
"Selamat pagi anak-anak."
"Pagi, Bu Rosa."
"Kalian sudah menyelesaikan tugas yang ibu berikan, kan?"
"Sudah, bu."
"Kalau begitu kita akan mempresentasikan hasilnya nanti setelah jam istirahat pertama."
"Baik, bu." semua murid XI D menjawab kompak.
Di sekolah ini, ada 2 jam istirahat, pertama saat jam 9:00 pagi dan yang kedua saat jam 12:00 siang. Bu Rosa meminta kelas XI D untuk mempresentasikan hasilnya setelah jam istirahat pertama yang berarti hasilnya akan dipresentasikan saat jam istirahat pertama selesai, yaitu pukul 09:30.
"Manda."
"Iya, kenapa?"
"Kamu yakin grup kita akan berhasil jika hanya punya testimoni dari Ryan saja?" Clarissa tampak ragu. Raut wajahnya tampak sangat pucat.
"Tenang, Clar. Ryan adalah murid nomor satu di sekolah ini. Tidak, maksudku murid nomor satu di seluruh kabupaten. Semua orang terutama warga sekolah mengenalnya. Kamu tidak perlu khawatir. Aku jamin kali ini kelompok kita yang dapat nilai tertinggi."
"Hmm.. Oke deh kalau begitu." Meski tampak ragu, Clarissa berusaha menenangkan dirinya.
Kring.. Kring.. Kring...
"Din, Clar, Ayu, ayo kita ke kantin!" ajak Amanda.
"Oke." jawab Dinda, Ayu, dan Clarissa bersamaan.
"Bagaimana dengan kami? Apa kalian sudah tidak menganggap kami lagi?" Budi, Samuel, dan Rangga sudah berdiri memandang kearah mereka dengan menautkan salah satu alis. Jika mereka sedang begini, mereka benar-benar terlihat sangat tampan, walaupun tidak setampan Ryan.
"Haha. Iya maaf. Jika kalian mau ikut, maka ayo kita pergi bersama." sahut Amanda.
"Cih.." Samuel mendesah.
"Sudahlah ayo pergi." kata Rangga.
Di kantin..
"Din, mau pesan apa?" tanya Budi. Budi dan Amanda yang akan memesan menu untuk semuanya karena antrian di kantin cukup padat. Sementara yang lain hanya duduk dan menunggu.
__ADS_1
"Aku pesan siomay aja satu porsi."
"Minumnya?" tanya Amanda.
"Air putih."
"Oke sip." sahut Amanda.
"Ayu, Rangga, mau makan apa?" tanya Amanda.
"Hei. Kenapa kamu menyebut nama kami bersamaan?" protes Ayu dan Rangga.
"Anggap saja karena kalian pasangan." sahut Amanda sambil tertawa.
"Sudah cepat, mau pesan apa?"
"Aku seblak aja sama minumnya es teh manis ya." jawab Ayu.
"Aku sama kayak si bangau." Rangga menimpali.
"Hei! Apa kamu bilang?" Ayu sepertinya mulai memanas.
"Tidak." sahut Rangga cepat. Sementara itu, Clarissa dan Samuel memesan satu porsi cilok dan minumnya Sprite.
"Wah, panjang sekali antriannya." kata Leo.
"Ah, aku sudah lapar!" Ryan menjawab kesal.
"Kalau begitu makanlah makananku." jawab Angel yang tiba-tiba muncul disampingnya entah bagaimana.
"Huh!" desah Ryan.
"Rangga!"
"Ada apa, tuan Ryan?" Rangga sendiri sudah berteman dengan Ryan selama tiga tahun tetapi masih tetap gemetar ketika ia dibentak oleh Ryan.
"Bagi punyamu!"
"Maaf, Apa?"
"Jangan membuatku mengulangi kata-kataku!" bentak Ryan. Rangga sudah pasrah tetapi dia baru makan dua sendok tadi.
__ADS_1
"Tadi Ryan bilang dia mau kamu membagi makananmu untuknya." kata Leo. Leo tau bahwa Ryan sudah memanas.
"Ah, begitu. Ini..." Dengan terpaksa Rangga menyodorkan itu kearah Ryan. Leo mendekat ke posisi Rangga.
"Maafkan Ryan ya, dia memang seperti itu. Lain kali aku akan mentraktirmu." bisik Leo.
"Tidak perlu. Ini bukan salahmu dan bukan salah Ryan." sahut Rangga. Namun, Rangga tiba-tiba rasanya seperti akan terkena serangan jantung saat Ryan memilih duduk di antara ia dengan Dinda. Saat Leo datang sambil membawa pesanannya, ia terpaksa mengalah dan duduk di sebelah Samuel.
"Hmm.. punyamu enak juga." kata Ryan. Rangga tidak bisa menjawab apa-apa. Ia tampak kesal tapi juga tidak bisa mengelak.
Huh! Arogan sekali dia! Bagaimana bisa dia merebut punya orang seenaknya dan tidak merasa bersalah? Ganteng sih ganteng, tapi apa dia ga pernah belajar etika? gerutu Dinda dalam hati.
Wah, tampan sekali dia. Aku benar-benar menyukai ekspresi wajahnya saat ia makan. Benar-benar tampan! berbeda dengan Dinda, Clarissa menganggap Ryan luar biasa tampan.
"Terimakasih untuk makanannya. Ini untuk menggantinya." kata Ryan sambil menyodorkan sejumlah uang sebesar Rp 100.000.
"Ryan, ini terlalu banyak! Mana ada seblak dan es teh manis yang semahal ini! Tolong kasih aku duit kecil aja." pinta Rangga.
"Tidak perlu. Lebihnya untukmu dan teman-temanmu saja." sahut Ryan. Ia dan Leo meninggalkan kantin yang masih berisik seperti stadium bola karena memuji ketampanannya dan Leo. Jam istirahat tinggal sisa 10 menit lagi, para murid buru-buru menyelesaikan makan mereka dan kembali ke kelas masing-masing sebelum terlambat dan kena hukuman.
"Ayo kita ke kelas!" ajak Amanda kepada teman-temannya. Mereka pun menuju ke kelas.
Kring.. Kring.. Kring...
Bel istirahat berbunyi lagi, menandakan bahwa waktu istirahat sudah selesai.
"Huft.. untung kita sampai tepat waktu." kata Rangga.
"Anak-anak. Sekarang kita akan menuju ke aula untuk mempresentasikan hasil karya kelas kita."
"Baik, bu." sekelas kompak menjawab.
Setiap kelompok telah menyelesaikan presentasi mereka. Kepala sekolah dan para guru sedang memberi penilaian. Sementara itu, para murid boleh menjual produk mereka di depan pintu aula.
"Aaaaaa Ryan tampan sekali!" kata salah seorang siswi.
"Aku beli 30 ya!" teriak salah satu siswi.
"Hanya 30? Aku beli 50!" siswi lainnya menimpali.
"Tidak. Leo, berikan padaku. Aku akan membeli 100!" Angel tidak mau mengalah dengan siswi yang lainnya.
__ADS_1
Namun disaat para siswi berebutan, tiba-tiba Ryan sudah berdiri di belakang mereka semua.
Bersambung...