Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
52. Kau Janda pun aku mau


__ADS_3

...Happy Reading...


Keesokan paginya Gemintang sudah bangun pagi-pagi sekali, dia hanya bisa memejamkan kedua matanya beberapa jam saja dan itupun terbangun beberapa kali.


Bahkan dia sengaja minum obat alerginya yang dia stock dirumah agar bisa tidur dengan pulas, namun nyatanya masalah didalam kehidupan rumah tangganya lebih ampuh mengalahkan kandungan obat tidur yang ada didalamnya.


" Huft... mau minum obat sampai satu botol pun tidak akan bisa tidur kalau begini caranya." Gemintang keluar dari kamar mandi dalam kamar tamu setelah bersih-bersih.


" Semua ruangan didalam kamar ini selalu ada kenangan manis dengan dua ahli neraka itu." Kedua mata Gemintang berkeliling mengitari setiap sudut kamar itu.


" Tapi aku mau kemana sepagi ini? mana Sabrina belum balik-balik lagi, sebenarnya sakitnya bapak Sabrina itu separah apa sih, kenapa lama sekali dia dikampungnya?"


Selama ini hanya Sabrina lah tempatnya berbagi dalam segala kondisi, yang selalu bisa memahaminya dalam keadaan susah maupun senang, namun masalah keluarganya juga tidak bisa dia abaikan begitu saja.


" Jogging ke taman aja asyik kayaknya nih, sekedar menghirup udara pagi, juga bisa lihat anak-anak bermain, bisa sedikit menghilangkan stres."


" Bang Lewis masih tidur tuh, abang mah enak, jarang ketemu sama istrinya, jadi tidak terlalu banyak kenangan indah berdua, pasti tidak begitu sulit melupakannya, nah gue... Remuk Riii..."


Gemintang mengintip wajah Abangnya yang masih sembunyi dibawah selimut, padahal Gemintang tidak tahu saja, Lewis juga baru saja memejamkan matanya, walaupun sedikit kenangan yang tercipta, tapi luka itu terlalu membekas dihatinya.


Gemintang langsung berganti pakaian traning dan jaket hoodie miliknya, dan tidak lupa dia menggunakan sepatu sportnya.


Namun saat dia baru saja membuka pintu pagar rumahnya, kedua bola matanya sudah menangkap sebuah mobil mewah yang tidak asing baginya.


" Mas Chris? ngapain dia disana sepagi ini?"


Gemintang langsung berlari mendekatinya, dan Chris pun keluar dari mobil untuk menyambutnya.


" Mas ngapain disini?" Tanya Gemintang sambil menoleh ke kanan dan kiri, takut jika ada William, Farah atau siapapun yang melihatnya.


" Nungguin kamulah, katanya mau dateng ke Apartement, sampai malam ditungguin nggak datang-datang, terpaksa aku datang kesinilah." Jawab Chris dengan wajah yang kusut.


" Sepagi ini?" Gemintang seolah tidak percaya.


" Dari tadi malamlah!" Umpat Chris yang langsung melengos, pura-pura tersiksa, padahal itu memang kemauannya.


" Astaga... mas tidur di mobil?"


" Aku nggak tidur kok."


" Jadi mas baru dateng?"


" Sudah dari semalam, tapi aku nggak tidur karena nungguin kamu."


Padahal Chris sengaja tidak tidur untuk memastikan William tidak kembali masuk kerumah itu, karena tadi malam dia melihat pria itu berjalan lunglai keluar dari rumah Gemintang hampir tengah malam.


" Ya ampun mas, kalau cuma masalah mobil kan bisa diambil besok, dirumahku banyak mobil, mas kira aku semiskin itu?" Jiwa pamer Gemintang kembali keluar.


" Tapi kamu kan sudah janji, harusnya kamu tetap datang, kalau tidak ya ngabarin, ini malah diem-diem bae!" Umpat Chris yang sebenarnya hanya mencari alasan karena ingin melihat wajah cantik Gemintang saja.


