
Sore Hari di Rumah Dinda
"Ryan, ayo makan," ajak Satrio. Ia dan Dinda sudah duduk di meja makan untuk menunggu Ryan. Di atas meja sudah ada banyak hidangan seperti mie goreng, fu yung hai, ayam panggang, sayur, dan lain-lain.
"Makasih, Om," kata Ryan sambil tersenyum.
"Papa paling suka ini." Dinda mengambilkan sepotong fu yung hai ke piring Satrio.
"Kita berdoa dulu." Satrio mulai memimpin doa dan mereka bertiga pun makan bersama. Satrio sesekali melirik ke arah Ryan dan ia melihat bahwa Ryan hanya makan sedikit.
"Ryan, kamu gak usah malu-malu sama Papa. Makan yang banyak ya," kata Satrio setelah ia sudah selesai makan.
"Papa?" tanya Dinda terkejut.
"Iya, Ryan 'kan juga anaknya sahabat Papa dulu. Anggep aja dia anak Papa," jawab Satrio sembari melihat ke arah Ryan.
"Iya, Pa. Makasih," sahut Ryan.
"Bukan, Pa. Kenapa dia juga boleh manggil Papa?" tanya Dinda bingung.
"Kenapa? Dia calon menantu Papa, 'kan?" balas Satrio.
"Pa," kata Dinda sambil menatap wajah Satrio dengan wajahnya yang tersipu malu.
"Iya, yaudah kamu lanjut makan aja sama Ryan. Papa udah selesai makan," sahut Satrio. Ia bangkit berdiri dan membawa piringnya ke dapur.
"Papa orangnya suka bercanda, kamu jangan masukin ke hati." Dinda berbicara sambil merapikan piring-piring kotor yang ada di atas meja.
"Enggak kok, kalau beneran juga bagus," kata Ryan. Ia juga membantu Dinda merapikan piring-piring kotor itu. Lalu, mereka berdua membawa piring-piring itu ke dapur untuk dicuci.
"Bagus apanya?" tanya Dinda sambil menatap ke arah Ryan. Ia masih fokus mencuci piring-piring kotor tadi.
"Papa akuin aku jadi calon menantunya sekarang. Nanti Papa bisa akuin aku jadi menantunya," jawab Ryan setelah Dinda selesai mencuci piring.
"Kamu serius?" tanya Dinda dengan nada mengintimidasi.
"Hmm." sahut Ryan sambil memeluk Dinda.
"Besok tahun baru, tapi Papa gak ada di rumah," kata Dinda sambil menyandarkan kepalanya di bahu Ryan.
“Kamu mau ngapain aja besok?” tanya Ryan.
“Aku mau liat kembang api sih. Dari kecil, Papa sama Ci Cindy temenin aku liat kembang api setiap malam tahun baru.” Dinda menjawab sambil melihat ke arah jendela.
“Kamu mau ke rooftop cafe?” tanya Ryan sambil mengernyitkan keningnya. Ia hanya bisa memikirkan bahwa rooftop cafe adalah tempat yang ideal untuk melihat kembang api.
__ADS_1
“Hahaha, bukan itu maksud aku. Aku mau kamu dateng lagi aja ke sini besok. Kita berdua bisa liat kembang apinya dari rumah aku,”
“Oke. Besok aku dateng lagi, ya. Good night." Ryan melambaikan tangan kirinya sambil tersenyum.
“Night too," jawab Dinda yang langsung membalas lambaian tangan Ryan.
...****************...
Ting... tong...
Dinda langsung berlari untuk membukakan pintu. Ia sudah tidak sabar ingin menyambut Ryan sore ini.
“Halo, Sayang,” kata Ryan dengan nada antusias.
”Halo juga, Sayang.” Dinda menyambut Ryan dengan satu pelukan hangat. Ryan spontan membalas pelukan itu.
"Kenapa? Kamu kangen banget sama aku?" tanya Ryan yang sengaja menggoda pacarnya.
"Kangen doang," jawab Dinda.
"Yakin? Masa sih gak kangen banget sama pacar kamu yang ganteng ini," sahut Ryan sambil tersenyum.
