
Pagi hari di rumah Jonathan
“Pak Herman,” panggil Nadia.
”Ya, Nyonya,” sahut Herman.
“Tolong nanti abis kamu jemput Ryan, kamu langsung antar Ryan pulang ke rumah, ya. Nanti aku mau ketemu sama Dinda dulu,” kata Nadia.
“Baik, Nyonya,” balas Herman sambil mengangguk.
“Ngomong-ngomong, Dinda ada di kelas berapa?” tanya Nadia.
“XI MIPA D, Nyonya,” jawab Herman.
“Oke. Makasih, Pak,” sahut Nadia.
“Sama-sama,” kata Herman.
...****************...
Sore hari di sekolah
Murid-murid keluar dari kelas mereka dengan perasaan lega karena hari ini adalah hari Jumat. Mereka semua senang karena besok mereka libur. Dinda baru saja keluar dari kelasnya, tapi ada seorang wanita yang berjalan mendekat ke arahnya.
“Kamu Dinda, ‘kan?” tanya Nadia sambil tersenyum.
__ADS_1
“Iya, Tante,” jawab Dinda yang juga membalas senyuman dari Nadia meski ia tidak mengenali wanita yang berdiri di hadapannya saat ini.
“Bisa kita ngobrol di tempat lain?” tanya Nadia. Ia mengajak Dinda untuk mengobrol di tempat lain karena di depan kelas ada banyak orang.
“Bisa,” jawab Dinda. Nadia pun menuntun Dinda ke ruang tunggu sekolah karena tidak ada orang di sana.
“Maaf Tante lupa perkenalin diri. Nama Tante Nadia. Tante ini Mamanya Ryan,” kata Nadia yang langsung memperkenalkan dirinya sambil tersenyum.
“Halo, Tante. Saya Dinda,” sapa Dinda sembari menjabat tangan kanan Nadia dengan tangan kanannya yang agak gemetaran.
“Tante udah tau kalau kamu pacaran sama anak Tante. Jadi, kamu gak perlu gugup kayak gini,” kata Nadia sambil tersenyum lebar.
“Oke, Tante,” sahut Dinda.
“Tante hari ini mau ketemu sama kamu karena Tante mau tau sesuatu. Gimana awalnya kamu sama Ryan bisa pacaran?” tanya Nadia penasaran. Sebenarnya, Nadia ingin menguji Dinda dari cara Dinda menjawab pertanyaan yang ia berikan.
“Oh, jadi begitu. Tante paham kok. Kisah cinta kalian unik juga, ya,” balas Nadia sambil tersenyum.
“Iya, Tante,” sahut Dinda.
“Dinda, Tante tau kamu gadis yang baik. Tante seneng Ryan bisa ketemu sama kamu. Ini semua pasti karena Tuhan yang mempertemukan kalian berdua. Jadi, Tante mau minta tolong sama kamu. Tolong kamu jaga Ryan, ya. Ryan gak merasakan kasih sayang yang cukup waktu dia kecil. Karena itu, dia jadi agak cuek, tapi sebenernya Ryan itu hatinya lembut. Dia orang yang gak suka banyak bicara dan lebih nunjukkin kasih sayangnya lewat tindakannya. Jadi, kalau Ryan mungkin jarang ngomong sesuatu yang romantis, itu bukan karena dia gak suka sama kamu, tapi itu karena dia gak terbiasa ngomongnya,” kata Nadia sambil memegang lengan kanan Dinda.
“Aku ngerti, Tante,” balas Dinda sambil mengangguk.
“Dinda, Tante mau minta nomor telepon kamu dong supaya kita bisa lebih sering ngobrol,” kata Nadia sambil menyodorkan smartphone miliknya kepada Dinda supaya Dinda dapat mengisi nomor teleponnya. Dinda pun mengambil smartphone itu lalu menuliskan nomor teleponnya.
__ADS_1
“Ini, Tante,” kata Dinda sambil menyerahkan smartphone itu kembali kepada Nadia.
“Makasih, ya, Dinda. Kita nanti ngobrol lagi aja ya di telepon soalnya sekarang juga udah sore,” sahut Nadia.
“Oke, Tante,” balas Dinda sambil mengangguk.
“Kamu pulangnya dijemput sama siapa?” tanya Nadia.
“Sama supir, Tante,” jawab Dinda.
“Oh, oke deh. Kamu telepon dulu supir kamu sekarang, ya. Tante tungguin kamu dulu di sini,” kata Nadia.
“Gak usah, Tante. Supir aku udah parkir di parkiran sekolah. Aku tinggal turun aja kok ke bawah,” sahut Dinda sambil tersenyum.
“Yaudah Tante temenin kamu turun aja ke parkiran sekolah,” balas Nadia.
“Gapapa kok, Tante. Aku bisa turun sendiri,” kata Dinda sambil tersenyum.
“Udah jangan bilang gapapa. Biar Tante temenin kamu, ya,” sahut Nadia yang ikut tersenyum.
“Iya, Tante,” jawab Dinda pasrah. Ia pun turun ke parkiran sekolah sembari ditemani oleh Nadia.
“Makasih, Tante,” kata Dinda sambil tersenyum.
“Sama-sama. Kamu hati-hati, ya, Dinda,” sahut Nadia sambil melambaikan tangan kanannya ke arah Dinda.
__ADS_1
“Iya, Tante juga hati-hati di jalan, ya,” balas Dinda sambil membalas lambaian tangan itu lalu pergi menuju ke mobilnya untuk pulang ke rumah.
Bersambung……