" Ckk... kapan pula aku berjanji, ya sudah... nanti siang aku ambil, mas pulang aja sono, aku mau jogging dulu di taman." Gemintang takut jika ada tetangga yang salah paham juga.


" Ngapain pake acara jogging ditaman segala!" Chris tidak terima diusir begitu saja.


" Ya biar sehat dong mas." Gemintang menatap kesal pria tampan dihadapannya itu.


" Kamu itu yang sakit hatinya, bukan tubuhnya, jadi mau jogging sepagi ini juga yang ada kamu cuma masuk angin doang!" Bukan Chris kalau tidak bisa menjatuhkan mood di diri seseorang dalam sekejap.


" Mas ini malah diingetin terus, orang baru mau mencoba melupakan juga!" Gemintang langsung kesal dibuatnya.


" Kapan jadinya kalian bercerai?" Chris bertanya seolah bercerai itu sesuatu yang sangat mudah untuk direalisasikan.


" Tuh kan... mas itu emang nyebelin! kayak seneng banget kalau aku jadi janda!" Ingin sekali rasanya Gemintang menjitak kepala Chris, tapi dia tidak seberani itu.


" Kalau sudah yang namanya perselingkuhan, itu sudah masalah yang fatal, tidak ada solusi terbaik selain bercerai, kamu mengerti tidak!" Berulang kali Chris mengingatkan tentang hal itu.


" Ya emang iya, tapi kan aku masih harus mempersiapkan banyak hal dan juga berkas-berkas untuk dibawa ke Pengadilan Agama."


" Kamu bisa pakai pengacaraku, gratis deh." Chris langsung menawarkan bantuannya.


" Aku juga punya pengacara sendirilah!"


" Ya sudah, apa yang bisa aku bantu?"


" Beneran mau bantuin?"

__ADS_1


" Of Coures.. katakan apa yang kamu butuhkan!" Chris selalu siap tentang hal apapun.


" Jangan temui aku ditempat terbuka begini mas? bisa bahaya kalau ada yang lihat dan bisa dijadikan bukti, nanti mereka malah bisa memutar balikkan fakta, jadi aku kan yang rugi?"


" O... kalau itu tidak bisa, ada banyak hal yang mengharuskan kita untuk terus bertemu." Selain alasan tidak bertemu Chris bisa terima.


" Iya... tapi jangan ditempat terbuka seperti ini, nanti orang pikir kita juga selingkuh, padahal kita pyur hanya hubungan bisnis kan?"


Enak saja, untuk kedepannya lebih lah dari sekedar hubungan bisnis.


" Kamu masih mau belajar bisnis denganku kan? kalau begitu, mulai saat ini setiap harinya kamu harus datang ke kantor ku." Chris langsung menemukan ide cemerlangnya.


" Apa? masak setiap hari sih mas? trus kapan aku mengelola perusahaanku sendiri?" Gemintang langsung keberatan.


" Kan nggak seharian, yang penting kamu harus mengabsenkan wajah jelekmu itu kepadaku setiap harinya." Dia tidak mau kalah begitu saja.


Dia benar-benar sudah gila, apa dia mulai terobsesi denganku? ngeri juga bekerjasama dengan perjaka ya?


" Astaga.."


" Kalau kamu menolak, perjanjian kita batal!" Chris mulai mengancam.


" Ckk... iyain aja deh, biar cepet, ya sudah tapi sekarang mas pulang dulu sono." Gemintang langsung meminta Chris untuk pergi dari sana.


Tulilut... tulilut...


Tiba-tiba ponsel Gemintang berbunyi, ditengah-tengah perdebatan mereka.


" Sabrina? kapan kamu pulang bestie?"


Saat melihat di layar ponsel tertera nama Sabrina, Gemintang langsung mengangkatnya dengan exited, dia kira Sabrina sudah kembali dari kampung halamannya pikirnya, namun ternyata tidak.


