
...Happy Reading...
Mobil sport mewah milik Chris malam itu benar-benar memecah gelap dan kesunyian malam, bahkan sepanjang jalan, hanya suara jangkrik dan katak lah yang menemani sepanjang perjalanan mereka.
Tidak ada obrolan dan candaan seperti biasanya, karena Chris terlihat hanya memilih diam dan termenung sambil menatap luar jendela dengan pandangan kosong dan hampa.
Peter sebenarnya ingin menanyakan sebab dan inti permasalahan yang terjadi padanya, namun sepertinya momentnya belum tepat, jadi dia memilih berdiam diri terlebih dahulu, nanti kalau sudah waktunya dia pasti akan bercerita pikirnya, karena hanya dialah teman curhat segala keluh kesahnya selama ini.
" Bos... boleh nggak nanti saya istirahat di apartement anda dulu?" Saat mereka sudah memasuki jalanan kota, Peter baru membuka obrolan.
" Tumben?" Tanya Chris tanpa menoleh sedikitpun, karena Peter biasanya memang jarang mau menginap di apartement miliknya.
Pandangan Chris masih tetap lurus kedepan, ngantuk pun tidak, padahal dia duduk disamping pengemudi, bisa tidur dengan nyenyak kalau dia mau, karena saat itu hari sudah mulai pagi.
" Emm... aku tadi nyuruh Sabrina pulang pagi saja dengan Gemintang, soalnya takut kalau pulang malam malah kenapa-kenapa dijalan nantinya, jadi daripada aku sendirian dirumah nggak ada temennya mending nunggu dia disini aja."
Padahal Peter memang sengaja, takut kalau bosnya butuh bantuan atau mungkin sekedar butuh teman curhat untuk mengeluarkan segala unek-uneknya saat ini.
" Terserah kamu saja!"
Bahkan sampai mereka sudah masuk kedalam apartement dan setelah selesai membersihkan diri masing-masing pun, Chris hanya kembali termenung di kursi santai didekat kolam renang dengan ditemani satu cangkir kopi hitam.
" Nggak tidur bos, matahari sudah mau nongol loh itu." Peter ikut duduk disamping Chris sambil merebahkan tubuhnya yang memang terasa pegal dan menjadikan tangan kanannya sebagai bantal kepalanya.
" Belum ngantuk, lagian juga hari ini kita nggak ke kantor kan, so... tak tidur pun tidak masalah."
Dia kembali menyeruput kopi hitamnya dengan nikmat.
" Sebenarnya apa yang terjadi tadi?"
Karena Peter sudah lama menunggu tapi Chris masih tidak ada cerita, Peter sengaja memberanikan diri untuk bertanya, dia sudah tidak sabar dan penasaran juga pastinya.
" Nothing!" Jawabnya dengan singkat.
" Ayolah bos, kita bukannya baru sehari dua saling mengenal, masih tidak percaya lagi denganku?" Peter merasa heran sendiri, tidak biasanya bosnya itu bersikap seperti ini.
" Ckk... aku bukannya tidak percaya, tapi memang tidak ada yang harus diceritakan." Chris menghela nafasnya berulang kali.
" Apa ini menyangkut tentang Gemintang? aish... wanita yang satu itu memang pencari masalah, besok-besok aku suruh saja Sabrina menjauhi dia, biar dia tau rasa, hidup sendiri tiada yang menemani." Umpat Peter dengan wajah yang terlihat serius.
Plak!
Sendal bersihnya langsung melayang kearah Peter, walau tidak sampai mengenai tubuhnya.
" Jangan! Dia tidak sepenuhnya bersalah, jangan begitu, jangan pernah salahkan dia, mungkin aku saja yang terlalu banyak berharap dengannya."
Akhirnya Chris tanpa sadar langsung bercerita sendiri, padahal Peter bicara seperti itu tadi memang hanya untuk memancing dirinya saja, dari awal dia sudah menduga jika penyebab Chris seperti itu memang pasti karena ulah Gemintang, namun inti permasalahannya yang dia belum tahu.
Karena selama ini dia selalu menyelesaikan masalah tanpa masalah, dan tanpa merenung dan penuh penyelesaian seperti itu, kali ini Peter akui kalau Gemintang memang mampu menakhlukan hati orang sekeras Chris bahkan setunduk-tunduknya.
Cih... gitu aja nggak terima dia? ternyata kelemahan anda ada pada wanita.
