
"Anak itu benar-benar!" kata Leo kesal. Ia segera menaiki motornya dan menyusul Ryan.
"Din, tolong datang sekarang ke cafe di dekat sekolah. Aku menunggumu disana." Ryan meninggalkan sebuah pesan suara untuk Dinda.
"Hah.. Dia akan mencari Dinda kemana? Aku akan telepon Dinda saja." gumam Leo sambil menepi ke ujung jalan untuk menelepon Dinda.
[Leo] "Halo, Din."
[Dinda] "Hai, Leo. Ada apa?"
[Leo] "Apa Ryan memintamu datang ke suatu tempat? Aku tadi mengikutinya, tapi sekarang ia menghilang dari pandanganku."
[Dinda] "Apa? Sebentar."
[Dinda] "Iya, dia memintaku datang ke cafe di dekat sekolah sekarang. Aku pergi kesana dulu, ya."
[Leo] "Oke, pergilah. Aku juga akan kesana."
...****************...
Malam hari di cafe
"Ryan." sapa Dinda.
"Ehem.. Hai, Din." sahut Ryan.
"Ada apa ingin bertemu denganku?" tanya Dinda.
"Begini.. Aku mau menjelaskan sesuatu. Apa kamu mau mendengarkannya?" tanya Ryan.
"Iya. Aku akan dengarkan sampai selesai. Ada apa?" tanya Dinda.
"Aku minta maaf sebelumnya karena telah memintamu keluar malam hari. Aku cuma mau bilang kalau aku tidak tau apa-apa tentang acara tunanganku dengan Clarissa. Aku benar-benar baru tau tentang hal ini. Dan juga.. Aku ingin menanyakan sesuatu." kata Ryan.
"Apa itu?" tanya Dinda.
"Apa kamu menolakku karena Clarissa yang mengatakan kalau dia akan bertunangan denganku?" tanya Ryan.
"Hmm.. Iya. Tapi.." jawab Dinda ragu.
"Tapi apa?" tanya Ryan sambil menatap mata Dinda. Mulut bisa berkata bohong tapi mata? Mata tidak bisa menyembunyikannya.
__ADS_1
"Tapi.. Entahlah." kata Dinda gugup. Ia berusaha untuk tidak menatap Ryan. Namun, ekor matanya tetap ingin melihat Ryan.
"Entahlah?" gumam Ryan pelan. Sebenarnya, Dinda bisa mendengar itu. Tapi, ia pura-pura tidak tahu.
"Um.. Bolehkah aku memesan minuman?" tanya Dinda yang berusaha mengalihkan keadaan.
"Boleh. Ini." kata Ryan sambil menyodorkan menu yang ada di dekatnya.
"Kenapa mereka jadi canggung sekali?" tanya Leo yang memperhatikan dari kejauhan.
"Tapi, karena kamu.. Karena aku tidak bisa pacaran." jawab Dinda dengan ragu. Ia juga reflek memegang telinganya.
Karena kamu adalah incaran semua perempuan. Dan aku bukan siapa-siapa. kata Dinda dalam hati.
"Tidak bisa?" gumam Leo.
"Baiklah. Aku mengerti." jawab Ryan setelah beberapa saat tercipta keheningan di antara mereka berdua.
Kenapa kamu harus berbohong? Apa ada yang membuatmu tidak nyaman? batin Ryan sambil menatap wajah Dinda yang tersenyum. Ryan ingin sekali menanyakannya kepada Dinda, tapi ia tahu kalau Dinda tidak akan nyaman dengan pertanyaan itu.
"Um.. Aku.. Ryan, aku ingin bilang. Aku minta maaf.." kata Dinda terbata-bata.
"Tidak perlu minta maaf, kamu tidak salah." sahut Ryan.
"Hmm?" sahut Ryan.
"Ryan, kamu itu orang yang baik. Cari perempuan lain yang lebih baik dariku. Aku yakin ia ada diluar sana dan sedang menunggumu." kata Dinda. Ia menghela napasnya dalam-dalam sesudah mengatakan kalimat itu.
Dinda, apa-apaan kamu? Kalimat itu terlihat terlalu jelas. Apa dia akan menyadarinya? kata Dinda kepada dirinya sendiri.
"Benar, dia ada diluar sana. Dia juga sedang menungguku. Terima kasih sudah mengatakan itu." sahut Ryan sambil tersenyum.
Oh. Syukurlah dia tidak menyadarinya. batin Dinda merasa lega.
"Jadi, balok es itu bisa tersenyum?" tanya Leo sambil menggelengkan kepalanya.
"Mungkin aku saja yang terlalu khawatir padanya. Kalau dia sudah tersenyum, aku pulang saja." kata Leo. Ia keluar dari cafe itu dan pulang menggunakan motornya.
"Um.. Ini sudah malam. Aku pulang dulu, ya." kata Dinda. Dinda langsung memesan Gojek. Namun, orderannya dibatalkan oleh sang driver.
Dinda mencoba untuk kedua kalinya. Tapi, tetap saja dibatalkan.
__ADS_1
"Mau kuantar pulang?" tanya Ryan.
"Hah? Ti-tidak usah. Aku bisa naik taksi." sahut Dinda. Ryan tetap berjalan menuju motornya. Ia memakai helm-nya lalu menatap Dinda yang tampak kebingungan.
"Ayo naik! Mau sendirian terus disini sampai subuh?" seru Ryan.
"Ah, baiklah. Makasih, Ryan." kata Dinda.
"Ini." kata Ryan menyodorkan helm pada Dinda.
Untung aku bawa helm lebih tadi. batin Ryan. Ryan juga membantu Dinda mengenakan jaket yang ia bawa.
"T-Tidak usah. Aku tidak kedinginan kok. Kamu saja yang pakai." kata Dinda yang hendak melepas jaket itu namun dicegat oleh tangan Ryan.
"Gapapa, kamu pakai saja." sahut Ryan.
"Oke." kata Dinda.
"Dimana rumahmu?" tanya Ryan.
"Jalan Xxx No. Xx" jawab Dinda. Ryan mengangguk sebagai sahutan.
"Pegangan yang kenceng." kata Ryan. Saat di tengah jalan yang agak sepi, Ryan sengaja mempercepat lajunya sehingga mau tidak mau Dinda memeluknya.
Punggungnya besar juga untuk bersandar. Dinda, apa yang kamu pikirkan? seru Dinda dalam hati. Pipinya memerah saat memikirkan ini. Namun, Dinda langsung merubah kembali posisinya seperti semula.
"Sudah sampai." kata Ryan sambil tersenyum.
"Makasih udah mau anter aku." kata Dinda setelah turun dari motor.
"Sama-sama." sahut Ryan.
"Sampai nanti. Bye." kata Dinda.
"Bye." kata Ryan. Ryan melanjutkan perjalannya. Ia sudah tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum sepanjang jalan. Jadi, sampai di kamar pun ia tersenyum.
"Dinda, aku tahu kamu menyukaiku." kata Ryan.
Bersambung......
Halo semuanya, maaf banget author baru up lagi 😭🙏🏻. Author banyak ulangan jadi ga bisa sering" up bab baru, tapi makasih banyak buat readers novel ini yang masih support 😊.
__ADS_1
Oh ya, kalau ada saran dari kalian boleh banget tulis di komentar 😊. Thank you ❤.