
Dinda langsung naik tangga ke lantai atas dengan cepat. Begitu ia masuk ke dalam kamarnya, ia langsung meraih smartphone-nya dan melakukan panggilan video call dengan Ryan.
“Halo, Sayang,” sapa Dinda dengan wajahnya yang terlihat bersemangat.
“Halo juga, Sayang. Kamu kok tumben jam segini belum tidur?” tanya Ryan penasaran.
“Papa aku baru aja pulang tadi. Jadi, aku minta tolong dulu ke Papa buat ketemu sama Papa kamu,” jawab Dinda.
“Terus gimana? Papa kamu mau ketemu sama Papa aku?” sahut Ryan.
“Iya, Papa aku bilang mau ketemu sama Papa kamu pas minggu ini di hari Minggu sore jam lima di lapangan golf yang dulu,” kata Dinda.
“Oke. Makasih udah bantu aku sampein ke Papa kamu, Sayang,” sahut Ryan sambil tersenyum.
“Sama-sama, Sayang,” balas Dinda yang juga membalas senyuman dari Ryan.
...****************...
Setelah Ryan selesai berbicara dengan Dinda di telepon, ia langsung ke luar dari kamarnya dan buru-buru pergi menuju ruang kerja Papanya.
“Ryan, kamu mau ke mana?” tanya Nadia penasaran.
__ADS_1
“Aku mau ke ruang kerja Papa,” jawab Ryan.
“Buat apa kamu ke sana?” sahut Nadia.
“Ada yang mau aku sampein ke Papa,” kata Ryan.
“Mama boleh ikut gak?” tanya Nadia.
“Boleh,” jawab Ryan sambil mengangguk. Nadia pun berjalan di samping Ryan sampai mereka berdua tiba di depan pintu ruang kerja Jonathan.
Tok… tok… tok…
“Masuk,” kata Jonathan dari dalam ruangan kerjanya. Ryan dan Nadia pun masuk ke dalam ruang kerja Jonathan secara bersamaan, tapi mereka berdua tidak mengeluarkan suara sama sekali.
“Aku mau bilang ke Papa kalau Papanya Dinda bisa ketemu sama Papa pas minggu ini di hari Minggu sore jam lima di lapangan golf yang dulu,” jawab Ryan.
“Papa gak bisa ketemu sama Satrio minggu ini-” sahut Jonathan.
“Lu gak bisa atau gak mau ketemu sama dia? Dia itu sahabat lu dulu,” timpal Nadia.
“Gak ada yang namanya sahabat di dunia bisnis,” sahut Jonathan tanpa menatap ke arah Nadia.
__ADS_1
“Oke. Lu boleh bilang kalau lu gak punya sahabat di dunia bisnis, tapi lu punya anak di dunia nyata,” kata Nadia. Jonathan tidak menjawab, tapi ia mulai menatap wajah Ryan.
“Ryan, wanita yang ada di sekolah kamu aja ada ratusan, kenapa kamu harus pacaran sama Dinda?” tanya Jonathan bingung.
“Karena cuma Dinda yang hatinya baik. Dia gak pernah nyinggung Papa, jadi tolong Papa pikirin ulang lagi buat ketemu sama Papanya Dinda,” sahut Ryan. Setelah mengatakan kalimat itu, Ryan langsung melangkah pergi dari ruang kerja Papanya. Jonathan pun menarik napasnya dalam-dalam sambil menutup kedua matanya untuk menenangkan pikirannya.
“Jo, gua mau nanya,” kata Nadia sambil duduk di sofa.
“Apa?” tanya Jonathan.
“Tapi lu jawab yang jujur, ya,” sahut Nadia.
“Iya, kenapa?” tanya Jonathan penasaran.
“Waktu gua ninggalin lu, lu sakit hati, ‘kan?” sahut Nadia.
“Ya,” jawab Jonathan datar.
“Sekarang lu udah paham ‘kan maksud gua nanya ini? Ryan juga bakal sakit hati kalau Dinda sampai ninggalin dia. Apalagi kalau Dinda ninggalin dia karena gak ada restu dari lu sebagai orang tua,” kata Nadia mengingatkan. Jonathan tidak lagi menyahuti perkataan Nadia.
“Jo, gua mau lu pertimbangin ulang soal hubungan Ryan sama Dinda. Gua tau lu khawatir, tapi hubungan mereka gak ada hubungannya sama konflik lu dan Satrio di masa lalu. Hubungan asmara mereka gak salah. Cuma lu aja yang selalu mikir kalau hubungan mereka itu negatif. Coba lu ketemu sama Satrio dulu baru lu buktiin sendiri spekulasi lu itu salah atau gak,” imbuh Nadia. Setelah itu, ia membalikkan badannya dan melangkah pergi dari ruangan kerja mantan suaminya itu.
__ADS_1
Bersambung……