, aku sudah nahan kencing sedari tadi ini." Peter langsung melotot kesal saat mendengarnya.
" Eh...itu ada orang lewat, adek... sini dek."
Saat mobil itu berhenti Gemintang langsung turun dan menyapa seorang anak yang terlihat baru pulang sekolah dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak.
" Iya kak, ada apa?" Tanya anak itu dengan sopan.
__ADS_1
" Maaf, kakak mau tanya, adek tahu rumahnya kak Sabrina enggak? kayaknya rumahnya dideket sini deh, tapi kakak lupa yang mana jalur ke rumahnya."
" Apa maksud kakak itu kak Nana? yang bekerja di kota itu?" Tanya Adek itu balik.
" Iya... bener sekali dek, dimana rumahnya dek?" Gemintang langsung tersenyum dengan manisnya.
" Masih diujung sana kak, kebetulan kami tetanggaan."
" Wah... kalau begitu kamu ikut kami saja naik mobil ya, skalian nunjukin jalan."
" Tapi... emm..." Anak itu seolah ragu ingin menyanggupinya.
" Tenang saja, kakak bukan orang jahat, kakak itu teman kak Nana dari kota, nih... kakak lihatin foto kebersamaan kami deh."
Gemintang langsung menunjukkan galeri foto di ponselnya, karena teman dekatnya cuma Sabrina, jadi foto miliknya juga kebanyakan dengan dia.
" Baiklah kalau begitu kak." Raut wajah Bocah itu berubah menjadi bersemangat, kapan lagi dia bisa naik mobil mewah pikirnya.
" Good boy, ayok kita masuk." Gemintang langsung merangkul tubuh bocah itu.
" Kakak, mereka siapa?" Saat bocah itu ingin masuk, dia memundurkan langkahnya saat melihat tatapan mata dari Chris dan Peter yang memang tidak bersahabat sama sekali.
" Hei... jangan melihatnya seperti itu, kalian menakutinya, wajah kalian berdua itu terlihat menyeramkan bagi anak-anak." Umpat Gemintang dengan kesal saat melihat dua pria tampan itu.
" Nggak papa, Om-om itu sudah jinak kok, mereka tidak berbahaya, nanti kamu duduk sama kakak dibelakang saja ya?" Gemintang langsung mengusir Peter agar pindah duduk ke depan.
" Ckk... dasar bocah, tau aja dia yang seger-seger." Umpat Peter yang langsung melompat pindah ke kursi depan.
" Heh... kamu kelas berapa?" Tanya Chris dengan tatapan tajam.
" Kel.. kelas lima SD Om." Jawab Bocah itu dengan wajah ketakutan.
" Mas... jangan menakutinya." Gemintang langsung mencubit lengan Chris yang malah terlihat langsung mengeluarkan dompet miliknya.
" Nih... buat beli baju sragam yang baru." Chris menyerahkan uang ratusan ribu sepuluh lembar krpada bocah itu.
" Hah? nggak usah om." Tolak bocah itu.
Wuidih... dibalik mukanya yang jutek, ternyata dia punya kepribadian yang baik juga, lihat baju anak ini yang warnanya sudah kusam dan bahkan sudah bukan warna putih lagi, langsung berinisiatif memberikan uang untuk mengganti seragam sekolahnya.
" Sudah.. ambil saja dek, rejeki nggak boleh ditolak loh, nggak papa, om itu ikhlas ngasih buat kamu." Ucap Gemintang yang langsung tersenyum.
" Kalau kurang bisa kamu tunjukkan dimana ATMnya disini? nanti Om tambahin?" Ucap Chris kembali.
__ADS_1
" Nggak usah Om, terima kasih, tapi ini sudah lebih dari cukup buat beli seragam kok." Jawab Bocah itu yang langsung tersenyum, karena ekonomi keluarganya memang pas-pasan, jika belum sobek bajunya pasti masih disuruh pakai, walau warnanya sudah kusam kecoklatan.
" Masak sih, biasanya itu cuma cukup buat beli celananya saja kan?"
" Itu kan kalau di Mall kota bos, kalau di pasar nggak semahal itu kali, Om tambahin juga deh buat beli sepatu kamu itu, sudah kotor itu kena lumpur gitu, besok buang saja ya, beli yang baru." Peter langsung mengeluarkan semua isi uang dari dalam dompetnya."
" Wah... ini kebanyakan juga Om." Ucap Bocah itu dengan polosnya.
" Nggak papa, kamu juga sudah nunjukin jalan, anggap itu rejeki untukmu hari ini, karena bertemu dengan pria tampan sepertiku." Jawab Peter dengan tingkat kepercayaan diri yang penuh.
" Cih... Narsis banget Luu!" Umpat Gemintang yang langsung berdecih, namun didalam hatinya dia juga bangga melihat kedermawanan mereka berdua.
" Itu rumah kak Sabrina didepan sana, kalau yang itu rumahku." Bocah itu menunjuk rumah disebrang jalan sana.
" Kalau begitu terima kasih ya dek?" Gemintang langsung mengacak rambut bocah itu.
" Sama-sama kak, terima kasih juga ya Om-Om yang baik hati."
" Tampan juga nggak?" Tanya mereka berdua dengan kompak.
" Tampan dong!" Bocah itu bahkan mengacungkan kedua jempol kearah dua pria itu.
" Good... hati-hati ya, bye." Chris dan Peter langsung melambaikan tangannya, tiba-tiba suasana hati dua pria itu berubah menjadi riang tidak terkira, walau hanya mendengar pujian dari seorang pelajar SD.
" Dih... kok ada ya manusia model kalian berdua ini, pede nya kebangetan, ehh.. Skuter, kamu tahu nggak buah.. buah apa yang gampang Lemes?" Umpat Gemintang sambil memberikan tebak-tebakan buat Peter.
" Apaan? nyerah aja deh." Jawab Peter yang sebenarnya hanya malas berpikir.
" Pantesan sampai sekarang kamu nggak dapet cewek, gampang nyerah sih Luu!" Gemintang langsung tersenyum bahagia saat bisa meledek Peter seperti itu.
" Sialaan ini si Sumarni! dari pada eluu, dapet suami juga nggak bener!" Ledek Peter balik.
" Ckk... mas Chris, asistenmu itu loh, kalau ngomong suka nyakitin banget!" Gemintang langsung pura-pura merengek dihadapan Chris.
" Peter... kamu bisa diem nggak! atau mau aku kirim kamu ke kandang Singa di hutan sana!" Chris langsung melotot kearah Peter yang langsung melengos kesal.
" Weeerrkk!" Gemintang langsung menjulurkan lidahnya, karena dia mendapatkan pembelaan.
Walau begitu, Gemintang merasa bahagia melihat mereka berdua, karena uang yang tidak seberapa baginya, ternyata sangat bermanfaat bagi orang lain.
Dari sudut hatinya yang paling dalam, dia bersyukur, karena tidak sia-sia dia bertemu dan berkenalan dengan Chris dan Peter, walau sering menyebalkan namun dibalik kejudesannya itu, sebenarnya mereka memiliki hati yang hangat.
TO BE CONTINUE...
__ADS_1