" Gem... hiks.. hiks.."


Bukannya kedatangan yang dia dengar, malah isakan tangis dari Sabrina yang menyayat hati.


" Ada apa Na? katakan kepadaku, apa kamu butuh sesuatu? bilang Na, apapun itu sebutkan saja." Jawab Gemintang yang ikut cemas jadinya, tidak biasanya Sabrina secengeng itu pikirnya.


" Keadaan Bapakku kritis Gem, aku nggak tahu harus gimana lagi?" Terdengar suara parau dari sebrang sana.


" Astaga... kok bisa Na, apa yang terjadi?"


Di saat sesorang sedang down memang harus ada yang menyemangati, agar bisa menemukan solusi yang terbaik.


" Okey, aku kesana sekarang juga ya, kamu yang sabar ya." Jawab Gemintang yang langsung menarik lengan Chris yang ikut menyimak obrolannya sedari tadi disampingnya.


" Mau kemana?" Chris langsung ikut penasaran jadinya.


" Antarkan aku ke rumah Sabrina mas, buruan, sekarang juga!" Chris pun tidak menolaknya, dia langsung membukakan pintu mobil depan untuk Gemintang.


Tanpa berpikir panjang, tanpa memikirkan penampilan, Gemintang langsung bergegas menemui Sabrina walau rumahnya ada di luar kota.


Apalagi ini Tuhan? masalahku saja belum selesai, kini sahabatku harus menerima cobaan yang lebih berat juga?


" Heh... itu siapa?" Gemintang terlonjak kaget saat melihat ada seseorang yang tertidur di kursi belakang dengan pulasnya.


" Siapa lagi." Jawab Chris dengan santai dan langsung melajukan mobilnya tanpa tahu alamat yang dituju."


" Dasar Sumarno! dia ikut juga menunggu aku disini?" Gemintang tersenyum miring melihat Peter yang menutupi wajahnya dengan jacket miliknya.


" Setidaknya kalau ada dia, aku aman, kan nggak kelihatan banget kalau aku disini nungguin calon janda." Umpat Chris denan santainya.


" Mas!" Entah mengapa dia tidak suka mendengar panggilan calon Janda.


" Hehe... dimana alamat rumahnya?" Chris malah terkekeh sendiri melihat Gemintang marah.


" Aku hidupkan GPSnya ya." Gemintang langsung mencari lokasi rumah Sabrina lewat smartphonenya.


" Heh... di luar kota?" Chris langsung melotot melihatnya.


" Iya... kalau mas nggak bisa, antarkan saja aku ke terminal, biar aku kesana naik bis saja." Jawab Gemintang yang langsung tidak enak hati.


" Nggak! kamu aja cuma pake celana pendek gitu, bahaya nanti kalau ada buaya, biar aku antar sampai sana saja."


Gemintang memang hanya menggunakan celana training pendek saja, tanpa membawa apapun selain ponselnya miliknya.

__ADS_1


" Beneran nih mas?"


Sebenarnya Gemintang tidak masalah jika harus berangkat sendiri, walau hanya membawa ponsel saja, karena jaman sekarang semua serba mudah, asalkan punya mobile banking, semua bisa teratasi walau tidak membawa uang sama sekali.


" Hmm... kamu nggak pamit sama abangmu itu, nanti dia kira kamu aku culik lagi?"


" Nanti biar aku chat abang saja, kalau tentang Sabrina dia pasti bisa mengerti, tapi..."


" Tapi kenapa lagi?"


" Aku jadi harus menunda mengurus surat perceraianku dengan suamiku."


" Serahkan saja semuanya ke pihak pengacara, gampang kan?"


" Tidak segampang itu mas."


" Why?"


" Suamiku bersikeras tidak mau menceraikan aku, kalau begini caranya aku bisa kesulitan untuk bisa lepas darinya."