"Kita juga udah ketemu kemarin."
“Kamu tunggu sebentar, ya. Aku ambilin air minum dulu buat kamu,” kata Dinda. Ia segera pergi ke dapur untuk mengambilkan air minum untuknya dan untuk Ryan. Setelah itu, ia kembali ke ruang tamu dan meletakannya di atas meja.
”Thank you.” Ryan mengambil gelasnya dan meminum air tersebut.
“Kita nonton film dulu aja, ya?” tanya Dinda.
“Film apa?” sahut Ryan.
“Home Alone 2." Dinda mengambil remote TV dan memutar film tersebut.
”Kamu suka filmnya?” tanya Ryan penasaran.
“Iya,” jawab Dinda sambil mengangguk. Lalu, Dinda mencari sesuatu di laci meja ruang tamu.
”Aku juga suka," sahut Ryan.
“Nih, ada popcorn juga. Kamu mau gak?” kata Dinda sambil menyodorkan popcorn itu ke arah Ryan.
“Kamu udah persiapan banget, ya.” Ryan mengambil popcorn itu dari tangan Dinda dan mulai menyuapinya ke mulut Dinda.
“Kamu gak mau makan popcorn-nya?” tanya Dinda.
__ADS_1
“Maunya kalau disuapinin sama kamu,” jawab Ryan sambil tersenyum.
“Manja banget sih.” Dinda mengambil beberapa popcorn ke tangannya lalu menyuapinya ke mulut pacarnya.
“Hahaha, thank you, Sayang," kata Ryan sambil mengelus rambut Dinda. Mereka berdua kembali fokus menonton filmnya sampai selesai.
“Yah, filmnya udah abis."
“Kamu liat dulu ke sana, udah ada kembang api,” kata Ryan sambil menunjuk ke arah jendela. Dinda pun menoleh ke sana dan mulai bersemangat lagi.
“Ayo kita liat kembang api!” ajak Dinda. Ryan mengangguk dan menemani Dinda pergi ke balkon untuk melihat kembang api secara langsung.
"Cantik banget ya kembang apinya," kata Dinda sambil tersenyum senang.
"Iya. Kamu gak mau coba main kembang api?" tanya Ryan.
"Aku gak dibolehin. Memang kamu pernah main?" sahut Dinda yang langsung menatap wajah Ryan.
"Pernah dulu, tapi ditemenin sama Mami aku," kata Ryan.
"Gapapa, walaupun sekarang kita gak bisa main kembang api, yang penting kita berdua bisa liat langsung kembang api setiap tahun baru," imbuh Ryan sambil tersenyum dan merangkul bahu Dinda.
"Iya, kamu bener," kata Dinda sambil mengangguk. Ryan pun meraih kedua tangan Dinda dan menatap kedua mata pacarnya itu dengan tatapan yang begitu mendalam.
“I love you,” kata Ryan.
“I love you too,” sahut Dinda.
“Thank you udah mau jadi pacar aku, thank you buat semua momen yang udah kita lewatin bersama, dan thank you karena kamu masih ada di samping aku sampe saat ini. I love you so much, Dinda,” kata Ryan sambil memeluk Dinda.
“Kamu so sweet banget sih,” sahut Dinda sambil mencubit kedua pipi Ryan.
“Iya, kamu gak mau ngomong apa-apa ke aku?” tanya Ryan sembari memegang kedua pipi Dinda dengan wajah yang penuh harap.
“Di tahun baru ini, harapan aku semoga kita bisa semakin mengenal satu sama lain dan semoga kita bisa mencapai cita-cita kita." Dinda menjawab sambil tersenyum.
“Apa cita-cita kamu?” tanya Ryan penasaran.
“Aku mau jadi fashion designer, kalau kamu?” balas Dinda sambil menatap wajah Ryan.
“Aku mau jadi dokter. Kalau gitu, ayo kita doa dan belajar bareng tiap hari mulai sekarang, gimana?" tawar Ryan.
“Iya, aku setuju," jawab Dinda sambil mengangguk.
Bersambung……
__ADS_1