Ketos Tampan Itu, Kekasihku

Ketos Tampan Itu, Kekasihku
Nadia Berdamai Dengan Jonathan


__ADS_3

Malam hari di rumah Jonathan


“Tuan, Nyonya minta izin untuk tinggal di sini,” kata Herman.


“Kenapa dia masih mau tinggal di sini?” tanya Jonathan sambil menaikkan kedua alisnya.


“Saya rasa Nyonya mau menghabiskan lebih banyak waktu dengan Tuan muda,” jawab Herman.


“Bilang sama Nyonya, terserah dia mau tinggal di kamar yang mana selama bukan di kamar utama,” kata Jonathan.


“Baik, Tuan. Saya akan sampaikan kepada Nyonya sekarang,” sahut Herman sambil membungkuk hormat lalu pergi untuk menyampaikan kalimat Jonathan kepada Nadia. Sementara itu, Jonathan pergi ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum sempat ia selesaikan.


...****************...


Jonathan akhirnya berhasil menyelesaikan seluruh pekerjaannya untuk hari ini. Ia sudah merapikan dokumen-dokumen yang diperlukan di atas meja kerjanya. Namun, saat ia baru saja membuka pintu ruang kerjanya, sudah ada seseorang yang menunggunya sejak tadi. Orang itu adalah Nadia.


“Lu ngapain di sini?” tanya Jonathan yang langsung terkejut saat melihat Nadia sudah berdiri di depan pintu ruang kerjanya.


“Susah banget ya buat ngomong sama lu sampe gua harus nungguin lu selesai kerja?” sahut Nadia sambil melangkah masuk dan duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu. Jonathan pun menutup pintu dan ikut duduk di sofa itu.


“Lu mau ngomong apa lagi sama gua? Gua udah izinin lu tinggal, tapi bukan berarti lu bisa seenaknya di sini,” kata Jonathan tanpa menatap ke arah Nadia.


“Gua mau damai sama lu,” kata Nadia yang langsung mengutarakan keinginannya kepada Jonathan.


“Damai?” tanya Jonathan bingung.


“Di masa lalu, kita sama-sama gak dewasa. Karena itu, kita tanpa sadar bikin Priscilla sama Ryan yang kena dampaknya. Mulai sekarang, gua mau tau aktivitas anak-anak. Gua juga mau ikut ambil keputusan buat masa depan mereka,” jawab Nadia dengan tegas.


"Terserah lu aja," sahut Jonathan tidak acuh.

__ADS_1


"Jadi, kita damai?" tanya Nadia sambil mengulurkan tangan kanannya. Jonathan pun menjabat tangan kanan Nadia.


“Oke, kita damai," balas Jonathan sambil menghela napasnya dalam-dalam.


“Lu mau kuliahin Ryan ke mana abis dia lulus?” tanya Nadia serius.


“Awalnya gua mau kuliahin dia ke Amerika Serikat. Tapi kayaknya dia lebih minat ke Cina,” jawab Jonathan datar.


“Terus? Lu bakal bebasin dia buat milih kampus yang dia mau, ‘kan?” tanya Nadia memastikan.


”Iya, dia boleh milih apa aja kecuali pacarnya yang sekarang,” jawab Jonathan yang tanpa sadar membocorkan hubungan Ryan dan Dinda.


“Lu bilang apa barusan? Ryan udah ada pacar?” tanya Nadia kaget.


“Ya,” sahut Jonathan sambil menghembuskan napasnya.


“Lu tanya aja sama Ryan,” kata Jonathan. Nadia pun langsung bangkit berdiri lalu keluar dari ruangan itu untuk pergi ke kamar putranya itu.


Tok… tok… tok…


“Ryan, Mama boleh masuk?” tanya Nadia dari luar pintu kamar Ryan.


“Boleh, Ma,” jawab Ryan. Nadia pun melangkah masuk dan langsung duduk di kursi yang ada di depan Ryan.


“Ryan, kamu udah punya pacar?” tanya Nadia dengan antusias. Ryan segera menghentikan aktivitasnya dan menutup buku pelajarannya setelah mendengar pertanyaan dari Nadia.


“Iya, Ma. Kenapa?” sahut Ryan.


”Gapapa kok. Mama cuma penasaran aja siapa wanita yang kamu suka,” jawab Nadia sambil tersenyum.

__ADS_1


”Ini, Ma. Dia cantik, ‘kan?” tanya Ryan sambil menunjukkan wallpaper smartphonenya. Itu adalah foto dia dan Dinda yang sedang makan berdua di cafe.


“Iya,” jawab Nadia sambil mengangguk.


“Siapa namanya?” tanya Nadia penasaran.


“Dinda Challista,” jawab Ryan.


“Kapan kamu pacaran sama dia?” sahut Nadia.


”Tahun lalu, Ma,” balas Ryan.


”Terus kenapa Papa tetep gak restuin hubungan kamu sama Dinda?” tanya Nadia bingung.


“Papa pernah konflik sama Papanya Dinda. Papa takut kalau aku lanjutin terus hubungan ini, Papanya Dinda bakalan balas dendam sama Papa,” jawab Ryan.


“Jadi dia gak restuin hubungan kamu cuma karena pikiran negatifnya aja?” tanya Nadia dengan ekspresi terkejut.


“Iya, itu yang aku tau dari Pak Herman,” sahut Ryan.


“Kamu lagi belajar apa tadi?” tanya Nadia yang langsung mengalihkan topik pembicaraan.


“Kimia, Ma,” jawab Ryan.


“Yaudah, kamu lanjutin aja belajarnya, ya. Jangan tidur malem-malem,” sahut Nadia sambil tersenyum.


“Oke, Ma,” balas Ryan. Nadia pun bangkit berdiri dan segera keluar dari kamar putra bungsunya itu.


Bersambung……

__ADS_1


__ADS_2