Sialaaan... ternyata pria itu menyulitkan langkahku untuk mendapatkan dia, belum tau saja dia, siapa lawannya kali ini...


" Keterlaluan memang suami kamu itu, maunya apa sih? dia yang selingkuh, dia juga yang nggak mau lepas! ckk... jangan menyerah, cari cara lain biar bisa bercerai darinya, aku akan selalu mendukung dan membantumu."


" Kok malah kamu yang jadinya semangat sih mas?" Gemintang menatap wajah Chris dengan keheranan.


" Modus tuh, kamu tau nggak isi dalam otaknya itu apa Sumarni." Tiba-tiba Peter menyembulkan wajahnya kearah mereka.


" Apaan?" Gemintang langsung menoleh ke kursi belakang.


" KAU JANDA PUN AKU MAU, huwo.. o.. o..." Peter langsung menyanyikan sepenggal lirik lagu yang berjudul Kutunggu Jandamu.


" Diam kamu!" Umpat Chris sambil melirik kaca spion untuk melihat wajah asistennya dibelakang sana.


" Nggak jelas banget kalian berdua ini." Celoteh Gemintang sambil tersenyum kecut dan menggelengkan kepalanya, entah mengapa ada sesuatu yang menggelitik di ulu hatinya.


" Habisnya kalian culik aku diam-diam!"


" Dih... males banget nyulik orang modelan kayak kamu, turun saja sono!" Gemintang langsung protes saat mendengarnya.


" Awas kau ya Sumarni!" Selalu saja begini kalau mereka sudah bertemu.


" Jangan, nanti siapa yang gantiin aku bawa mobil, perjalanan cukup jauh ini." Chris menyadari bahwa dirinya kurang tidur, sedangkan Peter dari tadi malam dia bisa tidur tanpa beban sedikitpun.


" Waah... anda mencoba memanfaatkan saya bos!"


" Apa gunanya aku bayar asisten mahal-mahal!"


" Ckk... ini pelanggaran namanya!"


" Bos kamu siapa!"


" Anda."


" Ya sudah, diam jangan protes!"


" Lagian ngapain juga kita harus ikut dia sampai keluar kota sih bos?"


" Temen gue ayahnya sedang kritis Skuter, jadi gue harus nemenin dia, emang elu... temen m@buk lemah tak berdaya kamu tinggalin begitu saja? saudara dan sahabat macam apaan kamu ini, tak berguna sama sekali." Gemintang langsung saja berbicara tanpa basa basi.


" Hoeekk..."


Disaat Peter kembali mengingat kejadian malam itu, perutnya pasti langsung terasa mual tiba-tiba.


" Asal kamu tahu ya bro, Sahabat itu seperti mata dan tangan." Ucap Gemintang dengan menggebu-gebu.


" Sok tahu kamu!" Ledek Peter yang memang tidak pernah bisa satu jalan dengan Gemintang.


" Mata menangis, tangan mengusap. Tangan terluka mata menangis, itulah makna sebuah persahabatan. Satu sahabat yang memahami air matamu, itu lebih berharga daripada seribu teman yang hanya melihat canda tawamu." Sebuah kata mutiara langsung keluar dari mulut Gemintang.


" Mantep... memang nggak salah aku untuk... hmm.."


Memilih kamu didalam hidupku.


Chris hampir saja kelepasan bicara, walau agak sulit tapi dia selalu mencoba menyembunyikan perasaannya sebelum Gemintang benar-benar bisa lepas dari suaminya yang sekarang, karena takut menambah beban didirinya.

__ADS_1


Seseorang datang tidak selalu untuk menjadi teman seumur hidup. Terkadang seseorang sengaja didatangkan hanya untuk sekedar menjadi pelajaran hidup saja.


Setia itu... bukan tentang fisik yang selalu bersama. Bukan tentang Profil Picture yang selalu berdua. Bukan tentang pasang nama pasangan disemua sosial media, tetapi Setia itu tahu hatinya milik siapa...


__ADS_2