
...Happy Reading...
Akan ada fase dimana kamu lelah dengan semuanya, memilih mengalah dan tak meminta siapapun untuk memahami keadaanmu lagi.
Membiarkan kehidupanmu berjalan dengan sendirinya, tanpa banyak bicara dan tanpa banyak kata.
Hingga pada akhirnya kamu akan mengerti, bahwa itulah cara Alloh untuk meningkatkanmu, bahwa hidup adalah hanya tentang hati yang ikhlas.
Hari ini keadaan Sabrina sudah membaik, walau saat diurut kemarin belum tuntas, namun dengan meminum suplemen dan istirahat yang cukup, dia menjadi lebih sehat sekarang. Pekerjaannya di kantorpun menumpuk, karena dalam dua hari ini dia tidak masuk bekerja.
" Na... kamu sudah sehat?" Tanya Gemintang dengan suara yang seolah tidak bertenaga.
" Sudah, tapi sepertinya gantian kamu yang tidak sehat? demam juga kah atau kamu punya masalah, ceritalah denganku?" Sabrina langsung mendatangi meja sahabat sekaligus bosnya itu yang ada disebelahnya.
Mereka memang masih dalam satu ruangan, karena selain bekerja, bisa juga sambil curhat, kalau salah satu diantara mereka punya masalah.
" Huft... bukan ragaku yang sakit, tapi sakitnya tuh disini Na." Gemintang menepuk dadaanya sendiri, seolah hanya dialah perempuan yang tersakiti.
" Ckk... sudah kayak judul lagu lagu aja deh?" Ledek Sabrina sambil menyunggingkan senyumannya.
" Gue serius Sabrina Larasati, mau gue timpuk pake duit loe." Gemintang langsung meliriknya dengan kesal.
" Mau banget, hehe... emang kenapa lagi dengan William? apa dia berulah lagi denganmu?" Karena biasanya sahabatnya itu galau jika sudah menyangkut tentang masalah mantan suaminya itu.
" Bukan masalah William, tapi ayahnya Chris." Gemintang meletakkan kepalanya yang terasa berat itu ke atas meja, selain kurang tidur, dia juga kurang nafsu makan semenjak kejadian kemarin.
" Heh? apa kalian ketahuan kalau sudah berbohong?" Sabrina langsung mengingat perjanjian pertama mereka.
" Yups." Gemintang menggangukkan kepalanya dengan pasrah.
" Ya sudah, nggak usah diterusin, yang punya ide kan pak Chris, jadi biar dia yang menanggung masalahnya, kamu tinggal pergi saja dari kehidupannya, apa susahnya?" Karena Sabrina sakit dalam beberapa hari ini, dia jadi ketinggalan info terkini.
" Ngomong aja gampang kamu, masalahnya aku sudah jadian sama mas Chris sekarang?" Ucap Gemintang yang langsung curhat tentang kisah barunya.
" Astaga... jadian gimana maksudnya?" Sabrina yang sejak dari awal tahu seluk beluk perkembangan kisah cintanya merasa terkejut sendiri, karena belum lama ini Gemintang masih menolak dan butuh waktu untuk menikmati masa Jandanya.
" Kok gimana sih? ya pacaranlah, jadi sepasang kekasih gitu."
__ADS_1
" Aje Gile... gue ketinggalan cerita ini rupanya, emang bagaimana ceritanya?" Sabrina langsung memasang telinga baik-baik.
" Ceritanya panjang Na, tapi yang pasti ayah Chris sekarang tahu kalau aku ini mantan istri mas William, dan yang lebih hebohnya lagi, dua ayah dari dua pria itu berteman dekat, ya mampus lah gue jadinya."
" Astaga... dunia sesempit itu ternyata ya?"
" Dan ayah Chris tidak terima jika putranya punya kekasih Janda seperti gue."
" Apa yang salah dengan Janda? orang Janda bolong aja laku berat sekarang di Pasaran kan?" Ucap Sabrina dengan santainya, sambil melihat-lihat tumpukan proposal kerja di meja bosnya.
Plak!
" Itu tanaman Janda Bolong Sabrina Peak!" Gemintang langsung memukul lengan Sabrina sekuatnya, karena terlalu kesal.
" Ya ampun, sakit Gem! mukulnya kok pake otot sih?" Sabrina mengusap-usap lengannya sambil protes.
" Aku lebih sakit tau Na, seolah hidupku dirangkul oleh luka, dikuatkan oleh rasa, disakitin oleh cinta, dan pura-pura tertawa, agar tetap terlihat bahagia." Keluhnya dengan kata-kata puitisnya.
" Kok jadi kelas paket komplit sekali hidupmu Gem?" Sabrina malah terkejut sendiri mendengar rintihan hati sahabatnya itu.
" Ckk... jika, kau bertemu aku begini, berlumpur tubuh dan keringat membasah bumi, dipenjara... terkurung terhukum hanya bertemankan sepi, bisakah kau menghargai cintaku... yang suci ini..."