" Lalu gue harus apa? hanya diam saja trus melihatmu seperti orang yang kebingungan dan kehilangan arah dan juga tujuan hidup seperti itu kah?" Peter pun paham, masalah cinta memang berat, karena dia sendiri pernah merasakannya juga.
" Gue cuma nggak tega jika harus membuatnya menderita." Dia kembali menundukkan pandangannya kearah kolam renang.
" Ckk... aku malah bahagia kalau lihat si Sumarni itu menderita, kalau perlu sampai mewek-mewek dan ngesot-ngesot skalian!" Ledek Peter dengan sengaja.
" Peter! aku serius ini, jangan bercanda!" Gantian Chris yang sewot, dia paling tidak bisa mendengar orang mencaci atau menghujat kesayangannya itu.
" Yaelah... bercanda dikit napa, biar nggak tegang gitu bos, mau kaca nggak? lihat wajah elu itu, udah kayak mau menghadapi sidang skripsi aja." Ledek Peter tanpa rasa takut sedikitpun.
" Aku melihat dia itu seakan masih terjebak dalam masa lalunya, seolah-olah dia juga masih sulit untuk melupakan mantan suaminya itu."
" Kenapa bos bisa berkata seperti itu?" Peter sudah mengubah raut wajahnya menjadi serius.
" Aku melihatnya sendiri Peter, dia bahkan bisa bercanda tawa berdua dengannya."
" Apa mantan suaminya itu datang ke area perkemahan juga?" Peter sungguh tidak menyangka, jika dia juga datang, padahal dia tadi tidak melihatnya.
" Ya... padahal kelakuan suaminya itu sudah seperti binatang, tapi kenapa dia masih bisa bersikap seperti itu? secinta itukah dia dengan masa lalunya? lalu apa artinya kehadiranku selama ini?"
Kalau diikutkan kata hati nurani, dia ingin sekali menon jok habis si William karena selalu hadir ditengah-tengah kedekatan mereka saat ini.
Astaga... apa dia memang Chris yang aku kenal? tumben dia jadi insecure begini?
" Chris?" Peter menatap sendu wajah atasan sekaligus saudaranya itu, ingin rasanya dia mengabadikan wajah Chris saat ini untuk kenang-kenangan, namun dia tidak tega.
" Aku merasa hanya jadi tempat persinggahannya saja selama ini, mungkin aku yang memang terlalu banyak berharap dengannya, ini semua salahku." Dia menjambak rambutnya kebelakang seolah sudah putus harapan.
Woah... salut gue ama janda yang satu itu, big bos gue yang selalu punya tingkat kepercayaan diri penuh didepan orang-orang penting, bisa down hanya karena satu Janda doang? cari dukun dimana itu si Sumarni, perlu berguru sepertinya diriku ini..
Peter bahkan sampai melongo mendengarnya, dia seolah tidak percaya kata-kata itu keluar dari mulut seorang Chris Arthur.
__ADS_1
" Mulai nyerah?" Tanya Peter yang sebenarnya tidak mau ikut campur dalam masalah mereka, namun saat Chris terlihat bersedih seperti itu, dia juga tidak sampai hati.
" Fuh... entahlah, aku hanya tidak ingin terlalu memaksanya, aku takut jika hanya akan menyakiti hatinya."
Rasa sayang Chris bahkan sudah sampai sejauh itu, padahal jauh didalam lubuk hatinya dia sangat takut untuk kehilangan Gemintang dari sisinya.
" Itu mah hak elu sih, karena hati elu yang berhak nentuin gimana kelanjutannya, cuma menurut gue, pikirkan dulu baik-baik, pendam dulu emosi yang elu rasain sekarang, takutnya malah tambah rumit nanti permasalahannya."
Peter tidak langsung menyalahkan salah satu diantara mereka secara terburu-buru, walau dia tidak pernah bisa akur dengan Gemintang, namun dia tahu bahwa sebenarnya Gemintang itu berhati baik.
" Itulah... aku memang lebih memilih untuk pergi saja tadi." Chris seolah tidak lagi punya penyemangat, hatinya seolah layu sebelum berkembang.
" Semua keputusan ada ditangan elu, kalau memang kamu rasa tidak kuat, kamu boleh nyerah, kalau itu bisa membuat hatimu lebih enak." Peter berpindah tempat duduk disamping Chris.
" Aku masih bimbang Ter, aku belum bisa memutuskan itu semua sekarang, aku hanya ingin menjauh dulu dari dia dan memikirkan hubungan kami kedepannya."
" Tapi roman-romannya elu takut kehilangan tuh Janda bro." Peter menaikkan satu sudut bibirnya, melihat wajah Chris yang sudah kusut, seperti cucian satu tahun tidak disetrika.
" Kok kamu tahu!" Dia bahkan keceplosan bicara.
" Bahaha... aku mengenalmu bukan sebentar Chris, melihatmu lemah di depan Janda itu saja membuatku yakin, kalau kamu itu menaruh rasa yang lebih dari sekedar kata cinta." Peter merangkul lengan Chris sambil tertawa.
" Pusing kepalaku Ter, berasa mau pecah saja!" Dia langsung menghempaskan lengan kokoh Peter di pundaknya.
" Tapi kalau elu mau terus berjuang juga, gue bakal ngedukung keputusan elu sih, ikut saja kata hatimu, jangan sampai ada kata sesal, gue tau sebenarnya elu itu perduli banget dengan dia kan, meskipun dia nya seperti itu?"
Walau dia bukan seorang pakar cinta, namun dia mencoba untuk memberikan sedikit masukan, agar semua bisa baik-baik saja.
" Hmm.. gue maunya sih netral aja nanggepin tingkahnya itu, tapi entah kenapa dadaaku terasa sesak sekali." Chris bahkan sampai memukul dadaa bidangnya sendiri, seolah ada yang mengganjal di sana.
Jatuh cinta lah itu, apalagi ya kan?
" Menurut gue pribadi, tanggapan netral itu ada benernya, ada juga salahnya."
" Why?" Diliriknya wajah sahabatnya yang mulai terlihat serius.
" Benernya elu tu dah bagus punya sifat perduli-an, trus khawatir-an dan salahnya itu jangan terlalu berlebihan, nggak usah over banget gitu loh, sakit hati itu wajar dalam sebuah perjuangan, sedikit rileks kenapa sih Chris? elu belum halal bro, lain cerita kalau sudah kayak gue, perlu totalitas emang!" Peter pun tidak memungkiri rumitnya sebuah hubungan cinta.
" Semua mengalir begitu saja bro, aku tuh seolah nggak sadar aja."
" Emm.. emang dunia ini nggak selalu rata bro, langit pun tak selalu biru, tapi aku yakin semua akan indah pada waktunya, dan harus selalu kamu ingat, masalah yang terjadi dalam kisah cintamu itu, akan menjadi bagian dari sebuah proses, yang nantinya bakal menuju dengan kebahagiaan yang tidak pernah elu sangka sama sekali, percaya saja, pasti akan ada hal positif dibalik ini semua."
Senyum tipis langsung muncul dibawah kumis tipis Peter, karena sepahit apapun hidup memang harus dihadapi dengan sebuah senyuman pikirnya.
Dan sebuah senyuman pasti akan menular, walau saat sedih sekalipun.
" Mungkin karena semua sudah tersalurkan dengan lancar, jadi otakku juga ikutan lancar?" Jawab Peter yang langsung saja bicara ngasal.
" Nggak nyangka gue, gara-gara Sabrina, elu juga jadi gila, sudah hilang traumamu?"
" Apaan sih?" Peter langsung menggeser tubuhnya dan duduk menjauh, saat Chris bergantian mulai meledeknya.
" Bisa-bisanya kamu inthehoy didalam tenda? pinggang okey kah?"
" Okey dong, apalagi si Bruno, hmm... semakin perkasa aja dia, bahkan cepat sekali tumbuh besar, padahal baru beberapa kali bertanding, emm.. mungkin aku perlu mengubah size tempatnya juga mulai sekarang."
Sampai saat ini pun dia masih belum sadar, dengan sangkar burung yang dia pakai, walau terasa tidak nyaman namun itu terlupakan karena sahabatnya terlihat murung sedari tadi.
" Siapa itu Bruno?" Tanya Chris dengan tatapan heran.
" Ahaha... anda belum sampai tahapnya lagi boskuh... nanti kalau sudah menikah pasti langsung faham!"
" Heleh... otak elu juga pasti condong ke samping kan?"
Disaat mereka saling bercanda untuk sekedar mendinginkan suasana ketegangan disana, tiba-tiba pintu apartement Chris ada yang mengetuk.
Tok..