" Emang kamu sudah cinta dengannya?" Sabrina langsung mencoba menelisik wajah Gemintang, mencoba membaca pikirannya walau tetap tidak menemukan jawaban.
" Fuh... gimana gue lama-lama nggak cinta Na, mas Chris itu memperlakukan aku layaknya seorang bidadari yang turun dari Kayangan, selalu lembut dan perhatian, bertolak belakang dengan sifatnya sebagai CEO dulu, gimana nggak terpotek-potek hati gue coba?"
Akhirnya dia mengaku juga jikalau hatinya sudah terpaut dengan Chris kali ini, apalagi saat kemarin dia dibela didepan ayahnya sendiri, itu moment yang paling mengharukan baginya.
" Haish... lemah bener dah pertahanan diri elu, katanya masih trauma dengan cinta, ini baru dikasih hati sedikit saja sudah meleyot hati elu?" Sabrina langsung dengan mudah mengejeknya, karena dia sendiri belum merasakannya.
" Apa yang sedikit? dia selalu totalitas dalam menyayangiku, bahkan dia tetap memilih aku didepan ayahnya yang terus mencoba menolakku dengan segala penghinaan kejamnya, gimana kalau kamu jadi aku? pasti sebelas dua belas juga kan?"
" Joko Tingkir ngombe dawet, jo dipikir marai mumet, Joko Tingkir ngombe dapur, marai mumet neng sirah ajur!" Kelakuan kedua sahabat ini sebenarnya memang tidak ada bedanya.
" Kasih solusi Besti, bukan nyanyi!" Gemintang menyepak kaki sahabatnya itu sambil melotot.
" Tak seharusnya kamu cemas perihal Takdir Gem, sebab selembar daun pun Alloh sudah atur, akan jatuh kapan dan dimana."
__ADS_1
" So?"
" Somay enak kayaknya Gem, kita jajan di luar yuk? lumayan buat cemilan biar nggak ngantuk kan?"
" Kamu ini gila atau gendheng, aku tuh lagi puyeng mikirin ayahnya mas Chris, e...kamu malah ngajak jajan."
" Sudahlah Gem... jangan bebankan dirimu dengan kerisauan tentang asmara di dunia fana ini, karena urusan dunia milik Alloh. Dan jangan bebankan dirimu dengan kegelisahan tentang masa depanmu, karena masa depan itu ditangan Alloh, kamu hanya perlu redha dan berprasangka baik kepada-Nya, karena niscaya Alloh akan melindungimu dan mencukupi semua kebutuhanmu di dunia ini."
Walau sering slengek an, namun mereka berdua sering bijak dalam berkata-kata dan berhati-hati dalam mengambil segala keputusan, walaupun memang terkadang tidak bisa sempurna.
" Amin... aku memang masih mencoba untuk selalu redha atas kehendak-Nya, tapi kalau yang itu kamu redha nggak?" Gemintang menunjuk dua orang yang tengah mengobrol dengan asyik dan dipenuhi dengan canda tawa didepan ruangannya, yang memang terbuka tadi.
" Apaan?" Sabrina langsung menoleh kemana arah jari telunjuk Gemintang.
" Cobalah balik badan dan lihat dengan jelas."
" Haish... dasar! ngapain dia jam segini ada di kantor kita? ckk... semua lelaki itu memang buaya, baru kemarin dia buat ulah, katanya sudah mencoba menerima aku didalam kehidupannya, sekarang sudah berani ber haha hihi ria dengan wanita lain, tergamak kau wahai suami siri!"
Entah mengapa Sabrina merasa tidak terima, padahal biasanya dia cuek-cuek saja.
Hiburan euy...
" Hihi... serang Na, labrak dong biar keren, biar seluruh kantor tau bahwa dia adalah playboy cap sendal jepit, ayok... semangat Na!" Gemintang langsung semangat saat menjadi pelopor diantara mereka.
" Memang perlu aku kasih pelajaran dia kan? biar tidak semena-mena dengan seorang wanita, apalagi dengan istrinya ya kan!"
Dia yang sekarang jual mahal, dia pula yang marah-marah jika lelakinya berduaan dengan wanita lain? dasar Sabrina Peak! tapi ngapain juga ya jam segini dia datang ke kantor? apa gantiin mas Chris? lah... bodo amatlah, pikir belakangan aja, kita saksikan dulu drama hari ini, hihi...
" Yok semangat yok, sing-singkan lengan bajumu Na, maju terus pantang mundur, horaass bah!" Gemintang seolah membakar api kemarahan didiri Sabrina.
Disaat sedang seperti ini, terkadang mereka memang sering menjadi penghibur dikala rasa kalut melanda hati.
Carilah teman hidup yang bukan hanya sekedar menggembirakan, tetapi juga menenangkan.
Bukan sekedar menegur kesilapan, tetapi juga menunjukkan jalan.
Bukan sekedar mencintai, tetapi juga menghormati.
__ADS_1
Bukan sekedar mengimpikan Syurga, tetapi juga sama-sama berusaha menggapai redha Alloh.