Tok..
Tok..
" Siapa yang datang bertamu sepagi ini?" Chris langsung terheran.
" Elu pesan sarapan nggak tadi?"
" Enggak?"
" Trus siapa pagi-pagi sudah datang kesini?"
" Apa mungkin mereka itu?" Chris langsung menduga bahwa dia adalah kekasihnya.
" Gemintang dan Sabrina maksud elu?" Peter langsung paham tentang isi pikiran dari Chris.
__ADS_1
" Bisa jadi, owh ya... kalau dia yang datang katakan saja aku sudah tidur, aku nggak mau ketemu sama dia dulu."
" Dih... percaya diri sekali anda, aku sudah menyuruh Sabrina mengajaknya pulang pagi hari saja, nggak mungkin lah mereka nekad pulang hanya demi mengejar elu, apalagi disana ada mantannya, ya kan?"
" Maksud elu apa?"
" Mungkin mereka sedang melanjutkan obrolan masa lalunya atau sedang sik asyik kan gitu, cuaca lagi dingin ini bro, paham-paham sajalah?"
" Siall lu, buka sana pintunya, banyak songek emang manusia yang satu ini!" Chris langsung melotot kearahnya.
Brak..
Brak..
Brak..
Karena mereka malah asyik mengobrol, suara ketukan di pintu itu berubah menjadi suara gebrakan.
" Iya.. iya... nggak sabaran amat sih, kayak orang sesak kawin aja!"
Ceklek!
Saat pintu terbuka, tubuh Peter langsung terdorong kebelakang.
" Astaga!" Peter langsung terkejut.
" Mas... mas Chris!"
Teriak Gemintang dengan wajah kusutnya, dia langsung mendorong tubuh Peter agar tidak menghalangi langkah jalannya.
" Ya ampun, dasar Sumarni!" Jawab Peter dengan kesal.
" Mas?" Sabrina langsung ikutan muncul dibelakangnya.
" Sayang... kenapa kalian sudah sampai? aku kan menyuruh kalian pulang pagi saja?" Peter langsung mendekap tubuh istrinya kedalam pelukan.
" Gemintang itu nggak sabaran, tau pak Chris sama mas pulang dia langsung meninggalkan tenda kami dan ikut menyusul pulang."
" Owh ya? tapi kamu nggak papa kan? nggak ada yang terluka kan?" Peter seolah mengecek keadaan Istrinya dari ujung kaki ke ujung kepala.
" Nggak ada mas, kami okey kok."
" Good, berarti kita bisa lanjut lagi dong?"
" Apaan sih mas!"
" Satu ronde lagi bisa lah ya!"
" Ckk... dirumah orang ini mas, kira-kira dong!"
" Sstt... ada kamar kosong khusus buat aku disini." Bisik Peter disamping telinga istrinya.
" Nggak! aku capek, tambah masuk angin lagi gara-gara mas!" Umpat Sabrina sambil memonyongkan bibiirnya dengan gemas.
" Kok gara-gara mas, apa salah aku sayang?"
" Kenapa celana dalamku mas pakai!"
" Hah! pantesan, kirain Bruno yang tumbuh besar, ternyata itu.. tapi aku belum sempat lihat sih?" Peter langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Nggak usah dilihat juga pasti sudah benar deh, warnanya itu Pink motif bunga-bunga, dan bawahnya ada renda-rendanya, bagus deh pokoknya."
" Aisssh... pantesan aneh rasanya!"
" Coba di foto dulu deh mas!"
" No!"
" Hahaha... pengen lihat mas, coba sini aku fotoin dulu!"
" Jangan!" Peter langsung kembali panik.
" Lain kali pakai punyaku yang gambar hello kitty mas, pasti keren, haha!"
" Aaaaaaaaaa... ogah!"
Akhirnya mereka malah saling kejar-kejaran didalam ruang tamu apartement Chris, sedangkan Gemintang mencari-cari keberadaan Chris yang entah sembunyi dimana.
♡
Terkadang kita itu hanya butuh waktu, untuk lebih menerima saja, dengan apa yang Alloh hadirkan dalam kehidupan kita.
Belajar Ridho ketika menerima, belajar ikhlas ketika melepas, segala sesuatu yang ditakdirkan untukmu, pasti akan datang kepadamu, dan segala sesuatu yang tak ditakdirkan untukmu, tidak akan pernah menjadi milikmu.
__ADS_1